Saturday, October 4, 2008

AMERICAN VALUE

Oleh: Humphrey H. Samosir*)

Apa kira kira yang tergambarkan oleh masyarakat International jika ada dua kata yang berbunyi: American Value.

Banyak yang akan seragam dengan pemikiran bahwa nilai budaya di America sudah campur aduk dari degradasi kumpulan nilai Nadir socio-cultural suatu bangsa yang berbudaya tinggi. Artinya banyak anggota masyarakat international yang tidak mengerti karena kurang mengenal Traditional American Value. Yang tampak terpampang saat ini adalah yang dijadikan patokan mereka dalam menilai negeri ini secara global.

America memang telah banyak mengumpulkan animo dan ter-kooptasi, banyak hal hal yang menurut bangsa bangsa lain yang lebih "beradab" menganggap bahwa "standard" nilai budaya masyarakat America tidak lain dari pada kumpulan ajaran Syaiton, Free-Sex, drug addict, sumber penyakit berbahaya, biadab, tidak bermoral, gila hormat, negara sok teu, pusat orang Atheist yang kadang kala untuk alasan tertentu dicap sebagai negara Kristen, al-Kafirun at its best maupun the Grand Infidel dan lain sebagainya.

Bukan salah mereka untuk menilai demikian, jangankan dunia International, sedangkan masyarakat America sendiri kini sudah menganggap hal hal yang berbau Traditional American Value adalah hal yang sudah usang, memalukan, tidak modern, terbelakang, yang lebih parah dikatakan tidak Liberal.

Terutama di kota kota besar yang dengan pertumbuhannya menjadikan kota tersebut sebuah megapolis kelas jagad. Sebuah "Mecca" of Cosmopolitanisme dan Posmodernisme. Lihat saja New York, NY atau Los Angeles,CA atau San Fransisco,CA hingga Chicago,IL. Pula beberapa municipalities yang sangat menarik.

Negeri yang menyumbangkan dan mewarnai dunia dengan Pop-culture, Blue-Jeans, Coca-cola, McDonnald dengan "french fries", Starbucks, Michael Jacson, MTV, Elvis Presley, Hollywood, Wall Street, Bank of America, Citibank, termasuk "The green back" US Dollar, dan lain lain.Hal ini menjadikan magnet luar biasa yang akan menyedapkan impian kaum immigran untuk berani mempertaruhkan masa depannya di negeri ini. Hingar bingar cosmopolitan yang menjadikan proses melting-pot berjalan seiring dengan rangkakan waktu. Terutama setelah WWII berakhir menjadikan New York menggantikan Paris sebagai pusat perhatian dunia dalam segala bidang. Mulai saat itulah American value menjadi sirna, karena America memiliki "so much foreign properties value".

Apa sebenarnya traditional American Value tersebut?Sebuah essay yang brilyan dari Dr. Dale A Robbins dalam tulisannya "What do you mean by Traditional Value" [(c) 1990]Tidak lain adalah Family value yang tidak berbeda dengan nilai nilai budaya masyarakat lain. Sebuah tolok ukur yang sederhana tetapi memiliki kultur kuat. John Aldridge (1958) dalam bukunya menjelaskan bahwa American value masih terikat kuat dalam tradisi masyarakat Agraris di US misalnya didaerah cotton-belt maupun yang sekarang disebut Southerners. Mengacu pada Roman-Republican civic value yang digabung dengan Protestant-Christianity.Walau tiap kelompok dapat menterjemahkan arti dan luasnya Family value, bahkan di US sendiri telah terjadi dikotomi seperti yang saya nukil dari wikipedia:

Social and Religious Conservatives often use the term "family values" to promote conservative ideology that supports traditional morality or values.[2] American Christians often see their religion as the source of morality and consider the nuclear family to be an essential element in society. Some conservative family values advocates believe the government should endorse Christian morality,[3] for example by displaying the Ten Commandments or allowing teachers to conduct prayers in public schools. Religious conservatives often view the United States as a "Christian nation".[4] For example, the American Family Association, says "The American Family Association exists to motivate and equip citizens to change the culture to reflect Biblical truth and traditional family values."[5] These groups variously oppose abortion, pornography, pre-marital sex, homosexuality, some aspects of feminism,[6] cohabitation, and depictions of sexuality in the media.

A less common use of the phrase "family values" is by some Liberals, who have used the phrase to support such values as family planning, affordable child care, and maternity leave. For example, groups such as People For the American Way, Planned Parenthood, and Parents and Friends of Lesbians and Gays have attempted to define the concept in a way that promotes the acceptance of single-parent families, same-sex monogamous relationships and marriage. This understanding of family values does not promote conservative morality, instead focusing on encouraging and supporting alternative family structures, access to contraception, abortion, increasing the minimum wage, sex education, childcare, and parent-friendly employment laws, which provide for maternity leave and leave for medical emergencies involving children.

Bagi saya, gubahan lagu yang sederhana milik Alan Jacson, dalam format lagu Western country music menggambarkannya dengan eksak. Juga menurut saya adalah sebuah masterpiece, dimana Alan menggambarkannya dengan potret yang sempurna. (maaf ada iklannya).Dalam lyrics sebagai berikut:


Born the middle son of a farmer

And a small town Southern man

Like his daddy's daddy before him

Brought up workin' on the land

Fell in love with a small town woman

And they married up and settled down

Natural way of life if you're lucky

For a small town Southern man

First there came four pretty daughters

For this small town Southern man

Then a few years later came another

A boy, he wasn't planned

Seven people livin' all together

In a house built with his own hands

Little words with love and understandin'

From a small town Southern man

Chorus

And he bowed his head to Jesus

And he stood for Uncle Sam

And he only loved one woman

(He) was always proud of what he had

He said his greatest contribution

Is the ones you leave behind

Raised on the ways and gentle kindness

Of a small town Southern man

(Raised on the ways and gentle kindness)

(Of a small town Southern man)

Callous hands told the story

For this small town Southern man

He gave it all to keep it all together

And keep his family on his land

Like his daddy, years wore out his body

Made it hard just to walk and stand

You can break the back

But you can't break the spirit

Of a small town Southern man

(Repeat Chorus)

Finally death came callin'

For this small town Southern man

He said it's alright 'cause I see angels

And they got me by the hand

Don't you cry, and don't you worry

I'm blessed, and I know I am

'Cause God has a place in Heaven

For a small town Southern man

(Repeat Chorus)

Mudah mudahan makna yang ditayangkan diatas dapat dicerna walaupun digambarkan secara minimality. Bahwa di US juga terdapat orang orang yang berpandangan tidak jauh dari nilai nilai yang dipahami oleh banyak orang dari negara "beradab". Bagaimanapun, toh perkembangan dan pergeseran zaman mendiktekan hal hal yang berlainan dengan keinginan.

Hanya satu hal yang saya kagumi sampai sekarang adalah berjalannya Demokrasi dan terdengarnya suara rakyat dalam menentukan pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat, untuk rakyat. Yang mana, kalau boleh jujur merupakan hal yang sangat fantastis, yang juga mungkin belum dapat ditiru oleh negara negara "beradab" di seluruh dunia.

*)Humphrey H. Samosir adalah seorang perwira Korps Marinir Amerika Serikat saat ini berpangkat Letnan Kolonel. Dia dilahirkan di Amerika Serikat dari seorang imigran asal Indonesia berdarah Batak. Di dalam blognya dia menulis banyak mengenai Indonesia dan Batak dengan bahasa Indonesia yang sangat bagus yang bahkan lebih dari rata-rata orang warga negara Indonesia sendiri. Bahkan dia juga menguasai bahasa Batak. Padahal sejak lahir Humphrey Samosir belum pernah berkunjung ke Indonesia apalagi ke Samosir daerah asal orang tuanya.

Tulisan ini saya kuitip dari blognya http://hhsamosir.blogspot.com/2008/09/american-value.html dengan ijin.


1 comment:

RItool said...

Bagaimana dengan Batak Rantau Value ?

Horas !