Monday, May 21, 2007

MASA KECILKU


Dari kanan ke kiri: Kamilus Sinaga (+) seorang kerabat, saya, Ali Binsar Nainggolan, Juniar Nainggolan (keduanya sepupu) ompung saya Juliana boru Pandiangan, Pineria Nainggolan (sepupu) dan paman saya Muara Sitohang (anak ompung paling bungsu).


Saya tinggal bersama ompung suhut saya Juliana boru Pandiangan di Desa Gajah Asahan antara tahun 1974-1976. Ompung boru Pandiangan adalah ibu ayah saya. Dia adalah type wanita batak tradisional dan berpendirian sangat kuat. Begitu kuatnya hingga kesan itu masih saya ingat hingga sekarang.

Oppung datang menjenguk keluarga kami di Jakarta tahun baru tahun 1974. Ketika oppung hendak pulang kembali ke Desa Gajah saya berkeras ingin ikut dengannya. Orang tua saya tidak berhasil membujuk saya untuk mengurungkan niat saya. Akhirnya saya menemaninya kembali ke kampung dengan KM Tampomas yang terkenal itu. Saat itu semua anak-anak oppung saya sudah berkeluarga atau merantau di luar Desa Gajah. Hanya saya yang menemani oppung saya tinggal di rumahnya saat itu. Beberapa saat berselang kemudian Kamilus Sinaga (+) datang dan tinggal bersama kami membantu oppung mengerjakan sawahnya.
Walau hanya tiga tahun, kenangan tinggal bersama oppung boru Pandiangan ini melekat kuat dalam ingatan saya. Saya masih mengingat dengan jelas kebiasaan-kebiasaannya baik saat di rumah maupun di sawah. Salah satunya adalah sifatnya yang pembersih. Dia akan mencuci kembali piring ataupun gelas yang akan digunakan dengan air panas kalau bukan dia sendiri yang mencucinya.
Oppung adalah seorang Katolik yang taat. Walau tidak bisa membaca dan menulis dia menghapal lagu-lagu gereja dengan sangat baik. Malam hari sebelum tidur dia biasa menghabiskan waktu dengan menganyam tikar pandan. Sambil menganyam dia akan menyanyikan lagu-lagu gereja. Salah satu lagu yang paling saya ingat adalah lagu mazmur yang berjudul "Tuhan i Parmahan Au", Tuhan Adalah Gembalaku. Saat-saat seperti itu biasanya saya terbaring di sampingnya sambil memperhatikan keterampilannya menganyam tikar dan menikmati senandung pujiannya. Setelah beberapa saat biasanya saya akan tertidur hingga terbangun keesokan paginya.
Saat bangun saya sudah mendapatinya di dapur memasak makanan kami untuk pagi itu dan untuk makan siang kami di sawah hari itu. Karena setelah pulang sekolah biasanya saya akan dengan riang bergegas menemuinya di sawah.
Saya sungguh merasa beruntung pernah tinggal bersamanya. Ketika orang tua saya meminta saya untuk segera kembali ke Jakarta saya biasanya selalu menolak, bukan karena saya tidak mencintai orang tua dan saudara-saudara saya yang lain tetapi karena sayangnya saya kepada oppung saya itu. Saya baru mau pulang ke Jakarta ketida orang tua saya mengutus salah seorang kerabat dari Siantar datang menjemput saya langsung ke Desa Gajah dengan membawa berita ibu saya sedang sakit dan meminta saya harus kembali.
Setelah kembali ke Jakarta saya merasa kesulitan untuk beradaptasi kembali dengan suasana Jakarta. Saya selalu rindu dengan oppung saya dan Desa Gajah. Beberapa tahun setelah saya kembali ke Jakarta oppung meninggal di Desa Gajah tanpa saya bisa melihat jasadnya. Saya sering merasa umurnya akan lebih panjang seandainya saya tetap menemaninya di Desa Gajah dan tidak meninggalkannya.
"Nungnga sonang be ho nuaeng di siamun ni Tuhanta kan Oppung? Manggomgom ma tondim di hami sude pinomparmu na tading dope di portibion ......."


4 comments:

Riyanthi Sianturi said...

Tabo hian na mar-oppung i kan, uda?
Ahu pe huingot do tingki mangolu dope oppung na nami. Jotjot do hami, manang piga pahompu na, tinggal sampe saminggu di jabu ni oppung, molo tingki libur singkola. Molo nunga jonok ari na naeng masuk muse singkola, marroan ma angka natoras na mangalak anak na be. Las marpungu ma sude pinompar na. Sering do hami ditraktir oppung nami manuhor Taro, he..he..he..Apalagi molo nga dibahen oppung boru Teh Susu. Ala ni holong ni roha nami, gabe Oppung Ayang ma goar na.

Anonymous said...

ahh tahe ba... mansai dengganpanuturion ni lae bah... gabe taringot iba ditikki ngolu ni ompunghu... Ompu David (E br. Tobing)... hira hira songon kisah ni lae on do tong nian kisahhon...

Dang nian au rap tinggal dht ompungkon sajabu ale ala rap tinggal di sada huta dohami gabe tiap ari2 au mangalu2 tu ompunghon... rap marturi2an hami di tataring na huhut mangalompa sipanganonna.. rap muse mangurupi au mangalean pinahan mangan.. alai tong ma dang boi huida parmonding ni ompungkon alana lagi di Jakarta au Kerja Praktek.. dang boi mulak tikki i... tahe bah.. gabe masihol situtu au....

Salam kenal sian bariba on bah...

Horas

Par Bintan said...

@ Riyanthi,
Bah holan taro do di tuhor di hamu alai songonima las ni roham mangingot i ateh.

Anggo ompung hon, dituhor do mi kuah ni ni halak cina na di Kisaran manang Tanjungbalai na tabo hian i. Sampe sonari dang lupa au di si. Molo ro halak koling tu Desa Gajah di tuhor oppung do di au bandrek dohor roti na tabo i.

Molo ro par opera tu Desa Gajah, dilehon do ongkoshu lao manonton i. Songang so haribo-riboan ma huhilala di jolo ni oppung i. Gabe manja. Ido umbahen gabe losok roha mulak tu Jakarta uju i.

Par Bintan said...

@pardosasitutu

Bah ido ateh? Dang holan ahu hape na pardangol si songon on?

Mauliate ma poang ro ho mandilo ahu di bagas hon.

Horas,