Friday, June 22, 2007

NASIB OPERA BATAK

Belumlah Semerdu Nyanyiannya

Satu panggung yang tertutup tiga lapis layar berdiri di tengah lapangan Sisingamangaraja, Balige, Kabupaten Toba Samosir. Saat malam mulai turun, alunan uning-uningan segera terdengar. Riuhnya paduan taganing, hasapi, garantung, sarunai etek, dan hesek, seolah memanggil masyarakat sekitar lapangan untuk datang. Inilah saatnya opera Batak dimulai.

Betul saja, orang-orang mulai berduyun-duyun memasuki lapangan dan duduk di bangku yang sudah disediakan. Banyak pula yang berdiri, bahkan anak kecil duduk di depan panggung.
Jangan mengangankan mendengar kisah drama yang dinyanyikan secara seriosa layaknya aria-aria opera di panggung Broadway. Opera Batak adalah kisah tentang kearifan turun-temurun orang Batak yang disajikan dalam bentuk sandiwara. Mirip ludruk di Jawa Timur atau ketoprak di Jawa Tengah.

Begitu tiga komposisi rancak dalam bahasa Batak berlalu segera pembawa acara mengumumkan penampilan penyanyi yang akan membawakan lagu opera Batak. Penampilannya disambut riuh tepuk tangan.

Lalu dimulailah kisah Sipurba Goringgoring, lakon opera Batak yang dipentaskan dalam rangka HUT Ketujuh Kabupaten Toba Samosir, 11 Maret lalu. Kisahnya kisah cinta. Syahdan, Sipurba yang yatim piatu diasuh pamannya hingga tiba saatnya ia mencari pekerjaan. Bekerjalah ia kepada seorang pengusaha di Barus, yang kemudian mewariskan usahanya kepada Sipurba.

Selama diasuh pamannya, Sipurba menjalin kasih dengan pariban-nya bernama Bintang. Ia bimbang memutuskan antara anak pamannya dan putri si pengusaha Barus. Sampai suatu ketika Bintang datang menemuinya dan membawa seorang anak. Sipurba tidak mau mengakui anak itu tanpa ada bukti. Bintang mengeluarkan kunci yang dulu diberikan Sipurba kepadanya sebagai bukti.

Tanpa bisa menyangkal, akhirnya Sipurba mengakui dan menerima Bintang dan anaknya sebagai keluarganya. Akhir yang bahagia dan disambut bahagia pula oleh penonton. Sepanjang pementasan, drama diselingi dengan lagu dan tari. Namun, tari dan lagu itu sama sekali tidak berhubungan dengan cerita. Spontanitas sangat diandalkan untuk menjadikan opera Batak menarik bagi penonton. Hampir sepanjang pentas penonton diajak tertawa oleh kata-kata maupun tingkah laku aktor.

Hal yang sedikit terasa mengganggu adalah penampilan selingan kelompok band asal Medan yang membawakan lagu populer. Mereka membawakan lagu Terajana dalam iringan alat musik elektrik di tengah suasana Batak yang coba dibangun pemain maupun pemusik opera.
Kisah Sipurba Goringgoring cukup terkenal di daerah Humbang Hasundutan. Kisah lain yang biasa dipentaskan, misalnya, adalah Siboru Tumbaga, Sipiso Somalim, Pulo Batu, Guru Saman, dan Sisingamangaraja. Rata-rata kisah itu merupakan cerita rakyat Batak yang dituturkan dari mulut ke mulut.

Adalah Diego van Biggelar seorang misionaris dari Belanda yang datang ke Samosir yang pertama kali menyebut istilah opera Batak pada 1934. Pionir opera Batak sendiri adalah Tilhang Gultom yang mendirikan kelompoknya tahun 1920-an. Opera Batak dimainkan oleh beberapa pemain yang merangkap sebagai aktor dan pemusik.

Mereka meramu alunan taganing (gendang terdiri dari enam bilah untuk melodi), hasapi (kecapi dengan dua senar), seruling, garantung (gamelan dari kayu), sarunai etek (terompet kecil), dan hesek (botol atau besi untuk menjaga ritme) menjadi musik yang mengundang orang berdendang dan bergoyang.

Bangkit lagi

Sayangnya, nasib opera Batak tidak semerdu dendang atau seceria musik pengiringnya. Sama seperti nasib berbagai kesenian tradisional yang terpinggirkan karena tidak mampu bersaing dengan televisi. Sejak akhir 1970-an hingga awal 2000, opera Batak hidup kembang kempis.

”Kami mulai bangkit kembali tahun 2002 di Tapanuli Utara. Ternyata banyak pihak yang masih peduli untuk menghidupkannya lagi,” kata Thompson Hs, sutradara Sipurba Goringgoring sekaligus koordinator Pusat Latihan Opera Batak (PLOT).Selain kalah bersaing dengan hiburan modern, opera Batak mengalami stagnasi dalam regenerasi. Para pemain rata-rata berusia 50 tahun lebih, seperti Alister Nainggolan (70), Martua Sitohang (58), atau E br Silaban (61). Mereka menerjuni dunia opera Batak sejak awal 1970-an.

(dikutip dari Harian Kompas, edisi 22 Maret 2006)

6 comments:

[SB] said...

Salam kenal...
[SB] berkunjung :)

Petrus M. Sitohang said...

Salam kenal juga.

Tinggalnya di mana?

Petrus M. Sitohang said...

Oh ya. Lae saya Silaban rupanya.

Saya sudah sering mengunjungi web Silaban itu. Sangat bagus dan informatif. Saya senang mengunjunginya.

Terimakasih atas kunjungan lae.

Horas,

Rodrigo said...

Oi, achei teu blog pelo google tá bem interessante gostei desse post. Quando der dá uma passada pelo meu blog, é sobre camisetas personalizadas, mostra passo a passo como criar uma camiseta personalizada bem maneira. Até mais.

PMS said...

Dear Rodrigo,

Thanks for visiting my blog and left your comment. But I know nothing about what you were saying here since I don't understand Portuguese. I would greatly appreciate if you leave the english traslation of your comment.

Horas (Best regards),



Sitohang
Bintan Island Indonesia

Anonymous said...

eg var ad leita ad, takk