Monday, June 18, 2007

100 TAHUN WAFATNYA PAHLAWAN NASIONAL RAJA SI SINGAMANGARAJA XII (1849-1907)

Peringatan 100 tahun (17 Juni 1907-17 Juni 2007) wafatnya Raja Batak Maharaja Sisingamangaraja XII di Bakkara Kabupaten Humbang Hasundutan tanggal 17 Juni 2007 dihadiri dari kiri ke kanan: Akbar Tanjung (politisi Batak terkemuka saat ini), Menteri Koordinator Polhukkam Widodo AS, Gubernur Sumatera Utara Rudolf Pardede, Pangdam BB Mayjen J. Suryo Prabowo dan Penasehat Presiden Letjen (Purn.) T.B Silalahi (Foto. Harian SIB Medan)
Tanggal 17 Juni tahun ini genap seratus tahun wafatnya pahlawan nasional Maharaja Sisingamangaraja XII.

Banyak kegiatan dilakukan di berbagai tempat di Indonesia untuk mengenang kepahlawanan Raja Batak ini termasuk berbagai seminar di Medan, Jakarta dan tempat-tempat lain dan puncak acara yang dilaksanakan pada hari Minggu, 17 Juni 2007 di desa Bakkara di tepi Danau Toba yang indah. Bakkara adalah pusat kerajaan Sisingamangaraja.

Orang Batak sangat bangga pada Sisingamangaraja XII karena dianggap Raja yang merupakan titisan dewa dan sekaligus pemimpin agama tradisional batak yaitu Parmalim. Kalau dia berkunjung ke suatu daerah, orang-orang biasanya akan bersujud dan berusaha agar anaknya dilihat oleh Raja ini. Orang-orang Batak saat itu percaya bahwa hanya dengan terkena bayangan tubuh Raja ini saja, anaknya akan menjadi orang yang yang pintar dan berguna kelak. Orang-orang kaya akan melepaskan budak-budak atau orang tawanan mereka jika Raja ini melintasi desa mereka. Raja Sisingamangaraja sangat anti perbudakan yang masa itu memang lazim.

Orang Batak juga percaya bahwa Sisingamangaraja berilmu tinggi dan kebal terhadap senjata apapun dan dapat menghilang dari pandangan mata. Cerita rakyat yang dibawakan oleh opera-opera Batak yang hidup di Sumatera Utara hingga akhir tahun 70an, menceritakan bahwa peluru akhirnya mampu merubuhkan tubuh Sisingamangaraja semata-mata setelah dia terkena darah puterinya Lopian yang terlebih dahulu ditembak oleh prajurit Belanda untuk memaksanya keluar dari persembunyiannya. Padahal dengan terkena darah maka kekebalannya akan menjadi sirna.

Sisinggamangaraja XII merupakan paman dari "kepala suku" penyair angkatan 45 Sitor Situmorang karena salah satu isteri Sisingamangaraja XII adalah boru Situmorang yang adalah bibi kandung Sitor Situmorang. Raja Sisingamangaraja sendiri dilahirkan dari seorang ibu boru Situmorang.

Raja Si Singamangaraja XII (1849-1907), Pahlawan Nasional Ensiklopedi Tokoh Indonesia

No comments:

Petrus M. Sitohang , Pariwisata Dan Kelautan Bisa Jadi Motor Pertumbuhan Ekonomi

KEPRIONLINE.CO.ID,TANJUNGPINANG,- Provinsi Kepulauan Riau dikenal kaya akan sumber daya alam. Letaknya yang juga sangat strategis memun...