Thursday, May 31, 2007

FATAH MENGAJAK HAMAS MENGAKUI ISRAEL

Palestina

Tidak Ada Strategi Bersama Hadapi Israel

Cairo, Kompas - Faksi-faksi Palestina selama ini tidak punya strategi bersama dalam menghadapi Israel dan berjalan sendiri-sendiri dalam melakukan manuver politik dan perlawanan. Seharusnya ada kerja sama yang kuat antara Presiden Mahmoud Abbas dan Perdana Menteri Ismail Haniya.

Misalnya, PM Haniya bertugas mengamankan dalam negeri dan Presiden Abbas berkonsentrasi untuk urusan luar dan perundingan. Penasihat keamanan Presiden Abbas yang juga anggota Dewan Keamanan Nasional Palestina, Muhammad Dahlan, menegaskan hal tersebut dalam perbincangan dengan Kompas, Selasa (29/5) di Cairo.

Ditambahkan, dengan tidak adanya kebersamaan strategi itu, maka terjadilah kondisi politik dan keamanan Palestina seburuk seperti yang terjadi sekarang ini. Menurut dia, kesepakatan Mekkah yang dicapai antara Hamas dan Fatah, Februari lalu, sudah bagus dan positif. "Kesepakatan Mekkah adalah membangun hubungan internal Palestina yang benar serta memberi wewenang Presiden Abbas atas nama PLO berunding dengan Israel," lanjut Dahlan.

Presiden Abbas yang mendapat wewenang berunding dengan Israel berhak meminta faksi-faksi Palestina menghentikan serangan roket karena serangan itu lebih banyak ruginya daripada untungnya. "Serangan roket itu menyulitkan posisi Abbas yang telah diberi wewenang berunding," kata Dahlan yang juga anggota parlemen Palestina dari Fatah. Menurut Dahlan, harus ada pemahaman baru terhadap definisi perlawanan itu.

Jangan hancurkan Israel

Tidak zamannya lagi terus meneriakkan slogan menghancurkan Israel. Maka, lanjut Dahlan, meski kesepakatan Mekkah masih ada, perlu diperkuat dengan komitmen dan kesepakatan tambahan.

Dahlan menuduh Hamas sebagai pihak pertama yang berada di balik memburuknya situasi keamanan di Jalur Gaza terakhir ini yang dimulai dengan pembunuhan dua aktivis Fatah di Jalur Gaza. "Saling membunuh dengan sengaja antara sesama Palestina adalah hal baru dalam komunitas Palestina," kata Dahlan.

Ia menolak tuduhan Fatah telah berkolaborasi dengan Israel. Ditegaskan, adalah Fatah yang memulai perjuangan melawan Israel. Fatah telah berjuang selama 10 tahun di Jalur Gaza dan Tepi Barat serta 30 tahun di Beirut.
"Saya telah bekerja selama 15 tahun dengan Yasser Arafat dan berhasil mempertahankan prinsip-prinsip perjuangan Palestina," ungkap Dahlan. "Ketika masa intifadah dulu, saya menjabat kepala keamanan preventif di Jalur Gaza dan saya banyak melindungi aktivis Hamas ketika Israel memburu," kata Dahlan.

Ia mengatakan, kini Hamas selalu menuduh pihak mana pun yang tidak setuju program politiknya sebagai antek-antek Israel. Menurut Dahlan, semua rakyat Palestina pasti sepakat menuntut berdirinya negara Palestina dengan ibu kota Jerusalem Timur. "Bagaimana mencapai tujuan itu? Tidak mungkin dengan anarkisme," kata Dahlan.

Ia meminta Hamas lebih memperjelas program politik dan perlawanannya. Menurut dia, program politik pemerintah persatuan masih belum cukup memenuhi tuntutan internasional. Dikatakan, Fatah sebenarnya banyak rugi bergabung dalam pemerintah persatuan karena Fatah kini dituduh bekerja sama dengan Hamas melakukan konspirasi terhadap Barat.
"Pemerintah persatuan itu minimal harus komitmen dengan apa yang menjadi komitmen PLO. Hamas sebagai faksi tidak harus memenuhi tuntutan internasional. Fatah sendiri sebagai faksi sampai sekarang belum mengakui Israel. Tetapi semua faksi harus tunduk dan berada di bawah payung PLO yang telah mengakui Israel," kata Dahlan. (Harian KOMPAS 31 Mei 2007)

Tuesday, May 29, 2007

PERJALANAN KE MERAUKE

Bersama Bupati Merauke John Gebze
Pada bulan Februari 2007 Ketua Komisariat Daerag Pemuda Katolik Provinsi Kepulauan Riau Petrus M. Sitohang memimpin rombongan Pemuda Katolik Kepulauan Riau mengikuti Rapat Kerja Nasional Pemuda Katolik di Merauke Provinsi Papua. 

Monday, May 28, 2007

APAKAH SISINGAMANGARAJA TIDAK DIDUKUNG ORANG BATAK ?














Pluralisme SM Raja XII

Masih Ada Kontroversi Menyertainya
Kemampuan Sisingamangaraja XII melakukan aliansi dengan banyak kelompok di sekitar tanah Tapanuli dinilai cendekiawan menunjukkan bahwa Sisingamangaraja XII adalah tokoh pluralis dan multikulturis. Sisingamangaraja XII mampu menghidupi keberanekaragaman yang tumbuh di Sumatera.

Hal ini mengemuka dalam seminar peringatan 100 tahun gugurnya pahlawan nasional Sisingamangaraja XII (SM XII) yang bertema Sisingamangaraja XII, Simbol Perekat Masyarakat Indonesia di Medan, Sabtu (26/5).

Ia dekat dengan panglima Aceh yang muslim, bahkan mereka rela membantu perjuangannya di tanah Batak. Ia juga tidak memusuhi misionaris Kristen Nommensen, bahkan bertamu dan berkorespondensi dengannya.
Kakeknya (SM X) tewas dibunuh pasukan Islam dari selatan yang ingin melakukan Islamisasi Tapanuli. Ayahnya (SM XI) justru tidak memusuhi Islam bahkan mengirim SM XII ke Aceh dan elemen Islam masuk dalam ritus kepercayaan SM XII.

Menurut sejarawan Unimed Dr Ichwan Azhari, SM XII adalah pemimpin Batak yang membuka diri dan mampu membangun citra positif terhadap kekuatan atau wilayah yang berdampingan dengan Batak. Lebih dari 100 tahu lalu, tanah Batak telah memiliki pemimpin progresif, bervisi ke depan, tidak eksklusif dan mengisolir diri. Pertanyaannya, apakah saat ini pemimpin dan politisi yang memimpin tanah Batak banyak belajar dari sikap dan visi SM XII?

Guru Besar Sosiologi dan Antropologi Universitas Negeri Medan (Unimed) Prof Dr Bungaran Antonius Simanjuntak mengataan, SM XII adalah tokoh yang menyeluruh. Selain mempertahankan Tanah Air dari perebutan Belanda, SM XII juga menolak perbudakan, dan anti pertumpahan darah. Sebelum akhirnya berperang, SM XII lebih dulu melakukan diplomasi dengan Belanda pada tahun 1876-1878. "Maka, sangat disayangkan jika kemudian ada masyarakat yang menggunakan nama SM XII untuk kepentingan tertentu," katanya.

Sejatinya, kata Ichwan, banyak penelitian yang harus dilakukan pada tokoh ini. Sejak penelitian oleh WB Sidjabat tahun 1982, belum ada lagi penelitian tentang SM XII. Bahkan, riwayat hidup SM XII, perjuangannya, spiritualitasnya, termasuk keterbukaannya masih menimbulkan kontroversi. "Benarkah di satu era perjuangannya ia justru tidak mendapat dukungan dari orang Batak sehingga harus mempertahankan diri sampai ke Dairi? Ia meninggal karena ditembak oleh Chrostoffel atau ditembak Hamisi," tanya Ichwan.

Namun, di antara kontroversi itu, kata Ichwan, SM XII adalah tokoh yang humanis dan mengagumkan. SM XII menyadari heterogenitas adalah salah satu kelemahan utama Batak dan mengadopsi sistem Raja Merampat, mengambil inisiatif mengadakan pemerintahan sendiri. Ia mengonsolidasi sistem politik Batak yang terkotak-kotak dan heterogen, hanya bagaimana caranya belum diketahui.

Rektor Universitas Dharma Agung Robert Sibarani mengatakan, entitas yang menyatukan Batak bukan agama, atau adat istiadat, namun etnik itu sendiri.

Hadir sebagai pembicara Etnomusikolog USU Drs Irwinsyah Harahap MA, Dr Togar Nainggolan dari Penebit Bina Media Perintis, Dr Subanindyo Hadiluwih dari UISU, dan Darwin Tobing, Dosen ST Teologia HKBP Siantar, dan umat Parmalin Monang Naipospos.

(dikutip dari Harian KOMPAS edisi Senin, 28 Mei 2007)

Saturday, May 26, 2007

AYF 2006 BATAM DECLARATION DAN KOMENTAR PESERTA

PREAMBLE

Asian Youth Council (AYC), a regional youth coordinating body for National Youth Councils (NYC) in Asia, in its quest to promote “ONE ASIA” a prosperous Asia for all; recognizes the importance of the Millennium Development Goals for the future of Asian Youth, acknowledges the roles of young people in Asia in voicing out their opinion on issues affecting their future and facilitates the development of youth work in Asia.

PERTUKARAN GAGASAN DARI ASIAN YOUTH FORUM 2006

Pemuda Asia mencoba merumuskan perannya dalam menjawab tantangan Milenium Development Goals di Batam Kepulauan Riau. Sejumlah 118 peserta dari 20 negara termasuk wakil dari Kenya dan Nigeria bertemu untuk bertukar gagasan dan pengalaman dalam Asian Youth Forum 2006 yang diselenggarakan di Hotel Panorama Regency Batam tanggal 11 s.d. 13 Oktober 2006. Acara ini merupakan agenda tahunan Asian Youth Council www.asiayouth.org yang menunjuk KNPI sebagai penyelenggara. Forum ini mengambil tema berupa pertanyaan reflektif: "Is the future within reach?", Apakah masa depan bisa kita raih?

Thursday, May 24, 2007

SINGAPURA TAMPIL MENJADI PEMIMPIN INDUSTRI MARITIM DUNIA

Sejak dari bangku Sekolah Dasar kita semua diajarkan untuk bangga sebagai bangsa dan negara yang besar. Kebesaran yang ditopang oleh ribuan gugusan pulau-pulau besar dan kecil dan lautan yang sangat luas. Nenek moyang kita khususnya keturunan Bugis dan Mandar sejak lama sudah dikenal sebagai pelaut tangguh yang mengarungi samudera dengan perahu pinisi. Namun melihat kemampuan teknologi industri maritim Singapura saat ini, nampaknya kita sekarang perlu belajar kepada negara tetangga kita tersebut untuk bisa mengaku sebagai bangsa besar di industri maritim (bahari).

Beberapa gambar berikut bisa menjelaskan bagaimana negara tetangga kita tersebut, yang oleh mantan Presiden Habibie pernah dilecehkan sebagai hanya "a little red dot on the globe" telah memperoleh pengakuan internasional sebagai pemain kelas wahid di industri pembuatan rig.




































































Wednesday, May 23, 2007

SENI UKIR TRADISIONIL BATAK

Kebanyakan tulisan tentang Batak lebih menyoroti tentang sistim kekerabatan, bahasa dan agama Batak. Sedikit sekali penelitian yang mendalam tentang hasil kebudayaan Batak lainnya seperti ukiran Batak. Berikut ini adalah beberapa bentuk karya seni tradisional Batak yang hingga kini masih terus hidup terutama dapat dijumpai di Tomok Samosir.

Naga Morsarang atau Sahang

Datu adalah pemimpin upacara keagamaan asli Batak. Seorang datu memerlukan bermacam-macam tempat penyimpanan yang terbuat dari berbagai macam material untuk menyimpan ramuan gaibnya. Benda berbentuk kapal ini dikenal sebagai naga morsarang juga dikenal sebagai sahang, terdiri dari tanduk kerbau yang berongga yang permukaan luarnya diukir dengan ornamen khas batak.
Bagian ujung dari tanduk diukir dalam rupa orang yang sedang duduk. Bagian pangkal tanduk disumbat denganpenutup dari kayu berukir yang menggambarkan singa yang ditunggangi oleh empat orang.

Tunggal Panaluan

Tongkat magis orang Batak terdiri dari dua macam yaitu Tunggal Panaluan, kira-kira panjangnya 1,7 metres dan umumnya diukir dengan inda, dan Tunggal Malehat, yang lebih pendek dan biasanya dibuat dengan lebih sederhana. Tongkat ini adalah atribut para datu (dukun) Batak. Namun demikian tongkat bukanlah milik datu tetapi milik marga. Kepemilikan tongkat ini tampak dalam penggunaan tongkat ini, datu memakainya dalam acara yang melibatkan seluruh anggota marga, contohnya saat memanggil hujan, perayaan perang, dan acara menolak bala. Hal ini juga ditunjukkan oleh hiasan singa, fungsi utama tongkat ini adalah untuk melindungi anggota masyarakat dan kelangsungan marga.

Guri-Guri
Sebelum penyebaran agama Kristen di tanah Batak meluas pada awal abad keduapuluh hadatuon (perdukunan) merupakan bagian penting dalam ritual keagamaan Batak asli. Pemuka agama yang biasanya dikenal sebagai Datu, menjalankan perdukunan baik yang sifatnya menyembuhkan maupun merusak dengan menggunakan berbagai macam perlengkapan. Peralatan datu yang paling keramat dan ampuh adalah guri-guri. Benda ini adalah tempat penyimpanan pupuk, suatu benda yang sangat ampuh terbuat dari korban manusia yang dibunuh dalam suatu upacara. Pupuk dipercaya dapat memerintahkan arwah si korban untuk melakukan perintah datu. Guri-guri seringkali terbuat dari keramik Cina yang diimpor dan diberi tutup ukiran Batak yang terbuat dari kayu. Kebanyakan penutup menggambarkan orang yang menunggang mahluk seperti kuda yang disebut singa. Singa yang merupakan gabungan dari aspek-aspek kuda, ular, harimau dan binatang-binatang lain adalah mahluk dalam mitologi Batak yang merupakan simbol kesuburan dan perlindungan alam.

Si Galegale

Sebuah tradisi yang unik dalam seni patung Batak adalah boneka yang dikenal dengan nama si Galegale. Di masa yang lampau, si galegale muncul dalam acara penguburan dimana ia berfungsi sebaga pengganti anak laki-laki orang yang dikuburkan yang tidak pernah memiliki anak laki-laki dalam hidupnya. Boneka ini, digerakkan dengan tali temali yang menghubungkan berbagai bagian dari boneka tersebut yang dikendalikan oleh si pemain, turut menari (manortor) selama ritual penguburan bersama keluarga orang yang meninggal. Dengan bantuan bola yang dilembutkan dalam kepala boneka, beberapa boneka bahkan dapat dibuat seperti mengeluarkan air mata untuk “ayahnya” yang meninggal. Kepala si galegale ini diukir dengan roman muka yang sangat menarik. Alis mata dibuat dari tanduk kerbau dan daun telinganya diperindah dengan ornamen yang terbuat dari kuningan dikenal dengan nama sitepal.


Ornamen Kepala Kuda

Secara tradisional, rumah Batak kaya dengan dekorasi design geometris dan gambar-gambar natural dengan warna-warna merah, putih dan hitam. Dekorasi utama sebuah rumah umumnya berukuran besar dengan ukiran kepala binatang digabungkan dengan motif-motif yang kompleks dan indah.
Ornamen arsitektur bagian samping rumah biasanya didominasi oleh kepala kuda. Ukiran ini bukan hanya untuk hiasan tetapi juga berfungsi sebagai pengawal gaib untuk memberikan perlindungan bagi penghuni rumah. Di daerah Batak Toba, kuda sering disembelih untuk penghormatan leluhur dan dipercaya memiliki kemampuan untuk menghantarkan seseorang berjumpa dengan leluhurnya. Kuda juga merupakan simbol status karena hanya orang-orang terhormat yang mampu memilikinya.


Ulos Ragidup
Dalam tradisi perkawinan di masyarakat Batak Toba yang masih hidup hingga saat ini ayah pengantin pria memberikan sejenis kain yang dikenal dengan ulos ragidup kepada ibu mempelai wanita. Pemberian ini dimaksudkan untuk kesuburan (keturunan) bari pasangan tersebut dan memperkokoh tali persaudaraan kedua keluarga pengantin laki-laki dan keluarga perempuan. Kadangkala, ulos ragidup juga dipakai pada saat acara pemakaman untuk membungkus tulang belulang atau pelapis peti jenazah.

Tuesday, May 22, 2007

GEREJA KATOLIK DI TANJUNG UBAN

Hingga awal tahun 1990 Gereja Katolik di Tanjung Uban Pulau Bintan merupakan kelompok kecil yang terdiri dari para pegawai pemerintah yang ditugaskan di Kecamatan Bintan Utara Kabupaten Bintan (dahulu Kabupaten Kepulauan Riau) dan para pendatang dari Flores dan keturunan Tionghoa.

Tetapi seiring dengan perkembangan penduduk sebagai dampak pertumbuhan industri di Pulau Bintan hasil kerjasama pengusaha Indonesia dan Singapura yang didukung penuh oleh pemerintah Indonesia dan Singapura sejak awal tahun 1990, Gereja Katolik Tanjung Uban pun umat Gereja Tanjung Uban turut berkembang secara signifikan.

Perubahan yang mencolok adalah kalau sebelumnya Gereja St. Fransikus Xaverius yang berdiri sejak tahun 1957 kebanyakan diisi oleh umat yang sudah dewasa dan berkeluarga, maka sejak kedatangan para pekerja dari berbagai daerah di Indonesia yang mengisi lowongan pekerjaan di kawasan industri manufaktur dan kawasan pariwisata internasional Bintan, maka Gereja Tanjung Uban berubah menjadi Gereja kaum migran dan pekerja muda.

Gereja mulai terasa sesak dan pimpinan Gereja sejak tahun 1999 mulai merencanakan pembangunan gedung gereja yang baru yang direncanakan akan menjadi Gereja Paroki.

Sejak tahun 2001 saya ditunjuk menjadi Ketua Panitia Pembangunan. Setelah melalui proses panjang mulai dari perencanaan, pencarian dan pembelian lahan, perancangan dan terutama proses perijinan yang bertele-tele dan memakan banyak persahaan saat menghadapi beberapa warga yang tidak senang atas kehadiran gereja baru di wilayah yang secara tradisional merupakan wilayah muslim, akhirnya Panitia mendapat titik terang setelah Ijin Mendirikan Bangunan akhirnya dikeluarkan oleh Pelaksana Tugas Bupati Kepulauan Riau Andi Rivai Siregar pada akhir tahun 2004.

Pembangunan akhirnya dimulai awal tahun 2005 dan penyerahan pertama oleh kontraktor dilakukan bulan Desember tahun 2005. Meskipun secara formal belum diresmikan hingga saat ini karena memang masih memerlukan banyak pekerjaan finishing lainnya, tetapi atas permintaan umat akhirnya oleh Uskup Pangkalpinang Mgr. Hilarius Moa Nurak, SVD berkenan memberkati bangunan gereja yang memang belum sepenuhnya selesai itu dalam sebuah misa pemberkatan yang meriah pada tanggal 23 Desember 2005 malam. Hal ini dimaksudkan agar gereja tersebut bisa mulai dipakai merayakan Natal mulai tahun itu.














Menyaksikan Mgr. Hilarius Moa Nurak, SVD, Uskup Pangkalpinang yang sedang menandatangani prasasti pemberkatan gereja St. Yohanes Don Bosco Tanjung Uban dalam misa pemberkatan tanggal 23 Desember 2005. Turut menyaksikan adalah Pastor Laurensius Dihe Sanga, pastor kepala Paroki Hati Santa Maria Tak Bernoda Tanjungpinang (tengah).














Tarian Tortor Batak Karo yang dipersembahkan muda mudi Gereja menambah semarak misa pemberkatan dan menegaskan Gereja Tanjunguban sebagai gereja kaum muda. Para pekerja muda di kawasan Industri manufaktur Lobam dan kawasan industri pariwisata internasional Lagoi merupakan bagian terbesar dari umat Gereja Katolik Tanjung Uban. Sebagian besar pekerja muda tersebut adalah berasal dari Sumatera Utara, Jawa dan NTT.














Para imam yang turut menjadi konselebrans dalam misa pemberkatan (dari kanan ke kiri) Pastor T. Nugroho, SSCC, Pastor Yustinus Ta Leleng, Pr., Pastor Poya, Pr., Pastor Alex Datu, SSCC., dan paling kiri Pastor Henry Jourdan, MEP














Bersama Ferry Marut Ketua Seksi Pembangunan (paling kiri) mewakili Panitia Pembangunan menyerahkan pintu gereja secara simbolis kepada Uskup sesaat sebelum misa pemberkatan.














Uskup Pangkalpinang Mgr. Hilarius Moa Nurak, SVD didampingi oleh Pastor Philipus Seran, Pr. (Pastor Kepala Paroki saat itu) memberkati lahan di mana gereja baru akan dibangun pada saat misa peletakan batu pertama tanggal 27 Oktober 2003.














Suasana saat sosialisasi rencana pembangunan dengan masyarakat di sekitar lokasi gereja yang akan dibangun bertempat di kantor keluarahan Tanjung Uban Selatan pada tanggal 18 Mei 2002. Tampak dari kanan ke kiri adalah Zainur Dahlan Lurah Tanjung Tanjunguban Selatan, Pastor Felix Susanto, SSCC Pastor Deken saat itu, Frans Yusup, tokoh umat katolik yang dituakan (sedang berdiri), Hermus Gabriel Ketua Dewan Stasi Tanjung Uban, Petrus M. Sitohang Ketua Panitia Pembangunan dan salah seorang umat.

















































































SEZ BATAM BINTAN KARIMUN: PAYUNG HUKUM ATAU KOMITMEN POLITIK?

Artikel Petrus M. Sitohang yang dimuat di Harian Batam Pos tanggal 18 September 2006

Pernyataan Abidin Hasibuan di harian ini beberapa hari yang lalu cukup menggelitik. Dia mengkhawatirkan, jangan-jangan Special Economic Zone (SEZ) Batam Bintan Karimum yang semula dihembuskan ”beraroma durian”, ternyata yang muncul adalah ”buah nangka”. Pernyataan ini menyiratkan kebingungan dan mungkin rasa frustasi yang dalam akibat besarnya harapan yang tidak sebanding dengan realita saat ini. Frustasi karena sebagai Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) Kepulauan Riau dia pasti sering bingung menghadapi pertanyaan rekan-rekannya sesama pengusaha termasuk investor asing mengenai apa dan kemana sebenarnya arah SEZ ini. Pasti banyak yang merasa bahwa dengan kedudukannya sebagai Ketua APINDO Kepri, yang membawahi banyak pengusaha di daerah ini termasuk para investor asing, akan memberinya legitimasi yang besar untuk dilibatkan dalam pembahasan SEZ ini sebagai wakil pengusaha.

Tapi apa lacur, Jakarta nampaknya hanya melibatkan Gubernur Ismeth Abdullah sendirian sebagai wakil Kepri dalam pembahasan mengenai tindak lanjut rencana pembentukan SEZ ini. Hal ini juga tersirat dari pernyataan-pernyataan Walikota Batam, Walikota Tanjungpinang, Bupati Bintan dan Bupati Karimun yang juga menampakkan ketidak jelasannya mengenai arah pembahasan SEZ ini meskipun daerahnya adalah yang direncanakan sebagai lokasi SEZ tersebut.

Abidin Hasibuan seperti juga hampir seluruh masyarakat di Kepulauan Riau pada awalnya sangat antusias dengan peluncuran rencana pembentukan SEZ ini. Bagaimana tidak, pelucuran konsep ini diadakan di kota Batam dan dihadiri oleh para pemegang pengambil keputusan tertinggi di negara ini dan rekannya dari Singapura. Kehadiran Presiden SBY dan Perdana Menteri Singapura Lee Hsien Loong menyaksikan Menko Perekonomian Indonesia Budiono dan Menteri Perdagangan dan Industri Singapura Lim Hng Kiang beserta para menteri-menteri terkait di bidang perdagangan dan industri Indonesia dan Singapura menandatangani dokumen Persetujuan Kerangka Kerjasama Ekonomi di Pulau Batam, Bintan dan Karimun antara Indonesia dan Singapura (Framework Agreement on the Economic Cooperation in the island of Batam, Bintan & Karimun between Indonesia & Singapore) telah mendongkrak optimisme para pejabat pemerintah daerah, pelaku usaha, politisi, aktivis buruh dan terutama para penganggur yang ada di daerah ini bahwa SEZ ini akan menjadi titik balik kelesuan ekonomi yang telah melanda seluruh kawasan ini sejak lima tahun terakhir. Kehadiran para petinggi-petinggi Indonesia dan Singapura dalam acara penandatanganan dokumen yang sifatnya hanya berupa pengumuman ini telah membuat acara tersebut seolah-olah acara ”launching” sebuah ”mega project” yang rencana kerjanya sudah matang, dana sudah tersedia dan tinggal jalan. Kenyataannya dokumen itu sebenarnya baru berisi niat antar kedua pemerintah yang ingin bekerjasama menciptakan iklim yang kondusif bagi investasi di Batam, Bintan dan Karimun. Sementara yang akan merealisasikan konsep tersebut menjadi seperti yang diinginkan oleh banyak orang yaitu pencipataan lapangan kerja, pertumbuhan ekonomi dan peningkatan penerimaan pemerintah nantinya adalah para pengusaha. Tidak heran, kalau akhirnya Abidin Hasibuan sebagaimana banyak kalangan yang berkepentingan dengan SEZ ini seperti politisi, aktivis buruh, LSM ormas pemuda dan lain-lain kecewa berat karena merasa ditinggalkan dalam pembahasan rencana implementasi termasuk dalam pembuatan payung hukum bagi SEZ tersebut.

Salah satu masalah utama yang dikawatirkan para pengusaha dan pemangku kepentingan lainnya di daerah ini adalah payung hukum bagi SEZ tersebut. Hal ini wajar karena sebelum ini Jakarta seringkali membuat peraturan yang akhirnya bukannya membuat suasana tertib dan teratur, malah menambah persoalan baru. Kita masih ingat jelas, berbagai peraturan perlakuan Pajak Pertambahan Nilai maupun peraturan mengenai Bea Masuk untuk daerah kota Batam yang dikelurakan oleh Departmen Keuangan yang menimbulkan banyak persoalan dan ketidakpastian hukum. Hal-hal semacam ini ditambah dengan hal-hal lainnya seperti masalah perburuhan yang banyak ditunggangi kepentingan di luar kepentingan tenaga kerja, dan banyaknya pungutan di luar pajak yang menjadi penyebab menurunnya ivestasi di Batam Bintan dan Karimum dalam lima tahun terakhir ini.

Kebutuhan adanya payung hukum yang kuat dan tidak berganti-ganti seiring pergantian pejabat adalah wajar. Hal lain yang juga tidak kalah penting adalah bahwa peraturan tersebut haruslah berangkat dari permasalahan yang nyata. Ilustrasinya ialah, memberi jaring dan mesin sampan ke seorang peladang hanya akan menambah persoalan. Sebab kalaupun si peladang tersebut mau beralih pekerjaan meninggalkan ladangnya, dia pasti butuh waktu untuk pindah ke daerah pesisir dan belajar menangkap ikan. Lain halnya jika si peladang tersebut di beri tambahan pupuk dan bibit unggul dan diajari teknik untuk meningkatkan hasil kebunnya.

Persoalan Batam Bintan Karimun adalah persoalan yang khas yang cara Jakarta atau wilayah lain di Indonesia belum tentu cocok untuk diterapkan. Kita semua mengerti betapa perekonomian daerah ini lebih terbuka dengan negara tetangga daripada dengan Indonesia. Hal ini mudah dilihat dari jumlah arus orang dari kawasan ini yang bepergian ke Singapura dan Malaysia yang jauh lebih banyak dibandingkan dengan arus orang yang menuju ke daerah lain di Indonesia. Baik yang bepergian untuk usaha maupun karena ikatan kekeluargaan yang memang sejak dulunya sudah ada terutama keturunan Melayu. Tidak jarang menemukan orang di Kepri ini yang lebih senang bepergian ke Singapura atau Malaysia baik untuk berusaha, melancong atau bahkan berobat. Suka atau tidak suka, faktanya adalah sangat banyak perusahaan di BBK ini baik besar maupun kecil yang dimiliki atau dimodali oleh orang dari Singapura dan Malaysia. Ini adalah kenyataan yang sulit dijumpai kesamaannya dengan daerah lain di Indonesia.

Sehingga jika penyusunan peraturan SEZ tidak memperhatikan kondisi khas BBK yang seperti ini, atau dibuat oleh pejabat-pejabat di Jakarta yang tidak memahami nuansa khas seperti ini, apa yang bisa diharapkan dari peraturan semacam itu. Memang betul nampaknya Gubernur Ismeth Abdullah dan beberapa staffnya nampaknya turut serta dalam pembahasan tindak lanjut SEZ ini. Tetapi biasanya tanpa adanya perimbangan jumlah maupun kualitas anggota yang terlibat dalam suatu proses pengambilan keputusan, biasanya kepeutusan akan lebih berat ke pihak jumlah maupun kualitasnya lebih besar. Saya tentu saja tidak bermaksud menganggap enteng kemampuan Gubernur Ismeth Abdullah jika sendirian menghadapi pejabat di Jakarta. Tetapi niscaya posisi tawarnya akan lebih kuat jika Gubernur melibatkan para stake holder lainnya dari Kepri ke dalam timnya sewaktu berunding dengan pihak Jakarta. Kehadiran perwakilan dari APINDO, KADIN, DPRD, Serikat Buruh dan Serikat Pekerja dan Komponen Pemuda Kepri dalam tim Gubernur dalam menyusun payung hukum SEZ sudah barang tentu akan menambah kualitas produk hukum tersebut nantinya.

Pada saat penandatangan perjanjian kerjasama mengenai SEZ tersebut Presiden SBY telah menjanjikan bahwa proses penyiapan perangkat hukum SEZ akan selesai dalam 100 hari. Itulah sebabnya setiap hari Batam Pos melakukan hitung mundur (count down) 100 hari yang dijanjikan Presiden. Mudah-mudahan ada pembantu Presiden SBY yang bersedia menunjukkan hitung mundur koran Batam Pos tersebut kepada Presiden.

Namun jika kita melihat situasi politik negara kita saat ini, rasanya sangat tidak realistis untuk mengharapkan selesainya semua payung hukum yang diperlukan dalam 100 hari. Apalagi payung hukum tersebut harus berupa Undang-Undang atau berupa Peraturan Pemerintah Pengganti Undang (PERPU) sekalipun. Kita semua tahu bahwa Jakarta tidak hanya mangurusi Batam Bintan Karimun melainkan seluruh wilayah Indonesia dari Sabang hingga Merauke. Daerah lain di Indonesia pasti tidak akan menerima jika pejabat di Jakarta menunda berurusan dengan mereka dengan alasan sedang sibuk mengurusi SEZ BBK. Lalu apakah jika tenggat waktu 100 hari terlewati SEZ akan gagal? Tentu kita semua tidak mau SEZ ini gagal.

Kita semua tahu dalam situasi tertentu kebutuhan bisa mengatasi peraturan. Pengalaman bernegara kita maupun di negara lain sudah membuktikan itu. Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 dan proklamasi Kemerdekaan RI merupakan analogi paling sahir untuk itu. Hukum atau undang-undang tertulis apa yang memberikan kuasa kepada para pemuda untuk mendeklarasikan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan, dan nama Indonesia sebagai nama bangsa kita. Juga tidak ada dasar hukum tertulis yang memberikan mandat kepada Sukarno dan Hatta untuk memproklamirkan kemerdekaan membentuk negara RI. Kenyatannya kita menerimanya dan melaksanakan isi sumpah pemuda dan proklamasi Kemerdekaan RI tanpa ragu. Komitmen politiklah yang mengatasi semua kekurangan yang ada dalam suatu peraturan jika peraturan tertulis sudah ada. Kalaupun peraturan tertulis mengenai SEZ itu sendiri belum ada, asalkan komitmen politik pemerintah bulat dan transparan untuk kemajuan Batam Bintan dan Karimun dan dengan melibatkan semua pemangku kepentingan untuk merumuskan komitment politik tersebut, seharusnya SEZ bisa segera dilaksanakan. Lagipula ada adagium yang mengatakan manusia bukan diciptakan untuk hukum tetapi hukum diciptakan untuk manusia.

*) Petrus M. Sitohang, Seorang Akuntan dan Aktivis Pemuda tinggal di Tanjungpinang

Monday, May 21, 2007

Pulau Bintan, Gurindam, Kopi O dan Konservasi Penyu

Jika hendak mengenal orang berbangsa
Lihatlah kepada budi dan bahasa

AUDIENSI DENGAN GUBERNUR KEPULAUAN RIAU


Sedang menerima cindera mata dari Gubernur Ismeth Abdullah saat memimpin pengurus Komisariat Daerah Pemuda Katolik Kepulauan Riau audiensi di Kantor Gubernur Kepulauan Riau di Tanjungpinang tanggal 2 April 2007. Turut menyaksikan (dari kiri ke kanan) Blasius C. Akur (Penasihat), Johnson Silalahi (Wakil Ketua Cabang Batam), Rahman Silaen (Sekretaris Komda Kepulauan Riau), Johanes Purba (Ketua Cabang Batam) dan John Richard Tulenan (anggota senior Pemuda Katolik Kepri yang juga anggota DPRD Prov Kepri).

SILSILAHKU

Marga Sitohang merupakan saudara segaris dari marga Situmorang yang merupakan keturunan dari Ompu Tuan Situmorang. Dihadapan Ompu Tuan Situmorang ketujuh cicit Ompu Tuan Situmorang yaitu: Lumban Pande, Lumban Nahor, Suhutnihuta (ketiga anak pertama ini hingga saat ini tetap menggunakan marga Situmorang), Tuan Ringo (Siringoringo), Dari Mangambat, Raja Itubungna dan Ompu Bonanionan (ketiganya yang terakhir ini menggunakan marga Sitohang) telah berikrar bahwa keturunan mereka adalah bersaudara satu dengan yang lainnya dan tidak boleh saling mengawini hingga akhir jaman.

Tugu persatuan marga Sitohang di Bona Ture Urat Kecamatan Palipi Kabupaten Samosir.


Silsilahku, Petrus Marulak Sitohang panggilan Ama ni Gloria, dimulai dari Op. Tuan Situmorang (nenek moyang marga-marga Situmorang, Siringo-ringo, Rumapea dan Sitohang atau disebut juga marga-marga Sipitu Ama) adalah sebagai berikut:

Op. Tuan Situmorang beranak: 1. Panoparaja dan 2. Op. Pangaribuan
Op. Pangaribuan (Sitohang) beranak: Raja Babiat
Raja Babiat beranak: 1. Dari Mangambat (Sitohang Uruk); 2. Raja Itubungna (Sitohang Tonga-tonga); 3. Ompu Bonanionan (Sitohang Toruan)

Urutan selanjutnya adalah (angka romawi menunjukkan nomor urut generasi):
I. Raja Itubungna beranak: 1. Pangulusojuangon; 2. Guru Tateabulan; 3. Duha Ulubalang
II. Guru Tateabulan beranak: 1. Parbaitan; 2. Amparampang; 3. Togaraja
III. Parbaitan beranak: Tuan Sindar
IV. Tuan Sindar beranak: 1. Op. Huturlaut; 2. Situanraja (Pealangge)
V. Op. Huturlaut beranak:
Ampangandasan
VI. Ampangandasan beranak: 1. Amparjongjong; 2. Ampagaroloan; 3. Op. Hutagurgur; 4. Op. Jatani
VII. Amparjongjong beranak: 1. Op. Sampurnabolak; 2. Op. Lintong
VIII. Op. Sampurnabolak beranak: 1. Op. Niujungnamora; 2.Op. Alabahal
IX. Op. Niujungnamora: 1. Op. Pagaroloan; 2. Op. Sibaroloan; 3. Op. Surungbarita
X. Op. Sibaroloan beranak: Op.Tuan Ingul (br. Pandiangan)
XI. Op. Tuan Ingul:
Amparsiding (br. Tanggang)
XII. Amparsiding: 1. Markus;
2. Paulus (br. Pandiangan)
XIII. Paulus beranak: 1. Firman Martin (br. Pakpahan); 2. Bungamina br Tohang (Nainggolan) 3. Parlindungan (br. Mangunsong) 4. Bunganti br. Tohang; 5. Muara (br. Tampubolon)
XIV. Pirman Marthin beranak: 1. Frisda br. Tohang (Hutasoit) 2. Petrus Marulak (br. Purba); 3. Sinur Erlina (Naipospos) 4. Benediktus B.F.H. (br. Ambon) 5. Josephine Juniati br Tohang (Swesen) 6. Agustina Dien br. Tohang
XV. Petrus Marulak beranak: 1. Gloria Marisa Tiurmaida br Tohang 2. Hilary Marito br. Tohang 3. Patricius Saut Anugerah; 4. Gianpaolo Hamonangan

Dengan demikian mengikuti penomoran generasi marga Sitohang, maka saya adalah generasi ke 15 dari Marga Sitohang Tonga-tonga.



MASA KECILKU


Dari kanan ke kiri: Kamilus Sinaga (+) seorang kerabat, saya, Ali Binsar Nainggolan, Juniar Nainggolan (keduanya sepupu) ompung saya Juliana boru Pandiangan, Pineria Nainggolan (sepupu) dan paman saya Muara Sitohang (anak ompung paling bungsu).


Saya tinggal bersama ompung suhut saya Juliana boru Pandiangan di Desa Gajah Asahan antara tahun 1974-1976. Ompung boru Pandiangan adalah ibu ayah saya. Dia adalah type wanita batak tradisional dan berpendirian sangat kuat. Begitu kuatnya hingga kesan itu masih saya ingat hingga sekarang.

Oppung datang menjenguk keluarga kami di Jakarta tahun baru tahun 1974. Ketika oppung hendak pulang kembali ke Desa Gajah saya berkeras ingin ikut dengannya. Orang tua saya tidak berhasil membujuk saya untuk mengurungkan niat saya. Akhirnya saya menemaninya kembali ke kampung dengan KM Tampomas yang terkenal itu. Saat itu semua anak-anak oppung saya sudah berkeluarga atau merantau di luar Desa Gajah. Hanya saya yang menemani oppung saya tinggal di rumahnya saat itu. Beberapa saat berselang kemudian Kamilus Sinaga (+) datang dan tinggal bersama kami membantu oppung mengerjakan sawahnya.
Walau hanya tiga tahun, kenangan tinggal bersama oppung boru Pandiangan ini melekat kuat dalam ingatan saya. Saya masih mengingat dengan jelas kebiasaan-kebiasaannya baik saat di rumah maupun di sawah. Salah satunya adalah sifatnya yang pembersih. Dia akan mencuci kembali piring ataupun gelas yang akan digunakan dengan air panas kalau bukan dia sendiri yang mencucinya.
Oppung adalah seorang Katolik yang taat. Walau tidak bisa membaca dan menulis dia menghapal lagu-lagu gereja dengan sangat baik. Malam hari sebelum tidur dia biasa menghabiskan waktu dengan menganyam tikar pandan. Sambil menganyam dia akan menyanyikan lagu-lagu gereja. Salah satu lagu yang paling saya ingat adalah lagu mazmur yang berjudul "Tuhan i Parmahan Au", Tuhan Adalah Gembalaku. Saat-saat seperti itu biasanya saya terbaring di sampingnya sambil memperhatikan keterampilannya menganyam tikar dan menikmati senandung pujiannya. Setelah beberapa saat biasanya saya akan tertidur hingga terbangun keesokan paginya.
Saat bangun saya sudah mendapatinya di dapur memasak makanan kami untuk pagi itu dan untuk makan siang kami di sawah hari itu. Karena setelah pulang sekolah biasanya saya akan dengan riang bergegas menemuinya di sawah.
Saya sungguh merasa beruntung pernah tinggal bersamanya. Ketika orang tua saya meminta saya untuk segera kembali ke Jakarta saya biasanya selalu menolak, bukan karena saya tidak mencintai orang tua dan saudara-saudara saya yang lain tetapi karena sayangnya saya kepada oppung saya itu. Saya baru mau pulang ke Jakarta ketida orang tua saya mengutus salah seorang kerabat dari Siantar datang menjemput saya langsung ke Desa Gajah dengan membawa berita ibu saya sedang sakit dan meminta saya harus kembali.
Setelah kembali ke Jakarta saya merasa kesulitan untuk beradaptasi kembali dengan suasana Jakarta. Saya selalu rindu dengan oppung saya dan Desa Gajah. Beberapa tahun setelah saya kembali ke Jakarta oppung meninggal di Desa Gajah tanpa saya bisa melihat jasadnya. Saya sering merasa umurnya akan lebih panjang seandainya saya tetap menemaninya di Desa Gajah dan tidak meninggalkannya.
"Nungnga sonang be ho nuaeng di siamun ni Tuhanta kan Oppung? Manggomgom ma tondim di hami sude pinomparmu na tading dope di portibion ......."