Thursday, June 14, 2007

MALAYSIA CENDERUNG REMEHKAN INDONESIA

Meskipun tampak harmonis, hubungan Indonesia dan Malaysia memiliki potensi munculnya konflik. Bangsa Malaysia, terutama kaum mudanya, cenderung merendahkan Indonesia. Padahal, Malaysia juga memiliki ketergantungan yang tinggi terhadap Indonesia.

Hal itu disampaikan Ketua DPP Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Effendy Choirie saat menerima kunjungan tiga anggota parlemen Malaysia dari Barisan Nasional di Kantor DPP PKB Jakarta, Selasa (12/6). Kebijakan Ekonomi Baru Malaysia yang digagas Mahathir Mohamad telah melahirkan generasi baru yang congkak dan meremehkan Indonesia. Kondisi itu terjadi hampir di semua bidang, seperti pertahanan, ekonomi, maupun sosial.

Karena itu, masing-masing negara perlu saling mengoreksi untuk mencari titik temu antara kelebihan dan kekurangan yang ada di setiap negara. Hubungan persaudaraan harus dikembangkan dalam berbagai kerja sama dan aksi nyata yang menguntungkan kedua negara.

Ketiga anggota Barisan Nasional yang hadir adalah Dato’ Raja Ahmad Zainuddin bin Raja Haji Omar, Datuk Rahman bin Ismail, dan Dato’ Wan Adnan bin Wan Mamat. Mereka adalah anggota parlemen dari United Malays National Organisation, partai terbesar dalam Barisan Nasional atau koalisi partai pendukung pemerintah.

Ahmad Zainuddin yang menjabat ketua kelompok anggota parlemen Barisan Nasional tidak membantah adanya sikap sebagian masyarakat Malaysia yang merendahkan bangsa Indonesia. Namun sikap itu hanya mewakili sebagian kecil rakyat Malaysia.

Wakil Ketua Umum PKB Ali Masykur Musa mengajak Malaysia memerhatikan negara Asia Tenggara lainnya sebagai mitra kerja sama ekonomi dibandingkan negara Asia Timur. (MZW)

(Dikutip dari Harian Kompas edisi Kamis, 14 Juni 2007)

1 comment:

Petrus M. Sitohang said...

Sinyalemen Effendi Choirie itu betul. Publik Malaysia terutama dari liputan persnya yang sangat dikontrol ketat oleh rezim yang berkuasa memang cenderung meremehkan Indonesia.

Peliputan masalah-masalah yang terjadi dan dilakukan oleh Tenaga Kerja Indonesia di Malaysia selalu dieksploitir yang sebenarnya hanya untuk membonceng berbagai agenda politik domestik Malaysia.

Padahal hingga akhir tahun 60an perekonomian dan industri Malaysia masih setara dengan Indonesia, bahkan di bidang pendidikan mereka masih banyak tergantung dari guru-guru Indonesia.

Ini merupakan konsekuensi ketertinggalan Indonesia dalam berlomba dengan negara-negara tetangga kita di Asia Tenggara.

Salah satu faktor lainnya adalah penguasaan bahasa Inggeris orang Malaysia yang umumnya memang jauh lebih baik dari orang Indonesia.

Sayangnya pemerintah kita tidak melakukan apapun untuk merubah persepsi ini.

Petrus M. Sitohang , Pariwisata Dan Kelautan Bisa Jadi Motor Pertumbuhan Ekonomi

KEPRIONLINE.CO.ID,TANJUNGPINANG,- Provinsi Kepulauan Riau dikenal kaya akan sumber daya alam. Letaknya yang juga sangat strategis memun...