Friday, June 22, 2007

NASIB OPERA BATAK

Belumlah Semerdu Nyanyiannya

Satu panggung yang tertutup tiga lapis layar berdiri di tengah lapangan Sisingamangaraja, Balige, Kabupaten Toba Samosir. Saat malam mulai turun, alunan uning-uningan segera terdengar. Riuhnya paduan taganing, hasapi, garantung, sarunai etek, dan hesek, seolah memanggil masyarakat sekitar lapangan untuk datang. Inilah saatnya opera Batak dimulai.

Betul saja, orang-orang mulai berduyun-duyun memasuki lapangan dan duduk di bangku yang sudah disediakan. Banyak pula yang berdiri, bahkan anak kecil duduk di depan panggung.
Jangan mengangankan mendengar kisah drama yang dinyanyikan secara seriosa layaknya aria-aria opera di panggung Broadway. Opera Batak adalah kisah tentang kearifan turun-temurun orang Batak yang disajikan dalam bentuk sandiwara. Mirip ludruk di Jawa Timur atau ketoprak di Jawa Tengah.

Begitu tiga komposisi rancak dalam bahasa Batak berlalu segera pembawa acara mengumumkan penampilan penyanyi yang akan membawakan lagu opera Batak. Penampilannya disambut riuh tepuk tangan.

Lalu dimulailah kisah Sipurba Goringgoring, lakon opera Batak yang dipentaskan dalam rangka HUT Ketujuh Kabupaten Toba Samosir, 11 Maret lalu. Kisahnya kisah cinta. Syahdan, Sipurba yang yatim piatu diasuh pamannya hingga tiba saatnya ia mencari pekerjaan. Bekerjalah ia kepada seorang pengusaha di Barus, yang kemudian mewariskan usahanya kepada Sipurba.

Selama diasuh pamannya, Sipurba menjalin kasih dengan pariban-nya bernama Bintang. Ia bimbang memutuskan antara anak pamannya dan putri si pengusaha Barus. Sampai suatu ketika Bintang datang menemuinya dan membawa seorang anak. Sipurba tidak mau mengakui anak itu tanpa ada bukti. Bintang mengeluarkan kunci yang dulu diberikan Sipurba kepadanya sebagai bukti.

Tanpa bisa menyangkal, akhirnya Sipurba mengakui dan menerima Bintang dan anaknya sebagai keluarganya. Akhir yang bahagia dan disambut bahagia pula oleh penonton. Sepanjang pementasan, drama diselingi dengan lagu dan tari. Namun, tari dan lagu itu sama sekali tidak berhubungan dengan cerita. Spontanitas sangat diandalkan untuk menjadikan opera Batak menarik bagi penonton. Hampir sepanjang pentas penonton diajak tertawa oleh kata-kata maupun tingkah laku aktor.

Hal yang sedikit terasa mengganggu adalah penampilan selingan kelompok band asal Medan yang membawakan lagu populer. Mereka membawakan lagu Terajana dalam iringan alat musik elektrik di tengah suasana Batak yang coba dibangun pemain maupun pemusik opera.
Kisah Sipurba Goringgoring cukup terkenal di daerah Humbang Hasundutan. Kisah lain yang biasa dipentaskan, misalnya, adalah Siboru Tumbaga, Sipiso Somalim, Pulo Batu, Guru Saman, dan Sisingamangaraja. Rata-rata kisah itu merupakan cerita rakyat Batak yang dituturkan dari mulut ke mulut.

Adalah Diego van Biggelar seorang misionaris dari Belanda yang datang ke Samosir yang pertama kali menyebut istilah opera Batak pada 1934. Pionir opera Batak sendiri adalah Tilhang Gultom yang mendirikan kelompoknya tahun 1920-an. Opera Batak dimainkan oleh beberapa pemain yang merangkap sebagai aktor dan pemusik.

Mereka meramu alunan taganing (gendang terdiri dari enam bilah untuk melodi), hasapi (kecapi dengan dua senar), seruling, garantung (gamelan dari kayu), sarunai etek (terompet kecil), dan hesek (botol atau besi untuk menjaga ritme) menjadi musik yang mengundang orang berdendang dan bergoyang.

Bangkit lagi

Sayangnya, nasib opera Batak tidak semerdu dendang atau seceria musik pengiringnya. Sama seperti nasib berbagai kesenian tradisional yang terpinggirkan karena tidak mampu bersaing dengan televisi. Sejak akhir 1970-an hingga awal 2000, opera Batak hidup kembang kempis.

”Kami mulai bangkit kembali tahun 2002 di Tapanuli Utara. Ternyata banyak pihak yang masih peduli untuk menghidupkannya lagi,” kata Thompson Hs, sutradara Sipurba Goringgoring sekaligus koordinator Pusat Latihan Opera Batak (PLOT).Selain kalah bersaing dengan hiburan modern, opera Batak mengalami stagnasi dalam regenerasi. Para pemain rata-rata berusia 50 tahun lebih, seperti Alister Nainggolan (70), Martua Sitohang (58), atau E br Silaban (61). Mereka menerjuni dunia opera Batak sejak awal 1970-an.

(dikutip dari Harian Kompas, edisi 22 Maret 2006)

Tuesday, June 19, 2007

THE STORY OF SI ULUBALANG SOBA

In the Urat region of Pulau Samosir, Tuan Sipallat 1) lived happily with his wife from the Manurung clan, which held sway over the Sibisa highlands on the west side of Lake Toba at the foot of Mt Simanukmanuk. Tuan Sipallat was the third son of Ompu Tuan Situmorang, a personal name that later became the marga name of his descendants. Tuan Sipallat lived in the village of Suhut ni Huta.

At one point war broke out with a neighboring marga. Tuan Sipallat invited his six brothers 2) to lead their group against the enemy. But not a single one of the brothers stirred himself to advance to the battlefield.

Tuan Sipallat alone faced the enemy. He lost the fight, was captured and his head was severed and buried by his enemies at the foundation stone of the steps to the house of the head of the triumphant lineage. Si Boru Sodalahi, his widow, not long afterwards caused a commotion in the state with actions that contravened the customary law and status of the marga and brought disgrace on her people. She fell in love with the head of the lineage (suku) who had decapitated her beloved, and then married him.

To defeat in battle was added this second shame. The marga united and prepared to await the right time to redeem its honor.

Si Boru Sangkar Sodalahi dearly loved her new husband. Daily she carried on with her weaving, more industriously than usual, making ever more beautiful ritual cloths [ulos or blessing shawls]. She had her husband help prepare the rarest dyes from the natural products of the surrounding area, to the point that he too was busy far into the night, working for love of this pretty woman, the former wife of his enemy. When at night he was tired, he stretched out on her lap to receive her caresses and gentle blandishments as his reward. One night he was invited by his wife to rest his head on her lap and enjoy the tender touch of her soft hand. He then slept soundly.

His wife said: "Are you asleep already, my love? You seem so tired that there is no chance for you to talk to me," while she stroked her husband's hair with her hand. Her husband snored—Si Boru Sangkar Sodalahi touched his neck with natural desire. She turned her head while reaching for something under the sleeping mat. The village was quiet. In the dim glow of the lamp, Si Boru Sangkar Sodalahi took an unsheathed sword from under the mat. The glow bounced off the blade of the sharp sword. Si Boru Sangkar Sodalahi raised the sword, observing her husband's neck intently. As quick as lightning, the sword swung, cleanly cutting the lineage leader's neck.
The head was detached, blood gushed red in all directions. Si Boru Sangkar Sodalahi then stood, lifting a blessing shawl with the "pattern of life" design from the heirloom chest. While unfolding the wide, beautiful cloth, she looked at the severed head lying there. Then with quick steps she left the house and went into the darkness.

From under the stone at the base of the stairs, she dug up the skull buried there, the skull of her first husband. While reciting a prayer, she wrapped the skull in the blessing shawl in her hand, then slung it over her shoulder. She also wept silently. She then reentered the house, got a piece of matting and some string. She wrapped the head of her second husband in the mat. Quickly she went out in the direction of Suhut ni Huta, the home of her first husband's marga, that had called down a curse upon her.

On arriving at Suhut ni Huta, she knocked on the gate of the village pallisade. The watchmen awoke and lit a torch, puzzled at who could be traveling so late at night and what that traveler's intentions might be. Si Boru Sangkar Sodalahi lifted her face, making herself known without a word, in the light of the torch.

All at once the two watchmen screamed, their surprise mixed with anger: "How do you dare to show your face here, accursed woman? It is not enough that you prostitute yourself? And throw disgrace on us? Go away, before we kill you, although the law of war forbids the murder of a woman!"

Si Boru Sangkar Sodalahi calmly listened to all this abuse, then said: "I have come to bring you something!"
They answered: "We do not need anything from you. Wait, until we come to your place to get what we need—your head and that of your husband!"
Si Boru Sangkar Sodalahi said: "I am only a woman. Open the gate, let me come in. I carry something that I wish to deliver that is most important for you. When I have given it to you, do what you want with me. I must and will speak with the marga tonight, to hand over something of great value to your descendants! Don't be afraid! As you see, I am alone and I will not leave before I am permitted to enter, even if I must wait until morning when you will no longer be able to deny me entrance! So why not now?"

The watchmen awakened the adat chief (wali-adat), to confer. It was decided to permit the woman to enter and deliver what she carried. The gate was opened for Si Boru Sangkar Sodalahi. She was taken to the adat house where men were waiting and a torch had been lighted.

On arriving there, she was invited to convey the matter [to the marga]. While standing, Si Boru Sangkar Sodalahi said: "Tonight I bring back your ancestor, returned home to this house, to discharge the moral obligation that fell upon all your heads!"

She then removed the [cloth] sling and displayed the skull of her ex-husband to those present, saying: "This is the revered, whose honor I have redeemed!" Then—while opening the [matting] package that she had laid down—"Witness now the ransom that I bring to you, the token of my inner sincerity concerning all my transgressions against the souls of the ancestors. You are now witnesses whether I am a traitor or a wife loyal unto death! Witness who has taken revenge on your behalf."

Those present were incapable of answering her, moved to tears as they looked at Si Boru Sangkar Sodalahi, and at the skull on top of the blessing shawl.

The adat chief finally said: "Surely you have given certain proof of your loyalty! You have redeemed our honor and your own. Tell us, what is it that you want us to do?"

Si Boru Sangkar Sodalahi said: "There is nothing that I want for myself alone, because whatever happens it is not proper that I be forgiven. I have only one request—for the sake of the law of life—the law of our ancestors—I ask that the child in my womb be accepted by the marga and be treated after it is born as its own child. This is my sole wish, so that I may follow my own destiny. So that your heart is at peace and the vengeance and hatred are erased for ever!"

Hearing this the adat chief said: "Forgive us all! You are truly brave, a woman with a hero's soul. Stay with the margal From now on, your place in the marga is restored! From now on, you are truly our hero for all ages. We welcome you again to the marga's circle, witnessed by the Great Creator and the departed spirits of the ancestors, and I declare that truly, we will accept the child that you carry in your womb, whether male or female, as our own flesh and blood because it is the fruit of the whispering of the spirits of our ancestors.

Not long afterwards an adat ceremony was performed to proclaim and confirm the binding nature of this declaration. Si Boru Sangkar Sodalahi gave birth to a son. The child was given the name Si Marsaitan.

Si Boru Sangkar Sodalahi, noted in the genealogy as a principal ancestor, with the title Si Ulubalang Soba, occupies the highest place among the eternally-living gods, and continues to regulate the fate of her descendants in this middle world forever.

(As told by Sitor Situmorang 3) in Sitor Situmorang Poet of Lake Toba, translator A.L. Reber)
Footnote:
1) Tuan Sipallat the original name of Situmorang Suhut Nihuta
2) The other six brothers of Suhut Nihuta are:
  1. Situmorang Lumbanpande,
  2. Situmorang Lumban Nahor,
  3. Situmorang Tuan Ringo (Siringoringo),
  4. Sitohang Darimangambat,
  5. Sitohang Raja Itubungnga,
  6. Sitohang Ompu Bonanionan.
3) Sitor Situmorang, a renowned poet from Harianboho Samosir, is 12th generation of Simarsaitan.

Monday, June 18, 2007

100 TAHUN WAFATNYA PAHLAWAN NASIONAL RAJA SI SINGAMANGARAJA XII (1849-1907)

Peringatan 100 tahun (17 Juni 1907-17 Juni 2007) wafatnya Raja Batak Maharaja Sisingamangaraja XII di Bakkara Kabupaten Humbang Hasundutan tanggal 17 Juni 2007 dihadiri dari kiri ke kanan: Akbar Tanjung (politisi Batak terkemuka saat ini), Menteri Koordinator Polhukkam Widodo AS, Gubernur Sumatera Utara Rudolf Pardede, Pangdam BB Mayjen J. Suryo Prabowo dan Penasehat Presiden Letjen (Purn.) T.B Silalahi (Foto. Harian SIB Medan)
Tanggal 17 Juni tahun ini genap seratus tahun wafatnya pahlawan nasional Maharaja Sisingamangaraja XII.

Banyak kegiatan dilakukan di berbagai tempat di Indonesia untuk mengenang kepahlawanan Raja Batak ini termasuk berbagai seminar di Medan, Jakarta dan tempat-tempat lain dan puncak acara yang dilaksanakan pada hari Minggu, 17 Juni 2007 di desa Bakkara di tepi Danau Toba yang indah. Bakkara adalah pusat kerajaan Sisingamangaraja.

Orang Batak sangat bangga pada Sisingamangaraja XII karena dianggap Raja yang merupakan titisan dewa dan sekaligus pemimpin agama tradisional batak yaitu Parmalim. Kalau dia berkunjung ke suatu daerah, orang-orang biasanya akan bersujud dan berusaha agar anaknya dilihat oleh Raja ini. Orang-orang Batak saat itu percaya bahwa hanya dengan terkena bayangan tubuh Raja ini saja, anaknya akan menjadi orang yang yang pintar dan berguna kelak. Orang-orang kaya akan melepaskan budak-budak atau orang tawanan mereka jika Raja ini melintasi desa mereka. Raja Sisingamangaraja sangat anti perbudakan yang masa itu memang lazim.

Orang Batak juga percaya bahwa Sisingamangaraja berilmu tinggi dan kebal terhadap senjata apapun dan dapat menghilang dari pandangan mata. Cerita rakyat yang dibawakan oleh opera-opera Batak yang hidup di Sumatera Utara hingga akhir tahun 70an, menceritakan bahwa peluru akhirnya mampu merubuhkan tubuh Sisingamangaraja semata-mata setelah dia terkena darah puterinya Lopian yang terlebih dahulu ditembak oleh prajurit Belanda untuk memaksanya keluar dari persembunyiannya. Padahal dengan terkena darah maka kekebalannya akan menjadi sirna.

Sisinggamangaraja XII merupakan paman dari "kepala suku" penyair angkatan 45 Sitor Situmorang karena salah satu isteri Sisingamangaraja XII adalah boru Situmorang yang adalah bibi kandung Sitor Situmorang. Raja Sisingamangaraja sendiri dilahirkan dari seorang ibu boru Situmorang.

Raja Si Singamangaraja XII (1849-1907), Pahlawan Nasional Ensiklopedi Tokoh Indonesia

Saturday, June 16, 2007

MARSADA GROUP


Marsada are a lively 7-piece Batak group who perform their own arrangements of both traditional ceremonial music (uning-uningan) and more recent Batak folk using a mix of traditional instruments, acoustic guitars and close harmony vocals. Infectious rhythms and sensuous melodies. This group consist of Marlundu Situmorang as the lead vocal and the leader of the group, Kolous Sidabutar, Jannen Sigalingging, Tony Sidabutar, Amir Sinaga, Henry Manik and Amput Sidabutar.

Marsada will be donating a portion of their sales to the tsunami relief efforts to help their devasted country.

Below is link to a playlist from their Album titled PULO SAMOSIR. Samosir is name of the island in the middle of lake toba, the ancerstral land of Batak.

Audio Player :: calabashmusic.com


Make sure you turn your computer speaker on to enjoy their music. Enjoy listening...

DO YOU KNOW WHAT YOU MISS ABOUT BATAK?

Feel something missed about Batak in you? Well, just click the link below and enjoy one of the finest from Batak cultures. Make sure you turn your computer's or notebook's speaker on. Enjoy listening...

Audio Player :: calabashmusic.com

Friday, June 15, 2007

ABDURRAHMAN WAHID COMMENT ABOUT HOLOCAUST

June 12, 2007; Page A17 in The Wall Street Journal, USA BALI, Indonesia -- Today, religious leaders from many faiths and nations will gather here for a landmark conference in a unique place -- an island of tolerance, not terrorism. In a world in which religion is manipulated to justify the most horrific acts, it is our moral obligation not only to refute the claims of terrorists and their ideological enablers but also to defend the rights of others to worship differently: in freedom, security and dignity.
While there are many things that can be said and done to advance this cause, one issue in particular stands out as something we religious leaders must unite in denouncing: Holocaust denial. This denial is not a new phenomenon. Yet it is becoming an increasingly pervasive one. Long a hobbyhorse of the neo-Nazis and other figures from the fringe, it is gaining currency among millions of people who are either ignorant of history or are being misled by their media, their governments or -- sad to say -- their own religious authorities.
In recent years, we have seen that notorious 19th century Russian forgery, "The Protocols of the Elders of Zion," being widely disseminated in bookshops from London to Cairo. We have seen Hitler's "Mein Kampf" become a bestseller in Turkey. We have seen schools in Britain stop teaching the Holocaust for fear of offending their students. We have seen notorious academic frauds invited by the president of Iran to raise "questions" about the Holocaust -- as if this is just another controversy in which all opinions are equally valid. We have seen the Holocaust deniers use the fashions of moral relativism and historical revisionism to deny not just truth but fact, all the while casting themselves as martyrs against censorship. Worst of all, we have seen Holocaust denial being turned to an insidious political purpose: By lying about the events of the past, the deniers are paving the way toward the crimes of the future. They are rendering that well-worn yet necessary phrase "Never Again" meaningless by seeking to erase from the pages of history the very event that all people of good faith seek never to repeat. Let us be clear: The real purpose of Holocaust denial is to degrade and dehumanize the Jewish people.
By denying or trivializing the murder of six million Jews by the Nazis and their allies, the deniers are seeking to advance their notion that the victims of the 20th century's greatest crime are, in fact, that century's greatest victimizers. By denying or trivializing the Holocaust, the deniers are seeking to rob Jews of their history and their memory -- and what is a people without history and memory?
Indeed, by denying or trivializing the Holocaust, the deniers are perpetrating what is, in effect, a second genocide. Extinguished as they were from the ranks of the living, Hitler's Jewish victims are now, in effect, to be extinguished from the ranks of the dead. That is the essence of Holocaust denial.
Yet even as we recognize the threat that Holocaust denial poses to Jews everywhere, we must also be cognizant of the peril it represents to people of all faith traditions. Nations or governments that historically have given free rein to Jew-hatred -- whether in Medieval Europe or Inquisition- era Spain or 1930s Germany -- have invariably done lasting damage to themselves as well.
Today, the countries in which Holocaust denial is most rampant also tend to be the ones that are most economically backward and politically repressive. This should not be surprising: Dishonest when it comes to the truth of the past, these countries are hardly in a position to reckon honestly with the problems of the present. Yes, the short-term purposes of unscrupulous rulers can always be served by whipping up mass hysteria and duping their people with lurid conspiracy theories. In the long term, however, truth is the essential ingredient in all competent policy making. Those who tell big lies about the Holocaust are bound to tell smaller lies about nearly everything else.
Holocaust denial is thus the most visible symptom of an underlying disease -- partly political, partly psychological, but mainly spiritual -- which is the inability (or unwillingness) to recognize the humanity of others. In fighting this disease, religious leaders have an essential role to play. Armed with the knowledge that God created religion to serve as rahmatan lil 'alamin, or a blessing for all creation, we must guard against efforts to demonize or belittle followers of other faiths. Last year, Muslims from Nigeria to Lebanon to Pakistan rioted against what they saw as the demonizing of their prophet by Danish cartoonists. In a better world, those same Muslims would be the first to recognize how insulting it is to Jews to have the apocalypse that befell their fathers' generation belittled and denied.
Sadly, we do not live in such a world. Yet if radical clerics can move their assemblies to hatred and violence -- as was the case during the Danish cartoons episode -- then surely moderate and peace-loving clerics can also move theirs to rise above their prejudices and facilitate good relations between peoples of different faiths. In the words of the Holy Quran, which echo the story of creation from the book of Genesis: "Oh mankind! We created you from a single pair, male and female, and made you into nations and tribes, so that you might come to know one another, and not to despise each other.
"Today in Bali, we look forward to hearing different ideas from diverse voices on how to advance this divine goal. Facing up frankly to the evil of Holocaust denial will be evidence that the conferees are "living in truth" and determined to act against hatred. Mr. Wahid is the former president of Indonesia and co-founder of the LibForAll Foundation. Mr. Lau, a survivor of the Buchenwald concentration camp, is the former Chief Rabbi of Israel. Today's conference in Bali, "Tolerance Between Religions: A Blessing for All Creation," is cosponsored by LibForAll Foundation, the Wahid Institute and the Museum of Tolerance.
PS. quoted from http://www.libertyforum.org/. This event was alo published in THE STRAITS TIMES, Wednesday June 13 2007 edition

PAHLAWAN PENEMU WEBSITE MENERIMA PENGHARGAAN DARI RATU INGGERIS



Sir Tim Berners-Lee, penemu world wide web (www), mendapatkan salah satu penghargaan paling bergengsi di Inggris Raya yaitu Order of Merit. Sir Tim menerima penghargaan dari Ratu Inggris atas kontribusinya yang luar biasa dalam bidang kesenian, ilmu pengetahuan dan beberapa bidang lainnya.

Sir Tim mendapatkan gelar kehormatan Order of Merit bersama presiden Royal Society, Lord Rees of Ludlow dan Rt Rev Lord Eames, mantan Anglican Primate of All Ireland serta Arcbishop of Armagh.

Sejarah internet bermula ketika Sir Tim menyusun sebuah sistem untuk mengorganisasi, menghubungkan dan menjelajah dunia maya dalam komputer. Akademisi asal Inggris tersebut menemukan sistem alamat website beserta tampilannya di Swiss pada tahun 1991.

Seperti kita ketahui, hasil karyanya ini merevolusi pola komunikasi dunia. Sebelumnya, dia juga telah diberi penghargaan sebagai Greatest Britons atau Orang Inggris Terbesar dalam sebuah upacara pada 2004.

Dia menciptakan program ini ketika masih bekerja di CERN (European Particle Physics Laboratory) di Jenewa, sebuah lembaga ilmu pengetahuan terkemuka di Eropa. Kode yang dia ciptakan membuat pekerjaan para ilmuwan jauh lebih mudah ketika mereka bermaksud untuk membagi hasil penelitian ataupun informasi tertentu melalui jaringan komputer.

Sir Tim sekarang menjabat sebagai direktur World Wide Web Consortium (W3C) di Massachusetts Institute of Technology (MIT) yang bermarkas di Boston, tempat di mana dia mendedikasikan diri sebagai akademisi.

Seperti dikutip detikINET dari BBC News, Kamis (14/6), Order of Merit adalah penghargaan personal dari Ratu Inggris di mana sang ratu tidak membutuhkan nasehat dari siapa pun untuk memberikannya. Hanya 24 orang yang sampai sekarang masih hidup mendapatkan Kehormatan ini. Mereka berhak menyandang sebutan OM setelah nama mereka.

Pada masa lalu, penerima penghargaan Order of Merit termasuk orang-orang terkenal seperti Sir Winston churchil, Florence Nightingale, Bertrand Russel, Graham Greene dan juga ibu Teresa. (dtc)

(dikutip dari harian Analisa Medan, edisi Jumat, 15 Juni 2007)

Thursday, June 14, 2007

KEINDAHAN ALAM DAN BUDAYA BATAK

Keindahan alam tanah batak tidak perlu diragukan lagi. Keindahan tanah leluhur inilah antara lain yang membuat orang Batak sangat bangga akan jati dirinya dan sangat percaya diri ke manapun dia pergi merantau. Telah banyak lagu-lagu batak dan puisi yang legendaris yang dihasilkan dari inspirasi keindahan tanah Batak khusunya Danau Toba, yang membuat orang Batak semakin bangga dan menjadi suku yang sangat percaya diri.

Suasana pasar yang dalam bahasa batak disebut onan di Pulau Samosir tepi danau Toba. Onan di daerah-daerah batak diadakan sekali seminggu dan biasanya dimulai dari pagi hingga sore hari. Pedagang di pasar onan biasanya berasal dari luar daerah yang berkeliling dari onan yang satu ke onan yang lain. Hal demikian dimungkinkan karena hari onan di daerah yang satu berbeda dari onan daerah lainnya. Seperti contoh, hari onan di Dolok Sanggul adalah hari Jumat, sedangkan di Bakkara adalah hari Rabu sementara di Muara hari Selasa dan di Palipi hari Sabtu.

Persiapan upacara adat mangalahat horbo (menyembelih kerbau) di depan sebuah rumah tradisional orang Batak


Orang batak sedang menari Tortor Batak

MALAYSIA CENDERUNG REMEHKAN INDONESIA

Meskipun tampak harmonis, hubungan Indonesia dan Malaysia memiliki potensi munculnya konflik. Bangsa Malaysia, terutama kaum mudanya, cenderung merendahkan Indonesia. Padahal, Malaysia juga memiliki ketergantungan yang tinggi terhadap Indonesia.

Hal itu disampaikan Ketua DPP Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Effendy Choirie saat menerima kunjungan tiga anggota parlemen Malaysia dari Barisan Nasional di Kantor DPP PKB Jakarta, Selasa (12/6). Kebijakan Ekonomi Baru Malaysia yang digagas Mahathir Mohamad telah melahirkan generasi baru yang congkak dan meremehkan Indonesia. Kondisi itu terjadi hampir di semua bidang, seperti pertahanan, ekonomi, maupun sosial.

Karena itu, masing-masing negara perlu saling mengoreksi untuk mencari titik temu antara kelebihan dan kekurangan yang ada di setiap negara. Hubungan persaudaraan harus dikembangkan dalam berbagai kerja sama dan aksi nyata yang menguntungkan kedua negara.

Ketiga anggota Barisan Nasional yang hadir adalah Dato’ Raja Ahmad Zainuddin bin Raja Haji Omar, Datuk Rahman bin Ismail, dan Dato’ Wan Adnan bin Wan Mamat. Mereka adalah anggota parlemen dari United Malays National Organisation, partai terbesar dalam Barisan Nasional atau koalisi partai pendukung pemerintah.

Ahmad Zainuddin yang menjabat ketua kelompok anggota parlemen Barisan Nasional tidak membantah adanya sikap sebagian masyarakat Malaysia yang merendahkan bangsa Indonesia. Namun sikap itu hanya mewakili sebagian kecil rakyat Malaysia.

Wakil Ketua Umum PKB Ali Masykur Musa mengajak Malaysia memerhatikan negara Asia Tenggara lainnya sebagai mitra kerja sama ekonomi dibandingkan negara Asia Timur. (MZW)

(Dikutip dari Harian Kompas edisi Kamis, 14 Juni 2007)

Wednesday, June 13, 2007

DI BINTAN OFFSHORE














Berpose bersama anggota Finance & Admin Dept. plus Herlina Tahar staff bagian Document Control (nomor 4 dari kanan) dan Hasan, QA Inspector asal Bangladesh (nomor lima dari kanan). Lokasi: atas gedung kantor

Dari Kiri ke kanan: Rawin (OB), Ana Liu (Accounting Assistant), Hasan (QA Inspector), Petrus Sitohang (Finance & Admin Manager), Herlina Tahar (Document Control Asst.), Dina Harahap (Timekeeping Executive), Novianty (Time Keeping Clerk), Fitria (Office Girl) dan Hariani Gultom (Timekeeping Clerk)


Seluruh anggota Finance & Administration Dept. berpose di tangga lantai 2. Baris belakang dari kiri ke kanan: Afghawib Suhadmal (IT Engineer), Novianty (Time Keeping Clerk), Hasan QA Inspector, Petrus M. Sitohang (Manager). Berdiri di anak tangga dari kiri ke kana: Ana Liu (Accounting Assistant), Hariani Gultom (Time Keeping Clerk), Fitria (Office Girl), Dina Julianti Harahap (Time Keeping Executive) dan Rawin (Office Boy)


Di depan Panel Line










Di depan proyek yang sedang dikerjakan





Proyek lainnya







DEKLARASI INDONESIA GOES OPEN SOURCE

Pada tanggal 30 Juni 2004 dideklarasikan penggunaan dan pengembangan Open Source Software (OSS) yang ditandatangani oleh : Menteri Riset dan Teknologi, Menteri Komunikasi dan Informatika, Menteri Kehakiman dan HAM, Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Menteri Pendidikan Nasional.

a. Mengingat pentingnya peran teknologi informasi dalam kehidupan masyarakat terkait dengan pertumbuhan perekonomian, maka perlu peningkatan kemandirian, daya saing, kreatifitas serja inovasi bangsa sebagai kunci utama keberhasilan pembangunan Bangsa Indonesia .

b. Pemerintah bersama masyarakat bersepakat untuk melakukan upaya yang sungguh-sungguh dalam mendayagunakan teknologi informasi.

c. Dalam rangka mendukung keberhasilan upaya tersebut, pengembangan, dan pemanfaatan Open Source Software merupakan salah satu langkah strategis dalam mempercepat penguasaan teknologi informasi di Indonesia.

d. Untuk mendapatkan manfaat sebesar-besarnya dari upaya tersebut, perlu dilakukan langkah-langkah aksi sebagai berikut:
1. Menyebarluaskan pemanfaatan Open Source Software di Indonesia.
2. Menyiapkan panduan ( guideline ) dalam pengembangan dan pemanfaatan Open Source Software di Indonesia.
3. Mendorong terbentuknya pusat-pusat pelatihan, competency center dan pusat-pusat inkubator bisnis berbasis open source di Indonesia.
4. Mendorong dan meningkatkan koordinasi, kemampuan, kreatifitas, kemauan dan partisipasi dikalangan pemerintah dan masyarakat dalam pemanfaatan Open Source Software secara maksimal.


DIDORONG PENGGUNAAN OPEN SOURCE

Sejalan dengan program Indonesia Go Open Source atau IGOS, Institut Teknologi Bandung menyatakan komitmennya mendorong penggunaan piranti lunak berbasis open source. Untuk itu, didirikanlah Pusat Pendayagunaan Open Source Software (OSS) di Institut Teknologi Bandung (ITB) yang akan menjadi cikal bakal jejaring OSS antarperguruan tinggi.

Lembaga ini sejatinya bertujuan meningkatkan percepatan pendayagunaan dan pemanfaatan OSS di kalangan masyarakat luas pengguna piranti lunak.

Dengan demikian, keberadaannya pun dimaksudkan sebagai pusat pelayanan informasi, pengenalan, duplikasi, maupun benchmarking (perbandingan) tentang OSS yang beredar di masyarakat.

"Jadi, keberadaannya lebih bersifat pengabdian masyarakat. Bagaimanapun juga, perguruan tinggi-lah institusi yang jadi prioritas terkait upaya percepatan awarness pendayagunaan OSS ini. Itikad inilah yang kemudian akan ditindaklanjuti di dalam acara Asia OSS Symposium ke-8 nanti (13-15 Februari di Bandung dan Denpasar)," ujar Kepala OSS Center ITB Benhard Sitohang dalam jumpa pers, Kamis (8/2).

Benhard menambahkan, OSS Center ini selanjutnya akan dikembangkan di 13 perguruan tinggi di Indonesia.

Di ITB, pemanfaatan open source tumbuh seiring keluarnya Surat Keputusan Rektor ITB, 12 Januari 2007. Surat ini mengatur agar tiap-tiap unit di jajaran internal ITB memprioritaskan pemanfaatan OSS di sistem komputer. (jon)

(dikutif dari Harian Kompas edisi 9 Februari 2007)

INDONESIA GOES OPEN SOURCE

Open Source Software, bukan sekedar produk yang dapat menggantikan software-software mahal, tetapi lebih pada terbukanya peluang berinovasi dengan kode-kode yang terbuka untuk dikembangkan menjadi berbagai aplikasi lainnya.Open Source Software sendiri merupakan software yang berbasis pada kode-kode terbuka, dapat dimanfaatkan siapapun dan dikembangkan secara gratis. Ini membedakan dengan software proprietari yang dijual dengan harga puluhan hingga ribuan dolar AS.(Sumber: Kusmayanto Kadiman)

Hal penting dari migrasi ke Open Source Software adalah perlunya meninggalkan software ilegal menuju software yang legal. Dengan dikembangkannya Open Source Software, masyarakat bisa memilih mau yang proprietari tetapi mahal atau yang produk Open Source Software yang gratis, keduanya sama-sama legal. Jadi yang penting yakinkan bahwa Open Source Software itu adalah pilihan cerdas.(Sumber: Cahyana Ahmadjayadi)Mari bulatkan tekan dan satukan langkah kita songsong masa depan Indonesia yang cerdas dan berwibawa dengan menggunakan software legal.

Program IGOS
Suatu upaya nasional dalam rangka memperkuat sistem teknologi informasi nasional serta pemanfaatan perkembangan teknologi informasi global melalui pengembangan dan pemanfaatan Open Source Software (OSS).

Tuesday, June 12, 2007

PRIMARY PEMILIHAN PRESIDEN AMERIKA: CLINTON MENGUNGGULI KANDIDAT DEMOKRAT LAINNYA

Berdasarkan hasil jajak pendapat yang dilakukan Rasmussen Report, untuk sementara Senator Hillary Clinton mengungguli calon presiden Partai Demokrat lainnya dengan perbandingan:

Clinton 37%

Obama 25%

Edwards 11%

Hasil selengkapnya dapat dilihat di link berikut:

http://news.yahoo.com/s/rasmussen/20070611/pl_rasmussen/demprimary20070611_1

CALON PRESIDEN AMERIKA HILLARY CLINTON DAN BARACK OBAMA

Pemilihan Presiden Amerika Serikat tahun 2008 masih setahun lagi. Tetapi rakyat Amerika dan dunia sudah mulai disuguhi babak-babak awal acara akbar tersebut. Kedua partai utama di Amerika Serikat yaitu Partai Republik yang berkuasa dan Partai Demokrat sudah memulai proses pemilihan awal kandidat masing-masing partai melalui jajak pendapat dan debat yang biasa dikenal dengan istilah primary.

Pemilihan tahun depan akan memilih pengganti Presiden George W. Bush yang tidak bisa lagi mengikuti pemilihan karena telah menjabat dua periode sejak tahun 2001.

Suka atau tidak suka, hasil pemilihan presiden Amerika Serikat akan mempengaruhi banyak hal di tataran internasional jauh melewati batas-batas negara itu. Karena pengaruh historisnya, sebagai pemenang perang dunia kedua, negara dengan ideologi kapitalisme yang memenangkan perang dingin dengan kubu komunis, negara dengan teknologi dan pengetahuan paling unggul dan negara dengan produk domestik bruto yang paling besar, pendiri dan negara penyumbang utama organisasi dunia Perserikatan Bangsa Bangsa, Amerika merasa berkepentingan bukan hanya pada masalah-masalah dalam negerinya tetapi juga masalah yang terjadi di negara-negara lainnya. Oleh karenanya, selain rakyat Amerika, negara-negara lain biasanya juga menaruh minat yang besar pada Pemilu presiden Amerika. Karena faktanya, banyak nasib nagara dan bangsa-bangsa lain di dunia ini ditentukan dari apa yang dilakukan atau tidak dilakukan oleh Amerika Serikat.

Dalam pemilu November 2005 yang lalu, dari berbagai jajak pendapat di luar Amerika, dunia sebenarnya lebih berharap kepemimpinan Amerika beralih ke kaum Demokrat yang saat itu mengusung John F. Kerry. John Kerry yang secara intelektual lebih baik daripada saingannya Goerge Bush dan hingga saat-saat pemilihan unggul dalam berbagai jajak pendapat dalam negeri, akhirnya kalah tipis dari George Bush. Meskipun secara jumlah pemilih John Kerry meraih suara yang lebih besar, tetapi berdasarkan sistim pemilihan Amerika yang unik, George Bushlah yang keluar sebagai pemenang.

Sejarah mencatat, Presiden Amerika dari partai dari Republik biasanya presiden yang membawa Amerika menang dalam perang. Contoh terakhir adalah ketika presiden George W. Bush memenangkan perang di Kuwait, Afganistan dan Irak. Sebaliknya presiden Demokrat biasanya lebih bisa diandalkan untuk menciptakan perdamaian. Perjanjian perdamaian Camp David pada bulan September 1978 antara Israel dan Mesir yang saat itu tidak pernah terbayangkan terjadi saat Presiden Jimmy Carter dari Demokrat berkuasa. Dan sebaliknya justru pada saat Presiden Carter berkuasa, Amerika dipermalukan oleh lawannya rezim mullah syiah Iran yang dipimpin oleh Ayatollah Khomeini yang menggulingkan sekutu Amerika paling setia di Teluk Persia yaitu Shah Iran Reza Pahlevi pada bulan Januari 1979 dan harus keluar dari Iran setelah gagal total menjalankan aksi intelijen dan militer untuk mempertahankan kekuasaan sekutunya tersebut.

Pemilu kali ini diramaikan oleh dua senator Demokrat yaitu Hillary Rodham Clinton dan Barack Obama. Tidak ada yang heran dengan tampilnya Hillary Clinton, karena selain cerdas dan memiliki integritas pribadi yang sudah teruji, dia telah berpengalaman mendampingi suaminya Bill Clinton yang menjabat presiden Amerika Serikat dua periode sejak tahun 1992 hingga tahun 2000.

Tetapi yang menjadi bintang dan harapan pada saat-saat awal pemilihan kali ini adalah sosok senator berkulit hitam dari negara bagian Illionois Barak Obama. Selain masih muda, pandangan, pemikiran dan sikap Senator Obama atas berbagai issue yang dilontarkan kepadanya memberikan secercah harapan bahwa Amerika masih mempunyai stok calon pemimpin Amerika yang lebih humanis dan toleran. Obama juga pernah menjalani masa kanak-kanaknya selama 3 tahun di Indonesia pada tahun 60an.

Pemilihan tahun depan akan membuktikan apakah Amerika Serikat akan kembali membuat sejarah dengan memberi kesempatan pada warga minoritasnya memimpin negara adidaya tersebut untuk kedua kalinya. Tahun 60an, rakyat Amerika memberikan suaranya kepada John F. Kennedy menjadi presiden Amerksa Serikat yang beragama Katolik untuk pertama kalinya. Dan John F. Kennedy menjadi salah satu presiden Amerika yang paling terkenal dalam sejarah selain Abraham Lincoln.













Senator Hillary Clinton









Senator Barack Obama

ANDI ANHAR CHALID MAJU DALAM PILKADA TANJUNGPINANG

Temperatur politik Tanjungpinang mulai meningkat dengan pernyataan Andi Anhar Chalid bahwa dia telah menyiapkan tim sukses untuk maju dalam pemilihan walikota (pilwako) Tanjungpinang akhir tahun ini. Andi Anhar Chalid adalah anggota DPRD Provinsi Kepulauan Riau dan Ketua DPW Partai Patriot Pancasila Kepulauan Riau.

Selain Anhar Chalid, belum ada kandidat yang secara terbuka menyatakan maju dalam pemilihan yang akan datang. Tapi diperkirakan Walikota Tanjungpinang saat ini Hj. Suryatati A. Manan akan menjadi kandidat yang kuat untuk kontes kali ini. Selain Suryatati beberapa nama juga dijagokan untuk maju seperti anggota DPD RI asal Kepulauan Riau Hendry Frankim yang saat ini sedang bersengketa dengan Suryatati di pengadilan negeri Tanjungpinang untuk kasus penghinaan dan pencemaran nama baik.

Boby Jayanto, Ketua DPC Partai Patriot Pancasila Tanjungpinang yang juga ketua DPRD Tanjungpinang yang dihubungi untuk pernyataan rekannya ini belum bersedia memberikan komentar atas pernyataan Andi Anhar Chalid tersebut.
Berita lainnya mengenai pilwako Tanjungpinang dapat dibaca melalui link ini:
http://batampos.co.id/index.php?option=com_content&task=view&id=23357&Itemid=97

Monday, June 11, 2007

BLOG CLAIM

Technorati Profile

ANAK

Orang Batak mengelompokkan karunia Tuhan menjadi tiga: hagabeon (keturunan), hamoraon (harta benda) dan hasangapon (kehormatan). Sebelum mengenal agama Kristen, orang Batak mengartikan hagabeon sebagai memiliki anak laki-laki. Mengapa? Karena hanya dengan mempunyai anak laki-lakilah maka silsilah marga dapat diteruskan.

Hingga sekarang sebagian besar orang batak juga merasa bahwa anak adalah hamoraon (harta kekayaan) yang paling utama. Inilah yang mengilhami Namun Situmorang, komposer lagu-lagu batak legendaris, menciptakan lagu batak berjudul "Anakhonhi Do Hamoraon di Au" (Anakkulah Harta Kekayaanku) yang sangat populer itu.

Dalam tradisi masyarakat batak, seorang lelaki yang sudah berkeluarga tidak lagi dipanggil dengan nama kecilnya. Hal tersebut merupakan tabu. Kalau dia sudah mempunyai anak dia akan dipanggil dengan panggilan Amani Polan (artinya bapaknya si Polan, sesuai dengan nama anaknya yang sulung). Sedangkan isterinya akan dipanggil Nai Polan (ibunya si Polan). Kalau dia sudah menikah tetapi belum mempunyai keturunan, maka dia akan dipanggil dengan Amani Harapan (bapaknya si harapan) sedangkan isterinya dipanggil Nai Harapan. Orang batak yang mendengarnya akan mengerti bahwa orang tersebut belum mempunyai keturunan atau masih sedang mengharapkan datangnya keturunan.

Saya dan isteri saya, Lenni Purba yang berasal dari Bakkara Humbang Hasundutan, dikaruniai Tuhan Yang Maha Baik dengan empat orang anak: dua putera dan dua puteri. Semuanya lahir di Tanjungpinang.














Gloria Marisa Tiurmaida Sitohang, lahir: 17 Agustus 2000















Hilary Marito Sitohang, lahir: 13 Desember 2002

Patricius Saut Anugerah Sitohang, lahir: 29 Juli 2004















Gianpaolo Hamonangan Sitohang, lahir: 7 Maret 2006















Patricius dan Gianpaolo bersama mamanya















Gloria dan Hilary beljar berpose di depan kamera















Gloria dan Hilary bergaya di depan kamera sebelum ke Gereja














Gloria berlatih jadi model di studio yang tak lain kamarnya sendiri















Hilary dan Gianpaolo yang sangat disayanginya.















Si sulung dan si bungsu, Gloria dan Gianpaolo di depan pohon Natal rumah kami menjelang Natal 2006















Gaya Hilary di depan kamera
















Bersama Patricius yang punya special talent














Satu hal yang saya dan Gianpaolo sama, kelihatannya kita sama-sama terlalu "pede" (percaya diri)

Jadi, karena anak saya yang sulung bernama Gloria, maka dalam keluarga Batak saya biasanya dipanggil Amani Gloria Sitohang


Friday, June 8, 2007

KEGIATAN MAHASISWA KATOLIK UNIBRAW


Berpose bersam Pastor Simon Rande, O Carm (no 2 dari kiri), Pastor Aziz Murdopo, SJ. (tengah), Robertus Sutardi Ebat, aktifis mahasiswa Katolik Universitas Brawijaya (paling kanan) dan salah seorang aktifis mahasiswa katolik Yogyakarta dalam suatu acara wisata rohani di Jogjakarta tahun 1989

Monday, June 4, 2007

BERLATIH ORGANISASI DAN KEPEMIMPINAN DI PMKRI


Bersama Siprianus Sina (Sekjen DPC PMKRI Cabang Malang) sedang memimpin acara protokoler di PMKRI Cabang Malang.
Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) adalah organisasi mahasiswa katolik ekstra universiter yang telah berdiri sejak awal berdirinya Republik Indonesia. PMKRI telah banyak melahirkan kader katolik yang berperanan dalam perjalanan negara ini baik dalam bidang sosial politik maupun di birokrasi. Di antara beberapa alumni yang cukup terkenal antara lain P.K. Haryasudirja, B.S. Slametmulyana, Anton M. Moeliono, Harry Tjan Silalahi, bersaudara Sofyan dan Yusuf Wanandi, pasangan Ben dan Nafsiah Mboi, Cosmas Batubara, bersaudara Prof. Soedradjat, Prof. Soedjati dan Prof. Soenardi Djiwandono dan lain-lain.

BERSAMA ROMO MAGNIS SOESENO, SJ

Siapa yang tidak kenal Pastor Frans Magnis Soeseno, SJ. Pastor Jesuit ini mungkin adalah intelektual Indonesia yang paling terkenal saat ini. Dia ditanggap dalam seminar-seminar besar dalam masalah-masalah nasional di forum-forum yang diselenggarakan universitas, organisasi-organisasi besar termasuk ormas-ormas Islam dan berbagai kelompok lainnya, jauh melampaui pekerjaannya yang sebenarnya sebagai imam Katolik. Kedalaman uraiannya atas suatu masalah sebelum sampai pada suatu kesimpulan sangat menarik minat audiensnya karena runtut, jelas dan logis.