Thursday, May 31, 2007

FATAH MENGAJAK HAMAS MENGAKUI ISRAEL

Palestina

Tidak Ada Strategi Bersama Hadapi Israel

Cairo, Kompas - Faksi-faksi Palestina selama ini tidak punya strategi bersama dalam menghadapi Israel dan berjalan sendiri-sendiri dalam melakukan manuver politik dan perlawanan. Seharusnya ada kerja sama yang kuat antara Presiden Mahmoud Abbas dan Perdana Menteri Ismail Haniya.

Misalnya, PM Haniya bertugas mengamankan dalam negeri dan Presiden Abbas berkonsentrasi untuk urusan luar dan perundingan. Penasihat keamanan Presiden Abbas yang juga anggota Dewan Keamanan Nasional Palestina, Muhammad Dahlan, menegaskan hal tersebut dalam perbincangan dengan Kompas, Selasa (29/5) di Cairo.

Ditambahkan, dengan tidak adanya kebersamaan strategi itu, maka terjadilah kondisi politik dan keamanan Palestina seburuk seperti yang terjadi sekarang ini. Menurut dia, kesepakatan Mekkah yang dicapai antara Hamas dan Fatah, Februari lalu, sudah bagus dan positif. "Kesepakatan Mekkah adalah membangun hubungan internal Palestina yang benar serta memberi wewenang Presiden Abbas atas nama PLO berunding dengan Israel," lanjut Dahlan.

Presiden Abbas yang mendapat wewenang berunding dengan Israel berhak meminta faksi-faksi Palestina menghentikan serangan roket karena serangan itu lebih banyak ruginya daripada untungnya. "Serangan roket itu menyulitkan posisi Abbas yang telah diberi wewenang berunding," kata Dahlan yang juga anggota parlemen Palestina dari Fatah. Menurut Dahlan, harus ada pemahaman baru terhadap definisi perlawanan itu.

Jangan hancurkan Israel

Tidak zamannya lagi terus meneriakkan slogan menghancurkan Israel. Maka, lanjut Dahlan, meski kesepakatan Mekkah masih ada, perlu diperkuat dengan komitmen dan kesepakatan tambahan.

Dahlan menuduh Hamas sebagai pihak pertama yang berada di balik memburuknya situasi keamanan di Jalur Gaza terakhir ini yang dimulai dengan pembunuhan dua aktivis Fatah di Jalur Gaza. "Saling membunuh dengan sengaja antara sesama Palestina adalah hal baru dalam komunitas Palestina," kata Dahlan.

Ia menolak tuduhan Fatah telah berkolaborasi dengan Israel. Ditegaskan, adalah Fatah yang memulai perjuangan melawan Israel. Fatah telah berjuang selama 10 tahun di Jalur Gaza dan Tepi Barat serta 30 tahun di Beirut.
"Saya telah bekerja selama 15 tahun dengan Yasser Arafat dan berhasil mempertahankan prinsip-prinsip perjuangan Palestina," ungkap Dahlan. "Ketika masa intifadah dulu, saya menjabat kepala keamanan preventif di Jalur Gaza dan saya banyak melindungi aktivis Hamas ketika Israel memburu," kata Dahlan.

Ia mengatakan, kini Hamas selalu menuduh pihak mana pun yang tidak setuju program politiknya sebagai antek-antek Israel. Menurut Dahlan, semua rakyat Palestina pasti sepakat menuntut berdirinya negara Palestina dengan ibu kota Jerusalem Timur. "Bagaimana mencapai tujuan itu? Tidak mungkin dengan anarkisme," kata Dahlan.

Ia meminta Hamas lebih memperjelas program politik dan perlawanannya. Menurut dia, program politik pemerintah persatuan masih belum cukup memenuhi tuntutan internasional. Dikatakan, Fatah sebenarnya banyak rugi bergabung dalam pemerintah persatuan karena Fatah kini dituduh bekerja sama dengan Hamas melakukan konspirasi terhadap Barat.
"Pemerintah persatuan itu minimal harus komitmen dengan apa yang menjadi komitmen PLO. Hamas sebagai faksi tidak harus memenuhi tuntutan internasional. Fatah sendiri sebagai faksi sampai sekarang belum mengakui Israel. Tetapi semua faksi harus tunduk dan berada di bawah payung PLO yang telah mengakui Israel," kata Dahlan. (Harian KOMPAS 31 Mei 2007)

1 comment:

Anonymous said...

Can someone translate this one for me. I know it's rather long but just in case, it would be quite burdensome, maybe the gist would be fine for the mean time.

Terima Kasih/Thanks