Friday, July 27, 2007

NAI JABIR VS NAI MARNONANG

Pertengahan tahun tujuhpuluhan, daerah Pulomas, Jakarta Timur, merupakan sasaran hunian orang-orang Batak perantau (BTL), yang umumnya sudah berkeluarga. Suasananya mirip dengan daerah Parluasan, Siantar. Bahasa yg digunakan penghuni, kalau tak bahasa Batak, ya bahasa Indonesia ala Betawi. Tapi, agar merasa sudah resmi sebagai warga ibukota, ‘halak hita’ di sana seringkali menggunakan kosa kata Betawi, walau logatnya Batak.

Hari masih pagi ketika dua inang yg bertetangga, Nai Jabir dan Nai Marnonang, sudah bikin heboh. Mereka bertengkar gara-gara soal sepele, untuk kesekian kalinya. Orang-orang menyaksikan, suami mereka mengamati dari dalam rumah.

“Alaaaah!” cibir Nai Jabir yg ekonomi suaminya kebetulan selapis di bawah suami Nai Marnonang, meskipun sama-sama supir, “Baru punyE kursi rotan azza sudah bangga. Di rumah bapak guE di BaligE pun banyak kursi kayak gitu! KitE sih biasE azza!”

“Bilang azE lu cEmburu!” tangkis Nai Marnonang, “Minta dong kE suami lu supaya dibEliin kEk kursi guE! Mampu nggak suami lu?!”

Pertengkaran mereka semakin seru, serangan masing-masing kian menusuk ke area sensitif.
“Kaca tuh mukE lu!” serang Nai Jabir sembari menuding , “Biar katE duit suami lu banyak pun, tEtap azza mukE lu jElEk! Duit lu kan sampE habis bEli bEdak untuk mEnambal mukE lu itu! Tetap azza jElEk!”

“Akhhh…, lu yang jElEk! SE-Pulomas ini pun tau, lu pErEmpuan yang paling jElEk!” balas Nai Marnonang sambil berkacak pinggang. Hatinya panas membara, karena di wajahnya masih ada bekas-bekas cacar sewaktu kecil di Tarutung.

“Ha-ha-ha…! Ngaca dong, ngaca!” ucap Nai Jabir bangga karena merasa menang dalam pertempuran tersebut. Ia memandang puas ke sekeliling. “Nggak punya kaca, ya?! Katanya orang kaya!”

Nai Marnonang benar-benar merasa KO, padahal perkiraannya ronde pertarungan masih panjang. Emosinya kian mendidih, napasnya turun naik, dadanya timbul tenggelam. Karena merasa sudah diambang kekalahan, ia pelorotkan roknya setengah tiang. Sambil menunjuk-nunjuk pantatnya, ia berteriak-teriak histeris pada Nai Jabir: “MukE guE kayak pantat lu! MukE guE kayak pantat lu!”

Nai Jabir keheranan, orang-orang yg menyaksikan pun demikian. Suami Nai Marnonang yg duduk merokok di dekat dapur, panik. Istriku salah menggunakan kata ‘guE’ dan ‘lu’, pikirnya. Ia bergegas ke depan menemui istrinya untuk mengoreksi. “Salah kata-katamu itu, Mak Marno!” ucapnya dengan wajah tegang, “Kata-katamu itu terbalik!”
“Apa?!” teriak Nai Marnonang. Sambil menunjuk-nunjuk pantatnya, ia lanjutkan berteriak-teriak ke arah suaminya: “MukE lu kayak pantat guE! MukE lu kayak pantat guE!”

(cerita ini ditulis oleh Suhunan Situmorang untuk www.bataknews.wordpress.com)

No comments: