Saturday, July 28, 2007

SI HORAS YANG PATTANG SO BILAK

Si Horas dikenal di kampungnya di Siantar-antar Urat Samosir sebagai anak yang pattang so bilak dan jugul. Tapi untungnya dia tidak jahat pada orang dan tetap hormat pada orang tuanya.

Suatu kali dia dinasehati Tulangnya yang datang dari Jakarta supaya rajin belajar.

“Horas, sewaktu muda seperti kau dulu Tulang kerja keras dan rajin belajar. Setelah tua sekarang Tulang bisa punya uang untuk bersenang-senang dan jalan-jalan ke manapun Tulang mau”.
“Bah, kenapa harus tunggu tua Tulang?. Sekarangpun aku sudah senang, bisa jalan-jalan kemanapun aku mau dan among memberiku uang… ".
Catatan:
Pattang so bilak (batak): sok tau
Jugul (batak): keras kepala
Among (batak): ayah
Tulang (batak): saudara laki-laki ibu

SI HORAS MAU KE JAKARTA....

Saat orang Batak mulai ramai-ramai menyerbu Jakarta awal tahun 70an. Si Horas yang sudah jenuh tinggal Siantar-antar Urat Pulau Samosir tidak mau ketinggalan. Dengan sedikit memaksa ia meminta orangtuanya menjual beberapa ekor hewan peliharaan keluarganya sebagai panjaean untuk berangkat ke Jakarta.

Among, temanku si Naek sudah hebat di Jakarta. Padahal samanya kami tidak taMMat sekolah rakyat. Aku dengar pangkatnya sekarang sudah jadi kondekTUUrrr. Kurasa sebentar lagi dia jadi asisten GuberNUUrrr kan among?


Catatan:

Panjaean (batak): bekal dari orang tua ketika orang batak akan menikah atau pergi meninggalkan rumah orangtuanya untuk selamanya.

Sekolah Rakyat: sekolah dasar pada jaman dulu disebut sekolah rakyat.

Among (batak): ayah

Kondektur: kernet bis kota

Friday, July 27, 2007

PERKENALAN SI HORAS DAN SI SUKUMARAN


Di sebuah perusahaan di Bintan Resort yang mempekerjakan banyak expatriate dari berbagai negara. Bagian SDM membawa staff baru warganegara India yang bernama Sukumaran untuk diperkenalkan kepada semua karyawan lama. Tibalah di meja staff yang asli Batak bernama Horas Situmeang.

“Hi, Horas” si Batak mendahului mengulurkan tangannya ke orang India itu dengan senyum lebar. “Welcome to Indonesia” tambahnya.

"Thank you very much Horas" jawab si India dengan senyum lebar memperlihatkan gigi putihnya yang kontras dengan warna kulitnya yang hitam legam sambil mengulurkan tangannya menyalami si Batak. "Suku" katanya.

Si Horas merasa sedikit heran dengan pertanyaan si India, “Koq sampai nanya sukuku?” pikirnya. Walau sedikit heran dia membalas juga.

“Batak!” balas si Horas dengan suara mantap dan bangga. “And you?”

Merasa heran dengan pertanyaan tambahan si Horas yang tidak dimengertinya Sukumaran menoleh ke staff SDM yang mendampinginya. Staff SDM yang menyadari miskomunikasi yang tak perlu itu menarik si Horas ke sudut dan berkata:

“Horas, aku tahu kamu bangga sekali dengan suku Batakmu. Tapi please deh orang tadi cuma memperkenalkan namanya, Suku. Bukan menanya sukumu….” lalu meninggalkan si Horas yang menyengir dan garuk-garuk kepalanya.

NAI JABIR VS NAI MARNONANG

Pertengahan tahun tujuhpuluhan, daerah Pulomas, Jakarta Timur, merupakan sasaran hunian orang-orang Batak perantau (BTL), yang umumnya sudah berkeluarga. Suasananya mirip dengan daerah Parluasan, Siantar. Bahasa yg digunakan penghuni, kalau tak bahasa Batak, ya bahasa Indonesia ala Betawi. Tapi, agar merasa sudah resmi sebagai warga ibukota, ‘halak hita’ di sana seringkali menggunakan kosa kata Betawi, walau logatnya Batak.

Hari masih pagi ketika dua inang yg bertetangga, Nai Jabir dan Nai Marnonang, sudah bikin heboh. Mereka bertengkar gara-gara soal sepele, untuk kesekian kalinya. Orang-orang menyaksikan, suami mereka mengamati dari dalam rumah.

“Alaaaah!” cibir Nai Jabir yg ekonomi suaminya kebetulan selapis di bawah suami Nai Marnonang, meskipun sama-sama supir, “Baru punyE kursi rotan azza sudah bangga. Di rumah bapak guE di BaligE pun banyak kursi kayak gitu! KitE sih biasE azza!”

“Bilang azE lu cEmburu!” tangkis Nai Marnonang, “Minta dong kE suami lu supaya dibEliin kEk kursi guE! Mampu nggak suami lu?!”

Pertengkaran mereka semakin seru, serangan masing-masing kian menusuk ke area sensitif.
“Kaca tuh mukE lu!” serang Nai Jabir sembari menuding , “Biar katE duit suami lu banyak pun, tEtap azza mukE lu jElEk! Duit lu kan sampE habis bEli bEdak untuk mEnambal mukE lu itu! Tetap azza jElEk!”

“Akhhh…, lu yang jElEk! SE-Pulomas ini pun tau, lu pErEmpuan yang paling jElEk!” balas Nai Marnonang sambil berkacak pinggang. Hatinya panas membara, karena di wajahnya masih ada bekas-bekas cacar sewaktu kecil di Tarutung.

“Ha-ha-ha…! Ngaca dong, ngaca!” ucap Nai Jabir bangga karena merasa menang dalam pertempuran tersebut. Ia memandang puas ke sekeliling. “Nggak punya kaca, ya?! Katanya orang kaya!”

Nai Marnonang benar-benar merasa KO, padahal perkiraannya ronde pertarungan masih panjang. Emosinya kian mendidih, napasnya turun naik, dadanya timbul tenggelam. Karena merasa sudah diambang kekalahan, ia pelorotkan roknya setengah tiang. Sambil menunjuk-nunjuk pantatnya, ia berteriak-teriak histeris pada Nai Jabir: “MukE guE kayak pantat lu! MukE guE kayak pantat lu!”

Nai Jabir keheranan, orang-orang yg menyaksikan pun demikian. Suami Nai Marnonang yg duduk merokok di dekat dapur, panik. Istriku salah menggunakan kata ‘guE’ dan ‘lu’, pikirnya. Ia bergegas ke depan menemui istrinya untuk mengoreksi. “Salah kata-katamu itu, Mak Marno!” ucapnya dengan wajah tegang, “Kata-katamu itu terbalik!”
“Apa?!” teriak Nai Marnonang. Sambil menunjuk-nunjuk pantatnya, ia lanjutkan berteriak-teriak ke arah suaminya: “MukE lu kayak pantat guE! MukE lu kayak pantat guE!”

(cerita ini ditulis oleh Suhunan Situmorang untuk www.bataknews.wordpress.com)

Saturday, July 21, 2007

ANA LIU

Perhaps, Ana is the most popular girl in Bintan Offshore. If you think it's because she is the sexiest girl around then you're totally wrong. To me, she is far from sexy looking. Asks Bintan Offshore why? Because, she is the one everybody in Bintan Offshore must looking for for their petty cash claim or reimbursement.

Ana is a native to Tanjungpinang. Finished her senior high in Tanjungpinang with an excellent result. Speaks Chinese dialects, Mandarin and fair English makes her the perfect choice for the job she is holding now which requires her to communicate frequently with expatriates working in Bintan Offshore mainly of Chinese, Indian, Bangladeshi and other Asian descendants who could hardly speak Bahasa.

Ana joined Bintan Offshore last years right on her birthday 20 July 2006. So, when she celebrated her 21th birthday yesterday, it was also her first anniversary with Bintan Offshore.

Dina, Ana's colleague in Finance and Admin Dept. light the candle marks 21 on top of the birthday cake. (Foto: Dumanti Sitorus)

Those joining Ana celebrating her happy momment, standing from left: Noviyanti, Sinta Ariyanti, Hendry Rusli, Zulkarni Alfikri, Petrus Sitohang, Hariani Gultom, Felix Fan, Ana Liu, Herlina Tahar, Novianti, Dina Harahap, Endang Istiningsih, Arifi Arum, Linda Helina and Singal Tobing. Front row (from left): Cherry Dellisa, Gustini, Muhamad Razi. (Foto: Dumanti Sitorus)
Last but not least, as far as I now as, she still available....

DINA JULIANTI HARAHAP

Dina born to a Batak Mandailing family in Medan. She graduated from the Faculty of Economics University of North Sumatera in Economic & Development Studies. She grew up in Medan until she was married by Javanese man who fell in love with her when they were colleague in a shipyard company in Medan few years ago. If you wonder how the two from different cultures become a true lover, believe me, this must have something to do what the javanese saying has "weting trisno jalaran seko kulino" which means he falls in love simply because he meet her every day. They moved to Bintan when her husband got a more prospective career in Bintan Offshore project.

Dina joined Bintan Offshore June last year and is now the Admin Executive, in charge of Time Keeping and General Admin.

On Friday, July 6, 2007 Dina shared her happy momment with us when she celebrated her birthday at our office. But pitty her, her birthday fell just few days before our payday, so we only bought her a birthday cake and sing "hAPPy Birthday" song very laud to wish her and her husband always happy days ahead....

I think Dina enjoyed her birthday cake so much that she even put on her face...(Photo: Afghawib Suhadmal)

Those who shared the happy momment (from left): Cherry, Endang Istiningsih, Hariani Gultom, Dina, Gustini, Ana Liu, Dumanti Sitorus, Linda Helina, Petrus Sitohang and Farid (Photo: Afghawib Suhadmal)

Selamat ulang tahun......

Wednesday, July 18, 2007

NAZARETH CROSS, THE WORLD'S LARGEST AND MOST IMPRESSIVE CROSS




Nazareth (Arabic an-Nāzirah) is a town in northern Israel, 88 miles north of Jerusalem. Nazareth has a population of about 60,000, of whom half are Arab Muslim and half are Arab Christian.

Nazareth was the hometown of Jesus and thus is one of the most important Christian sites in the Holy Land. Christian pilgrims have been coming to Nazareth since the 4th century.

Important sights in Nazareth include several churches, traditional biblical sites, Byzantine ruins, and especially the modern Basilica of the Annunciation, which stands over the traditional site of Gabriel's announcement to Mary that she would give birth to the savior of the world.
St. Gabriel Church
The altar

The St Mary spring beneath the altar
Below is the link to world largest and most impressive cross plan in Nazareth.

Tuesday, July 17, 2007

HolyLand TV Episode: Palestine Bike Race

God had blessed the people in the holy land with 3 (three) branches of His religions for the faithful to observe: Judaism, Christianity and Islam.

But alas, these people had been using these religions as their reason to kill each other leaving this land as the bloodiest land on earth.
Let us pray that the Jewish and the Palestinian will one day live in harmony in the holy land.
Dome of The Rock

Curch of St. Peter in Gallicantu


The Western Wall in Jerusalem


YouTube - HolyLandTV Episode 2-Palestine Bike Race

Saturday, July 7, 2007

ROSMALA SITOHANG: BALLADA MANTAN ARTIS BATAK


Suhunan Situmorang

Kisah Sedih Selebriti Batak

Digilai lelaki. Jadi artis sejak 1970-an. Menikah pada usia 14 tahun dengan pria kaya. Tapi harus jadi pengamen dan pengecer rokok. Ditulis secara khusus untuk Batak News oleh Suhunan Situmorang dari Jakarta.

Tahun tujuhpuluhan, Rosmala boru Sitohang adalah bintang pujaan penggemar opera Batak — tak sama dengan pengertian opera yang sebenarnya, seperti opera Italia itu. Bersama kelompok opera ‘Dos Roha’ milik ayahnya, kehadirannya senantiasa dinantikan. Bila berpindah ke kota atau kampung lain bersama rombongan pentasnya, orang-orang akan merasa kehilangan, seraya melepas kepergiannya dengan satu pesan: Rosmala, cepatlah datang.

Rosmala lahir dan besar di lingkungan ‘anak panggung’. Ayah dan ibunya adalah pemain-pemain andalan opera Batak pertama bernama ‘Serindo’ bentukan Tilhang Gultom. Setelah serikat penghibur yang amat sohor di Tanah Batak itu bubar pada awal-awal tahun tujuhpuluhan, ayahnya lalu mendirikan opera ‘Dos Roha’ di Sidikalang. Persisnya Rosmala lupa tahun berapa kelompok tonil berciri seni-budaya Batak Toba itu didirikan. Tapi, pengakuannya, sejak orok ia sudah dilibatkan bila skenario cerita memang memerlukan. Cerita ‘Piso Somalim,’ ‘Pongki Nangolngolan’, ‘Inang Panoroni’, adalah beberapa contoh cerita yang membutuhkan peran anak-bayi.

Memang, sejak bayi Rosmala sudah terbiasa menghadapi hujan dan angin malam, sebab pertunjukan opera bisa berakhir sampai tengah malam. Ia, sebagaimana halnya anak-anak pemain opera lainnya, selalu diboyong orangtuanya ke samping panggung. Menginjak usia remaja ia sudah menguasai panggung. Aktingnya kuat, piawai menari, suaranya merdu saat menyanyi, tangkas pula memainkan alat musik Batak seperti gondang dan garantung.

Di usia 12 tahun, Rosmala sudah jadi primadona. Ia dipuja pemuda tanggung, diam-diam diidamkan lelaki dewasa, secara terang-terangan digoda para bandot tua.

Ia pandai menarikan Serampang Duabelas, tari piring Minang, hingga tari India yang meliuk-liukkan badan. Di setiap pertunjukan, sengaja ia tak ditampilkan sejak awal, agar penonton menunggu penasaran. Selewat dua tiga tarian dan tiga empat nyanyian dari “artis kelas dua”, barulah Rosmala ditampilkan. Penonton yang kedinginan disebabkan sejuknya hawa malam di wilayah danau dan perbukitan, lantas bertepuk tangan memberi sambutan; sementara kaum pria yang sudah tak sabaran sontak berdiri berdesakan.

Bila Rosmala menyanyikan lagu kesedihan, air mata kaum perempuan dan lelaki sentimentil tak jarang bercucuran. Bila senandung percintaan yang dinyanyikan, orang-orang yang tak lagi membujang ingin dirinya kembali jadi lajang. Manakala lagu riang yang ia tampilkan, para penonton akan bergoyang girang. Rosmala, O, Rosmala, nyanyianmu akan kusumbang, kendati dompet di kantongku tak cukup banyak uang!

Di pinggiran kota Medan, seorang lajang lapuk yang punya banyak uang, tergila-gila pada dirinya. Saudagar muda bermarga Pandiangan itu mengiba-iba pada Pak Sitohang agar Rosmala bisa dikawininya. Saat itu usia Rosmala baru memasuki usia 14 tahun, terkadang kelakuannya masih kekanak-kanakan, dan takkan bisa tidur kalau tak dikeloni ayahnya. Mungkin ayahnya kasihan sekaligus kagum pada lelaki yang amat gigih mengikuti ke kota manapun opera Dos Roha berpentas, demi Rosmala. Kabanjahe, Siantar, Tebingtinggi, Perdagangan, Kisaran, Aek Kanopan, Sidempuan, Sibolga, hingga Balige, pria kaya itu terus mengikut. Barangkali pula di hati ayahnya tersimpan keinginan membebaskan Rosmala dari kehidupan nomaden yang mirip kaum gypsy Spanyol.

Rosmala pun terus dibujuk ayah-ibunya agar sudi menerima pinangan si Abang Pandiangan, lalu menikah di Harianboho, ketika usianya belum genap 14 tahun. Akhirnya ia mau, tetapi dengan syarat: aksi panggungnya tak boleh dihentikan, dan, sebelum tertidur, ayahnya tak boleh meninggalkan. Rosmala seakan sadar, menjadi primadona, tak baik bila statusnya sudah menikah. Ia tak ingin ditinggalkan penggemarnya, tak mau membuat fans fanatiknya kecewa. Perkawinannya tetap dirahasiakan, dan pentas ke berbagai wilayah tetap diikutinya. Orang-orang tetap setia menanti kedatangannya, tepuk-tangan dan saweran tak putus dihibahkan untuknya.

Suaminya tentu tak tahan terus-terusan beristrikan seorang petualang hiburan. Cekcok dan pertengkaran dipicu cemburu akhirnya memisahkan mereka, kendati seorang anak sudah dilahirkan Rosmala — walau umurnya tak panjang. Selepas bercerai, Rosmala kian merajalela menguasai panggung, apalagi tari India sedang digandrungi para pengunjung. Atraksi solonya memainkan gondang menjadi buah bibir; wanita belia, berparas menawan, mampu memainkan perkusi Batak itu setara kemampuan ‘pargossi’ yang sejak zaman baheula hanya jamak dikuasai kaum Adam.

Rosmala dan opera Dos Roha terus berpentas, berkelana dari satu kota ke kota lain, dari satu kampung ke kampung lain. Tak disadarinya, usia ayahnya akan tua, sementara ia tak mungkin merangkap jadi pengelola opera. Sepeninggal ayahnya di awal delapanpuluhan, ia coba mempertahankan keberadaan opera rintisan ayahnya, namun tak bisa lagi bertahan lama. Pentas mereka yang terakhir, katanya, digelar di daerah Pabrik Tenun, Medan, 1982. Opera ‘Dos Roha’, secara de facto, sudah bubar. Kesenian tradisionil itu tak mampu lagi bersaing dengan bioskop, tv, dan orkes-orkes musik Melayu yang sudah disusupi aliran dangdut hingga lebih seronok dan menggairahkan.

Rosmala limbung, tak ada lagi yang tersisa, kecuali puing-puing bekas panggung. “Segalanya hancur setelah bapak meninggal,” ucapnya dengan mata berkaca. “Aku pun seperti orang bingung, tak tahu mau berbuat apa dan mau ke mana…”

Di saat kebingungannya, diterimanya pinangan lelaki bermarga Manullang yang sudah lama mendekatinya. Beberapa tahun menjalani kehidupan di Medan, dengan sumber nafkah yang tak pasti, mereka merantau ke wilayah pinggiran Pekanbaru. Di ibukota Riau ini, kehidupan mereka tak jua membaik.

“Hidup kami sangat susah, Bapa,” ucapnya padaku. Airmatanya menetes. “Aku dan lae-mu sudah melakukan pekerjaan apa saja, supaya kami dan bere-beremu bisa makan.” Ia memanggilku ‘bapa’, karena marga kami sama. Situmorang dan Sitohang itu sama, diikat dalam ikatan ‘Situmorang Sipitu Ama’.

Disebabkan keletihan dan gizi yang buruk, suami Rosmala sakit-sakitan bertahun-tahun, dan akhirnya meninggal dunia. Ditinggalkannya tiga anak, semuanya laki-laki, pada Rosmala, tanpa rumah, tanpa sumber nafkah yang pasti. Rosmala harus membanting tulang untuk membawa nasi ke rumah; anak-anaknya yang masih kecil-kecil, sudah menanti dengan perut lapar. Berdagang kecil-kecilan di pasar, membantu orang-orang Batak di Pekanbaru yang punya hajatan atau kesibukan, dilakukannya untuk menghidupi dan menyekolahkan ketiga anaknya. Sepuluh tahun lebih ia lakukan seorang diri, anaknya bisa tamat SMA dan yang paling kecil SMP.

Tahun lalu, Rosmala nekad mengurban ke Jakarta. Harapannya, di kota metropolitan itu, peluang untuk mengais rezeki jauh lebih besar sebagai penyanyi/pemusik ketimbang bertahan di Pekanbaru. Sudah lama ia dengar, di Jakarta amat banyak kafe berciri Batak dan, setiap akhir pekan, orang-orang Batak selalu membuat pesta (perkawinan). Ia berharap bisa ditanggap di acara-acara pesta kawinan atau pesta marga. Setelah menitipkan anaknya yang pertama dan kedua kepada seorang guru yang baik hati, ia boyong anak bungsunya ke Jakarta. Setiba di Pulogadung, ia bingung mau ke mana, lalu setelah tanya sana tanya sini, ketemulah ia dengan orang-orang Batak yang biasa mencari nafkah di terminal luar kota itu.

Dengan modalnya yang tak seberapa, ia menyewa rumah petak di bilangan Cakung, tapi tetap bingung hendak mengerjakan apa, sebab tak kenal siapa-siapa. Ia kembali ke Pulo Gadung, meminta tolong pada ‘halak hita’ di sana untuk dipekerjakan apa saja, dan jadilah ia membantu jualan teh botol, rokok, permen, koran, dsb. Ternyata tak cukup membiayai hidup, apalagi kedua anaknya di Pekanbaru tetap meminta biaya sekolah, selain makanan. Rosmala nyaris putus asa dan ingin menempuh jalan pintas, tapi wajah ketiga anaknya yang senantiasa terbayang, menyadarkan dirinya tak boleh mengakhiri hidupnya.

Ia pun meminjam gitar usang dari sebuah kedai tuak di pinggir jalan. Mengamenlah ia di metromini dan bus yang melewati rute Senen-Pulogadung, terkadang Bekasi.

Hasilnya, lumayan. Suatu hari, sekitar bulan Maret, anak tertuanya dari Pekanbaru menghubunginya via sms (hp miliknya yang sudah tua hanya digunakan untuk mengirim sms demi menghemat pulsa) beberapa kali mendesak agar ia kirim uang agar bisa ikut UAN. Rosmala panik, bingung, sedih. Saat menyanyi di sebuah buskota, airmatanya menetes tak disadarinya. Seorang penumpang, ternyata mahasiswi ASMI, menanyakannya: kenapa ibu menangis sambil menyanyi?

Rosmala tak malu-malu menceritakan kesedihan hati dan kebingungannya, bagaimana caranya agar anaknya bisa ikut UAN. Perempuan yang baik hati itu mengajaknya turun, mengajak bicara sambil makan siang, lalu membawanya ke kantor seorang temannya. Temannya kenal seorang pria Batak, pernah mengelola kafe Batak. Dibawalah Rosmala ke sana. Sejak itu Rosmala bisa mentas di beberapa kafe Batak, khususnya solo perkusi gondang Batak, atau mengiringi nyanyian trio-trio penyanyi Batak.

Kini, ia menyewa seperangkat gondang Batak itu Rp 100 ribu per show, dari seorang bermarga Tobing, pemilik sebuah lapo di Bekasi. Dibantu bungsunya dan seorang saudaranya seumuran anaknya, ia memikul lima buah perkusi itu dan mengangkutnya dengan taksi bila ada panggilan manggung. Sewa rumah petaknya bisa tertutup. Tapi, pengakuannya, urusan makan dan lain-lain, masih tetap ‘Senin-Kamis’.

“Tolonglah, Bapa, carikan pekerjaan untuk bere-mu itu,” pintanya padaku. “Dia sudah tamat SMA.” Wajahnya amat bangga mengucapkannya.

Aku dan Megawaty Sihombing (ia baru show dengan Viky Sianipar di acara pengusaha properti itu) dan kebetulan sama-sama mendengar kisahnya, hanya bisa mengangguk, lalu sama-sama menyanguinya sekadar uang saku. Rosmala pun pulang sembari menggotong seperangkat gondang, yang susah payah diangkatnya bersama saudaranya itu.

Dalam perjalanan pulang ke rumah, Ayu, putriku yang masih kecil bertanya: “Tadi kata Bapak, namboru itu dulu primadona. Emang primadona, apa sih, Pak?”

“Mmm…, kayak Krisdayanti sekarang,” ucapku cepat, sembari tetap memikirkan Rosmala boru Sitohang.

(dikutip dari http://www.bataknews.wordpress.com/ diposting 29 Juni 2007)

WHY BINTAN ISLAND?

It's true that Bintan not as popular as Bali yet. But to date more than 3,000,000 visitors have visited Bintan Resorts alone since it's opening in 1996. Most of the visitors come from Singapore, Korea, Japanese, Australian, American and European. Quite some of them are honeymooners and golfers mad.

Bintan Island is home to the indigenous Malay and Bugis descendants who have long been assimilated with each other. The masterpiece "Gurindam Duabelas" was written by the Great Malay poet Raja Haji on Penyengat Island, an islet of 3 miles away from Bintan Island. Bintan island and its capital city of Tanjungpinang today is considered as the stronghold of Malay cultures and tradition.
But aside the Malay and the Bugis, the Chinese have also been settled on the island since early 13 centuries. Nowadays almost all Indonesian major ethnics live in this beautiful island.
Bintan island is one of not so many places in Indonesia which not affected by the sectarian conflict, terrorism attack or natural disaster that suffer many places in Indonesian for the last decade.
So, if you have not decided where to go for your next holiday, don't waste your time. Make up your mind, go to Bintan.

Fisherman hut in Busung

Windsurfing at Mana Mana Beach Club

Prestine beach at Mana Mana Beach club


Mana Mana Beach. Seen in far side is Banyan Tree Resort


HOW to get to Bintan?

1. From Singapore:

1.1. You can take ferry from Tanah Merah Ferry Terminal to Bintan Resorts using Bintan Resorts Ferry catamaran. Ticket fare is around S$ 45-55 for two ways trip. Weekday four times a day. Weekend 6 times. Normal travelling time 55 minutes.

1.2. You may also take ferry from Tanah Merah Ferry Terminal to Tanjungpinang by PINGUIN or FALCON Ferry. Ticket fare is S$ 46 for two ways. Weekday 4 times a day, weekend 6 times. Normal travelling time 1.5 hrs.

2. From Batam:

2.1. You can take ferry from Telagapunggur jetty to Tanjungpinang. Ferry schedule is every 15 minutes. Ticket fare is Rp. 70,000 for two ways. Normal travelling time 55 minutes.

2.2. You may also take speedboat from Telagapunggur jetty to Tanjung Uban. Schedule every 30 minutes. Fare is Rp. 26,000 one way. Normal travelling time is 20 minutes.

2.3. Direct ferry from Telagapunggur jetty to Bintan Resort. Schedule is 3 times a day. Fare is Rp. 100,000 one way. Travelling time is 1.15 minutes.

DALTON TANONAKA


Nasi Goreng And Bill Clinton

I will stand in line for only two things – to interview Myanmar’s Nobel Peace Prize winner Aung San Suu Kyi. And for my paycheck.

That’s why I just didn’t get the long lines at Burger King upon its recent reentry into the Jakarta market. Opening-month customers at its high-end mall location waited up to an hour or more to get their hands on a Whopper Junior with cheese. That’s like Americans lining up for goat satay at a Sate Khas Senayan franchise in Michigan. It doesn’t make sense.

“People like to show off that they know about the trendy things, so they want to be the first to try it,” explained final-year college student Candice.

So it wasn't really about the food in this case. But it should be.

Indonesia has a lot more to celebrate on the culinary front than onion rings. Its indigenous cuisine is as good as it is diverse. And to break out internationally, all industry leaders need to do is focus. And promote.

Take my recent business trip to Seoul. One of the featured items in my hotel restaurant was “Indonesia’s Nasi Goreng.” For 20,000 won. That’s Rp 200,000, or more than US$20!

What that says is that we have at least one dish that people outside of this country feel is worth it to pay more than 10 times what it costs at home. And as travelers from Tokyo to Tasmania can tell you, the fried rice specialty is found on many major city menus.

But there are other items that could join nasi goreng as an exportable culinary product. As restaurateur Amalia Wirjono sees it, it's just a matter of choosing.

"I like (Indonesian food) because of the diversity. I drive to Bandung and the style of food is already very different (from Jakarta). I go the other way, say to Bogor, and it's different there," she says.

"And in terms of quality, it's expanded." The 38-year-old owner of the trendsetting Koi Restaurant & Galeria in South Jakarta says she gets bored easily and needs new flavors to keep her juices flowing.

"Take sambal (chili sauce)," she cites as an example of a possible breakout food product. "There are so many kinds, every place has its own special recipe. Bali has its own sambal, Yogya has its own sambal. That's what makes food here unique."

She agrees that for Indonesia to become the next Thailand as a source of popular cuisine globally, marketing is essential.

If nasi goreng is what government and industry leaders decide should be our “national dish” – and that’s the most logical choice – then a promotional campaign should be built around it. Have a nationwide competition for the “Best Nasi Goreng” from each province. That’s sure to generate tons of positive coverage from media outlets weary of corruption scandals and mudflow stories. Then use embassies and consulates to expand the competition overseas in selected high-profile markets like Los Angeles, London and Hong Kong.

I can picture the CNN feature story on the U.S. finals in Atlanta (that’s where CNN’s headquarters are). The judges are Bill Clinton and Agnes Monica.
The announcement:
“The winner of the Best Nasi Goreng in America is… DeShon Miller of Chicago! She will now go on to the White House to serve it up for President Hillary Clinton!”
You get my point.

But back to domestic food choices. To say there is a wide range of options here is like saying TV presenters like mirrors. Yuh! But how wide a range?

There should be lines outside Amalia’s fine dinery, not a burger joint, customers with forks in hand ready to plunge into her signature tofu salad or cradle her oven-hot three-flavored chocolate melt dessert.

And you don't need to measure the meter-long sausage at Kembang Goela to find out how special it is. The atmosphere and quality at the upscale Javanese restaurant in Central Jakarta are superb.

At the other end, there are the countless ayam goreng (fried chicken) stands and gado-gado street vendors. I just wish they'd clean up their acts - and dishwater - so hygiene isn't such a question mark.

But one simple concept takes the cake in my recipe book. I know I'm a newcomer and don't quite understand all the subtleties of this culture and society.

But can someone tell me what is the appeal of "Corn in a Cup?"
Hawaii native Dalton Tanonaka is the co-anchor of Metro TV’s “Indonesia Now” program, seen on Friday nights at 7:30 p.m. He can be reached at dalton@metrotvnews.com


Thursday, July 5, 2007

DI PULAU MAHONI (THE TEMPO GROUP) JAKARTA

Saya memulai karir sebagai Accounting Executive di PT Pulau Mahoni (The Tempo Group) Jakarta mulai February 1993 hingga Agustus 1995.

PT Pulau Mahoni adalah perusahaan distribusi barang-barang personal care khususnya kosmetika dan parfum bermerek ESTEE LAUDER, CLINIQUE dan ARAMIS. Produk-produk merek ARAMIS adalah khusus untuk pria. Ketiga merek ini adalah produk grup perusahaan ESTEE LAUDER INC. yang berpusat di Melville USA.

Meskipun di posisi akunting, bekerja di Pulau Mahoni memberikan pengalaman berhubungan dengan produk-produk kecantikan wanita seperti skin care, fragrance dan hair care.

Ketertarikan orang pada produk-produk Estee Lauder umumnya bermula dari penampilan Beauty Advisor dan Beauty Consultant yang saat bertugas di counter sangat cantik dengan polesan kosmetika bermerek ini. Padahal tanpa polesan make up dan uniform sebenarnya wajah mereka biasa-biasa saja.

Percaya atau tidak produk ini dapat memperbaiki penampilan fisik pemakainya hingga 60% dari aslinya. Dengan perbaikan fisik seperti itu wajarlah kalau secara psikologis pemakainya tampil paling tidak 50% lebih baik. Kalau ingin membuktikan, silahkan mencoba memakai beberapa produk skincare dan fragrance nya sebelum anda pergi ke pesta. Rasakan sendiri bedanya...


Monday, July 2, 2007

KUNJUNGAN SAUDARA DARI BANDUNG

Dr. (Ing) Ir. Benhard Sitohang adalah salah satu putera terbaik marga Sitohang. Dia adalah ahli teknik informatika yang saat ini menjadi ketua Kelompok Ahli Keilmuan Teknik Informatika Institut Teknologi Bandung. Dia adalah Ketua pertama Jurusan Teknik Informatika ITB.

Setelah sebelumnya bertukar email beberapa kali akhirnya saya berhasil meyakinkannya untuk mengisi liburannya bersama keluarga dan mengunjungi saya di Pulau Bintan. Tidak mudah meyakinkannya untuk mengunjungi Pulau Bintan, karena memang Pulau Bintan bukanlah destinasi wisata yang populer di tanah air. Dan mengingat sebelumnya dia sudah mendapatkan undangan untuk mengisi sebuah seminar di Perancis pada bulan itu juga.

Setelah berulang-ulang menegaskan pentingnya nilai edukasi mengunjungi Pulau Bintan, akhirnya dia berhasil juga meyakinkan anak-anaknya: Naomi, Ramona dan Imanuel untuk mau berkunjung ke Pulau Bintan pada hari Minggu tanggal 24 Juni 2007.

Sedang berpose bersama Dr. Ir. Benhard Sitohang saat beristirahat sejenak di pekarangan Hotel Sadap Tanjungpinang dengan latar belakang Pulau Penyengat.

Bersendagurau bersama anak-anaknya saat memesan makanan ringan di restoran Hotel Sadap Tanjungpinang. Duduk dari kiri ke kanan Ramona Sitohang (saat ini duduk di bangku SMA), Naomi Sitohang (puteri sulung yang saat ini tahun kedua kuliah di FMIPA Biologi ITB) dan si bungsu Immanuel Sitohang.

Bersama Dr. Benhard dan Immanuel sedang menikmati driving golf di Bintan Lagoon Golf course



Mencoba mengayun iron club sekuat-kuatnya... hupp... Ternyata pukulan saya grounded. Maklum sudah hampir 4 tahun tidak pernah driving lagi..

Imanuel sedang memukul bola... Lumayan 10 meter...

Stroke Dr. Benhard dengan iron ternyata bisa mencapai 175meter. Lho ternyata bapak dosen jago golf juga ya...

Berpose bersama bapak Kol. AL (Purn) Syamsumar Hadianto mantan Komandan Pangkalan Utama TNI Angkatan Laut Tanjungpinang (berbaju batik) yang bahagia mengisi pensiun dengan bekerja di Bintan Lagoon Resort.

Naomi dan Ramona sedang berpose santai di driving range


Sedang menunggu makan siang di Thai Food Restaurant Baan Aarya di Nirwana Gardens Resorts

Naomi dan Ramona sedang berpose di jembatan Barelang Batam

Siapa bilang dua gadis manis ini mojang priangan. Mereka asli boru Sitohang lho...

Naomi sedang berpose di Tanjungpinang dengan latar belakang Pulau Penyengat Indera Sakti bekas pusat kerajaan Riau Lingga tempat lahirnya maha karya sastra Melayu Gurindam Dua Belas karangan pujangga Raja Haji

IKRAR SUCI DI CIMANGGIS 19 DESEMBER 1998




Bertempat di Gereja St Thomas Kelapa Dua Cimanggis Bogor, Sabtu 19 Desember 1998 aku dan Lenni Purba puteri dari alm. Bpk. Purba dan ibu Mahita Silalahi asal dari desa Bakkara Humbang Hasundutan sepakat meresmikan kisah kasih kami menjadi sebuah ikatan suci perkawinan. Pemberkatan dilakukan oleh Pastor Tarsisius Suhardi, Pr. dihadapan keluarga besar Sitohang dan Purba yang datang dari berbagai tempat di Indonesia.


Berdua menatap masa depan dalam suka dan duka, untung dan malang bersama-sama.


Melangkah mantap dan pasti bersama menuju pelaminan dan menatap masa depan bersama.


Mengenakan cincin perkawinan ke jari manis Lenni.

Menerima injil dari ayahku. Ayahku mengharapkan firman Tuhan yang tertulis dalam injil untuk menjadi panduan hidup kami.
Ayahku Marthin Sitohang dan ibuku Maria Pakpahan. Dua orang yang melahirkanku kedunia ini, membesarkanku, membawaku menjadi anggota Gereja Tuhan, menyekolahkanku hingga sarjana dengan keringat dan kerja keras.

Bersama abang ipar Maraden Purba (saudara laki laki tertua Lenni) dan mertuaku ibu Mahita br. Silalahi.


Bersama keluargaku. Dari kiri ke kanan adik iparku Jona Pospos, Sinur Erlina Sitohang (isteri Jona Pospos), adikku Josephin Sitohang, ayahku, ibuku, adikku Agustina Dien Sitohang, kakakku Frisda Sitohang dan suaminya Sabar Hutasoit.

Bersama keluarga besar Purba. Dari kiri ke kanan Ny Junior Purba br. Rumapea, Junior Purba, Op. Porias Purba (abang almarhum mertua lelaki), ibu mertua, abang ipar Maraden Purba, Barto Purba dan isterinya boru Sianipar.

Empat saudara perempuanku yang sangat kusayangi. Berdiri dari kiri ke kanan: Josephin Juniati Sitohang, Agustina Dien Sitohang, Sinur Erlina Sitohang. Duduk adalah kakakku Frisda Sitohang.