Tuesday, July 1, 2008

PRESERVATION OF BATAK GONDANG IN HUTA TINGGI TOBA SAMOSIR IS UNDERWAY

A Batak Gondang group in Parmalim costum when in performance.


In the past, the Batak ancestor dwelled in Batak land in peace and harmony. They believe in and praise the Ompu Mula Jadi Nabolon, the Almighty God. Before the influence of Islam and Christianity, Batak people praise Ompu Mula Jadi Nabolon by performing sacrification and prayer ritual accompanied with music and dance.

In order to maintain peace and harmony in their society, Batak ancestors introduced and passed on Dalihan Na Tolu (the tree pillars priciples) to their descendants as philosophy and way of life to practice in their daily life. Dalihan na tolu or the three pillars are:

1. Somba marhula-hula (respect your wife giver clan);
2. Manat mardongan tubu (be careful with your own clan); and
3. Elek marboru (be considerate to clan who marry your clan daughter)

Aside Dalihan Na Tolu Batak ancestors also inherited their descendant with wisdom, and precious culture such as literature, Batak script, knitwear, tortor dance and the Bataks very own traditional music called gondang.

The Dalihan Na Tolu together with the Batak culture are considered as the most distinctive element in Batak society from that of the other ethnics in Indonesia. And the Bataks are also considered relatively succesful in keeping with it's tradition well.

However, over time the new lifestyle brought by modern education and technology have continuously eroded this valuable culture, including the Batak gondang.

Gondang, one of Batak most valuable traditional arts has long been regarded as one of the most genuine world ethnic heritage. Its rich repertoires perfectly meet what it takes to make any Batak ceremonies such as religious observance, customary activity as well as entertainment a solemn and wonderful performance.


PROBLEM AND CHALLENGE THAT IS FACING BATAK GONDANG

But modern life has been the most adversarial challenge to the existence of Batak gondang. Nowdays most of us can only find gondang in its modified version. The original gondang repertoires have almost disappeared from public performance.

Pargonsi, Batak language for the gondang player, especially the young ones, are no longer paying much attention and seeking to master the original repertoires of gondang. Why? Because most of Batak people nowadays are fancier to modern music songs and dangdut, the Malay music genre which rooted from Indian music.

Nowadays, even the old pargonsi in Toba are very seldom playing this original gondang as most of the people do not recognize them anymore.


EXPLORATION AND DOCUMENTATION

Nowadays, very few pargonsi can still recognize and play the true gondang well. Most of them are getting old and some of them are even surviving from old age sickness. But loosing these people will only mean the gondang reaching its extinction history. It is therefore critical that the Bataks should take this opportunity to save gondang so that we can pass them down to the next generation.

Exploration of original gondang and its documentation is the first step in the preservation of this most valuable Batak cultural asset.

The next important step would be the preparation of a tutorial video on how to learn and play gondang.


THE PLAN

The following are the course of activities being planned.

Phase 1: Documentation

I. Preparation of the list of Batak gondang as well as the old pargonsi of Toba Batak ethnic;
II. Exploration and fine tuning the old gondangs by doing audition with the old pargonsi;
III. Recording of the gondang into CD and mastering;
IV. Publication of the gondang in CD’s form;


Phase 2: Video Making of Tutorial on How To Play Gondang

Resources:

1. Video Shooting

The shooting of tutorial video on how to play gondang will be using own equipment and additional recording accessories. The type of recording equipment available on hand is Handy Recording ZOOM H4 Stereo Track.

2. Pargonsi

Old pargonsi that can still play Batak gondang well and take place in this project are, among others:
1. Maringan Sitorus;
2. Barani Gultom;
3. Maningar Sitorus; and
4. Sobo Gultom;

3. Support

Support from all Batak descendants and community from all over the world in the form of fund or kind are greatly expected.


SCHEDULE

This project is schedule to take place from June to September 2008.


COMMITTEE

Organizer:

Monang Naipospos (Toba Samosir: email mnaipospos@yahoo.com)

Support:

Petrus M. Sitohang (Tanjungpinang: email parbintan@sitohang.org)
Rianthy Sianturi (Medan: email riyanthi_as@yahoo.com)
Sahat Nainggolan (Kuala Lumpur, email id_kairo@yahoo.com)
Charlie M. Sianipar (Jakarta: email charliesianipar@cbn.net.id)
Suhunan Situmorang (Jakarta: emai ssuhunan@hotmail.com)
Viky Sianipar (Jakarta: email viky@vikysianipar.com)


SOURCE OF FUND

Voluntary donations from all parties who concern with this project are greatly expected.


WHAT HAVE BEEN DONE THUS FAR?

1. Preliminary recording for 20 titles of original gondang;
2. Preparation of description of each gondang;


BELOW ARE THE TITLES OF GONDANG THAT HAVE UNDERGONE THE AUDITION AND RECORDED THUS FAR (WILL UNDERGO FINE TUNING AND FINAL RECORDING)

1. MULA MULA
2. MULA MULA II
3. SSIHARUNGGUAN
4. SIDABU PETEK
5. SIBUNGKA PINGKIRAN
6. HOTANG MULAKULAK
7. ALIT-ALIT
8. BINTANG SIPARIAMA
9. BINTANG NAPURASA
10. HATA SO PISIK
11. ALING-ALING SAHALA
12. RAMBU PINUNGU
13. BINDU MATOGA
14. SIDOLI NATIHAL
15. TANDUK NI HORBO PAUNG
16. LILIT TU METER
17. TUKTUK HOLING
18. PARSOLUBOLON
19. SAPADANG NAUSE
20. SEKKIAN TALI MERAH


Further information on this project or how to support this project please contact any of the organizers listed above.



MICHAEL SITOHANG MELANJUTKAN TRADISI MUSIK BATAK


Satu lagi keturunan Sitohang yang berbakat alami dalam seni musik. Michael Sitohang, saat ini berusia 11 tahun dan baru naik ke kelas 6 Sekolah Dasar. Dia tinggal bersama orang tuanya di Tangerang wilayah pinggiran Jakarta. Ayahnya Rimson Sitohang secara sengaja memang mendidik Michael bermain semua alat musik batak seperti Sarune (serunai), Sulim (seruling), Taganing dan lain-lain. Saat ini Michael sudah sering tampil menghibur antara lain di pesta-pesta pernikahan masyarakat Batak sekitar Jakarta. Pendengarnya sangat kagum dengan kemampuan Mikael memainkan semua alat musik tradisional Batak. Dengan kemampuannya yang dimiliki pada saat usianya yang masih muda seperti ini, tampaknya hanya waktu dan kesempatan untuk sering tampil dipanggung saja yang dibutuhkan Michael untuk menjadi artis seni Batak berkelas nantinya.

Michael Sitohang sedang bermain Sarune.

Sejarah seni tradisonal Batak dihiasi oleh banyak keturunan marga Sitohang yang kampiun di bidangnya. Sebutlah misalnya Magumbang Sitohang dan Dari Uhum Sitohang. Kedua nama ini adalah pendiri dan pemilik opera Batak yang tersohor pada antara tahun 50an hingga akhir tahun 70an.

Selain kedua nama itu, penggemar Opera Batak juga tentu akan mengingat satu primadona yang sangat dinanti-nanti penggemarnya pada masanya yaitu Rosmala Sitohang. Walaupun saat ini Rosmala tidak segemerlap atau secantik saat ia masih muda dulu namun bakat seninya diakui tidak lekang sama sekali. Saat ini sesekali dia masih tampil di cafe-cafe yang atau pesta-pesta pernikahan orang Batak di Jakarta. Permainan taganingnya masih mendapatkanm pujian dari para pendengarnya.

Salah satu mantan seniman Opera Batak yang masih tetap berkarya saat ini adalah Marsius Sitohang. Marsius saat ini tinggal di Medan dan sudah hampir duapuluh tahun belakangan ini menjadi dosen musik Batak di Jurusan Etnomusikologi di Universitas Sumatera Utara Medan. Dengan kemampuannya bermain semua alat musik Batak terutama sulim, Marsius sudah tampil di berbagai pentas di banyak tempat termasuk beberapa kali di luar negeri seperti di New York Amerika Serikat. Catatan menarik tentang kemampuan Marsius dalam meniup sulim adalah kesaksian Monang Naipospos, seorang budayawan Batak Toba yang tinggal di Huta Tinggi Toba Samosir berikut ini:
"Marsius pernah saya lihat dan dengar mengeluarkan kepiawaian main serulingnya saat sahabatnya Osner Gultom meninggal di Porsea. Seyogianya suara seruling itu didengar melalui Sordam. Marsius bersama rekannya pemusik batak mempersembahkan melodi sendu yang dikatakannya sebagai pengganti ratapan (andung).

Sayang, tidak ada alat rekam saat itu, karena mungkin di lain suasana saya tidak mendengar lagi suara seruling seperti itu. Dia meneteskan air mata, suara seruling terus mendayu, merintih, meratapi sahabatnya yang lebih dulu meninggalkannya.... "
Selain itu musisi Batak keturunan Sitohang lainnya adalah Martogi Sitohang, seorang musisi muda Batak lulusan Jurusan Etnomusikologi Universitas Sumatera Utara. Seperti Marsius, Martogi yang lahir dan besar di Samosir ini juga piawai memainkan semua alat musik tradisionil Batak. Martogi yang saat ini tinggal di Jakarta juga telah tampil di berbagai pentas pertunjukan di berbagai tempat di Indonesia bahkan di manca negara termasuk di Eropa dan Amerika Serikat. Martogi telah meluncurkan beberapa album seperti "Seruling Sang Guru" berisi musik instrumentalia Batak. Baru-baru ini Martogi juga telah meluncurkan sebuah album berisi musik instrumentalia rohani bekerja sama dengan pemain biola terkemuka Hendri Lamiri dengan judul "Praises of the Little Shepperds." Martogi saat ini banyak melakukan eksperimen musik tradisional Batak dengan harapan musik Batak tetap lestari dengan mengadopsi beberapa bagian dari warna musik modern.

Kehadiran Mikhael tampaknya akan meneruskan sekaligus mengukuhkan nama besar marga Sitohang dalam catatan sejarah musik Batak. Semoga...


Mikhael Sitohang sedang bermain kecapi Batak yang disebut "Hasapi".

Michael Sitohang sedang menium seruling Batak yang disebut "sulim."



Martogi Sitohang dalam sebuah penampilannnya di Amerika Serikat.
Martogi Sitohang ketika tampil di Cafe Toba Dreams Jakarta. Pada saat itu dia tampil bersama musisi muda Batak lainnya Viky Sianipar.

Marsius Sitohang ketika tampil di New York Amerika Serikat.


Ardoni Sitohang, adik Martogi Sitohang yang juga piawai memainkan alat-alat musik Batak dalam sebuah penampilan bersama Marsius Sitohang (berjas biru di belakang Ardoni) di Medan.
Jika ingin mendapatkan informasi lebih lanjut mengenai seniman-seniman tersebut di atas, termasuk informasi pemesanan pementasan dapat juga mengirimkan email ke:
pomparan@sitohang.org

Petrus M. Sitohang , Pariwisata Dan Kelautan Bisa Jadi Motor Pertumbuhan Ekonomi

KEPRIONLINE.CO.ID,TANJUNGPINANG,- Provinsi Kepulauan Riau dikenal kaya akan sumber daya alam. Letaknya yang juga sangat strategis memun...