Tuesday, May 22, 2007

GEREJA KATOLIK DI TANJUNG UBAN

Hingga awal tahun 1990 Gereja Katolik di Tanjung Uban Pulau Bintan merupakan kelompok kecil yang terdiri dari para pegawai pemerintah yang ditugaskan di Kecamatan Bintan Utara Kabupaten Bintan (dahulu Kabupaten Kepulauan Riau) dan para pendatang dari Flores dan keturunan Tionghoa.

Tetapi seiring dengan perkembangan penduduk sebagai dampak pertumbuhan industri di Pulau Bintan hasil kerjasama pengusaha Indonesia dan Singapura yang didukung penuh oleh pemerintah Indonesia dan Singapura sejak awal tahun 1990, Gereja Katolik Tanjung Uban pun umat Gereja Tanjung Uban turut berkembang secara signifikan.

Perubahan yang mencolok adalah kalau sebelumnya Gereja St. Fransikus Xaverius yang berdiri sejak tahun 1957 kebanyakan diisi oleh umat yang sudah dewasa dan berkeluarga, maka sejak kedatangan para pekerja dari berbagai daerah di Indonesia yang mengisi lowongan pekerjaan di kawasan industri manufaktur dan kawasan pariwisata internasional Bintan, maka Gereja Tanjung Uban berubah menjadi Gereja kaum migran dan pekerja muda.

Gereja mulai terasa sesak dan pimpinan Gereja sejak tahun 1999 mulai merencanakan pembangunan gedung gereja yang baru yang direncanakan akan menjadi Gereja Paroki.

Sejak tahun 2001 saya ditunjuk menjadi Ketua Panitia Pembangunan. Setelah melalui proses panjang mulai dari perencanaan, pencarian dan pembelian lahan, perancangan dan terutama proses perijinan yang bertele-tele dan memakan banyak persahaan saat menghadapi beberapa warga yang tidak senang atas kehadiran gereja baru di wilayah yang secara tradisional merupakan wilayah muslim, akhirnya Panitia mendapat titik terang setelah Ijin Mendirikan Bangunan akhirnya dikeluarkan oleh Pelaksana Tugas Bupati Kepulauan Riau Andi Rivai Siregar pada akhir tahun 2004.

Pembangunan akhirnya dimulai awal tahun 2005 dan penyerahan pertama oleh kontraktor dilakukan bulan Desember tahun 2005. Meskipun secara formal belum diresmikan hingga saat ini karena memang masih memerlukan banyak pekerjaan finishing lainnya, tetapi atas permintaan umat akhirnya oleh Uskup Pangkalpinang Mgr. Hilarius Moa Nurak, SVD berkenan memberkati bangunan gereja yang memang belum sepenuhnya selesai itu dalam sebuah misa pemberkatan yang meriah pada tanggal 23 Desember 2005 malam. Hal ini dimaksudkan agar gereja tersebut bisa mulai dipakai merayakan Natal mulai tahun itu.














Menyaksikan Mgr. Hilarius Moa Nurak, SVD, Uskup Pangkalpinang yang sedang menandatangani prasasti pemberkatan gereja St. Yohanes Don Bosco Tanjung Uban dalam misa pemberkatan tanggal 23 Desember 2005. Turut menyaksikan adalah Pastor Laurensius Dihe Sanga, pastor kepala Paroki Hati Santa Maria Tak Bernoda Tanjungpinang (tengah).














Tarian Tortor Batak Karo yang dipersembahkan muda mudi Gereja menambah semarak misa pemberkatan dan menegaskan Gereja Tanjunguban sebagai gereja kaum muda. Para pekerja muda di kawasan Industri manufaktur Lobam dan kawasan industri pariwisata internasional Lagoi merupakan bagian terbesar dari umat Gereja Katolik Tanjung Uban. Sebagian besar pekerja muda tersebut adalah berasal dari Sumatera Utara, Jawa dan NTT.














Para imam yang turut menjadi konselebrans dalam misa pemberkatan (dari kanan ke kiri) Pastor T. Nugroho, SSCC, Pastor Yustinus Ta Leleng, Pr., Pastor Poya, Pr., Pastor Alex Datu, SSCC., dan paling kiri Pastor Henry Jourdan, MEP














Bersama Ferry Marut Ketua Seksi Pembangunan (paling kiri) mewakili Panitia Pembangunan menyerahkan pintu gereja secara simbolis kepada Uskup sesaat sebelum misa pemberkatan.














Uskup Pangkalpinang Mgr. Hilarius Moa Nurak, SVD didampingi oleh Pastor Philipus Seran, Pr. (Pastor Kepala Paroki saat itu) memberkati lahan di mana gereja baru akan dibangun pada saat misa peletakan batu pertama tanggal 27 Oktober 2003.














Suasana saat sosialisasi rencana pembangunan dengan masyarakat di sekitar lokasi gereja yang akan dibangun bertempat di kantor keluarahan Tanjung Uban Selatan pada tanggal 18 Mei 2002. Tampak dari kanan ke kiri adalah Zainur Dahlan Lurah Tanjung Tanjunguban Selatan, Pastor Felix Susanto, SSCC Pastor Deken saat itu, Frans Yusup, tokoh umat katolik yang dituakan (sedang berdiri), Hermus Gabriel Ketua Dewan Stasi Tanjung Uban, Petrus M. Sitohang Ketua Panitia Pembangunan dan salah seorang umat.

















































































4 comments:

Mata Dunia said...

Selamat atas peresmian gerejanya.
Saya bukan orang Batak, bukan orang Sumatera, tetapi hanya beriman Katolik.

Saya gembira mendengar ada gereja didirikan di Bintan.

Selamat...

PMS said...

Terimakasih....

Gereja St. Yohanes Don Bosco adalah milik semua umat beriman Katolik, termasuk anda. Singgahlah kalau ada waktu..

Yaumil said...

Selamat juga ya atas pembangunannya, saya muslim, semoga terbina kerukunan umat. saya lahir di Uban dan tinggal disana sampai SMP saja.Itu Pak Frans Yusup yang dulunya Pegawai Pertamina ya, orgnya putih dan berkumis.Di Uban juga ada gereja Katolik di depan TK dekat gereja Pantekosta.

Mario Rosario Morisi said...

Hallo Pak Sitohang, salam kenal, saya Mario, putra pertama Pak Frans Jusup, kebetulan saya menemukan ulasan tentang gereja Katholik Tg. Uban ini. Senang sekali rasanya bisa melihat foto gereja yang lama. Saya sempat mengalami gereja lama dari tahun 1985 sampai dengan 1991. Karena setelah lulus SMP negeri 2 tg Uban tahun 1991 saya melanjutkan SMA di jogjakarta. Gereja lama penuh kenangan buat kami. Ulasan yang bagus sekali, akan saya perlihatkan ke Papa n Mama. Untuk Pak Yaumil, betul Papa pensiunan Pertamina Tg. Uban tahun 2003. Sekarang beliau tinggal di tangerang bersama kami semua. Terima kasih dan sukses untuk gereja di lokasi yang baru.

Petrus M. Sitohang , Pariwisata Dan Kelautan Bisa Jadi Motor Pertumbuhan Ekonomi

KEPRIONLINE.CO.ID,TANJUNGPINANG,- Provinsi Kepulauan Riau dikenal kaya akan sumber daya alam. Letaknya yang juga sangat strategis memun...