Saturday, July 7, 2007

ROSMALA SITOHANG: BALLADA MANTAN ARTIS BATAK


Suhunan Situmorang

Kisah Sedih Selebriti Batak

Digilai lelaki. Jadi artis sejak 1970-an. Menikah pada usia 14 tahun dengan pria kaya. Tapi harus jadi pengamen dan pengecer rokok. Ditulis secara khusus untuk Batak News oleh Suhunan Situmorang dari Jakarta.

Tahun tujuhpuluhan, Rosmala boru Sitohang adalah bintang pujaan penggemar opera Batak — tak sama dengan pengertian opera yang sebenarnya, seperti opera Italia itu. Bersama kelompok opera ‘Dos Roha’ milik ayahnya, kehadirannya senantiasa dinantikan. Bila berpindah ke kota atau kampung lain bersama rombongan pentasnya, orang-orang akan merasa kehilangan, seraya melepas kepergiannya dengan satu pesan: Rosmala, cepatlah datang.

Rosmala lahir dan besar di lingkungan ‘anak panggung’. Ayah dan ibunya adalah pemain-pemain andalan opera Batak pertama bernama ‘Serindo’ bentukan Tilhang Gultom. Setelah serikat penghibur yang amat sohor di Tanah Batak itu bubar pada awal-awal tahun tujuhpuluhan, ayahnya lalu mendirikan opera ‘Dos Roha’ di Sidikalang. Persisnya Rosmala lupa tahun berapa kelompok tonil berciri seni-budaya Batak Toba itu didirikan. Tapi, pengakuannya, sejak orok ia sudah dilibatkan bila skenario cerita memang memerlukan. Cerita ‘Piso Somalim,’ ‘Pongki Nangolngolan’, ‘Inang Panoroni’, adalah beberapa contoh cerita yang membutuhkan peran anak-bayi.

Memang, sejak bayi Rosmala sudah terbiasa menghadapi hujan dan angin malam, sebab pertunjukan opera bisa berakhir sampai tengah malam. Ia, sebagaimana halnya anak-anak pemain opera lainnya, selalu diboyong orangtuanya ke samping panggung. Menginjak usia remaja ia sudah menguasai panggung. Aktingnya kuat, piawai menari, suaranya merdu saat menyanyi, tangkas pula memainkan alat musik Batak seperti gondang dan garantung.

Di usia 12 tahun, Rosmala sudah jadi primadona. Ia dipuja pemuda tanggung, diam-diam diidamkan lelaki dewasa, secara terang-terangan digoda para bandot tua.

Ia pandai menarikan Serampang Duabelas, tari piring Minang, hingga tari India yang meliuk-liukkan badan. Di setiap pertunjukan, sengaja ia tak ditampilkan sejak awal, agar penonton menunggu penasaran. Selewat dua tiga tarian dan tiga empat nyanyian dari “artis kelas dua”, barulah Rosmala ditampilkan. Penonton yang kedinginan disebabkan sejuknya hawa malam di wilayah danau dan perbukitan, lantas bertepuk tangan memberi sambutan; sementara kaum pria yang sudah tak sabaran sontak berdiri berdesakan.

Bila Rosmala menyanyikan lagu kesedihan, air mata kaum perempuan dan lelaki sentimentil tak jarang bercucuran. Bila senandung percintaan yang dinyanyikan, orang-orang yang tak lagi membujang ingin dirinya kembali jadi lajang. Manakala lagu riang yang ia tampilkan, para penonton akan bergoyang girang. Rosmala, O, Rosmala, nyanyianmu akan kusumbang, kendati dompet di kantongku tak cukup banyak uang!

Di pinggiran kota Medan, seorang lajang lapuk yang punya banyak uang, tergila-gila pada dirinya. Saudagar muda bermarga Pandiangan itu mengiba-iba pada Pak Sitohang agar Rosmala bisa dikawininya. Saat itu usia Rosmala baru memasuki usia 14 tahun, terkadang kelakuannya masih kekanak-kanakan, dan takkan bisa tidur kalau tak dikeloni ayahnya. Mungkin ayahnya kasihan sekaligus kagum pada lelaki yang amat gigih mengikuti ke kota manapun opera Dos Roha berpentas, demi Rosmala. Kabanjahe, Siantar, Tebingtinggi, Perdagangan, Kisaran, Aek Kanopan, Sidempuan, Sibolga, hingga Balige, pria kaya itu terus mengikut. Barangkali pula di hati ayahnya tersimpan keinginan membebaskan Rosmala dari kehidupan nomaden yang mirip kaum gypsy Spanyol.

Rosmala pun terus dibujuk ayah-ibunya agar sudi menerima pinangan si Abang Pandiangan, lalu menikah di Harianboho, ketika usianya belum genap 14 tahun. Akhirnya ia mau, tetapi dengan syarat: aksi panggungnya tak boleh dihentikan, dan, sebelum tertidur, ayahnya tak boleh meninggalkan. Rosmala seakan sadar, menjadi primadona, tak baik bila statusnya sudah menikah. Ia tak ingin ditinggalkan penggemarnya, tak mau membuat fans fanatiknya kecewa. Perkawinannya tetap dirahasiakan, dan pentas ke berbagai wilayah tetap diikutinya. Orang-orang tetap setia menanti kedatangannya, tepuk-tangan dan saweran tak putus dihibahkan untuknya.

Suaminya tentu tak tahan terus-terusan beristrikan seorang petualang hiburan. Cekcok dan pertengkaran dipicu cemburu akhirnya memisahkan mereka, kendati seorang anak sudah dilahirkan Rosmala — walau umurnya tak panjang. Selepas bercerai, Rosmala kian merajalela menguasai panggung, apalagi tari India sedang digandrungi para pengunjung. Atraksi solonya memainkan gondang menjadi buah bibir; wanita belia, berparas menawan, mampu memainkan perkusi Batak itu setara kemampuan ‘pargossi’ yang sejak zaman baheula hanya jamak dikuasai kaum Adam.

Rosmala dan opera Dos Roha terus berpentas, berkelana dari satu kota ke kota lain, dari satu kampung ke kampung lain. Tak disadarinya, usia ayahnya akan tua, sementara ia tak mungkin merangkap jadi pengelola opera. Sepeninggal ayahnya di awal delapanpuluhan, ia coba mempertahankan keberadaan opera rintisan ayahnya, namun tak bisa lagi bertahan lama. Pentas mereka yang terakhir, katanya, digelar di daerah Pabrik Tenun, Medan, 1982. Opera ‘Dos Roha’, secara de facto, sudah bubar. Kesenian tradisionil itu tak mampu lagi bersaing dengan bioskop, tv, dan orkes-orkes musik Melayu yang sudah disusupi aliran dangdut hingga lebih seronok dan menggairahkan.

Rosmala limbung, tak ada lagi yang tersisa, kecuali puing-puing bekas panggung. “Segalanya hancur setelah bapak meninggal,” ucapnya dengan mata berkaca. “Aku pun seperti orang bingung, tak tahu mau berbuat apa dan mau ke mana…”

Di saat kebingungannya, diterimanya pinangan lelaki bermarga Manullang yang sudah lama mendekatinya. Beberapa tahun menjalani kehidupan di Medan, dengan sumber nafkah yang tak pasti, mereka merantau ke wilayah pinggiran Pekanbaru. Di ibukota Riau ini, kehidupan mereka tak jua membaik.

“Hidup kami sangat susah, Bapa,” ucapnya padaku. Airmatanya menetes. “Aku dan lae-mu sudah melakukan pekerjaan apa saja, supaya kami dan bere-beremu bisa makan.” Ia memanggilku ‘bapa’, karena marga kami sama. Situmorang dan Sitohang itu sama, diikat dalam ikatan ‘Situmorang Sipitu Ama’.

Disebabkan keletihan dan gizi yang buruk, suami Rosmala sakit-sakitan bertahun-tahun, dan akhirnya meninggal dunia. Ditinggalkannya tiga anak, semuanya laki-laki, pada Rosmala, tanpa rumah, tanpa sumber nafkah yang pasti. Rosmala harus membanting tulang untuk membawa nasi ke rumah; anak-anaknya yang masih kecil-kecil, sudah menanti dengan perut lapar. Berdagang kecil-kecilan di pasar, membantu orang-orang Batak di Pekanbaru yang punya hajatan atau kesibukan, dilakukannya untuk menghidupi dan menyekolahkan ketiga anaknya. Sepuluh tahun lebih ia lakukan seorang diri, anaknya bisa tamat SMA dan yang paling kecil SMP.

Tahun lalu, Rosmala nekad mengurban ke Jakarta. Harapannya, di kota metropolitan itu, peluang untuk mengais rezeki jauh lebih besar sebagai penyanyi/pemusik ketimbang bertahan di Pekanbaru. Sudah lama ia dengar, di Jakarta amat banyak kafe berciri Batak dan, setiap akhir pekan, orang-orang Batak selalu membuat pesta (perkawinan). Ia berharap bisa ditanggap di acara-acara pesta kawinan atau pesta marga. Setelah menitipkan anaknya yang pertama dan kedua kepada seorang guru yang baik hati, ia boyong anak bungsunya ke Jakarta. Setiba di Pulogadung, ia bingung mau ke mana, lalu setelah tanya sana tanya sini, ketemulah ia dengan orang-orang Batak yang biasa mencari nafkah di terminal luar kota itu.

Dengan modalnya yang tak seberapa, ia menyewa rumah petak di bilangan Cakung, tapi tetap bingung hendak mengerjakan apa, sebab tak kenal siapa-siapa. Ia kembali ke Pulo Gadung, meminta tolong pada ‘halak hita’ di sana untuk dipekerjakan apa saja, dan jadilah ia membantu jualan teh botol, rokok, permen, koran, dsb. Ternyata tak cukup membiayai hidup, apalagi kedua anaknya di Pekanbaru tetap meminta biaya sekolah, selain makanan. Rosmala nyaris putus asa dan ingin menempuh jalan pintas, tapi wajah ketiga anaknya yang senantiasa terbayang, menyadarkan dirinya tak boleh mengakhiri hidupnya.

Ia pun meminjam gitar usang dari sebuah kedai tuak di pinggir jalan. Mengamenlah ia di metromini dan bus yang melewati rute Senen-Pulogadung, terkadang Bekasi.

Hasilnya, lumayan. Suatu hari, sekitar bulan Maret, anak tertuanya dari Pekanbaru menghubunginya via sms (hp miliknya yang sudah tua hanya digunakan untuk mengirim sms demi menghemat pulsa) beberapa kali mendesak agar ia kirim uang agar bisa ikut UAN. Rosmala panik, bingung, sedih. Saat menyanyi di sebuah buskota, airmatanya menetes tak disadarinya. Seorang penumpang, ternyata mahasiswi ASMI, menanyakannya: kenapa ibu menangis sambil menyanyi?

Rosmala tak malu-malu menceritakan kesedihan hati dan kebingungannya, bagaimana caranya agar anaknya bisa ikut UAN. Perempuan yang baik hati itu mengajaknya turun, mengajak bicara sambil makan siang, lalu membawanya ke kantor seorang temannya. Temannya kenal seorang pria Batak, pernah mengelola kafe Batak. Dibawalah Rosmala ke sana. Sejak itu Rosmala bisa mentas di beberapa kafe Batak, khususnya solo perkusi gondang Batak, atau mengiringi nyanyian trio-trio penyanyi Batak.

Kini, ia menyewa seperangkat gondang Batak itu Rp 100 ribu per show, dari seorang bermarga Tobing, pemilik sebuah lapo di Bekasi. Dibantu bungsunya dan seorang saudaranya seumuran anaknya, ia memikul lima buah perkusi itu dan mengangkutnya dengan taksi bila ada panggilan manggung. Sewa rumah petaknya bisa tertutup. Tapi, pengakuannya, urusan makan dan lain-lain, masih tetap ‘Senin-Kamis’.

“Tolonglah, Bapa, carikan pekerjaan untuk bere-mu itu,” pintanya padaku. “Dia sudah tamat SMA.” Wajahnya amat bangga mengucapkannya.

Aku dan Megawaty Sihombing (ia baru show dengan Viky Sianipar di acara pengusaha properti itu) dan kebetulan sama-sama mendengar kisahnya, hanya bisa mengangguk, lalu sama-sama menyanguinya sekadar uang saku. Rosmala pun pulang sembari menggotong seperangkat gondang, yang susah payah diangkatnya bersama saudaranya itu.

Dalam perjalanan pulang ke rumah, Ayu, putriku yang masih kecil bertanya: “Tadi kata Bapak, namboru itu dulu primadona. Emang primadona, apa sih, Pak?”

“Mmm…, kayak Krisdayanti sekarang,” ucapku cepat, sembari tetap memikirkan Rosmala boru Sitohang.

(dikutip dari http://www.bataknews.wordpress.com/ diposting 29 Juni 2007)

No comments: