Monday, June 30, 2008

DPRD SAMOSIR TOLAK HUTAN TELE DIJADIKAN KEBUN BUNGA



MESKI terkesan lamban dan kurang tegas; sebagian anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Samosir, Sumatera Utara, akhirnya mengeluarkan pernyataan bersama menolak alih fungsi kawasan hutan Tele jadi kebun bunga dan agrowisata. Tapi ironisnya, gergaji mesin dan alat-alat berat milik investor asal Korsel masih terus menggasak hutan alam di tepi Danau Toba itu.

Penolakan tersebut dituangkan dalam sebuah surat pernyataan, yang ditandatangani oleh 14 dari 25 anggota DPRD Samosir. Di antara 11 anggota dewan yang tidak ikut meneken surat pernyataan tersebut, termasuk di dalamnya Ketua DPRD Samosir Jhony Naibaho, dan dua wakil ketua yaitu Drs Abad Sinaga dan Ir.Oloan Simbolon.

Munculnya suara penolakan dari para anggota dewan itu, membersitkan sepercik harapan bagi para pecinta lingkungan, khususnya kalangan masyarakat Batak yang cinta Danau Toba. Penolakan itu diharapkan bakal memicu perlawanan yang lebih kuat terhadap kebijakan Bupati Samosir Mangindar Simbolon, yang tanpa persetujuan DPRD telah mengeluarkan izin alih fungsi areal seluas 2.250 hektare di kawasan hutan Tele.

Kawasan hutan Tele adalah sisa-sisa Hutan Tano Batak, yang hingga tahun 70-an merupakan habitat harimau Sumatera dan sejumlah satwa langka lainnya. Akibat penebangan liar oleh penduduk, yang marak pada dekade 60 sampai 70-an, banyak harimau terbunuh dan sisanya “mengungsi” ke hutan Dairi.

Hutan Tele merupakan tempat bersejarah, dan bahkan dianggap sakral oleh masyarakat Batak. Pahlawan Nasional Sisingamangaraja XII menjadikan hutan Tele sebagai basis perang gerilya, selama bertahun-tahun, melawan penjajah Belanda.

Berikut ini kutipan lengkap surat pernyataan itu, yang dikirimkan salah seorang penandatangan Marlon Simbolon kepada arranger Viky Sianipar :



Kami yang bertanda tangan di bawah ini, masing-masing anggota DPRD Kabupaten Samosir masa bhakti 2004-2009, berdasarkan UU Nomor 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintahan Daerah, UU Nomor 23 Tahun 1997 Tentang Lingkungan Hidup, dan UU Nomor 25 Tahun 2007 Tentang Penanaman Modal, bahwa dengan ini kami :

1. Tidak setuju atau menolak penanaman Modal Asing yang dilakukan oleh PT. EJS AGRO MULIA LESTARI dengan penanaman tanaman hias/Holtikultura pada kawasan Hutan Tele di Desa Partungkot Naginjang seluas 2.250 Ha sesuai dengan surat ijin prinsip yang diterbitkan oleh Bupati Samosir Nomor : 503/6353/Ekon/2007 tanggal 6 Nopember 2007, Keputusan Bupati Samosir Nomor : 320 tahun 2007 tentang pemberian ijin lokasi usaha Agribisnis/Tanaman hias/Holtikultura kepada PT. EJS AGRO MULIA LESTARI seluas 2.250 Ha dan nota kesepahaman (Memorandum of Understanding) antara Pemkab Samosir dengan PT. EJS AGRO MULIA LESTARI Nomor :
500/2555/Ekon/V/2008
—————————— Tanggal 7 Mei 2008
38../EJS-AML/V/2008
2. Menolak sepenuhnya alih fungsi kawasan Hutan Tele yang berada di Desa Partungkot Naginjang untuk dijadikan sebagai areal penanaman tanaman hias/Agrowisata seluas 2.250 Ha dengan alasan : Kawasan Hutan tersebut adalah Daerah Tangkapan Air (DTA) Danau Toba dan Hulu Sungai yang mengalir ke Kecamatan Sianjur Mula-Mula dan Kecamatan Harian yang berfungsi mengairi persawahan Masyarakat ribuan hektare dan pembangkit tenaga listrik Hidromini Boho.

3. Menolak sepenuhnya alih fungsi kawasan hutan Tele yang berada di Desa Partungkot Naginjang untuk dijadikan sebagai areal penanaman tanaman hias/Agrowisata seluas 2.250 Ha dengan alasan : bahwa hutan berfungsi untuk mencegah pemanasan global karena Indonesia merupakan paru-paru Dunia sesuai dengan Konferensi Climate Change di Bali.

Demikian surat pernyataan ini kami perbuat dan kami tanda tangani dengan penuh kesadaran dalam kapasitas kami sebagai anggota DPRD maupun sebagai warga masyarakat untuk dapat dipergunakan sesuai dengan keperluannya.

Pangururan, Juni 2008

Yang Membuat Pernyataan :
1. Marlon Simbolon ( Anggota), Tanda Tangan (T)
2.Drs.Lundak Sagala ( Anggota), T
3. Drs.S.Ganda Tambunan (Anggota), T
4. Ir.Sanni Togatorop (Anggota), T
5. Jatorus Sagala (Anggota), T
6. Rosinta Sitanggang (Anggota), T
7. Tumpak Situmorang (Anggota), T
8. Edipolo Hutabalian (Anggota), T
9. Nasib Simbolon (Anggota), Tidak Tanda Tangan (TT)
10. DR Poltak Sinaga, Msi (Anggota), TT
11. Lindon Sihombing (Anggota), TT
12. Drs. Sabar Sitohang ( Anggota), T
13. Marko. P.Sihotang (Anggota), T
14. Tuaman Sagala ( Anggota), TT
15. Marojahan Sitinjak (Anggota), T
16. Drs. Parulian Situmorang (Anggota), T
17. Beston Sinaga (Anggota), T
18. Ir.Tahi Sitanggang (Anggota), TT
19. Bisman Lumbantungkup (Anggota), T
20. Rahman Gultom (Anggota), TT
21. Ir.Tunggul Habeahan (Anggota), TT
22. Jonny Sihotang (Anggota), TT
23. Ir.Oloan Simbolon (Wakil Ketua), TT
24. Drs.Abad Sinaga (Wakil Ketua), TT
25. Johny Naibaho (Ketua), TT

**sumber foto : Gorga Art Photography

Dikutip dari blog Toba Dreams

Wednesday, June 25, 2008

PROGRAM HEIFER INTERNATIONAL DI PALIPI


Heifer International Indonesia


Heifer International merupakan lembaga nirlaba dan pertama kali memulai program pengembangan masyarakat di Indonesia pada tahun 1982 melalui program bantuan ternak kambing dan domba. Baru pada tahun 1997 kantor perwakilan Heifer International di Indonesia didirikan.

Heifer International Indonesia sendiri secara legal terdaftar sebagai sebuah cabang dari Heifer International pada Desember 2003 setelah ditandatanganinya MoU dengan Departemen Pertanian Republik Indonesia. Heifer International Indonesia mendukung program-program pengentasan kemiskinan dan kelaparan seraya melestarikan bumi melalui berbagai program di Pulau Sumatera seperti mata pencaharian yang berkelanjutan bagi masyarakat melalui integrasi peternakan dan pertanian organik. Heifer International Indonesia juga berkontribusi dalam peningkatan kapasitas mitra-mitra program dan keuangan serta akuntabilitas.

Triadic partnership model (model kemitraan segitiga) yang dimiliki Heifer International Indonesia akan mengembangkan kemitraan dengan organisasi lokal yang akan menyediakan mobilisasi kelompok, pelatihan dan aktivitas untuk program pengelolaan penghidupan masyarakat.

Dengan model dan pendekatan diatas, serta pendampingan yang intensif, baik oleh mitra program dan Heifer International Indonesia, diakhir program diharapkan petani yang hidup disekitar dapat kembali berdaya melalui produksi sumber daya pertanian dan peternakan.

Saat ini, Heifer International Indonesia mengimplementasikan 8 program induk yang saling terkait dan terintegrasi secara erat, ke-8 program induk tersebut adalah; (1).Building Capacity of Local Organizations (BiC), Sustainable, (2). Mixed Crop Agriculture Livestoc Livelihood (SMALL), (3).Community Animal Health Volunteers in Indonesia (CAHVI), (4).Rebuilding Livelihood for Tsunami Disaster Affected Communities in Aceh and Nias, (5).Livelihood Empowerment through Agro-forestry (LEAF) in Southern Sumatra, (6).Sustainable Agro-Livestock Livelihood and Gender Empowerment (STAGE) in North Sumatra, (7).Community Livelihood Empowerment through Agro-ecology for Holistic Development (Co-LEAD) in West Sumatra and (8). Partner Capacity Building Grant
Program Pemberdayaan Petani dan Pertanian Dataran Tinggi yang Berkelanjutan bagi Ketahanan Pangan dan Konservasi Kawasan Danau Toba (Sustainable Upland Agriculture and Indigenous Farmers Empowerment toward Food Security and Lake Toba Conservation / Save Lake Toba Program)


Program 3 tahun ini akan memberdayakan sedikitnya 315 petani lokal yang berada di Kabupaten Samosir dan Dairi untuk memperbaiki dan meningkatkan kondisi penghidupan mereka. Melalui program ini, akan dilakukan perbaikan keberlanjutan penghidupan petani dengan mengintegrasikan pertanian dataran tinggi dengan pemeliharaan ternak yang akan meningkatkan pendapatan yang berkelanjutan sembari melakukan konservasi kawasan Danau Toba.

Partisipan program ini akan mendapatkan dukungan berupa ternak babi (kepada 190 KK), ternak kambing (kepada 100 KK), kerbau (kepada 25 keluarga), bibit ikan (kepada 150 KK) dan sarana produksi hortikultura termasuk bibit pohon tanaman buah-buahan. Selanjutnya, sebanyak 630 keluarga baru akan mendapatkan dukungan melalui mekanisme penerusan dari keluarga penerima awal.

Program ini-seperti program Heifer lainnya- juga akan memfasilitasi pelatihan-pelatihan baik teknis dan non-teknis. Pelatihan teknis berupa pengelolaan ternak, aquaculture, apiculture, pertanian organic, pengelolaan air dan pengelolaan sumber daya alam. Sedangkan untuk pelatihan non-teknis akan diberikan Cornerstones (Prinsip-prinsip Dasar Heifer) dan Model Pengembangan Masyarakat yang Holistik dan Berasas Nilai, pemasaran dan kewirausahaan, gender dan analisa sosial, dan pelatihan lainnya.

Dalam implementasi Program Safe Lake Toba, Heifer International Indonesia berkolaborasi dengan 3 mitra LSM lokal, salah satunya adalah Yayasan Vita Dulcedo mengambil lokasi di Desa Palipi, Kabupaten Samosir. Pada Rabu, 11 Juni 2008 lalu, bersama mitra Vita Dulcedo, Heifer International Indonesia meresmikan Sanggar Belajar Desa yang berisikan perpustakaan dan wadah belajar dan berdiskusi bagi para partisipan dan petani di Desa Palipi, Samosir. Turut meresmikan sanggar tersebut adalah Bapak Wakil Bupati Samosir, Ober SP Sagala, SE. Dimana sebelumnya Heifer International Indonesia juga telah mengadakan dialog dengan jajaran pemerintah setempat dalam usaha mensinergiskan program-program Heifer International Indonesia dengan program-program pemerintah disetiap lokasi program Heifer International Indonesia bekerja.

Buku-buku perpustakaan ini, tidak hanya akan di akses oleh anggota kelompok mitra Heifer saja, tapi juga bisa di akses oleh seluruh warga Desa Palipi yang ingin menambah wawasan. Buku-buku yang tersedia antara lain adalah buku pertanian, peternakan, bacaan anak-anak, sejarah Batak, kerajinan tangan praktis, dll.

Peresmian Sanggar Belajar desa ini dihadiri oleh anggota kelompok, Kepala Desa, tokoh masyarakat, tokoh agama dan masyarakat Palipi. ”Sebelumnya mereka belum pernah mendengar ataupun mengetahui ada Sanggar Belajar Desa, dimana mereka dapat menambah pengetahuan mereka baik dalam hal pertanian, peternakan karena pertanian dan peternakan yang mereka jalankan hingga kini masih secara tradisional.” jelas Afrina Sagala, Program Officer North Sumatra Heifer International Indonesia.

Melalui peresmian acara ini, Pihak Pemda Samosir menunjukkan komitmennya untuk mendukung Sanggar Belajar ini. Bupati secara personal menyumbangkan sejumlah buku untuk mengisi Sanggar ini. Beliau juga berjanji, akan membahas di Kantor Bupati bagaimana akan mendukung Sanggar yang di inisiasi oleh Vita Dulcedo dan Heifer ini.

Pemda Samosir berharap, agar Sanggar Belajar yang di inisiasi oleh Vita Dulcedo dan Heifer International Indonesia di Desa Palipi ini menjadi ”Pilot Project” pertama di Kabupaten Samosir.

Direktur Heifer International Indonesia, Henri Sitorus juga menyampaikan, semoga Sanggar Belajar ini menjadi wadah bagi semua masyarakat Desa Palipi. ”Yang dilakukan oleh Heifer International Indonesia dengan mitranya hanyalah sebagai stimulus untuk menggugah minat baca masyarakat di Desa Palipi.” tambah Henri Sitorus dalam sambutannya.

Tujuan lain dari Sanggar Belajar Desa ini juga untuk menjadi wadah berbagi dan meneruskan pembelajaran diantara partisipan ataupun kepada petani lainnya di Desa Palipi mengenai peternakan dan pertanian, seperti salah satu bunyi dari 12 Cornerstones Heifer yang merupakan keunikan khas Heifer sebagai lembaga swadaya masyarakat yaitu passing on the gifts atau penerusan manfaat dan amanah.


Tuesday, June 24, 2008

RUMAH BACA BANTUAN HEIFER DI PALIPI


Wakil Bupati Samosir Ober Sagala Rabu (11/6) meresmikan sanggar bacaan di desa Palipi. Sanggar bacaan “Vita Dulcedo” binaan LSM Heifer Internasional itu untuk saat ini masih berada di balai desa.

Namun, secara spontan Ober mengatakan akan ditampung anggaran untuk membangun balai desa itu. Pemkab Samosir sangat mendukung sanggar bacaan Vita Dulcedo ini. "Kita berharap adanya sanggar ini semakin membantu masyarakat terlebih generasi muda dalam menambah wawasan. Demikian juga dengan tempat ini, akan kami upayakan anggaran membangun balai desa ini ditampung di APBD Kabupaten Samosir, " kata Ober.

Sebagai ungkapan kegembiraan masyarakat Palipi manortor bersama rombongan pemerintah Kabupaten Samosir dan pimpinan Heifer Internasional Indonesia di dalam Balai Desa Palipi yang dijadikan Sanggar Baca "Vita Dulcedo" di Palipi Samosir.


Ditempat terpisah wakil ketua DPRD Samosir Oloan Simbolon sangat mendukung upaya itu. Bahkan menurutnya, jika memang sudah ada berbagai buku di sanggar bacaan itu anggaran pembangunan balai desa Palipi sudah bisa di tampung di P-APBD.
Hal-hal seperti yang dilakukan Heifer inilah yang pantas didukung semua pihak. Selain mereka berbuat secara nyata mereka juga sudah berupaya membantu memperkaya rakyat Samosir melalui pemahaman dengan menjadi pembina di Vita Dulcedo. Bila perlu, di PAPBD Samosir 2008 anggaran untuk balai desa itu sudah ditampung, tambah Oloan yang pecinta buku itu.
Untuk sanggar bacaan itu, Heifer memberikan 70 judul buku yang berkaitan dengan pertanian, peternakan sampai bacaan untuk anak. Selain itu Heifer juga telah memberikan bantuan berupa ternak Babi dan Kambing di Palipi. Direktur Heifer Sumut, Henri Sitorus berharap sanggar bacaan yang digawangi Suster Reinelda Sinaga sebagai Direktur Program Vita Dulcedo itu sebagai langkah awal program pemberdayaan masyarakat.
Mudah-mudahan sanggar belajar ini bisa menjadi tempat belajar bahkan dari desa-desa yang lain. Masyarakat sekitar dapat memanfaatkan sanggar ini dalam usaha berternak dan bertani, kata Hendri. Hadir dalam pertemuan itu Kadis Pendidikan Nasional Samosir Jabiat Sagala, Kades Palipi Johannes Sitohang dan Plt. Asisten II Djatipan Simanullang. Di Palipi rombongan wakil Bupati dan Heifer disambut tortor Batak.
(dikutip dari Harian Sinar Indonesia Baru, 23 Juni 2008)



Wakil Bupati Samosir Ober Sagala sedang menggunting pita tanda diresmikannya sanggar Baca "Vita Dulcedo" di Palipi.



Henri Sitorus Country Director Heifer International Indonesia yang berpusat di Medan tampak sedang menandatangani berita acara peresmian Sanggar Baca "Vita Dulcedo" di Palipi.


Henri Sitorus Country Director Heifer International Indonesia (kanan) tampak sedang diulosi oleh pemuka masyarakat Palipi pada saat peresmian Sanggar Baca "Vita Dulcedo" di Palipi Samosir.

Kaum ibu masyarakat Palipi dengan ulos di bahu sedang bersiap-siap menyambut rombongan pemerintah Daerah Kabupaten Samosir beserta pimpinan LSM Heifer International Indonesia dalam rangka peresmian sanggar baca "Vita Dulcedo" di Palipi Samosir Rabu, 11 Juni 2008.
(Foto-foto: koleksi Heifer International Indonesia)

Sunday, June 15, 2008

PERTEMUAN SITOHANG DOHOT BORUNA DI "KAMPUNG CYBER"

Sebagaimana perkumpulan marga-marga Batak lainnya, Punguan Sitohang dohot Boruna (perkumpulan keturunan marga Sitohang) biasanya mengadakan pertemuan rutin bulanan di salah satu rumah anggotanya. Di luar pertemuan bulanan yang biasanya disertai arisan, perkumpulan ini juga bertemu pada saat salah seorang anggotanya mengadakan acara syukur dan gembira seperti: pernikahan anggota keluarga, memasuki rumah baru, baptis anak dan malua khususnya bagi yang beragama Kristen dan acara-acara kegembiraan lainnya. Punguan juga biasanya berkumpul jika salah seroang anggota ditimpa musibah seperti sakit atau meninggal. Setiap tahun, biasanya di awal tahun tahun, mereka mengadakan pesta tahunan yang disebut "Pesta Bona Taon".


Ini merupakan cara keturunan marga Sitohang untuk mempererat persaudaraan, saling tolong menolong dan melestarikan adat sebagai sesama keturunan Ompu Pangaribuan. Op. Pangaribuan, anak kedua dari Ompu Tuan Situmorang, adalah nama nenek moyang marga Sitohang. Adapun keturunan anak pertama Op. Tuan Situmorang yakni Panoparaja saat ini umumnya menggunakan marga Situmorang atau Siringo-ringo atau Rumapea. Persaudaraan keturunan marga-marga Situmorang, Siringo-ringo, Rumapea dan Sitohang diikat dalam padan ikrar nenek moyang keempat marga-marga tadi untuk menjadi satu saudara yang dikenal dengan nama Pomparan ni Sipitu Ama yang keturunannya tidak bisa saling menikahi satu dengan yang lain.

Disamping mengadakan pertemuan rutin maupun insidentil punguan marga Sitohang juga telah mendirikan tugu persatuan marga Sitohang di Bona Ture Urat Samosir. Di sadari oleh para tetua marga Sitohang bahwa bangunan tugu saya tidak cukup untuk membantu punguan ini tetap eksis di era millenium dan era cyber ini. Untuk itu pada musyawarah besar Punguan Sitohang dohot Boruna di Jakarta tahun 2006 yang lalu telah memutuskan untuk mendirikan sebuah tugu na mangolu (tugu yang hidup) dalam bentuk sebuah YAYASAN BONA TURE. Yayasan ini dimaksudkan untuk bergerak di bidang pembangunan SDM (pendidikan); kebudayaan dan pengembangan ekonomi. Yayasan yang dipercayakan untuk dipimpin dr. Ronald Sitohang, Sp.B. dari Medan saat ini telah mulai melaksanakan programnya berupa pemberian beasiswa kepada anak-anak marga Sitohang dan borunya yang berprestasi tetapi kurang mampu.

Dalam rangka melestarikan kekeluargaan dan adat tersebutlah beberapa anggota marga Sitohang dengan inisiatif dari Dr. Ir. Benhard Sitohang pada pertengahan bulan Mei yang lalu membuat mailing list. Mailing list semacam ini tentu saja tidak akan bisa menggantikan acara punguan yang tradisional yiatu berjumpa secara fisik di rumah salah satu anggota. Namun yang jelas mailing list ini telah memberi warna baru persaudaraan di antara sesama Sitohang. Karena komunikasi antar sesama keturunan Sitohang tidak lagi dibatasi oleh jarak. Di milis ini mereka bicara topik apa saja: mulai dari tarombo (silsilah); adat batak; sharing pengalaman, sharing renungan dan bacaan rohani; berbagi info lowongan, pendidikan informasi acara kegiatan Sitohang bahkan humor-humor yang tujuannya berbagi rasa dan lain-lain.

Semoga mailing list ini bermanfaat bagi pertumbuhan dan perkembangan punguan marga Sitohang dimanapun mereka berada. Saat ini anggota-anggota yang sudah terdaftar dalam list antara lain:

Ade Paulus Sitohang; Jakarta
Agustina Dien Sitohang; Jakarta
Ala Than Sitohang; Singapore
Albertus Tumpal Sitohang; Makassar; Tual, Kyoto
Alexandro Bandana Sitohang; Jakarta
Andriana Fransisca Sitohang; Geneve, Switzerland
Baktiar P.E. Sitohang; Jakarta
Bangun Sitohang; Jakarta
Benhard Darwin Sitohang; Bandung
Choky Sitohang; Jakarta
Deny Sitohang; Medan
Dixon Sitohang; Balikpapan
Ejiruthlein Sitohang; Batam
Febiola Sitohang
Hotmauli Sitohang; Batam
Irma Bernadette Simbolon Sitohang; Jakarta
Janto Sitohang; Jakarta
Johanes Sitohang; Tanjungpinang
Josephin Juniati Sitohang; Seychelles
Julianti Vera Nova Sitohang; Batam
Lenni Purba Sitohang; Tanjungpinang
Manatar Sitohang; Indiana, USA
Nimrod Sitohang; Batam
Nikson Sitohang; Batam
Perry Cornelius Parluhutan Sitohang; Jakarta
Petrus Marulak Sitohang; Tanjungpinang
Putri Sitohang
Raisa Sitohang; Jakarta
Richard S. Sitohang; Kalimantan Timur
Rommy Sitohang
Roy Enrico Sitohang
; Bandung
Sahat Sitohang; Jakarta
Solina M.E Sitohang; Batam
St. Hotma Sitohang; Jakarta
Vayireh Sitohang; Bogor
Yohanes Sitohang


Sang "Kepala Suku" Dr. Ir. Benhard Sitohang bersama isteri di atas ferry Parapat - Samosir.

Choky Sitohang, TV presenter top saat ini, "one of the most eligible bachelor in this country".


Denny Sitohang, wartawan, juri favorit untuk miss pageant contest di Medan. Yang tetap merasa dirinyalah sebenarnya lebih ganteng dari saudaranya Choky Sitohang.


Johanes (Jo) Sitohang, anak Binjai yang ahli listrik di Tanjungpinang. Bercita-cita cuma pingin jadi ahli listrik karena negara ini termasuk Tanjungpinang sedang krisis listrik.

Adrina Sitohang, staff Perwakilan Tetap Republik Indonesia di Jenewa Swiss, yang sedang gandrung wayang jawa "Kyai Gandrung"...


Manatar Sitohang, smart and young engineer dari ITB yang sedang menyelesaikan program MBA di Krannert Business School Purdue University Indiana USA dengan beasiswa dari Sampoerna Foundation.


Perry Cornelius Sitohang, pengantin baru, Associate Lawyer di Law Firm Lubis Santosa Maulana.

Julianti Sitohang, yang gigih mencari silsilahnya, berpose dengan suami Tarigan di Harbor Front Singapore.


Nimrod Sitohang, sekretaris Punguan Sitohang dohot Boruna se kota Batam sedang berpose di warehouse pershnya di Singapore.


Josephin Sitohang dan suaminya Komang Swesen di pantai Seychelles.


Vayireh Sitohang, aktivis mahasiswa nasionalis yang sedang berusaha terus meniupkan bara revolusi. Karena baginya pilihan hanya ada dua: revolusi atau mati.



Dien Sitohang, sekretaris di Law Firm Lubis Gani Surowijoyo Jakarta, berpose bersama temannya.

Solina Martha Sitohang dengan suaminya lae Simbolon. Berpose di rumah mereka di Batam saat perayaan HUT kedua pernikahan mereka.

Baktiar Sitohang (nomor 2 dari kiri) berpose bersama koleganya di warehouse persh tempatnya bekerja di Jakarta. Baktiar adalah anggota milis yang aktif membagi renungan dan essay mengenai motivasi.

Untuk yang ingin bergabung silahkan kirim emailmu (nama dan kota berdiam) ke:

pomparan@sitohang.org atau petrus.marulak@sitohang.org

Friday, June 13, 2008

KENAPA SI HORAS AKHIRNYA DIPROMOSIKAN LAGI?

Minggu kedua di bulan Desember. Suasana ruang rapat annual staff performance appraisal (penilaian kinerja tahunan karyawan) di sebuah resort di Bintan tempat si Horas bekerja. Terjadi adu argumentasi yang cukup panjang antara Rajinder Sukumaran, seorang insinyur keturunan Tamil India, kepala Departemen Maintenance di mana si Horas ditempatkan dengan Daniel Goodman, General Manager resort asal Inggris. Daniel terkenal super hati-hati dalam mempromosikan jabatan staffnya. “Mempromosikan orang yang salah bukan cuma membuat sistim menjadi rusak tetapi bisa merusak semangat karyawan yang lain,” begitu prinsip Daniel. Untuk memastikan sistim promosi yang baik, Daniel mensyaratkan setiap usulan promosi ke posisi manajerial harus disetujui oleh rapat yang dihadiri seluruh kepala Departemen.

Tibalah giliran Departemen yang dipimpin Sukumaran. Dia bersikukuh meminta persetujuan rapat untuk mempromosikan si Horas menjadi Assistant Manager Departemen Maintenance mulai 1 Januari bulan depan.

“Not now Suku. Kita baru mempromosikan Horas menjadi Superintendent dua tahun yang lalu” kata Daniel kepada Sukumaran. “Jika performancenya tetap sangat baik, kita akan pertimbangkan promote dia tahun depan.”

“Performancenya selalu sangat baik dari tahun ke tahun Daniel,” kata Suku. Saat-saat seperti itu kulitnya yang hitam legam menjadi tampak makin legam, sangat kontras dengan giginya yang putih.

“Dia sudah menerima kenaikan gaji di atas rata-rata untuk itu,” sanggah Daniel.

“Dia memiliki motivasi yang tinggi dan kepemimpinan yang sangat efektif diantara semua anak buahnya bahkan sesama Superintendent,” lanjut Suku mencoba meyakinkan. ”Saya sudah melaporkan, sejak si Horas dipromosikan menjadi Superintendent keluhan tamu-tamu mengenai bagian kami sudah menurun drastis. Sistim penerangan seluruh resort kita sangat baik. Kebersihan dan kondisi taman dan lapangan golf terawat sangat baik dengan biaya yang lebih kecil dari tahun-tahun sebelumnya.”

Well, beri dia kenaikan gaji premium,” jawab Daniel masih belum setuju.

“Dia memiliki kualitas yang tidak dimiliki Superintendent saya yang lain Daniel. Dia selalu berusaha mencari jalan keluar dari masalah yang kita hadapi,” lanjut Suku belum menyerah. “Anda masih ingat masalah pencurian bola dan perlengkapan golf di lapangan golf kita? Juga serangan babi hutan dan anjing liar di lapangan golf yang dulu sering membuat tamu-tamu kita komplain. Sekarang sudah tidak ada lagi.”

Oh yeah I know about that. What the hell Horas was doing to solve this problem?” tanya Daniel dengan mimik rasa ingin tahu sambil memiringkan badannya ke depan.

“Dia cuma bilang kepada saya dia melakukan pendekatan kultural”

“Pendekatan kultural? Katakan apa sebenarnya yang dilakukan si Horas?” Daniel tidak puas dengan penjelasan si Suku.

“Sorry Daniel, saya sendiri juga tidak begitu jelas. Horas cuma bilang bahwa dia mengajak para pencuri bola di lapangan golf itu bicara. Dia meminta mereka berhenti mencuri bola dan perlengkapan golf di green course. Sebagai gantinya mereka dijinkan untuk menangkapi babi hutan dan anjing liar di hutan sekitar resort kita.”

That’s all? And all the problem solved?” tanya Daniel senang bercampur tidak percaya.

Yes. Menurut si Horas itu merupakan “win win solution” atas masalah ini.

And one more thing Daniel. Menurut si Horas dia bicara dengan bahasa yang sama dengan bahasa para pencuri bola tersebut.” kata Suku mengakhiri usulannya.

Well, kalau begitu, kirimkan salamku buat si Horas. Dia akan jadi Asistant Managermu mulai tanggal 1 Januari nanti.” kata Daniel kepada Sukumaran yang sekarang sudah bisa tersenyum kembali. (Petrus M. Sitohang)

PENAMPILAN SI HORAS DIANGGAP ENTENG...

Penampilan si Horas memang jauh dari keren. Maklumlah dia dibesarkan di desa Urat Samosir yang keras, makan jauh dari gizi yang memadai, dan di luar waktu sekolah kerjanya menggembala kerbau peliharaan keluarganya hingga petang. Karena ekonomi keluarga yang pas-pasan dan banyaknya adik-adiknya yang harus ditanggung, orangtuanya hanya sanggup menyekolahkan si Horas sampai tamat STM di Mogang Palipi Samosir.

Pada awalnya si Horas diterima bekerja hanya sebagai karyawan teknisi biasa. Namun karena tiap tahun dia menunjukkan prestasi kerja yang selalu sangat baik, pandai bergaul, senang dan cepat belajar teknologi dan pengetahuan baru dan menunjukkan sifat kepemimpinan dan tanggungjawab yang tinggi akhirnya dia dipromosikan menjadi Asisten Manajer bagian Maintenance di perusahaan tempatnya bekerja di Bintan Resort. Pengakuan tersebut semakin membuat si Horas gairah bekerja apalagi sekarang dia diberi fasilitas mobil kantor.

Suatu hari si Horas yang sedang dalam perjalanan pulang dari tugas luar kantor berhenti di pintu masuk kawasan Bintan Resort. Seseorang yang rupanya ingin masuk ke kawasan tersebut memberi tanda meminta tumpangan mobil yang dikendarai si Horas. Si Horas menghentikan mobil dinasnya.

“Siang mas. Apakah saya boleh menumpang ikut ke Bintan Resort?” tanya orang tersebut
kepada si Horas.

“Silahkan” jawab si Horas tanpa ragu sambil membukakan pintu mobilnya.

“Ada keperluan apa ke Bintan Resort” tanya si Horas sambil mengemudikan mobilnya.

“Saya dipanggil untuk wawancara kerja mas,” jawab orang tersebut dengan rasa bangga.
“Sudah lama saya melamar dan ingin kerja di sana mas. Tapi baru kali ini dipanggil.” lanjut orang tersebut dengan rasa percaya diri.

“Bapak melamar di bagian apa?” tanya si Horas sedikit menyelidik. Dia sendiri pada hari itu memang sudah membuat jadwal wawancara dengan beberapa calon karyawan baru di departemennya.

“Bagian Maintenance mas” jawab orang tersebut mantap. “Ini ada surat panggilannya, saya diminta menghadap bossnya. Namanya Pak Horas…. Katanya pak Horas itu boss yang tegas tapi baik lho mas,” kata orang tersebut semakin bersemangat.

Si Horas mulai merasa tidak nyaman.

“Ngomong-ngomong, mas sudah lama kerja di Bintan Resort ya?” tanya orang tersebut tidak perduli dengan si Horas yang merasa semakin tidak nyaman.

Dan sebelum si Horas menjawab, orang tersebut melanjutkan bertanya, “Gimana mas? Enak kerja jadi supir?” (Petrus M. Sitohang)

Monday, June 9, 2008

CLINTON SUSPENDS CAMPAIGN, ENDORSES OBAMA

By BETH FOUHY, Associated Press Writer Sun Jun 8, 8:11 AM ET

WASHINGTON - Hillary Rodham Clinton suspended her pioneering campaign for the presidency on Saturday and summoned supporters to use "our energy, our passion, our strength" to put Barack Obama in the White House.

"I endorse him and throw my full support behind him," said the former first lady, delivering the strong affirmation that her one-time rival and other Democratic leaders hoped to hear after a bruising campaign.


Amid tears from her supporters, Clinton issued a call for unity that emphasized the cultural and political milestones that she and Obama, the first black to secure a presidential nomination, represent.
"Children today will grow up taking for granted that an African-American or a woman can, yes, become the president of the United States," she said.

For Clinton and her backers, it was a poignant moment, the end of an extraordinary run that began with an air of inevitability and certain victory. About 18 million people voted for her; it was the closest a woman has come to capturing a nomination.

"Although we weren't able to shatter that highest, hardest glass ceiling this time, thanks to you, it has about 18 million cracks in it and the light is shining through like never before," she said in a speech before cheering supporters packed into the ornate National Building Museum, not far from the White House she longed to occupy, as president this time.

Indeed, her speech repeatedly returned to the new threshold her candidacy had set for women. In primary after primary, her support among women was a solid bloc of her coalition. She noted that she had received the support of women born before women could even vote.

But her main goal was to heal the rift in the party — one that cleaved Democrats in part by class, by gender and by race.

"The way to continue our fight now to accomplish the goals for which we stand is to take our energy, our passion, our strength and do all we can to help elect Barack Obama, the next president of the United States," she said.

"Today as I suspend my campaign, I congratulate him on the victory he has won and the extraordinary race he has run. I endorse him and throw my full support behind him and I ask of you to join me in working as hard for Barack Obama as you have for me," the New York senator said in her 28-minute address. Loud boos competed with applause.

With that and 13 other mentions of his name, Clinton placed herself solidly behind her Senate colleague from Illinois, who awaits Arizona Sen. John McCain in the general election. "We may have started on separate journeys but today, our paths have merged," Clinton said.

Obama, in a statement from Chicago where he was spending the weekend, declared himself "thrilled and honored" to have Clinton's support.

"I honor her today for the valiant and historic campaign she has run," he said. "She shattered barriers on behalf of my daughters and women everywhere, who now know that there are no limits to their dreams. And she inspired millions with her strength, courage and unyielding commitment to the cause of working Americans."

Obama secured the 2,118 delegates needed to clinch the nomination Tuesday after primaries in South Dakota and Montana. Aides said Obama watched Clinton's speech live on the Internet. His campaign put a photo of the New York senator on its Web site and urged supporters to send her a message of thanks. Likewise, Clinton's Web site thanked her backers. "Support Senator Obama today," her Web page said. "Sign up now and together we can write the next chapter in America's story."

Party leaders welcomed the new alliance.

"As you may know, I was a boxer. And I've seen many fights go the distance," said Senate Democratic leader Harry Reid of Nevada. "But never have I seen one where everyone came out stronger — until now. Because of the unprecedented number of new voters and the tremendous amount of enthusiastic supporters all the Democrats brought to the primary process, we stand ready to win the White House in 2008."

Both Obama and Clinton stood to gain from the new collaboration.

Obama could use the women and blue-collar voters who flocked to Clinton's campaign. She could benefit from his prodigious fundraising to help retire a debt of as much as $30 million. Clinton loaned her campaign at least $11.4 million; by law only, she has until the summer Democratic convention to recoup it.

Clinton also has told colleagues she would be interested in joining Obama as his running mate. On Saturday, the Rev. Jesse Jackson, an Obama supporter, said she had made "a powerful case for her eligibility" to be on the ticket.

Joining Clinton on stage Saturday were her husband, the former president, and their daughter, Chelsea, to loud cheers from the crowd. When she spoke, they stepped away. Her mother, Dorothy Rodham, watched from the floor to the side of the stage and wiped away a tear.

In deciding to suspend her campaign, Clinton kept some options open. She gets to retain her delegates to the nominating convention this summer and she can continue to raise money. It also means she could reopen her campaign if circumstances change before the Denver convention, but gave no indication that was her intention.

As soon as Clinton finished speaking, some of the nearly 300 Democratic party leaders and elected officials across the country who had pledged their support to her as superdelegates released statements announcing they now back Obama. The switchers included some of Clinton's most high-profile supporters, including Michigan Gov. Jennifer Granholm, Maryland Sen. Barbara Mikulski and Maine Gov. John Baldacci.

Clinton supporters began lining up at dawn to attend the farewell address. A smattering of Obama backers showed up as well, saying they did so as a gesture of party unity.

As they awaited her arrival, campaign staffers milled the room, exchanging hugs and saying goodbye.

Clinton seemed almost buoyant in her address, feeding off the energy of a loud and appreciative crowd.

"Well, this isn't exactly the party I planned but I sure like the company," she said as she opened her speech.

Clinton backers described themselves as sad and resigned. "This is a somber day," said Jon Cardinal, one of the first in line. Cardinal said he planned, reluctantly, to support Obama in the general election. "It's going to be tough after being against Obama for so long," he said.

Republicans quickly launched a "Clinton vs. Obama" page on the Republican National Committee's Web site drawing attention to her criticism of Obama during the campaign.

President Bush praised the symbolism of the 2008 field.

"I thought it was a really good statement, powerful moment when a major political party nominates an African-American man to be their standard bearer," he said in an interview Friday with an Italian journalist. "And it's good for our democracy that that happened. And we also had a major contender being a woman. Obviously Hillary Clinton was a major contender. So I think it's a good sign for American democracy."
___

Saturday, June 7, 2008

PITTOR NAENG MANGAN SIANG HO SONARI....?

Andorang so mulak tu hutana i Cina daratan, anggo ahu jotjotma marsak jala tarsonggot baenon ni si Deng Ching Qong (jaha: Teng Cing Cong) on.

Nasogotan, di lobby ni kantor pajumpang ma muse dohot si Deng. Nungnga paula so hubereng nian ibana. Alai na bakko na ramah do si Deng on pittor parjolo do ibana mandapothon ahu jala las dihaol ibana do abarahu. Huhut rap mardalan tu tangga lao nakkok tu tingkat 2.

"Hi Petrus, gu' mornen...." ninna si Deng manegor au. (Lapatanna: “Ale Petrus, selamat pagi”)

"Hi Deng. Very good morning to you" nikku mangalusi jeppek. Unang gabe ganjang jala loja muse annon ninna rohakku.(Ale Deng. Selamat pagi…”)

"You gud todei ha...?" ninna. (Sehat sehat do ho kan?)

"Yes, I'm very well. Thank you. And you?" nikku mangalusi jala manukkun khabarna, songon somalna molo mar hata inggris.(“Ido. Sehat-sehat do au bo. Mauliate. Ho sandiri songon dia kabarmu?”)

"Yes...." alusna huhut mekkel suhing. Alai dang dialusi sukkun-sukkunhu taringot tu kabar ni ibana. (“Ya…”)

"Bah nungnga mulai kumat muse baeon" ninna rohakku. Pittor naeng maninggalhon ibana ma ma nian rohakku.

"Deng, excuse me, I'm in a hurry. I'll see you later during lunch break OK...?" nikku mangalului sidalian asa unang lam ganjang. ("Deng santabi bo, buru-buru hian au nuaeng. Jumpang anon tikki istirahat siang ma hita muse ateh?.")

"Hah...? Yu wan to it lans now...?" ninna mangalusi ("Bah? Pittor naeng mangan siang sonari ho?")

"Pandok ma lomom Deng...." nikku ma mangalusi mar hata batak pittor marlojong maninggalhon ibana.

MATAUT HUSUKKUN MA HO...

Di Bintan torop do nuaeng on angka halak bangso na asing marula-ulaon: gumodang mai halak Cina (sian Singapur, Malaysia, manang sian Cina); halak India songon si Rajinder Sukumaran i; sian Pilippina, songon si Leonardo Panganjagal, manang halak sian Eropa songon si Daniel Goodman i.

Mansai godang do na gabe persoalan alani masalah bahasa dison. Ikkon do adong sada hata na dijalo sude jolma songon hata pengantar, ima marhata Inggris.

Alai tahe dang sude jolma na malo marhata inggris kan. Marsimaloi do sahalak sian na deba marsiajar hata Inggris on. Dang holan halak bangso Indonesia, par karejo bangso asing (expatriates) pe godang do na so umboto malo mar hata Inggris...

Na di ari Senin na salpu jumpang ma au dohot si Deng Ching Qong (jaha: Teng Cing Cong). Huroa na baru mulak cuti do ibana sian hutana di Cina daratan. Somal do si Deng on margait tu iba nang pe godangando dang niantusan hatana, suang songoni hatahu dang diantusi ibana.

"Hi Deng, long time not see you? Where have you been?" nikku manukkun si Deng tikki jumpang hami di lobby ni kantor nami (Lapatanna Ale Deng, nungnga leleng dang haidaan ho. Na sian dian do ho saleleng on?)

"Oh yaaa...wat?" ninna si Deng on mulak manukkun au.

"I meant...... I...... did not..... see.... you for.....these...few....days. Where.... did.... you... goo..O? nikku manukkun nenget-nenget (Dang tarida ho piga-piga arion. Natudia do ho lao?)

"Oh yahhh.... I'm hierrrrR. Don you si....? ninna mangalusi...(Oh ido... Di son do au... Dang dibereng ho?)

"Mabaor ma begu tu lombang an.... mataut husukkon ma ho..." nikku dibagas rohakku pittor maninggalhon si Deng.

Wednesday, June 4, 2008

OBAMA IS DEMOCRAT'S NOMINEE






WASHINGTON - Sen. Barack Obama of Illinois sealed the Democratic presidential nomination Tuesday, a historic step toward his once-improbable goal of becoming the nation's first black president. A defeated Hillary Rodham Clinton maneuvered for the vice presidential spot on his fall ticket.

Obama's victory set up a five-month campaign with Republican Sen. John McCain of Arizona, a race between a 46-year-old opponent of the Iraq War and a 71-year-old former Vietnam prisoner of war and staunch supporter of the current U.S. military mission.

McCain was plainly eager for the race to begin, and accused his younger rival of voting "to deny funds to the soldiers who have done a brilliant and brave job" in Iraq.
In remarks prepared for delivery in New Orleans, McCain agreed with Obama that the presidential race would focus on change. "But the choice is between the right change and the wrong change, between going forward and going backward," he added.

The newly minted Democratic nominee-in-waiting arranged an evening appearance in St. Paul, Minn., sending McCain an unmistakable message by claiming his victory in the very hall where the Arizonan will accept his party's nomination in early September.
Obama sealed his nomination, according to The Associated Press tally, based on primary elections, state Democratic caucuses and delegates' public declarations as well as support from 19 delegates and "superdelegates" who privately confirmed their intentions t/o the AP. It takes 2,118 delegates to clinch the nomination at the convention in Denver this summer, and Obama had 2,128 by the AP count.
Obama, a first-term senator who was virtually unknown on the national stage four years ago, defeated Clinton, the former first lady and one-time campaign front-runner, in a 17-month marathon for the Democratic nomination.
His victory had been widely assumed for weeks. But Clinton's declaration of interest in becoming his ticketmate was wholly unexpected.
She expressed it in a conference call with her state's congressional delegation after Rep. Nydia Velazquez, predicted Obama would have great difficulty winning the support of Hispanics and other voting blocs unless the former first lady was on the ticket.
"I am open to it" if it would help the party's prospects in November, Clinton replied, according to a participant who spoke on condition of anonymity because the call was private.
Obama's campaign had no public reaction to Clinton's comments, which raised anew the prospect of what many Democrats have called a "Dream Ticket" that would put a black man and a woman on the same ballot.
McCain's criticism of Obama referred to a vote last year in which the Illinois senator came out against legislation paying for the Iraq war because it did not include a timetable for withdrawing troops. At the time, Obama said the funding would give President Bush "a blank check to continue down this same, disastrous path."
Obama previously had opposed a deadline for troop withdrawal, but shifted position under pressure from the Democratic Party's liberal wing as he maneuvered for support in advance of the primaries.
Bill Burton, a spokesman for Obama, responded tartly. "While John McCain has a record of occasional independence from his party in the past, last year he chose to embrace 95% of George Bush's agenda, including his failed economic policies and his failed policy in Iraq. No matter how hard he tries to spin it otherwise, that kind of record is simply not the change the American people are looking for or deserve."
Tuesday's fast-paced developments unfolded as the long Democratic nominating struggle ended with primaries in Montana and South Dakota.
Only 31 delegates were at stake, the final few among the thousands that once drew Obama, Clinton and six other Democratic candidates into the campaign to replace Bush and become the nation's 44th president.
Clinton was in New York for an appearance before home-state supporters. Officials said she would concede Obama had the delegates to secure the Democratic nomination, effectively ending her bid to be the nation's first female president.
The young Illinois senator's success amounted to a victory of hope over experience, earned across an enervating 56 primaries and caucuses that tested the political skills and human endurance of all involved.
Obama stood for hope, and change. Clinton was the candidate of experience, ready, she said, to serve in the Oval Office from Day One.
Together, they drew record turnouts in primary after primary — more than 34 million voters in all, independents and Republicans as well as Democrats.
Yet the race between a black man and a woman exposed deep racial and gender divisions within the party.
Obama drew strength from blacks, and from the younger, more liberal and wealthier voters in many states. Clinton was preferred by older, more downscale voters, and women, of course.
Obama's triumph was fashioned on prodigious fundraising, meticulous organizing and his theme of change aimed at an electorate opposed to the Iraq war and worried about the economy — all harnessed to his own gifts as an inspirational speaker.
With her husband's two White House terms as a backdrop, Clinton campaigned for months as the candidate of experience, a former first lady and second-term senator ready to be commander in chief.
But after a year on the campaign trail, Obama won the kickoff Iowa caucuses on Jan. 3, and the freshman senator became a political phenomenon.
"We came together as Democrats, as Republicans and independents, to stand up and say we are one nation, we are one people and our time for change has come," he said that night of victory in Des Moines.
As the strongest female presidential candidate in history, Clinton drew large, enthusiastic audiences. Yet Obama's were bigger. One audience, in Dallas, famously cheered when he blew his nose on stage; a crowd of 75,000 turned out in Portland, Ore., the weekend before the state's May 20 primary.
The former first lady countered Obama's Iowa victory with an upset five days later in New Hampshire that set the stage for a campaign marathon as competitive as any in the past generation.
"Over the last week I listened to you, and in the process I found my own voice," she told supporters who had saved her candidacy from an early demise.
In defeat, Obama's aides concluded they had committed a cardinal sin of New Hampshire politics, forsaking small, intimate events in favor of speeches to large audiences inviting them to ratify Iowa's choice.
It was not a mistake they made again — which helped explain Obama's later outings to bowling alleys, backyard basketball courts and American Legion halls in the heartland.
Clinton conceded nothing, memorably knocking back a shot of Crown Royal whiskey at a bar in Indiana, recalling that her grandfather had taught her to use a shotgun, and driving in a pickup to a gas station in South Bend, Ind., to emphasize her support for a summertime suspension of the federal gasoline tax.
As other rivals fell away in winter, Obama and Clinton traded victories on Super Tuesday, the Feb. 5 series of primaries and caucuses across 21 states and American Samoa that once seemed likely to settle the nomination.
But Clinton had a problem that Obama exploited, and he scored a coup she could not answer.
Pressed for cash, the former first lady ran noncompetitive campaigns in several Super Tuesday caucus states, allowing her rival to run up his delegate totals.
At the same time, Sen. Edward M. Kennedy, D-Mass., endorsed the young senator in terms that summoned memories of his slain brothers while seeking to turn the page on the Clinton era.
Merely by surviving Super Tuesday, Obama exceeded expectations. But he did more than survive, emerging with a lead in delegates that he never relinquished, and he proceeded to run off a string of 11 straight victories.
Clinton saved her candidacy once more with primary victories in Ohio and Texas on March 4, beginning a stretch in which she won in six of the next nine states on the calendar, as well as in Puerto Rico.
It was a strong run, providing glimpses of what might have been for the one-time front-runner.
Personality issues rose and receded through the campaign:
Clinton's husband, the former president, campaigned tirelessly for her but sometimes became an issue himself, to her detriment.
And Obama struggled to minimize the damage caused by the incendiary rhetoric of his former pastor, the Rev. Jeremiah Wright, an issue likely to be raised anew by Republicans in the fall campaign.
___
Associated Press Writers Nedra Pickler, Beth Fouhy and Devlin Barrett in Washington, Stephen Majors in Columbus, Ohio, Jim Davenport in Columbia, S.C., and Libby Quaid in Memphis, Tenn., contributed to this story