Monday, May 28, 2007

APAKAH SISINGAMANGARAJA TIDAK DIDUKUNG ORANG BATAK ?














Pluralisme SM Raja XII

Masih Ada Kontroversi Menyertainya
Kemampuan Sisingamangaraja XII melakukan aliansi dengan banyak kelompok di sekitar tanah Tapanuli dinilai cendekiawan menunjukkan bahwa Sisingamangaraja XII adalah tokoh pluralis dan multikulturis. Sisingamangaraja XII mampu menghidupi keberanekaragaman yang tumbuh di Sumatera.

Hal ini mengemuka dalam seminar peringatan 100 tahun gugurnya pahlawan nasional Sisingamangaraja XII (SM XII) yang bertema Sisingamangaraja XII, Simbol Perekat Masyarakat Indonesia di Medan, Sabtu (26/5).

Ia dekat dengan panglima Aceh yang muslim, bahkan mereka rela membantu perjuangannya di tanah Batak. Ia juga tidak memusuhi misionaris Kristen Nommensen, bahkan bertamu dan berkorespondensi dengannya.
Kakeknya (SM X) tewas dibunuh pasukan Islam dari selatan yang ingin melakukan Islamisasi Tapanuli. Ayahnya (SM XI) justru tidak memusuhi Islam bahkan mengirim SM XII ke Aceh dan elemen Islam masuk dalam ritus kepercayaan SM XII.

Menurut sejarawan Unimed Dr Ichwan Azhari, SM XII adalah pemimpin Batak yang membuka diri dan mampu membangun citra positif terhadap kekuatan atau wilayah yang berdampingan dengan Batak. Lebih dari 100 tahu lalu, tanah Batak telah memiliki pemimpin progresif, bervisi ke depan, tidak eksklusif dan mengisolir diri. Pertanyaannya, apakah saat ini pemimpin dan politisi yang memimpin tanah Batak banyak belajar dari sikap dan visi SM XII?

Guru Besar Sosiologi dan Antropologi Universitas Negeri Medan (Unimed) Prof Dr Bungaran Antonius Simanjuntak mengataan, SM XII adalah tokoh yang menyeluruh. Selain mempertahankan Tanah Air dari perebutan Belanda, SM XII juga menolak perbudakan, dan anti pertumpahan darah. Sebelum akhirnya berperang, SM XII lebih dulu melakukan diplomasi dengan Belanda pada tahun 1876-1878. "Maka, sangat disayangkan jika kemudian ada masyarakat yang menggunakan nama SM XII untuk kepentingan tertentu," katanya.

Sejatinya, kata Ichwan, banyak penelitian yang harus dilakukan pada tokoh ini. Sejak penelitian oleh WB Sidjabat tahun 1982, belum ada lagi penelitian tentang SM XII. Bahkan, riwayat hidup SM XII, perjuangannya, spiritualitasnya, termasuk keterbukaannya masih menimbulkan kontroversi. "Benarkah di satu era perjuangannya ia justru tidak mendapat dukungan dari orang Batak sehingga harus mempertahankan diri sampai ke Dairi? Ia meninggal karena ditembak oleh Chrostoffel atau ditembak Hamisi," tanya Ichwan.

Namun, di antara kontroversi itu, kata Ichwan, SM XII adalah tokoh yang humanis dan mengagumkan. SM XII menyadari heterogenitas adalah salah satu kelemahan utama Batak dan mengadopsi sistem Raja Merampat, mengambil inisiatif mengadakan pemerintahan sendiri. Ia mengonsolidasi sistem politik Batak yang terkotak-kotak dan heterogen, hanya bagaimana caranya belum diketahui.

Rektor Universitas Dharma Agung Robert Sibarani mengatakan, entitas yang menyatukan Batak bukan agama, atau adat istiadat, namun etnik itu sendiri.

Hadir sebagai pembicara Etnomusikolog USU Drs Irwinsyah Harahap MA, Dr Togar Nainggolan dari Penebit Bina Media Perintis, Dr Subanindyo Hadiluwih dari UISU, dan Darwin Tobing, Dosen ST Teologia HKBP Siantar, dan umat Parmalin Monang Naipospos.

(dikutip dari Harian KOMPAS edisi Senin, 28 Mei 2007)

No comments: