Thursday, December 31, 2009

MENGAPA AIR MATAKU JATUH GUS DUR



Gus Dur,

Seingatku kita tidak pernah bertemu bukan? Tidak selama yang kuingat. Meskipun aku telah mengikuti sepak terjangmu sejak engkau memimpin Forum Demokrasi di zaman orde Baru dulu. Sebuah usaha yang mengingat situasi ketatnya cengkraman kekuasaan atas kebebasan berpendapat, hanya bisa berlangsung karena dirimu yang memimpin.

Tetapi meskipun begitu, kepedulianmu terhadap orang-orang kecil seperti diriku dan ratusan atau bahkan ribuan orang-orang yang untuk kepentingan politik kekuasaan sering diberi label minoritas, sangat kurasakan sepanjang kiprahmu. Kepedulianmu itulah membuat kami yang dilahirkan sebagai minoritas tidak merasa menjadi orang pinggiran di negeri ini.

Aku tidak pernah merasakan kesunyian dan kepedihan yang sedalam ini ketika melepas kepergian salah seorang putera bangsa yang berjasa bagi negeri ini. Sejak tadi malam aku tidak bisa lepas dari depan TV menyaksikan kabar kepergianmu. Aku merasa seperti anak kecil yang cengeng karena tidak mampu menahan jatuhnya air mataku.

Aku meraskan kesediahan luar biasa Gus. Engkau justru pergi di saat negeri ini sedang dalam annus horribilis, tahun penuh petaka. Ketika negeri yang bernama Nusantara ini masih sering mempersoalkan asal-usul, suku dan agama. Negeri yang karena alasan-alasan primordial justru lupa pada nasib banyak orang miskin yang hidupnya melarat menyaksikan rumah dinas dan kendaraan dinas para pejabatanya cukup untuk mengenyangkan jutaan perut anak negeri.

Engkau pergi ketika urusan kebhinnekatunggalikaan bangsa ini masih sering mempersoalkan kebebasan beragama, pendirian rumah ibadah dan malah lupa mengejar ketertinggalan bangsa ini dari bangsa-bangsa lain. Negeri ini sesungguhnya masih memerlukan guyonan cerdasmu Gus Dur. Negeri ini masih memerlukan tausyahmu tentang persaudaraan sebangsa ukuwah wathoniyah yang sangat aku banggakan itu.

Aku hanya bisa berharap semoga cita-citamu tentang Indonesia yang menghargai bhinneka tunggal ika bersemai dihati sanubari para pengikutmu saudara-saudaraku kaum Nahdliyin dan kaum muslimin dan muslimat di manapun mereka berada. Agar negeri yang bernama Indonesia Raya yang turut dibidani para leluhurmu KH Hasyim Ashari dan KH Wahid Hasyim bisa segera bangkit menjadi menjadi negeri besar dan jaya.

Aku hanya bisa melepasmu dengan sebuah doa menyertai ratusan, ribuan atau bahkan jutaan doa-doa yang dilantunkan dalam berbagai bahasa di mesjid mesjid, gereja gereja, pura pura, vihara vihara maupun tempat-tempat suci lainnya untuk memohon kemurahan dan kerahiman sang Khalik agar segera membukakan pintu surgawi bagimu.

Maafkan aku. Aku akan menaikkan bendera merah putih penuh tiang. Menurutku itu yang lebih pantas untuk kebesaranmu.

Selamat jalan Gus Dur.



Petrus Sitohang

Mantan Ketua PMKRI Cabang Malang St. Augustinus 1989-1990

Sahabat kaum muda Nahdliyin dan GP Ansor

Saturday, December 26, 2009

ARISAN PUNGUAN SIPITU AMA TANJUNGPINANG

Rosmen Situmorang, sedang memberikan beberapa pemberitahuan mengenai persiapan acara Perayaan Natal Punguan Sipitua Ama yang akan datang di awal pertemuan. Rosmen Situmorang saat itu ditunjuk sebagai Ketua Panitia Perayaan Natal Punguan Sipitu Ama tahun 2009.

Pomparan Ompu Tuan Situmorang Sipitu Ama adalah perkumpulan dari keturunan marga-marga Situmorang, Siringoringo, Rumapea dan Sitohang.

Mereka dimana saja tetap setia pada ikrar leluhur mereka dahulu untuk senantiasa "sisada lulu di anak, sisada lulu di boru" yang artinya bersaudara kandung dengan konsekuensi antara lain tidak boleh saling mengawini satu dengan yang lain.

Sebagai wujud dari tekad untuk melestarikan ikrar tersebut, perkumpulan ini biasanya berkumpul mengadakan acara bersama, baik acara kegembiraan maupun kemalangan.

Di luar itu, secara rutin biasanya diadakan acara silaturahmi dengan mengadakan arisan di salah satu rumah anggotanya bergiliran sekali sebulan.

Pomparan Sipitua Ama, Boru dan Bere se Tanjungpinang juga tidak lepas dari tradisi untuk melestarikan ikrar tersebut. Dan pada tanggal 1 November 2009 keluarga kami mendapat kesempatan menjadi tuan rumah acara tersebut.


Thursday, December 24, 2009

SEASON'S GREETINGS














We wish all our friends where ever they are a glorious, joyful, peaceful and merry Christmas 25 December 2009

Selamat Hari Natal

Warmest regards,

Petrus M. Sitohang &
Lenny Purba

Tanjungpinang Bintan Island Kepulauan Riau Indonesia

24 December 2009

Monday, December 21, 2009

SURAT PASTOR RANTINUS MANALU DARI SIBOLGA


KRONOLOGI DAN KETERLIBATAN SAYA PADA KEBUN KARET MASYARAKAT DI PURBATUA, KEC. BARUS UTARA

1. Pendahuluan

Saya, P. Rantinus Manalu, Pr, Pastor Keuskupan Sibolga bertempat tinggal di Jln. Maraden Panggabean No. 68 Sibolga dipanggil ke Kantor Polda Sumatera Utara, untuk dipriksa sebagai tersangka kasus Tindak Pidana “Mengerjakan, menggunakan dan atau menduduki kawasan hutan secara tidak sah dan atau merambah, membakar kawasan hutan di Register 47 Desa Purba Tua dan Desa Hutaginjang Kecamatan Barus Utara Kabupaten tapanuli Tengah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 50 ayat (3) huruf a, b dan d Jo pasal 78 ayat (2) dan (3) UU No. 41 tahun 1999 tentang Kehutanan Jo Pasal 55 dan 56 KUHPidana”. Saya dipanggil lewat Surat No. Pol.: S.Pgl/2530/XII/ 2009/Dit Reskrim tertanggal 09 Desember 2009 yang ditandatangani oleh Direktur Reserse Kriminal POLDA SUMUT, selaku Penyidik, Kombes Pol Drs. Agus Andrianto, SH. Dalam surat itu dikatakan, saya hendak diambil katerangan selaki Tersangka oleh Kompol Amwizar dan Tim, pkl. 09.00 WIB, Rabu, 16 Desember 2009.

Membaca surat itu, dimana kepada saya disangkakan melakukan tindak pidana sebagaimana disebutkan di atas, tidak bisa saya pungkiri, saya agak heran sertamerta terkejut. Alasannya, pertama, saya merasa tidak pernah melakukan satupun unsur pelanggaran yang disebutkan dalam surat. Kedua, saya merasa tidak pernah memiliki segenggam tanah apalagi sebidang tanah untuk diusahai sehingga saya dianggap sebagai menggunakan tanah secara tidak sah. Ketiga, saya pada dasarnya sangat mencintai lingkungan hidup yang sehat dan hutan alam yang rimbun. Bahkan jika saja diijinkan, ingin rasanya saya menghijaukan bukit-bukit yang gundul gersang di Tapteng. Kalau seandainya bisa dihitung kembali, mungkin sudah ribuan pohon yang saya bibitkan sendiri, kemudian kubagikan ke warga di kampung-kampung untuk mereka tanami dimana saja bisa ditanami. Saya sendiri, sudah menanam banyak tanaman pohon dari berbagai jenis.

Paling mengejutkan saya lagi adalah penetapan status saya sebagai tersangka. Dari segi proses hukum saya tidak tahu pertimbangannya apa. Saya merasa tidak pernah diperiksa secara resmi dimana dibuat Berita Acara Pemeriksaan (BAP). Pernah dua orang dari POLDA Sumatera Utara, satu bermarga Manurung dan yang lain Butar-butar, datang ke tempat saya di Guest House St. Kristoforus Jl. FL. Tobing 17 Sibolga, yang dibawa oleh Kasatreskrim Polres Tapteng J.O Pasaribu. Pada kesempatan itu, kami ada berlima duduk bersama di meja yang disusun empat segi di ruang tamu. Mereka bertanya tentang keterlibatan saya pada pekerjaan penanaman karet di Purbatua. Saya tidak menganggap perbincanangan itu sebagai bagian pemeriksaan. Sebagaimana halnya dikatakan oleh J.O Pasaribu, ketika mengontak saya untuk bisa ditemui, hanya sekedar bincang-bincang. Saya tidak menandatangani apapun saat itu. Yang bermarga Butar-butar, sebelum meninggalkan tempat saya, masih meminta nomor hpsaya dan berkata, “kalau menurut saya, apa yang Pastor buat, teruskan saja. Karena baik itu untuk masyarakat,” katanya sambil bergegas menuju mobilnya. Maka saya sangat terkejut bila saya ditetapkan langsung sebagai tersangka. Dasarnya apa?

Kalau atas keterlibatan saya pada penanaman karet milik warga masyarakat Desa Purbatua dan Hutaginjang, Kec. Barus Utara itulah yang menjadi dasar pertimbangan Polisi menetapkan saya sebagai tersangka, dengan hati jujur saya mau mencariterakan di sini kronologi keterlibatan saya. Semoga dengan penuturan dengan penuh kejujuran ini, para pembaca yang budiman dapat melihat dengan benar dan objektif, kemudian menilai sendiri, apakah sangkaan pelanggaran Tindak Pidana itu tepat dikenakan pada saya. Saya mohon agar pembaca yang budiman juga berhati jujur melihat dan menjatuhkan penilaian. Bagi saya kasus ini penuh dengan rekayasa dan upaya kriminalisasi atas diri saya yang selama ini dengan giat melakukan penyadaran pada warga masyrakat agar hak-hak tanah mereka tidak dirampas oleh pihak yang tidak berhak.

2. Aktivitas Pemberdayaan dan Penyadaran

Dalam rangka menyikapi kasus-kasus penyerobotan tanah di Tapteng, saya banyak melakukan kegiatan penyadaran akan hak-hak sumber penghidupan, khususnya masalah tanah, di tengah masyarakat di Tapteng. Dalam kegiatan itu saya kerap menjelaskan, salah satu cara untuk mengamankan tanah dari penyerobotan, selain daripada membuat surat tanah, juga mengusahainya secara aktif. “Tanamanlah sesuatu, yang bisa jadi bukti bahwa kau pernah menguasai dan mengusahainya,” anjurku sering kepada mereka.

Buah dari kegiatan itu, banyak masyarakat yang sudah mengusahai kembali lahannya yang sudah lama ditinggal, dengan menanaminya dengan berbagai tanaman keras. Tapi upaya mereka dalam mengusahai kembali lahannya, juga menghadapi masalah ketidakmampuan permodalan. Kalau kembali mengusahai lahan dengan cara yang lama, akan tetap kembali terulang: tanpa hasil alias gagal. Akan kembali menjadi lahan tidur.

Salah satu kelompok warga masyrakat dari Desa Purbatua, yang diwakili oleh Robinson Tarihoran, datang menemui saya dan membawa permohonan atas nama 112 KK warga yang sudah memprakarsai Kelompok Tani yang diberi nama: “Rap Martua”, yang artinya “Sama-sama Bahagia”. Mereka mengajukan surat permohonan No. 01/KTR/03/09, tertanggal 11 Maret 2009. Dalam surat permohonan itu disebutkan, a.l memohon bantuan agar tanah mereka dijadikan kebun karet dan masing-masing Anggota KT-RM memiliki lahan sendiri. Menurut keterangan Robinson, yang kemudian diferivikasi kepada masyarakat setempat, tanah itu sudah diusahai oleh orangtua bahkan kakek mereka sejak puluhan tahun. Dari beberapa surat tanah yang disertakan dalam surat permohonan itu kelihatan, sudah ada warga yang mengusahai lahan itu sejak tahun 1941. Ditulis masih dalam ejaan lama: doeloe. Dalam daftar nama yang terlampir itu, tercantum luas tanah yang mereka miliki yang seluruhnya 190,5 hektar.

3. Gambaran Lahan

Kunjungan pertama saya ke lokasi, Sabtu, 8 Maret 2009. Setelah melihat lokasi, baru saya katakan kepada mereka ada kemungkinan dibantu, tetapi harus dibuat surat permohonan. Dari pengamatan saya, lokasi berada di balik bukit yang mengitari desa Purbatua. Dengan jalan kaki naik turun bukit, dengan kecepatan normal jalan kaki dibutuhkan waktu 1.5 jam mencapai lokasi itu. Lokasi itu sendiri ada pada posisi lembah dikelilingi bukit. Tidak ubahnya seperti di dalam kuali.

Pada kunjungan pertama, saya langsung keliling lokasi dan membuat rekaman handycam areal. Kesan saya, tanah itu sebagian adalah kebun karet rakyat yang sudah berumur 50-an tahun. Sebagian ada pohon karet sebesar pergelangan kaki, berbaris, tampak sengaja ditanam dulunya. Tampak kurang subur. Saya tanya sudah berapa tahun umur karet itu, sudah 9-10 tahun. Tapi gak mau besar-besar, masih tetap sebesar pergelangan kaki. Kurang terurus. Bagian paling luas, ditumbuhi semak gersang, ilalang, tetapi ada juga batang-batang pepaya, durian, petai, kelapa, bahkan ada “rumah” yang masih utuh bagus, layak huni. Tapi penghuninya tidak lagi di situ. Segerombolan kerbau masih diangon di lokasi itu. Pondok tempat kami mengadakan pertemuan dengan warga itu sendiri dilatarbelakangi kandang kerbau.

Kalau diamati dengan cermat, 80 % lahan bukan terdiri dari hutan, melainkan semak gersang. Menurut keterangan warga, kegersangan itu diakibatkan oleh beberapa kali kebakaran hutan di masa lampau. Selain itu kerbau yang diangon di situ selalu memakan rumput kecil, sehingga tidak sempat besar. Tidak banyak kayu ukuran besar. Kalaupun ada, paling se-ukuran besar paha, yah satu-satu lebih besar sedikit. Maka kalau dikatakan ada penebangan kayu, kayu apa yang ditebang?

4. Diketahui dan Disetujui Uskup

Membaca proposal itu, saya punya hasrat membantu mereka, dalam bentuk apapun dan sekecil apapun. Namun saya sadari saya tidak bisa berbuat lebih banyak bila saya sendiri, tanpa dukungan dari lembaga gereja, dalam hal ini Keuskupan Sibolga atau pihak lain. Sadar akan hal itu, saya menghadap Bapak Uskup, Mgr. Dr. Ludovicus Simanullang guna membicarakan surat permohonan masyarakat tersebut. Setelah mendapat penjelasan, Bpk Uskup sangat antusias, lalu Uskup menyetujui permohonan itu dengan ketentuan, saya diminta tetap memperhatikan jalannya pekerjaan itu. Saya menyanggupi harapan Bapak Uskup. Dana yang dipakai untuk ini adalah dana sosial yang memang diperuntukkan membantu masyarakat di bidang pertanian. Jadi tidak benar issu yang dihembuskan oleh oknum-oknum Pejabat Pemkab Tapteng, yang mengatakan bahwa saya secara pribadi punya lahan dan melakukan kegiatan investasi di bidang perkebunan karet di Molhum, Desa Purbatua.

5. Kenapa Pekerjaan Warga Ini Perlu Didukung

Setelah melihat keadaan lokasi yang begitu gersang, saya semakin termotivasi membantu warga agar mewujudkan segera pertanian karet. Bahkan saya berpikir untuk menghutankan lereng-lereng bukit yang mengitari lokasi itu. “Itu jangan dibabat, nanti kita tanami dengan pohon mahoni,” anjurku kepada warga. Tapi Robinson menjawab, “di situ sudah karet rakyat itu, Pastor”, katanya. “Tapi di atasnya itu kan tidak. Itu kita tanami pohon nanti, jangan diganggu itu,” desakku. Kenapa pertanian karet untuk rakyat di lokasi ini perlu segera didukung, inilah sebenarnya alasan yang terkandung di benak saya setelah melihat keadaan lahan itu:

- Bagi warga anggota KT-RM khususnya dan petani karet umumnya jelas proyek ini akan membawa dan meningkatkan kesejahterakan bagi mereka. Itu sudah pasti.

- Issu lingkungan hidup dan penghijauan. Tanah gersang seperti lahan Molhum ini memang sangat perlu untuk dihijaukan. Dan cara untuk itu adalah penanaman pohon. Dan membuat kebun karet adalah pilihan tepat. Beberapa alasan berikut bisa dikemukakan: masyarakat sendiri terlibat dalam penghijauan itu (menanam dan memelihara), tidak perlu gembar-gembor menanam “seribu pohon” yang habiskan menghabiskan dana, sementara hasilnya belum tentu ada. Mereka akan memelihara karetnya masing-masing sehingga proses penghijauan lebih terjamin dalam jangka waktu yang relatif bisa dipastikan.

- Hak-hak mereka atas tanah itu tidak akan dirampas orang lagi.. Di daerah agraris seperti Tapteng, tanah merupakan jaminan kesejahteraan hidup. Hak rakyat petani atas tanah harus dilindungi dari penyerobotan oleh investor yang sering berkoloborasi dan berkonspirasi dengan penguasa dalam membodoh-bodohi rakyat petani.Dari uraian di atas sebenarnya bisa disimpulkan ada tiga tujuan utama yang memotivasi saya membantu warga Purbatua ini, yakni: Kesejateraan rakyat, penghijauan, terjaminnya hak rakyat atas tanah. Maka saya tidak habis pikir bila saya disangkakan sebagai perambah dan pembakar hutan.

6. Kebun Karet Proyek Sosial Ketiga

Bukan ini pertama kali Keuskupan Sibolga melakukan proyek sosial di daerah ini. Penanaman karet di Molhum, Desa Purbatua ini merupakan proyek sosial ketiga di daerah Barus. Proyek pertama adalah proyek irigasi yang disebut “Bendungan Sitangkurak”, di Desa Pangaribuan, di sungai “Husor”. Proyek ini dibuat untuk mengaktifkan kembali irigasi yang sudah lama hancur yang mengakibatkan masyarakat sekitar Barus tidak bisa mengelola sawahnya karena tidak terairi. Proyek ini dilakukan oleh P. Leonhard Beichirge, seorang missionaris dari Sued Tirol. Dana untuk itu juga dari gereja. Sebenarnya pembuatan proyek ini awalnya hendak dilakukan dalam kerjasama dengan masyarakat sekitar sendiri. Namun kemudian, Pemkab Tapteng ikut nimbrung, menjanjikan dana sebesar Rp 125 jt. Padahal kemudian diketahui, menurut penuturan P. Leonhard ketika itu dana ini tidak semua cair. Yang diterima hanya kisaran Rp 87 jt. P. Leonhard sendiri mengeluarkan dana tidak kurang dariRp 325 jt. Sayang dalam laporan media waktu peristiwa peresmian, dipublikasikan, posisi partsipasi pendanaan justru terbalik: Keuskupan Rp 100 jt dan Pemkab Tapteng Rp 300 jt. Saat itu Keuskupan Sibolga tidak berminat sedikitpun mempermasalahkan kejanggalan itu. Yang penting masyarakat telah mengolah sawahnya kembali, hasil sudah dicicipi warga.

Proyek kedua adalah proyek jembatan tsunami, pelabuhan atau dermaga perahu nelayan dan alat-alat tangkap ikan di Aek Busuk, Desa Lobutua, Kec. Andam Dewi. Proyek ini terkait dengan program rekonstruksi dan rehabilitasi korban tsunami, 26 Des 2004. Sebenarnya tidak ada dana dianggarkan untuk rehabilitasi di daerah Tapanuli Tengah, tapi saya selaku Direktur Eksekutif Caritas Keuskupan Sibolga ketika itu berhasil mengarahkan perhatian dan meyakinkan mitra kerja kami dari Caritas Austria. Proyek itu sangat berguna bagi masyarakat. Mereka menyetujui proyek rehabilitasi di Tapteng yang keseluruhannya menelan biaya lebih kurang Rp 500 jt itu. Proyek ini tidak dilakukan oleh Caritas Keuskupan Sibolga, tetapi juga – justru itu yang paling berharga – masyarakat, mulai dari anak-anak hingga orangtua bergotong royong membangun jembatan ini. Saya bangga sekali dengan anak-anak kecil dan manis yang merasa begitu membutuhkan jembatan ini ikut berpartisipasi. Setiapkali mereka lewat dari jembatan itu - pergi dan pulang sekolah - mereka membawakan satu dua batu di tangan dan meletakkannya di tumpukan batu yang sedang orangtua mereka kerjakan secara gotong royong.

Alasan kenapa saya berusaha menarik perhatian mitra kami Caritas Austri untuk membangun jembatan dan membantu para nelayan di sana, tidak lain karena saya menerima laporan bahwa dua bulan setelah tsunami, tidak ada siapapun, baik organisasi termasuk Pemkab Tapteng datang memberi bantuan kepada mereka. Padahal jembatan kayu yang mereka bangun secara gotong royong sudah ambrol, anak-anak setiap hari harus naik perahu menyeberangi Aek Busuk bila mereka hendak pergi.

Ada permintaan dari Bupati Tapteng Drs Tuani Lbn Tobing, Msc agar pembangunan jembatan dilakukan dengan kerjasama dalam pendanaan. Tetapi bupati juga mengusulkan satu jembatan besar sekalian, sampai kapasitas mencapai tonase truck besar. Karena pertimbangan Caritas telah menyanggupi dananya dan tentu saja juga karena khawtir kasus pendanaan proyek “Bendungan Sitangkurak” terulang, saya menolak untuk kerjasama di bidang pendanaan.

Rancang bangun jembatan yang panjangnya 116 meter lebar 2.10 meter terbuat dari beton bertulang dengan sistim sambung perbagian dan diperhitungkan tahan gempa hingga 7 pada schala rechter. Juga dipertimbangkan kelestarian alam dan kebutuhan masyarakat nelayan. Jembatan bisa diperpendek menjadi hingga hanya 75 m, tetapi sungai akan sebagian tertimbun dan masyarakat yang bermukim di “pulau delta” itu tidak mendapat akses masuk secara leluasa. Atas pertimbangan ekosistem dan lingkungan sungai itulah jembatan dibuat sedemikian panjang. Apakah masuk akal, saya dituduh tidak mempertimbangkan aspek lingkungan dan kelesatarian alam dalam membantu warga Purbatua.

7. Kesepakatan Dengan Warga

Pada kunjungan pertama di Molhum itu kami juga membicarakan hal-hal yang terkait dengan kesepakatan agar permohonan bisa dipertimbangkan untuk dikabulkan. Pada kesempatan itu kami meminta kepada Robinson Tarihoran agar juga menghadirkan warga yang menjadi anggota KT-RM. Inilah kunjungan saya yang pertama di lokasi itu. Saya dengan warga yang jumlahnya sekitar 40 orang itu berbincang-bincang bersama di salah satu pondok warga di lokasi itu. Pada kesempatan itu kami berhasil membuat kesepakatan lisan berikut:

- Masing-masing warga KT-RM mengolah tanahnya sendiri.- Batas masing-masing dengan lawan batasnya dijelaskan, tidak boleh ada sengketa batas. Tanahnya tidak akan ditanami karet jika mereka bersengka batas.

- Keuskupan tidak mau menyediakan bibit untuk satu orang dengan luas tanah lebih 2 hektar.

- Bagi mereka yang punya luas lahan lebih dari 3 hektar, diminta agar bersedia membagikan sebagian lahannya itu kepada warga atau keluarga/kerabatnya yang tidak punya lahan. Keuskupan tidak hendak membantu orang kaya tetapi orang yang lebih membutuhkan.

- Keuskupan bertanggungjawab menyediakan bibit, hingga siap tanam dan melakukan pemeliharaan (pemupukan) hingga berproduksi.

Inilah kesepakatan- kesepakatan yang kami buat ketika itu. Jadi saya atas nama Keuskupan Sibolga tidak pernah berpikir untuk membeli tanah warga. Ada juga usul masyarakat, agar ada bantuan untuk kebutuhan rumah tangga, agar asap dapur tetap mengepul. Pertimbangannya, bila mereka mengolah lahan itu, mereka terpaksa meninggalkan pekerjaan lain seperti menderes, bisa terbengkalai memenuhi kebutuhan dapur. Memang pada saat itu perekonomian sangat sulit. Mereka mengusulkan Rp 800 rb per hektar. Usul ini masih harus dipertimbangkan, namun agar mereka bisa membeli parang dan alat-alat yang dibutuhkan mengolah lahannya, Keuskupan menyanggupi memberikan Rp 200 rb per KK dulu agar langsung bisa bekerja.

8. Jalannya Pekerjaan Pemberian Bantuan

Sejak dimulai pekerjaan pertanian karet di Molhum ini, saya hanya dua kali menginjakkan kaki di lokasi. Pertama, sewaktu kami mengadakan kesepakatan dengan warga, Sabtu (8/3/2009), Kedua, dua minggu lalu, Sabtu, 5 Desember 2009. Kunjungan kedua ini saya lakukan perlu karena akhir tahun, saya biasanya memberikan laporan kepada Uskup pada akhir tahun. Terus terang saya tidak punya waktu untuk sering ke sana. Namun saya tetap pantau dan saya ikuti perkembangan dengan mencermati progres pekerjaan berdasarkan informasi dan laporan Robinson Tarihoran yang sudah diangkat warga menjadi ketua KT-RM dan kemudian saya hunjuk menjadi koordinator. Saya percaya pada masyrakat, mereka pasti melakukan yang baik karena mereka bekerja untuk mereka sendiri.

Begitu kesepakatan dibuat, dua minggu kemudian, saya sudah melakukan pemesanan bibit karet “mata tidur” ke perkebunan di Ser Belawan. Bibit karet ini masih baru diokulasi, masih belum siap tanam. Begitu sampai bibit di Purbatua, warga masih mengangkutnya ke lokasi Molhum dengan memikul secara gotong royong. Mereka membagi-bagi menjadi pack-pack kecil agar tidak terlalu berat untuk dipikul satu orang. Semua dilakukan secara gotong royong, tanpa bayar. Peraturan yang disepakati di antara mereka, siapa tidak pernah ikut membawa bibit ke lokasi, penanaman di tanahnya akan belakangan. Karena itu pada umumnya mereka semua terlibat dalam pengangkutan bibit dan bahan-bahan lain yang dibutuhkan.

Bibit “mata tidur” sebenarnya belum siap tanaman, masih harus ditanam di polybag dan tentu masih butuh perawatan: menyiram, memupuk, menyiangi rumput, dlsb. Semua itu dilakukan oleh warga Kelompok Tani. Namun khusus untuk pekerja 5-10 orang ini, karena mereka biasanya bermalam di Molhum, mereka mendapat uang makan Rp 30 rb seorang pe hari kerja. Saya memang mengatakan, biaya pembibitan termasuk pemupukan dlsb, hingga siap tanam menjadi tanggungjawab keuskupan. Kalau mereka tidak diberi uang makan, mereka lalu makan apa?

Melihat cara kerja ini, pekerjaan ini sebenarnya kan pekerjaan rakyat. Sama sekali tidak ada indikasi bahwa saya melakukan investasi di lokasi tersebut. Peranan saya hanya mengontrol, menyediakan alat-alat dan perlengkapan yang dibutuhkan. Dananya dari fund sosial Keuskupan Sibolga. Jalannya proyek kebanyakan warga sendiri yang menjalankan di bawah koordinasi Robinson Tarihoran dan teman-temannya. Maka kalau kehadiran saya di situ dituding sebagai investor, rasanya aneh. Apalagi saya disebut sebagai perambah dan pembakar hutan, kapan itu saya lakukan. Saya hanya dua kali ke lokasi. Dan siapa saksi yang sudah diperiksa dan ditahan, yang memberikan kesaksian saya pernah melakukan pengrusakan hutan. Rasanya sangatlah tidak tepat kalau saya begitu saja ditetapkan sebagai tersangka perambahan dan pembabatan hutan.

Hingga sekarang, bibit yang sudah diserahkan 100.000 batang “mata tidur” dan sudah berumur antara 4-8 bulan di media pesamaian. Sebagian besar siap untuk ditanam. Sekitar 25 hektar dari 200 hektar, sudah dilobang tanam. Kemudian warga Purbatua geger dengan issu dari Pemkab. Tapteng, tanah mereka adalah hutan register. Betapa beratnya hidup menjadi orang kecil dan rakyat biasa daerah Tapteng ini.

9. Lokasi Molhum, Desa Purbatua di Luar Hutan Register

Apakah lokasi itu memang benar hutan register? Saya pastikan hal itu tidak benar. Sayapun tidak terlalu bodoh mau melakukan pelanggaran hukum hanya sekedar mau membantu orang, tanpa ada harapan adanya keuntungan pribadi saya. Melihat gambaran yang saya jelaskan di atas, kita bisa menarik kesimpulan berikut: Pertama, lokasi atau daerah itu, sudah lama di huni oleh penduduk, bahkan puluhan tahun lalu. Bangunan rumah masih ada di situ. Tanaman mengitari pemukiman penduduk, sangat jelas tampak. Tapi mungkin faktor keterpencilan dan tuntutan akan pentingnya pendidikan anak, menyebabkan keluarga itu pindah dari sana ke pesisir. Kedua, di arah puncak gunung, 8 km dari lokasi itu, masih ada perkampungan penduduk yang dikenal dengan nama “Huta Gugung”. Daerah ini dikenal sebagai sumber buah durian yang enak di sekitar Barus. Setiap hari Jumat dan Sabtu, warga Purbatua dan warga Huta Gugung banyak melewati lokasi, memikul karet mereka yang hendak dijual kepekan atau ke toke karet.. Dan yang paling memastikan adalah temuan patok batas hutan register itu sendiri. Warga sudah lama menemukan dua patok hutan lindung: satu bertuliskan BHL 308, berlokasi tempat yang dikenal masyarakat dengan nama Tombak Lalo, berjarak sekitar 10 km dari Molhum. Yang satu lagi bertuliskan BHL 312, berlokasi di tempat yang dikenal dengan Aek Gambir, berjarak kurang lebih 8km dari Molhum. Bukti-bukti ini sangat kuat memastikan bahwa Molhum berada di luar areal hutan register.

Sebenarnya warga masyarakat sendiri sudah sejak awal mengingatkan personil dari POLDA Sumatera Utara, maupun dari Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kab. Tapanuli Tengah, akan adanya penemuan patok batas hutan register di atas gunung sana, masih jauh. Juga sangat disayangkan sikap tidak mau mendengar hati warga, setiap kali warga mengajak Anggota POLDA Sumatera Utara dan juga Dinas Kehutanan dan Perkebunan Sumut dan Tapteng, agar bersedia naik gunung ke lokasi dimana patok berada, namun mereka tidak pernah mengindahkan perkataan dan usul warga. Sepertinya mereka sudah punya tujuan dan keinginan sendiri yang harus dicapai, yakni menjerat saya dan Robinson Tarihoran dengan kasus sekarang.

10. Komnas HAM: Pekerjaan Lahan Teruskan

Pada kunjungan Komisi Nasional Hak Azasi Manusia (Komnas HAM) ke Tapteng, Rabu (25/11) lalu, warga Desa Purbatua dan Hutaginjang mencegat perjalan Tim di Desa Sihorbo, Kec. Barus Utara. Mereka menyampaikan pengaduan mereka perihal tanah yang sedang dipersoalkan oleh pihak Pemkab. Tapteng. Robinson Tarihoran tampil sebagai pembicara warga, menceriterakan kronologi pengusahaan lahan itu mulai dari kakek dan orangtua mereka sejak puluhan tahun lalu. Lalu sekarang, demikian Robinsan, ada larangan dari Pemkab Tapteng, warga tidak bisa mengusahai lahan itu dengan alasan masuk kawasan hutan register. “sejak dari dulu kakek/nenek dan orangtua kami sudah mengusahai lahan itu. Tidak pernah diketahui orang di situ hutan register. Batas Hutan register masih jauh di atas gunung sana, kenapa sekarang dikatakan itu hutan register?” kata Robinson mempertanyakan.

Menanggapi pengaduan itu, Johny Nelson Simanjuntak yang didampingi oleh Husendro mengatakan, bila memang sejak dari dulu kawasan itu pasti tidak masuk kawasan hutan register kenapa sekarang jadi bermasalah. “Kalau memang sudah sejak lama dikelola dan sudah pasti ditemukan patok batas hutan register itu jauh dari lokasi itu, silahkan lanjutkan kerjakan lahan itu. Kalau ada yang melarang, nanti laporkan sama saya. Saya ini birbicara atas nama lembaga negara,” kata Johny menegaskan. Ketika itu hadir banyak intel-intel polisi. Pernyataan itu didengar juga oleh mereka. Bila tidak salah, ada intel juga yang merekam pernyataan itu dengan handycam.

Lalu kenapa sekarang ada kasus perambahan dan pembakaran hutan register? Apakah Kamnas HAM sebagai lembaga negara suaranya tidak dianggap apa-apa oleh Pemkab Tapteng dan aparat penegak hukum kita? Mohonlah kiranya agar dalam penanganan kasus-kasus menyangkut rakyat kecil, aspek-aspek hak-hak azasi itu dikedepankan oleh aparat penegak hukum kita..

11. Ada Investor Pilihan Pejabat Pemkab Tapteng Menginginkan Tanah Molhum

Bulan Juni 2008, dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Tapanuli Tengah pernah turun ke Molhum dan melakukan perintisan penentuan batas yang hendak dikelola seorang calon investor. Kepala Desa Purbatua mengetahui hal ini karena rumahnya menjadi titik kumpul ketika mau pergi ke lahan di Molhum. Pada waktu itu, Robinson Tarihoran diajak juga ikut melakukan perintisan. Perintisan dilakukan. Nama-nama mereka yang terlibat ketika itu:

- Martin Simanjuntak

- Gulmok Tarihoran

- Robinson Tarihoran

- Damril Limbong

- Gohi Simanjuntak

Nama yang disebut terakhir adalah orangnya Bupati Drs. Tuani Lbn. Tobing ketika mereka melakukan penguasaan tanah warga di Sipaubat dan Desa Lobutua, Kec. Andam Dewi. Tidak lama setelah pengukuran itu, Dinas Kehutanan dan Perkebunan Tapteng turun juga ke lokasi dan mulai mengukur luas lahan.. Menurut keterangan Robinson Tarihoran, luas tanah keseluruhan yang berhasil diukur dan hendak dikelola oleh investor mencapai 1.300 Ha. Suatu luas yang pantastis. Kalau ini sempat beralih ke tangan investor dengan model apa yang terjadi selama pemerintahan Tuani Lbn Tobing ini, bisa dipastikan bahwa warga Purbatua dan Huta Ginjang akan menderita di masa depan.

Melihat gelagat tidak baik itu, Robinson Tarihoran sering berkonsultasi kepada saya tentang tanah di Molhum.. Ia sendiri punya sikap, dan tentu mengajak rekan generasi mudanya dan masyarakat, lahan di Molhum tidak akan pernah jatuh ke tangan investor yang dimasukkan Pemkab Tapteng. “Sudah banyak kita petik pelajaran yang tidak baik dengan kehadiran PT. Nauli Sawit,” kata Robinson.

Orang-orangnya Bupati sudah membaca gelagat dari Robinson yang tidak akan meluluskan rencana mereka. Robinson mulai dibujuk dan diiming-imingi banyak hal. Gohi Simanjuntak pernah membujuk dia agar mendorong masyarakat memberikan tanahnya untuk dikelola investor. Robinson menjawab dengan mengatakan, “kenapa kepada saya, apalah saya. Raja kampung dan pengetua kan masih ada,”. Juga kepadanya pernah ditawarkan, kalau lahan di Molhum jadi dikelola, ia akan mendapat bagian 10 hektar dan truk satu unit. Kembali Robinson memberikan jawaban dengan tidak terlalu serius, “kalau hanya sayanya makan apalah artinya itu”. Kepada Robinson juga pernah dianjurkan, bila membutuhkan sesuatu, agar pergi ke rumah calon investor itu yang disebutkan sebagai bermarga Pasaribu dan beralamat di Jln. Sisinga Mangaraja No.. 30 Sibolga. Rupanya ancaman akan adanya penyerobotan inilah yang semakin mendorong keinginan Robinson membentuk kelompok tani dan memohon bantuan keKeuskupan Sibolga agar masyarakat mampu dengan segera mengolah lahan mereka.

Akibat sikap Robinson Tarihoran yang tidak mau diajak kerjasama mendukung kehadiran invstor itu, ia dan keluarganya sudah dijadikan target sasaran oleh “kelompok yang berseberangan”. Benar, pada hari Minggu, rumah orangtua Robinson, tempat dia tinggal, pada siang hari, pada saat orang mengikuti kebaktian di gereja, dibakar oleh orang yang tidak dikenal. Syukur rumah itu tidak sempat habis dilalap api. Kepulan asap pekat menyadarkan orang yang sedang duduk-duduk di kedai di belakang rumahnya. Mereka langsung memadamkan api yang sudah sempat menghanguskan lemari dan sudah mulai menjilat bagian atap rumah. Dari investigasi kami, cukup kuat keyakinan bahwa pelaku adalah bagian dari Kelompok yang membakar rumah Edianto Simatupang, seorang aktivis, yang juga korban penikaman waktu Unjuk Rasa Damai di depan Kantor Gubernur di Medan.

Rupanya, Bupati merasa harus turun tangan untuk mendorong dan mempengaruhi masyarakat. Pada acara Pulang Bersama para Perantau yang berasal dari Desa Sihorbo dan Hutaginjang, Bupati hadir dan memberikan kata sambutan. Sebenarnya Panitia yang sudah dibentuk dari Jakarta, tidak terlalu mengharapkan dan tidak mendukung rencana kehadiran Bupati. Namun, “orang-orangnya” Bupati bersikeras agar Bupati diundang dan diberi kesempatan memberi kata sambutan. Memang betul, Bupati datang dan menyampaikan kata sambutan. Dalam kata sambutannya, Bupati mendorong masyarakat agar memberikan tanahnya dikelola oleh investor yang akan datang membawa modal besar, mumbuka lapangan kerja, dst..dst...dst. Ketika itu nyata sekali bagi warga yang hadir pada acara itu, Bupati Tapteng sangat berminat dengan lahan Molhum untuk diberikan kepada investor. Tetapi warga tetap memilih, lahan itu hendak dikelola sendiri.

12. Penutup

Dari pemaparan apa adanya di atas, pembaca yang budiman pasti sudah mendapat gambaran mengenai aktivitas saya dikaitkan dengan issu perambahan dan pembakaran hutan register di Molhum. Saya persilahkan pembaca budiman mencermati dan merefleksikan, dan kemudian menilai apakah yang disangkakan itu benar dan tepat dikenakan pada saya. Jika seandainya lahan Molhum itu jadi diberikan kepada investor pilihan Bupati, maka persoalan menyangkut hutan register pasti tidak ada. Kuat keyakinan saya bahwa issu perambahan hutan register adalah kasus yang dibangkitkan tanpa bukti yang kuat. Tapi dengan tujuan yang jelas, Pertama, untuk masyarakat agar tidak mengusahai lahan ini, karena kecewa, investor pilihan tidak jadi menguasai dan mengusahai lahan itu. Kedua, menghentikan saya dalam kegiatan-kegiatan advokasi membela hak-hak rakyat, khususnya mereka yang tidak berdaya, korban kebohongan, dengan cara mengirim saya ke penjara.

Jadi kesimpulan saya, kasus ini direkayasa untuk mengkriminalisasi saya sebagai orang yang getol dan yang tidak mau surut dalam memperjuangkan hak-hak masyarakat atas tanah warga transmigrasi dan para petani di beberapa kecamatan di Tapteng yang diserobot oleh PT. Nauli Sawit. Setelah pengaduan kami ke Komnas HAM mendapat tanggapan sirius, situasi panas dan gerah mewarnai jajaran pejabat Pemkab Tapteng, khususnya mereka yang terlibat dalam praktek penyerobotan tanah.

Tapi sungguh saya sayangkan, kenapa POLDA Sumatera Utara menanggapi laporan pihak Pemkab. Tapteng ini tanpa melakukan proses hukum yang wajar dalam menentukan saya sebagai tersangka. Kalau seandainya kasus ini ditanggapi secara profesional dan proporsional, saya yakin tidak akan seperti ini. Tampanya kembali perlu diulangi ajakan Presiden R.I Soesilo Bambang Yudhoyono, agar Polri, KPK dan Kejaksaan membenahi secara internal institusinya, yang dikemukakan pada saat menyampaikan sikap atas kasus cicak dan buaya. Apakah POLDA Sumatera Utara mendengarkan seruan Presiden itu?

Demikian saya buat kronologi kasus dan gambaran keterlibatan saya di proyek sosial penanaman karet di Desa Purbatua dan Hutaginjang ini yang saya sampaikan dengan apa adanya, namun dipenuhi rasa tanggungjawab. Semoga bermanfaat terutama bagi mereka yang kita bela.

Minggu, 13 Desember 2009


P. Rantinus Manalu, Pr

Ketua Komisi Justice and Peace Keuskupan Sibolga.

Wednesday, December 16, 2009

"PARHAU" THE LUMBER

By: Sandrine Germain

(EN) Kayu Dalam Arsitektur Tradisional Batak

Translated with the help of http://www.reverso.net
Extracted from my end study report, pages 75 - 78.
___________________________________________
Names and uses of the woods were essentially given to me by Mr Monang NAIPOSPOS from Laguboti, Mr HUTAPEA from Panamean and Mr S.H. SIRAIT from Ambarita. The Latin translations are the fruit of long researches in the Herbarium of Leiden, Netherlands, where M.M.J van BALGOOY patiently helped me to identify the species and find their Latin translation. I was so able to verify the usage which had been given to me, with the detailed description of every species.
___________________________________________
PARHAU, THE LUMBER

Taking a tree in the forest is traditionally the task for the all family, which together, leave the village for several weeks in search of lumber. Men, women, children carry with them the food of their long march in the forest searching for the first post that will take place in jabu bona. Guided by the datu, they cross the forest until they reach the tree which will be raised at first. Banging the trunk, counting the knots, the choice is given to the best trunk with which the datu owes have a dialogue. Calling upon the prayers and putting the offerings, the datu so asks the begu of the tree the authorization to cut it down with planting an axe in the trunk. This is called dibuti, the ceremony where Mula Jadi na Bolon is asked for two days to grant His blessing by taming the begu of the tree. If the axe falls at the end of the ceremony, the begu refuses and the choice has to refer on another tree. If on the contrary, the axe remains standing, the begu accepts that the tree is cut down. The trunk is then surrounded with an ulos and the lumberjacks cut below.

The tree fallen, the branches are cut, the trunk is rough-hewed and is put on a gadar suspended from the halu halu of porterage. On the way back, loaded with the first post, the collectors of wood repeat the same operation on the trees which they had marked on their way. Brought in the village, the wood is immersed the time to gather the other species used for the construction, those fragile to water being collected lastly.

After several months of dumping, the carpenters embody the wood, the datu covers the main parts with itak gurgur, the ground rice, then the craftsmen pursue their work on the construction. So much care shows us that the wood is much more than one material for the Batak carpenters who, by choosing their trunks, attempt to provide to the homes all the benevolence that honor their acts with the consciousness and the forgiveness of taking a life in the forest every time a tree is down.

A tree is a part of us because we take it as much as it gives to us, and in this harmony, it settles an inseparable relation between the material and the man. The tree is not only a box which contains a spirit, but a glance on our own spirit as the morality in front of a mirror. It is said that the one who has the bad heart will see the heart of the tree used for his house to decay in some years, while a good man always has a house stronger than a tree on feet. We tell that it is there so because trees always know what the people do not want to say, and if the people do not want to judge, the function of the tree is to do so. The tree is the part of an ancestor alive inside us, but this ancestor is not different, it is us strictly speaking, as a gene that we inherit from the most distant grandparents. But only the ancient remember it.

Most the species quoted here are not any more in use in the construction. The Indonesian legislation forbids any usage of wood from the forest, such in the North of Sumatra where these became the property of Indorayon with the exception of some protected zones where the disaster of buildozers is replaced by that of the tourism. The wood must be thus bought at the price fixed by the international markets so depriving all the carpenters of exotic wood whom they had the habit of using. Wood of which the price still accessible are the jior, planted in the border of the villages of Samosir, the meranti bought from Sibolga, the ingul of Porsea and the enau. Such wood still allow to build traditional, but very expensive houses, of small dimmensions and of fathomless resistance since the carpenters are not any more lumberjacks.

ANDILO - Commersonia bartramia - The bark of andilo is used for the manufacturing of ropes, some those sometimes used for maintains the ladders of houses.

ANTAHASI - Weinmannia - Hard wood used for the construction of the posts of the house. It is a small-sized tree which nevertheless can sometimes reach around thirty metres that we find in equatorial mountain forest.

ARUMAS - Sapwood

BALINTANG - Kind of wood of which we use the heart to prop up some parts of the structure, such ransang, aloangin, or the urur.

BINTATAR - Celtis tetrandra - The bintatar is used for the manufacturing of boards. We find it in all the Toba houses as wood for the pandingdingan. The bintatar is a tree of about forty metres of which the trunk can be upper to one metre in diameter. We find it in the rain forest until 2000 metre height.

BINUANG - Octome les sumatranus - Wood used for the construction of boats.

BULU SUGA - Thorny bamboo planted on some ramparts of village.

BULU TOLANG - Gigantochloa heterostachya - Bamboo of which we use the bark for the manufacturing of the braided walls of the houses.

ENAU - Arenga pinata or Arenga saccharifera -
Agaton: enau of which the fruits are in growth, period during which the ijuk is taken.
Panko is the heart of the enau which we use in the construction of houses for the carring parts. Panko is also the name given to the stalk of the palm with which is made the prop up of ransang, tali pangurat, or songsong boltok.

GAMBUS - This is a word used for soft woods easy to cut, however we also find the gabus ( with the same pronunciation) which is Alstonia spatulata, a shrub of low lands.

GARINGGING - Crotalaria retusa - We use the leaves of garingging for the cover of some bale bale, small house of full foot or ascents on posts, built in suburb of villages for the accommodation of family of slaves (due to debts for example) or of foreigners.

GOTI - Alstonia scholaris - Tall tree, easy to work, used sometimes for the manufacturing of boards.

GUNOM - The grammatical construction Manggunomhom means dipping the wood.

HALEMBANG - T.C. Whitmore in "The flora of Indonesia, check list for Sumatra" talks of Alleban - Symplocos laeteviridis. It is possible that it is about another spelling of halembang. It is a tree from 10 to 20 metres high which we find in mountainous region.

HALUMPANG - Sterculia foetida - Used for the manufacturing of boats. T.C. Whitmore in " The flora of Indonesia, check list for Sumatra " speaks of kalumpang barih (Sterculia cordata) and of kalumpang barus (Sterculia oblongata). In Batak, HA and KA spells and pronounce in the same way.

HAPINIS - Sloetia elongata - Hard and resistant wood sometimes used in the construction of the carrier structure of houses.

HARIARA BARINGIN - Ficus benjamina -

HARIARA JAMBU BARUS - Ficus religiosa - By chance, the Ficus Religiosa is the tree under which Buddha used to pray. If I speak about chance, it is because this tree arouses at all those who look at it a strange emotion. We believe we can sometimes go inside, and everything becomes so small that we are forced to stay outside. Its air roots wrap us, remove us, or transport us towards the branches of the height. Its leaves, small and regular are so disproportionate in front of the unlimitedness of the tree as we feel taken by God's magic. Moreover, is it a tree?...

HIDUL - Said of a tree cut down which has not yet been transformed.

HORTUK or SIJAMA HORTUK - Means cutting down a tree. Also said of someone looking for damar.

HOTANG BASBASAN - Calamus castaneus - The hotang basbasan is a small-sized red rattan, used during the cover of houses to ligature the boots of ijuk.

HOTANG SAMAMBU - Calamus scipionum - Called also "royal rattan" for the manufacturing of sticks and fences.

HOTING - Quercus blumea -

HULIM - Scorodocarpus borneensis - Heavy and resistant wood of red color used in the construction.

INGUL - Toona Sureni- Is of use for the manufacturing of boards for the construction of houses, boats or chests where to tidy up valuables.

JABI JABI - Ficus rhodendrifolia - The hariara jabi jabi is planted in the entrance of the village if there is no hariara baringin. It is a species smaller than the baringin which we sometimes use to assume the complementary functions of Hariara jambu barus. See hariara jambu barus.

MAHANG - Macaranga pruinosa - Soft wood but resistant to the larvas of insects used for the manufacturing of partitions or floors.

MALLO - Calamus manau- Rattan of big size which we use for the construction of bridges.

MANIBAR HAU- To sculpture in round works.

MEANG - Payena suringariana - Used for building houses.

MERANTI - variété de Shorea - The meranti is used for the realization of the no-carring parts of the construction, such partitions, particularly those exposed to the bad weather.

MORBO - Intsia amboinensis or Intsia palembanica - Lumber used for the carrier parts of weak constraints such the skeletons of bale bale.

SALAON - Indigofera - Used for the dye of fabrics and manufacturing of the black of gorga.

SAMOJA - Bridelia - Used for the construction of houses and boats.

SAMPINUR BUNGA - Dacrydium elatum - Used during the growth of fruits for the construction of the elements of the structure and the partitions of the house.

SIMARTOLU - Schima noromhae or Schima wallichii - Used for building.

SIOTUL - Sandoriodam kucape.

TAMBOSU - Fagraea fragrans - Used for the manufacturing of the posts of house.

UNGIL - See INGUL.

Sandrine Germain is a French architect working and living in France. She made seven years researches about the Batak traditional architecture from 1992 to 1999 and wrote a “Batak Construction Manual” about Batak myths, technologies and history.

Friday, December 4, 2009

I DON'T WANT TO TALK ABOUT IT

If you want to know how a gorgeous duet and a damn good sexy female saxophonist make a fantastic music video just check out Rod Stewart and Amy Belle on "I don't Want To Talk About It".

Some one labelled it as "Best live video ever". I'm totally agree with it.

Thursday, October 22, 2009

FROM INDONESIAN INDEPENDENCE DAY ANNIVERSARY 2009 IN TANJUNGPINANG

Posing with First Admiral Mohamad Sri Darojatim, Commander of Tanjungpinang Naval Base after the flag rising ceremony at the Governor House.





























Wednesday, October 7, 2009

YUK IKUT PESTA DI DANAU TOBA



MEDAN, KOMPAS.com — Hajatan budaya dan pariwisata bertajuk “Pesta Danau Toba 2009” akan digelar di Danau Toba, Parapat, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara, mulai Rabu (7/10) besok hingga Minggu (11/10). Acara ini diharapkan dapat mendongkrak citra pariwisata Sumatera Utara.
"Target utama kita adalah mendongkrak citra pariwisata Sumut di mata dunia bahwa daerah kita ini aman dan nyaman untuk dikunjungi," ujar Kepala Dinas Budaya dan Pariwisata Sumut Nurlisa Ginting, di Medan, Senin (5/10).
Pesta Danau Toba akan menampilkan berbagai atraksi budaya, di samping juga akan menggelar berbagai ajang olahraga tradisional. Dalam ajang ini akan tampil, antara lain, pagelaran tari dan kostum tradisional, pagelaran tari khas Batak yakni tari tor-tor serta sejumlah perlombaan, seperti lomba memancing dan berenang di Danau Toba.
"Juga akan ada lomba vokal grup dengan membawakan lagu-lagu daerah dan banyak kegiatan lain, termasuk penampilan atraksi budaya dari sejumlah daerah lain di luar Sumut, yang pada akhirnya diharapkan mampu menarik minat wisatawan menghadirinya," katanya.
Ia juga mengatakan, pihak penyelenggara juga sudah menggencarkan promosi melalui berbagai media massa, baik media cetak maupun elektronik, termasuk stasiun televisi nasional. Dinas Budaya dan Pariwisata sendiri juga telah membuat berbagai brosur yang kemudian dibagikan ke sejumlah negara. "Harapan kita pada tahun-tahun mendatang wisatawan mancanegara dapat memprogramkan liburan mereka ke Sumut," katanya.
Persiapan
Humas Panitia Pesta Danau Toba 2009 Erlin Hasibuan mengatakan, persiapan kegiatan itu kini sudah mencapai 80 persen, terlebih segala fasilitas dan infrastruktur lainnya telah dipersiapkan dengan baik.
"Berbagai fasilitas yang menunjang kegiatan telah kita persiapkan, mulai dari fasilitas perlombaan, keamanan, dan kesehatan serta tugas lainnya," katanya.
Untuk memeriahkan kegiatan itu, Disbudpar Sumut juga telah mengimbau Pemkab Simalungun, Toba Samosir, Simalungun, Humbang Hasundutan, Taput, Karo, dan Dairi untuk mengerahkan massa sebanyak-banyaknya.
Rangkaian kegiatan perlombaan juga telah dipersiapkan dengan baik, bahkan kontingen dari berbagai daerah di dalam dan luar Sumut, seperti Lampung, Jawa Timur, Aceh, Papua, dan Kalimantan, telah menyatakan kesediaannya untuk datang.
Kegiatan yang bertema "Menggairahkan Kepariwisataan Sumatera Utara dalam upaya meningkatkan perekonomian daerah" itu dirancang untuk menonjolkan kebudayaan lokal serta pemberdayaan potensi ekonomi daerah yang bermanfaat bagi kesejahteraan masyarakat setempat.
Kegiatan itu rencananya akan dibuka secara resmi oleh Gubernur Sumatera Utara dan Sekretaris Jenderal Departemen Kebudayaan dan Pariwisata.
MBK Sumber : Antara

Thursday, July 9, 2009

INDONESIA ELECTS PRESIDENT SUSILO BAMBANG YUDHOYONO FOR SECOND TERM

Indonesian first family posing after casting their vote in Bogor yesterday (left to right): Eddy Baskoro (president second son), President Yudhoyono, Mrs. Ani Yudhoyono and their daughter in law Anissa Pohan.

Vox populi vox Dei.

Indonesian people have made it very clear during the presidential election yesterday, 8 July 2009. They want President Susilo Bambang Yudhoyono to continue to lead Indonesia for second term of his Presidency 2009 until 2014.

Based on Indonesian constitution, a person can only be elected president maximum for 2 terms of 5 years each. Yudhoyono was first elected as Indonesian President in 2004 defeated Mrs. Megawati Sukarnoputeri, the then Indonesian president.

Based on the quick counts conducted by more than 5 polster companies right after most polling stations closed, more than 60% of Indonesian voted President Susilo Bambang Yudhoyono and Boediono, 27% voted Megawati Prabowo and the remaining 13% voted Jusuf Kalla and Wiranto.

The official count is expected to be completed by end of this month. But the official ballot counting is predicted to confirm the quick count result.

Despite irregularities allegation from Megawati - Prabowo and Jusuf Kalla - Wiranto camp, the second direct presidential election held in Indonesia yesterday was reported run generally smooth and without report on violence.

Congratulation, Proficiat, Selamat for President Susilo Bambang Yudhoyono and his running mate Dr. Boediono.

I wish them all the best.

Hail Indonesia....

Monday, July 6, 2009

SUPPORT MEGAWATI SUKARNOPUTERI TO LEAD THE NATION AGAIN


The time is up for Susilo Bambang Yudhoyono.

He has failed to deliver his presidential campaign in 2004. The economy is worsen today than when he took office. Unemployment rate keep increasing, basic commodities prices soaring, fuel price more than double compared to 5 years ago and university tuition fees are tremendously expensive. Now less student can afford to enter University compared to 10 years ago.

It's now the time for Megawati Sukarnoputri to lead the country again.

She is the true secular nationalist and champion for human rights and in maintaining Pancasila as the nation ideology. Together with Lt. General Prabowo Subianto as her running mate, she will turn the country into new era with prosperity and dignity of the nation among other nations.

Join me to support Megawati Sukarnoputeri for Indonesian next president.

Vote for Megawati and Prabowo Subianto on 8 July 2009.

Petrus Marulak Sitohang


Thursday, June 18, 2009

Wednesday, May 20, 2009

PEMILU PRESIDEN 2009, SEBUAH PROLOG










Oleh: Petrus M. Sitohang

Lahirnya tiga pasangan calon Presiden dan wakil presiden yang maju ke pemilihan presiden tanggal 9 Juli 2009 nanti mengejutkan banyak orang tidak terkecuali saya. Sebagaimana kita semua tahu, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) memutuskan untuk berpasangan dengan Dr. Boediono, seorang guru Ilmu Ekonomi yang terkemuka dari Universitas Gajah Mada dan sangat dihormati karena rekam jejaknya yang sukses dalam hampir semua pos-pos di bidang Ekonomi dan Moneter dalam dua kabinet Indonesia terakhir yang dijalaninya termasuk menjadi Menteri Keuangan, Menko Perekonomian dan sekarang menjadi Gubernur Bank Sentral.

Sebelumnya Wakil Presiden Jusuf Kalla telah lebih dulu berhasil menggandeng Jenderal purnawirawan mantan Panglima ABRI dan Menko Polkam Wiranto untuk mendampinginya sebagai calon wakil presiden. Terakhir Megawati dan Letnan Jenderal purnawirawan dan mantan komandan pasukan elit Indonesia Kopassu dan mantan Panglima Kostrad Prabowo Subianto sepakat maju berpasangan sebagai calon presiden dan wakil presiden.

Tadinya saya memperkirakan SBY akan kembali maju bersama dengan Jusuf Kalla. Banyak peramal dan pengamat juga memperkirakan pasangan ini akan tetap bersama-sama dan dengan mudah memenangkan kembali tiket kedua dalam pemilu presiden yang akan datang siapapun lawan yang akan dihadapi.

Namun ketika SBY memberikan sinyal bahwa dia tidak akan berpasangan dengan Jusuf Kalla feeling saya mengatakan dia akan menggandeng salah satu calon wakil presiden dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS) atau salah satu partai politik berbasis Islam lainnya untuk memastikan dukungan dari basis massa Islam yang sangat besar itu.

Ini masuk akal pemilih awam seperti saya. Apalagi sejak awal setelah pemilu legislatif berakhir PKS melalui Presidennya Tifatul Sembiring sudah memberikan endorsement kepada SBY untuk maju menjadi calon presiden. Publik dapat membaca bahwa endorsement PKS yang sangat awal ini adalah bagian dari lobby PKS untuk menggolkan salah satu kadernya menjadi calon presiden SBY yaitu Ketua MPR Hidayat Nur Wahid atau Tifatul Sembiring.

Kalaupun SBY tidak berkenan dengan calon dari PKS, prediksi saya sebelumnya SBY akan memilih satu dari kandidat partai-partai berbasis Islam lainnya seperti Hatta Rajasa yang dicalonkan Partai Amanat Nasional yang secara de facto dipimpin oleh pendirinya Amin Rais atau Muhaimin Iskandar Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) atau Suryadharma Ali Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Prediksi saya ini didasarkan bahwa calon-calon wapres dari salah satu partai politik Islam itu akan membantu Yodhoyono meraih banyak suara dari kantong-kantong massa pemilih Islam.

Ternyata SBY meruntuhkan prediksi saya dan prediksi banyak peramal dan pengamat. Dia ternyata memilih Dr. Boediono, seorang yang hingga awal tahun ini tidak masuk dalam perbincangan politik di negeri ini akan menjadi calon wakil presiden yang serius. SBY bahkan pasang badan menghadapi protes keras dari PKS dan PAN yang dikomandani Amin Rais yang menyesalkan keputusan SBY memilih Boediono sebagai calon Wapres dan bukannya salah seorang dari kalangan partai politik anggota koalisinya. Amin Rais bahkan menuduh Boediono akan menjadi beban bagi SBY dalam pemilu yang datang karena dia menilai Boediono sebagai jawara ekonomi neoliberal yang menurut Amin Rais telah menggadaikan Indonesia kepada kekuatan asing seperti sekarang ini. Menghadapi protes keras Amin Rais yang adalah seorang guru besar Ilmu Politik di Universitas Gajah Mada yang telah terbukti merupakan salah seorang politisi paling ulung yang pernah di miliki bangsa ini, SBY ternyata tidak mundur selangkahpun. Sebuah sikap yang selama ini jarang dipertunjukkan SBY.

Pasangan Jusuf Kalla dan Wiranto tidak kurang mengejutkan. Karena Jusuf Kalla adalah satu-satunya calon presiden yang bukan orang Jawa. Meski tidak dilarang Undang Undang Dasar, selama ini Presiden Indonesia selalu berasal dari suku Jawa. Hal ini masuk akan karena lebih dari 60% penduduk Indonesia adalah orang Jawa. Bahkan pada suatu ketika Jusuf Kalla pernah dikutip mengatakan bahwa dia tidak akan mencalonkan diri sebagai Presiden Indonesia karena sadar dia bukan orang Jawa. Selama ini Golkar tidak pernah mencalonkan bukan orang Jawa menjadi presiden Indonesia. Dalam Pemilu presiden tahun 2004 konvensi Partai Golkar justru mencalonkan Wiranto sebagai Presiden berpasangan dengan Solahuddin Wahid yang dikalahkan oleh pasangan SBY dan Jusuf Kalla.

Maka ketika akhirnya Jusuf Kalla memutuskan akan maju menjadi calon Presiden berpasangan dengan Ketua Umum Partai Hanura Wiranto tak pelak dia telah memelopori upaya menembus tabu politik di negara ini melalui salah satu Partai politik terbesar yaitu Golkar yang dipercaya mempunyai mesin politik yang bekerja sangat baik dan dukungan danan yang besar.

Pasangan Megawati Prabowo tidak kurang mengejutkan. Meskipun kedua partai ini mempunyai platform yang sama yaitu nasionalis sekuler, proses negosiasi keduanya sangat panjang dan melelahkan. Setidaknya itu saya dan beberapa teman pengamat lain alami.

Pada awalnya Partai Golkar, PDIP, Partai Gerindra, Partai Hanura, PPP dan beberapa partai-partai politik non parlemen lainnya telah sepakat untuk membentuk koalisi besar. Tetapi rupanya negosiasi di antara mereka untuk memutuskan kandidat calon presiden dan wakil presiden tidak berhasil mencapai kata sepakat. Dari semua partai-partai itu Partai Golkar adalah yang terbesar dengan 107 kursi di DPR diikuti oleh PDIP dengan 95 kursi, Gerindra 26 kursi dan Hanura 18 kursi.

Di atas kertas Golkar merasa paling layak untuk memajukan calonnya sebagai Presiden diikuti calon PDIP sebagai Wakil Presiden. Tapi massa akar rumput dan pendukung setia PDIP bersikukuh untuk mendesak Megawati sebagai calon presiden. Lagipula PDIP sudah jauh-jauh hari dalam kongres dan rakernas terakhirnya di Solo memutuskan akan mencalonkan Megawati sebagai Presiden.

Keputusan Kongres partai seperti itu teorinya hanya bisa dianulir oleh kongres dan tidak bisa dikalahkan oleh tawaran kursi kabinet dari partai-partai lain termasuk dari SBY yang selama tiga minggu sebelum batas akhir pengajuan calon ke Komisi Pemilihan Umum menugaskan Menteri Sekretaris Negara Hatta Rajasa untuk menjadi penghubung dengan elite-elite PDIP. Peta politik Indonesia sempat disuguhi kejutan dengan manuver yang dilakukan Yodhoyono untuk mendekati PDIP yang selama lima tahun terakhir selalu berhadap-hadapan dalam banyak issue di pemerintahan maupun DPR. Oleh karena itu ada yang mengistilahkan manuver ini sebagai strategi ”putar arah” atau ”angin balik” Partai Demokrat yang tujuannya adalah untuk merangkul sebanyak mungkin kekuatan politik guna memuluskan usaha SBY untuk memenangi pemilihan presiden yang akan datang.

Tetapi bagi PDIP nampaknya tidak ada jalan keluar yang aman kecuali mengajukan calon poresiden sendiri meskipun Golkar meraih suara yang lebih besar, dan telah memutuskan untuk memajukan Jusuf Kalla sebagai calon presiden berpasangan dengan Wiranto.

Yang menjadi harapan PDIP satu-satunya untuk dapat meloloskan Megawati sebagai calon presiden adalah berkoalisi dengan Prabowo yang oleh banyak pendukungnya dijuluki sebagai Sukarno kecil. Masalahnya ialah Gerindra sangat kukuh menginginkan koalisi PDIP Gerindra mengajukan Prabowo menjadi calon presiden dengan calon wakil presiden dari PDIP. Sempat beredar nama Puan Maharani, puteri Megawati sebagai kandidat calon Wakil Presiden mendampingin Prabowo Subianto. Di banyak kalangan Gerindra dan sebagian elit PDIP sempat beredar prediksi bahwa Megawati yang sudah kalah dua kali dalam kontes pemilihan presiden sebelum ini tidak mempunyai peluang untuk mengalahkan SBY yang dianggap sebagai saingan terberat. Sedangkan Prabowo diperkirakan akan menjadi satu-satunya penantang yang paling potensial yang dapat mengalahkan SBY. Tidak jelas bagi saya darimana dasar perhitungan semacam itu. Meski saya harus mengakui kinerja Prabowo membangun Gerindra dengan kampanyenya yang menarik dan berhasil membawa partainya lolos parliamentary treshold memang patut diacungi jempol.

Drama yang berlangsung berbulan-bulan sejak pemilu legislatif akhirnya berakhir tanggal 15 Mei 2009 di nihari ketika Megawati dengan Prabowo akhirnya sepakat untuk maju sebagai calon Presiden dan Wakil Presiden RI yang akan bertarung menghadapi pasangan SB SBY dengan Dr. Boediono serta pasangan Jusuf Kalla dengan Wiranto dalam pemilihan umum presiden tanggal 9 Juli 2009 yang akan datang.

Sekarang saya akan dihadapkan pada tiga pilihan yang sulit... karena ketiga pasangan ini saya sukai. Ketiganya memiliki kekuatan dan juga kelemahannya sendiri-sendiri.

Tetapi satu hal yang membanggakan saya, menurut saya ketiga pasangan ini adalah anak-anak bangsa dengan kadar nasionalisme yang sangat saya banggakan. Saya belum pernah sebahagia ini menunggu hari pemilihan itu tiba. Karena siapapun pemenangnya akan membuat saya bangga sebagai bangsa Indonesia.

PEMILU LEGISLATIF 2009 SEBUAH SUKSES

Oleh: Petrus M. Sitohang

Indonesia baru saja sukses melangsungkan Pemilu Legislatif yang ketiga sejak era reformasi. Era yang dianggap banyak orang sebagai awal kebangkitan dan pembentukan kembali demokrasi khas ala Indonesia.

Dikatakan khas ala Indonesia karena sistim demokrasi perwakilan yang diterapkan di Indonesia bukan sistim presidensial ataupun sistim parlementer murni. Di Indonesia Presiden dipilih langsung oleh rakyat tetapi dia memerlukan persetujuan parlemen untuk meloloskan sebuah rancangan Undang-undang. Tetapi di sisi lain Presiden tidak dapat dijatuhkan oleh DPR.

Tetapi berbeda dari banyak negara yang menganut sistim presidensial, di Indonesia calon presiden hanya dapat dicalonkan oleh partai-partai politik atau gabungan partai politik yang mempunyai 20% dari seluruh jumlah kursi di parlemen. Dan partai yang berhak mendapatkan kursi parlemen adalah partai politik yang berhasil mendapatkan suara minimum 2,5% dari seluruh jumlah pemilih Indonesia yang menggunakan hak pilihnya. Pemilu legislatif 2009 telah memutuskan hanya 9 partai politik yang berhak memperoleh kursi di DPR yaitu Partai Demokrat (150), GOLKAR (107), PDIP (95), PKS (57), PAN (43), PPP (36), PKB (27), GERINDRA (26) dan HANURA (18). Ini membuat pemilihan presiden menjadi sarat dengan proses tawar menawar di antara kesembilan partai politik yang mempunya wakil di parlemen, sesuatu yang biasanya menjadi ciri khas sistim demokrasi parlementer.

Pemilu legislatif 2009 saya anggap sukses meskipun di sana sini ada banyak kebisingan dan suara ketidakpuasan dari partai-partai politik yang dirugikan dalam berbagai tahap pelaksanaan pemilu legislatif tersebut. Tetapi tidak ada satu bukti yang diajukan oleh partai-partai politik tadi yang menunjukkan bahwa pemilu legislatif yang baru lalu telah direkayasa secara sistematis untuk memenangkan satu atau beberapa partai tertentu. Dan yang terpenting, Indonesia telah berhasil melaksanakan salah satu pesta demokrasi terbesar di dunia ini untuk ketiga kalinya secara berturut-turut tanpa adanya tindakan kekerasan antara kelompok-kelompok peserta pemilu.

Bahkan Nirwansyah, salah seorang teman saya yang berprofesi advokat secara obyektif menilai ada catatan perbaikan sitem yang terus menerus terjadi dalam pemilu di Indonesia. Jika tahun 1999 pemilih memberikan suaranya sepenuhnya kepada partai politik untuk menentukan sendiri anggota legislatif yang duduk dengan hak recall sepenuhnya pada partai, maka pada pemilu tahun 2004 pemilih sudah diberi kesempatan melihat calon legislatifnya meskipun keputusan siapa yang duduk di parlemen adalah berdasarkan nomor urut calon yang dibuat partai politik. Dan pada tahun 2009, pemilih sudah diberikan hak untuk menentukan sendiri calon legislatif yang akan duduk di parlemen terlepas dari nomor urut calon anggota legislatif yang disusun oleh partai pengusungnya. Menurut Nirwansyah proses perbaikan ini akan tuntas kalau di masa yang akan datang Indonesia mengadopsi sistim pemilihan parlemen dengan dasar distrik murni.

Bagi saya pemilu legislatif 2009 menghasilkan beberapa kejutan. Di luar dugaan saya Partai Demokrat keluar sebagai pemenang dengan berhasil meraih dukungan 21,703,137 suara atau sekitar 20.85 % dari seluruh suara yang sah yakni 104,099,785 orang (tabulasi selengkapnya lihat di link ini http://indonesiamemilih.kompas.com/tabulasi)

Partai Golkar dan PDIP Perjuangan yang pada pemilu sebelumnya bertengger di urutan pertama dan kedua, tahun ini harus puas turun satu peringkat menjadi urutan kedua dan ketiga di bawah Partai Demokrat.

Keterkejutan saya ialah karena secara umum saya menilai kinerja pemerintahan Presiden Susilo Bambang SBY (SBY) dan wakilnya Jusuf Kalla selama 4,5 tahun terakhir tidak menghasilkan sesuatu yang istimewa dan patut dibanggakan.

Harga-harga bahan pokok meningkat sangat tajam, mutu pendidikan yang merosot pada saat biaya pendidikan semakin mahal, pengangguran yang meningkat terus, krisis listrik yang semakin parah di seluruh negeri dan kemampuan perencanaan pembangunan yang buruk.

Dan yang lebih mengagetkan saya, Partai Demokrat bahkan unggul di Jawa Timur. Padalah di sinilah beberapa desa di Sidoarjo mengalami salah satu tragedi abad ini yang akan tetap dikenang oleh ribuan penduduk yang tidak berdaya menyaksikan desa-desanya tenggelam oleh lumpur gas yang tersembur dari perut bumi akibat kecerobohan kegiatan pengeboran tambang gas bumi oleh salah satu perusahaan yang dimiliki oleh Menteri Aburizal Bakrie. Aburizal Bakri dipercaya banyak orang menjadi salah satu penyokong dana presiden SBY dalam pemilu presiden tahun 2004.

Sedikit yang saya catat sebagai keberhasilan pemerintahan SBY Jusuf Kalla adalah upaya pemberantasan korupsi dan penciptaan perdamaian di Poso, Maluku dan Aceh. Namun untuk itu kredit seharusnya paling tidak harus dibagi dua dengan Jusuf Kalla yang peran dan inisiatifnya sangat terlihat sangat menonjol dalam upaya perdamaian di Poso, Maluku dan Aceh. Sedangkan keberhasilan upaya pemberantasan korupsi kredit juga harus diberikan kepada Komisi Pemberantasan Korupsi yang selama kepemimpinan Antasari Azhar berhasil mengungkap banyak korupsi yang melibatkan pejabat teras di negeri ini termasuk mantan menteri kabinet RI, mantan Kapolri hingga mantan Gubernur BI dan para Deputinya.


Wednesday, April 8, 2009

DEMOKRAT, GOLKAR DAN PDIP AKAN BERSAING KETAT



JAKARTA, KOMPAS.com — Seperti sudah diprediksi pada survei-survei sebelumnya, survei Lingkar Survei Indonesia (LSI) empat hari menjelang pemilu juga menguatkan prediksi bahwa pertarungan sengit hanya akan terjadi pada tiga partai. Partai Demokrat, PDI Perjuangan, dan Partai Golkar masih berpeluang untuk saling mengalahkan.

Ketiga partai ini diperkirakan memperoleh suara lebih dari 12 persen dan menduduki posisi sebagai papan atas. Siapa pemenang pada 9 April? Sang juara akan ditentukan oleh empat faktor pada empat hari terakhir menjelang pemilu.


Direktur Eksekutif LSI Denny JA menjelaskan, faktor pertama adalah kemampuan mesin lokal memobilisasi calegnya. "Survei menunjukkan bahwa 30 persen responden memilih caleg dan tidak peduli dengan partai politik. Mesin lokal yang kuat akan lebih menguntungkan dan biasanya dimiliki oleh partai besar," kata Denny saat launching hasil survei, Selasa (7/4) di Jakarta.


Untuk faktor ini, PDI Perjuangan dan Golkar lebih unggul dibandingkan Demokrat. Demikian pula untuk faktor kedua, yaitu kemampuan mesin lokal untuk meminimkan golput di basisnya.
"Diduga, golput akan lebih besar dibandingkan golput pada Pemilu Legislatif 2004. Semakin banyak pendukung sebuah partai yang golput, semakin berkurang kekuatannya di bilik suara," kata dia.


PDI Perjuangan dan Golkar pun diprediksi masih lebih unggul dibandingkan Demokrat. Sebaliknya, untuk faktor ketiga, citra partai, Demokrat dinilai lebih unggul dibandingkan dua rivalnya. Begitu juga untuk faktor keempat berupa efek program BLT.


Sebanyak 18 juta kepala keluarga yang mendapatkan BLT akan menguntungkan bagi partai berasosiasi positif dengan BLT. "Demokrat lebih unggul di citra partai dan BLT. Namun, PDI Perjuangan dan Golkar unggul di mesin lokal dan meminimalkan golput di basisnya," kata Denny.


Survei yang dilakukan terhadap 1.200 responden di 33 provinsi ini masih menyisakan 21 persen responden yang belum menentukan pilihannya. Masa tenang selama tiga hari ini, menurut Denny, akan menentukan negasi suara paling masif.


KOMPAS.com Inggried Dwi Wedhaswary

Tuesday, March 31, 2009

EFENDY NAIBAHO DAN KAMPANYE METODE BARU

Oleh: Petrus M. Sitohang


Ada satu hal yang saya amati membuat Pemilu tahun ini berbeda dari pemilu-pemilu sebelumnya yaitu kehadiran internet. Memang pada saat pemilu 2004 atau sebelumnya teknologi internet juga sudah ada, namun belum seluas saat ini.

Teknologi internet dan hasil-hasil ikutannya seperti blog pribadi, situs berita sampai jejaring sosial Facebook membuat kita lebih mudah memperoleh informasi mengenai rekam jejak seseorang.

Salah seorang calon anggota lembaga legislatif (caleg) yang sadar betul akan hal itu adalah Efendy Naibaho, seorang kandidat DPR RI dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) untuk daerah pemilihan Sumatera Utara 1 yang meliputi Medan, Deli Serdang, Serdang Bedagai dan Tebing Tinggi.

Efendy Naibaho adalah seorang wartawan senior yang sudah bekerja di berbagai media masa termasuk majalah berita mingguan Tempo. Saat ini dia adalah anggota DPRD Sumatera Utara.

Yang membedakan Efendy Naibaho dari calon-calon lainnya ialah kemampuannya menggabungkan metode kampanye tradisional seperti tatap muka, kunjungan ke rumah-rumah calon pemilih dan mengikuti acara perkumpulan/paguyuban sosial yang ada di daerah pemilihannya, dia juga aktif memposting kegiatan dan pokok-pokok pikirannya di jejaring sosial Facebooknya.

Efektifitas kampanye menggunakan media internet di Amerika Serikan sudah dibuktikan oleh Barack Obama yang dengan cerdas menggunakan media ini untuk menjangkau para calon pemilih sekaligus penggalangan dana. Seperti kita semua tahu, Barak Obama bukan saja menjadi pemenang dalam perebutan tiket Partai Demokrat bahkan akhirnya mampu mengalahkan saingannya dari Partai Republik John Mc Cain dan berhasil mengukir sejarah tampil sebagai Presiden Amerika Serikat kulit hitam yang pertama.

Apakah kampanye melalui internet akan mampu menolong Efendy Naibaho memenangkan kursi DPR RI dari daerah pemilihan yang dipenuhi dengan nama-nama besar dalam kancah politik Indonesia seperti seniornya di PDIP Panda Nababan dan lain-lain kita akan lihat setelah tanggal 9 April nanti.

Yang jelas ialah dengan memanfaatkan teknologi internet, saya jadi lebih mudah mengenal calon-calon anggota legislatif yang akan mengisi lembaga terhormat dan sangat penting bagi perkembangan Indonesia 5 tahun ke depan. Dari tulisan-tulisannya di jejaring sosial Facebook saya jadi tahu kepedulian Efendy Naibaho yang sangat tinggi pada persoalan pariwisata Danau Toba, masalah anggaran di bidang pendidikan, biaya jasa internet di Indonesia yang masih cukup mahal dan lain-lain. Saya juga jadi tahu gaya bicaranya teratur dan tidak hiperbolik, kemampuan menuliskan pikirannya dengan runtut. Dan saya juga jadi tahu kalau dia sudah mendirikan perpustakaan sendiri.

Dan karenanya saya tidak ragu-ragu untuk merekomendasikannya kepada teman-teman saya yang tinggal di sekitar Medan, Deliserdang, Serdang Bedagai dan Tebing Tinggi untuk memilihnya dalam Pemilu Legislatif pada hari Kamis tanggal 9 April 2009 nanti.

Selamat berjuang Pak Efendy. Semoga sukses.

Friday, March 6, 2009

TENTANG INTEGRITAS DAN ANGGOTA DPRD KITA

Gedung DPRD Tanjungpinang


Oleh: Petrus M. Sitohang

Dalam sebuah sessi internal Gabungan Komisi DPRD Tanjungpinang untuk membahas RAPBD Tanjungpinang 2009 awal bulan Februari yang lalu, para anggota dewan tersebut berdebat mengenai pengertian kata integritas. Saat itu waktu sudah menunjukkan pukul 22.00 lebih. Saya berada di sana sebagai tenaga konsultan yang tugasnya membantu DPRD untuk memfasilitasi proses pembahasan RAPBD.

Hampir semua anggota sudah menyampaikan pendapatnya tetapi Tahi Lumban Tobing, seorang anggota yang sudah cukup berumur dari Partai Patriot Pancasila, pensiunan anggota periwira intelijen Kodim pada masa orde baru merasa tidak puas dengan penjelasan teman-temannya. Dia kemudian meminta kesepakatan dari teman-temannya untuk meminta saya memberikan pendapat saya soal makna kata integritas. Sebagaimana biasanya, permintaan kesempatan bicara atau usul TL Tobing, yang oleh teman-temannya sesama anggota dewan Kota Tanjungpinang biasa dipanggil babe ini, langsung dikabulkan oleh pimpinan sidang saat itu yaitu Raja Mansyur Razak (Golkar) , Asep Nana Suryana (PDIP), M. Ali (PKS) dan Sumarno (PDK).

Saat pimpinan rapat meminta saya untuk menyampaikan pendapat, sebenarnya saya merasa sedikit kaget dan tidak siap. Mengapa? Karena hal memberikan definisi atau pengertian sebuah kata sebenarnya bukan bidang keahlian saya. Saya hanyalah seorang akuntan yang diminta dan dibayar dengan APBD untuk memberikan bantuan berupa referensi peraturan-peraturan pemerintah yang berhubungan dengan pokok-pokok pengelolaan keuangan daerah dan membantu membuat kertas kerja untuk merekam kinerja pembahasan yaitu perubahan mata anggaran yang disepakati baik per Satuan Kerja Pemerintah Daerah (SKPD) maupun perubahan RAPBD secara keseluruhan bersama Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD) dan membuat laporan pembahasan Gabungan Komisi atau Panitia Anggaran DPRD. Lagipula selama hampir tiga tahun mendampingi mereka, saya belum pernah melihat mereka terlibat pada diskusi mengenai topik yang satu ini meskipun pimpinan DPRD diwajibkan untuk membuat Pakta Integritas setiap kali saat menyampaikan laporan kegiatannya selaku pimpinan dewan.

Tetapi karena sejak lama saya sudah sering membaca mengenai berbagai tulisan mengenai kata yang satu ini dan bahkan bidang profesi akuntan yang saya geluti memang banyak memberikan bekal mengenai pengertian dan penerapan integritas dalam menjalankan profesi akuntan saya segera membetulkan posisi duduk saya yang sebelumnya pasif dan menghidupkan pengeras suara di depan saya. Saya memulai dengan berkata ini kepada mereka.

"Pimpinan sidang dan bapak-bapak serta ibu anggota dewan yang saya hormati, terimakasih atas kesempatan yang bapak berikan kepada saya untuk menjelaskan mengenai pengertian kata yang bagi saya sangat penting maknanya ini."

Saya memperhatikan bahwa mereka semua sungguh-sungguh menyimak pembicaraan saya. Itu bukan saja membuat saya merasa senang tetapi juga merasa tertekan karena saya kawatir bahwa jawaban saya pada akhirnya tidak akan memuasan mereka semua.

Lalu saya melanjutkan penjelasan saya tentang kata integritas dengan mengemukakan pengalaman pribadi ketika hendak dijamu makan malam oleh seorang atasan saya seorang Singapura keturunan India bernama Giles Miranda di sebuah tempat bernama Clark Quay di Singapura. Waktu itu Giles menawarkan untuk membawa saya makan malam di sebuah restoran India favorit keluarganya. Seketika saya mulai resah. Di satu sisi saya tidak ingin mengecewakannya karena menolak untuk mencicipi makanan kesukaannya. Di sisi lain saya juga tidak ingin berpura-pura menyukai masakan India padahal mulut dan lidah saya memang tidak bisa menerima ramuan khas India seperi bau kayu manis dan karinya. Tetapi tanpa membuang-buang waktu saya langsung katakan kepadanya begini, "Maaf pak Giles, saya tidak biasa makanan India sebelum ini. Kamu tahu di Indonesia tidak mudah menemukan restoran India walau saya yakin ada beberapa. Saya ini orang yang sangat fleksible dalam banyak hal tetapi sayangnya saya adalah seorang yang sangat konservatif soal makanan. Kelak kamu akan tahu bahwa saya mengatakan yang sebenarnya. Untuk malam ini bisakah kamu bawa saya ke salah satu restoran Cina?".

Kekawatiran saya ternyata tidak terbukti. Giles tidak keberatan dan hubungan kerja kami selanjutnya tidak terganggu hanya gara-gara saya menolak makanan favoritnya. Bahkan dari seorang teman saya pernah dengar bahwa dia memuji kejujuran saya sejak pertama kali bertemu dia.

Lalu saya katakan kepada para anggota dewan yang serius mendengarkan itu bahwa seorang yang memiliki integritas adalah yang konsisten mengatakan pendapatnya dengan siapapun dia bertemu dan tidak berubah-ubah hanya karena lawan bicaranya berbeda. Memiliki integritas berarti memiliki keutuhan sikap diri atas semua situasi yang berbeda.Lalu saya akhiri uraian saya dengan memberikan kesimpulan begini, "Walau kata integritas digunakan dalam konteks pribadi atau organisasi atau bahkan negara, unsur terpenting dari kata integritas adalah adanya kejujuran. Sikap mengedepankan popularitas di hadapan audiens atau konstituen untuk meraih tujuan jangka pendek bukanlah wujud dari integritas diri."

Dan sekali lagi saya bersyukur bahwa jawaban saya yang gamblang itu tidak membuat satupun dari mereka merasa tersinggung dan bahwa saya telah mencoba menunjukkan integritas pekerjaan saya selaku staff ahli kepada para anggota Dewan yang terhormat itu.


Berpose bersama beberpa anggota DPRD Tanjungpinang. Dari kiri ke kanan: Sukandar (PDIP), Fauzy Saleh (Golkar), Petrus M. Sitohang dan Pipin Hasibuan (Demokrat)


Friday, February 6, 2009

MENLU HILLARY CLINTON AKAN MENGUNJUNGI INDONESIA


Website Harian KOMPAS http://www.kompas.com/ hari Jumat, 6 Feruary 2008 memberitakan bahwa Menteri Luar Negeri Amerika Serikat yang baru Hillary Clinton akan mengunjungi Indonesia pada tanggal 18-19 Februari 2009 dalam rangkaian lawatan kerja luar negerinya yang pertama sejak dilantik bulan Januari 2009 lalu.


Pilihan untuk memulai pekerjaan diplomasinya dengan tour ke Asia merupakan perubahan dari tradisi Menteri Luar Negeri Amerika Serikat ketika memulai jabatannya. Biasanya Menlu Amerika Serikat yang baru memulai kunjungan pertamanya ke negara-negara sekutunya di Eropah dan Timur Tengah.

Perubahan itu bahkan menjadi lebih berarti bagi kita karena Indonesia termasuk ke dalam negara-negara yang dikunjungi. Padahal hubungan kerjasama politik luar negeri Indonesia dengan Amerika Serikat sejak era reformasi 10 tahun yang lalu tidak dapat dikatakan sebagai sebuah hubungan yang istimewa.

Tidak berlebihan jika dikatakan bahwa perubahan ini untuk sebagian besar dikarenakan faktor hubungan emosional Presiden Obama terhadap Indonesia karena sebagian masa kanak-kanaknya dilalui di Jakarta. Dalam berbagai kesempatan dan buku maupun otobiograpi yang ditulisnya nampak jelas bahwa pengalaman Obama tinggal di Indonesia dan mempunyai ayah tiri orang Indonesia sangat membekas dan bernilai. Hal itu sekali lagi dia tunjukkan baru-baru ini ketika untuk pertama kalinya mengunjungi kantor Departemen Luar Negeri dan bertemu dengan para staf Departemen yang dipimpin oleh Hillary Clinton tersebut.

Ketika salah seorang dari staf Deplu AS yang pernah bertugas di Indonesia menyapanya dalam bahasa Indonesia, dengan cepat Obama membalasnya di depan staf Deplu Amerika Serikat lainnya dengan bahasa Indonesia yang cukup fasih. Hal ini jelas merupakan bukti yang kuat bahwa Obama bangga dengan keindonesiaan yang ada dalam dirinya. Padahal kita semua tahu bahwa di tataran pergaulan bahasa-bahasa dunia bahasa Indonesia tidaklah termasuk kelompok bahasa yang bergengsi.

Sudah jelas hal ini merupakan pertanda (gesture) yang baik bagi Indonesia. Persoalannya ialah seberapa banyak Deplu Indonesia bisa mengambil manfaat dari faktor Indonesia yang ada dalam diri Obama yang sangat dibanggakannya itu. Kinerja dan postur politik luar negeri Indonesia yang selama ini jauh dari menggembirakan hendaknya mampu memanfaatkan momentum ini untuk meningkatkan aliansi Indonesia dengan Amerika Serikat untuk membantu Departemen Luar negeri Indonesia dalam memperjuangkan kepentingan nasional Indonesia di forum-forum Internasional.

Sebab bagaimanapun, adalah fakta bahwa Amerika Serikat masih tetap menjadi negara adidaya yang sangat berkuasa dan menentukan banyak hal di atas bumi ini. Jadi lebih menguntungkan bagi Indonesia menjadi sekutu yang baik bagi Amerika Serikat ketimbang menjadi salah satu dari ratusan teman biasa.
"Menlu Hassan Wirayudha, jangan sia-siakan momentum ini...!"

Tuesday, January 27, 2009

HAPPY LUNAR NEW YEAR

I wish all my Chinese friends and colleagues a very happy, healthy and prosperous Lunar New Year of Bull.

GONG XI FA CHAI

Wednesday, January 21, 2009

BARACK HUSSEIN OBAMA IS NOW NEW US PRESIDENT


By: Petrus M. Sitohang

Barack Hussein Obama, Jr., son of a Kenyan who born in Hawaii from a white mother and spent about 4 years of his childhood in Indonesia, was sworn in as 44th United States President in Washington DC yesterday 20th January 2009 together with Vice President Joseph Biden.

President Obama took oath of his office before millions of people gathering in Washington DC and watched by hundred million of people around the world by live TV broadcast.

In Jakarta, the capital city of Indonesia, thousand miles away from Washington DC, hundreds of US citizens living in Indonesia gathered at JW Marriot Hotel watching the inauguration of President Obama. Joining them were students from Menteng Jakarta primary school where Obama spent few years studying when his mother Ann Dunham followed his Indonesian step father Lolo Soetoro moved to Jakarta in 60's. The students performed local dances to symbolize the strong emotional bonding and support of Indonesian people to the new President of US.

One of the students expressed hopes and message to President Obama that he will strengthen bilateral relationship between Indonesia and the US and that Obama will put and end to Israel Palestinian conflict.

Sulaiman Prabowo, one of Obama's friend hopeful that one day he will meet with Obama when the President visit Indonesia.

I would like to join millions of people around the world to wish President Obama all the best as US and world President.

Saturday, January 17, 2009

TAHUN DEPAN, TIDAK ADA LAGI APBD MOLOR

JAKARTA. Pemerintah akan menyusun sebuah aturan baru untuk mempercepat penyusunan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Dengan peraturan baru ini maka diharapkan pemda dan DPRD akan lebih bersinergi sehingga keterlambatan pembuatan APBD bisa dihilangkan.

Menurut Mardiasmo, Dirjen Perimbangan Keuangan Departemen Keuangan (Depkeu), saat ini mereka sedang mencari formula yang tepat untuk menyelesaikan masalah ini. "Formula ini nantinya akan dibicarakan dengan Departemen Dalam Negeri (Depdagri), termasuk bagaimana mengatur DPRD," tutur Mardiasmo di Jakarta, Jum'at (29/8).

Mardiasmo menambahkan, peraturan ini nantinya akan berbentuk peraturan pemerintah (PP) yang akan mengatur seberapa jauh hak budget yang dimiliki oleh DPRD termasuk juga pemberian insentif dan disinsentif terhadap daerah.

Saat ini pengaturan tentang APBD hanya ada di dalam internal pemerintah daerah sendiri. Nantinya, pemerintah pusat akan mengkoordinasi apa saja yang mengatur percepatan penyusunan APBD. "Kita akan komunikasikan kepada semua DPRD dalam pertemuan dengan asosiasi DPRD. Intinya kita akan komunikasikan agar eksekutif dan legislatif punya hubungan yang baik," katanya.

Selain hubungan Pemda dengan DPRD setempat kurang harmonis, keterlambatan penyusunan APBD juga disebabkan karena penyelenggaraan Pilkada. Dengan terbitnya peraturan ini maka diharapkan pada tahun 2009 tidak ada APBD yang terlambat lagi.

Mardiasmo memandang persoalan antara legislatif dan eksekutif ada pada cara pandang. Legislatif biasanya mempunyai waktu untuk mengadakan kunjungan kerja di lapangan, sehingga mereka jadi tahu apa saja aspirasi dari masyarakat yang belum terakomodasi di eksekutif.

Untuk tahun 2009, pemerintah memberi batas waktu penyerahan APBD sampai akhir Februari 2009, maju dari batas waktu 2008 yang ada di akhir April. "Saya baru ajukan ke Menkeu tapi belum ada persetujuan, tapi kemungkinan besar pada akhir Februari supaya lebih cepat. Dengan demikian APBD-nya langsung bisa dicairkan dan dijalankan oleh daerah," ujar Mardiasmo.

Untuk masalah sanksi bagi daerah yang membandel, menurut Mardiasmo masih dalam pembicaraan. Yang pasti jika kalau APBD belum disahkan sampai Februari dan belum diserahkan ke Menkeu, maka pemerintah pusat akan menahan dana alokasi umum (DAU).

Uji Agung Santosa

Dikutip dari KONTAN http://www.kontan.co.id/index.php/Nasional/news/1071/Tahun_Depan__Tak_Ada_Lagi_APBD_Molor

Petrus M. Sitohang , Pariwisata Dan Kelautan Bisa Jadi Motor Pertumbuhan Ekonomi

KEPRIONLINE.CO.ID,TANJUNGPINANG,- Provinsi Kepulauan Riau dikenal kaya akan sumber daya alam. Letaknya yang juga sangat strategis memun...