Wednesday, May 20, 2009

PEMILU LEGISLATIF 2009 SEBUAH SUKSES

Oleh: Petrus M. Sitohang

Indonesia baru saja sukses melangsungkan Pemilu Legislatif yang ketiga sejak era reformasi. Era yang dianggap banyak orang sebagai awal kebangkitan dan pembentukan kembali demokrasi khas ala Indonesia.

Dikatakan khas ala Indonesia karena sistim demokrasi perwakilan yang diterapkan di Indonesia bukan sistim presidensial ataupun sistim parlementer murni. Di Indonesia Presiden dipilih langsung oleh rakyat tetapi dia memerlukan persetujuan parlemen untuk meloloskan sebuah rancangan Undang-undang. Tetapi di sisi lain Presiden tidak dapat dijatuhkan oleh DPR.

Tetapi berbeda dari banyak negara yang menganut sistim presidensial, di Indonesia calon presiden hanya dapat dicalonkan oleh partai-partai politik atau gabungan partai politik yang mempunyai 20% dari seluruh jumlah kursi di parlemen. Dan partai yang berhak mendapatkan kursi parlemen adalah partai politik yang berhasil mendapatkan suara minimum 2,5% dari seluruh jumlah pemilih Indonesia yang menggunakan hak pilihnya. Pemilu legislatif 2009 telah memutuskan hanya 9 partai politik yang berhak memperoleh kursi di DPR yaitu Partai Demokrat (150), GOLKAR (107), PDIP (95), PKS (57), PAN (43), PPP (36), PKB (27), GERINDRA (26) dan HANURA (18). Ini membuat pemilihan presiden menjadi sarat dengan proses tawar menawar di antara kesembilan partai politik yang mempunya wakil di parlemen, sesuatu yang biasanya menjadi ciri khas sistim demokrasi parlementer.

Pemilu legislatif 2009 saya anggap sukses meskipun di sana sini ada banyak kebisingan dan suara ketidakpuasan dari partai-partai politik yang dirugikan dalam berbagai tahap pelaksanaan pemilu legislatif tersebut. Tetapi tidak ada satu bukti yang diajukan oleh partai-partai politik tadi yang menunjukkan bahwa pemilu legislatif yang baru lalu telah direkayasa secara sistematis untuk memenangkan satu atau beberapa partai tertentu. Dan yang terpenting, Indonesia telah berhasil melaksanakan salah satu pesta demokrasi terbesar di dunia ini untuk ketiga kalinya secara berturut-turut tanpa adanya tindakan kekerasan antara kelompok-kelompok peserta pemilu.

Bahkan Nirwansyah, salah seorang teman saya yang berprofesi advokat secara obyektif menilai ada catatan perbaikan sitem yang terus menerus terjadi dalam pemilu di Indonesia. Jika tahun 1999 pemilih memberikan suaranya sepenuhnya kepada partai politik untuk menentukan sendiri anggota legislatif yang duduk dengan hak recall sepenuhnya pada partai, maka pada pemilu tahun 2004 pemilih sudah diberi kesempatan melihat calon legislatifnya meskipun keputusan siapa yang duduk di parlemen adalah berdasarkan nomor urut calon yang dibuat partai politik. Dan pada tahun 2009, pemilih sudah diberikan hak untuk menentukan sendiri calon legislatif yang akan duduk di parlemen terlepas dari nomor urut calon anggota legislatif yang disusun oleh partai pengusungnya. Menurut Nirwansyah proses perbaikan ini akan tuntas kalau di masa yang akan datang Indonesia mengadopsi sistim pemilihan parlemen dengan dasar distrik murni.

Bagi saya pemilu legislatif 2009 menghasilkan beberapa kejutan. Di luar dugaan saya Partai Demokrat keluar sebagai pemenang dengan berhasil meraih dukungan 21,703,137 suara atau sekitar 20.85 % dari seluruh suara yang sah yakni 104,099,785 orang (tabulasi selengkapnya lihat di link ini http://indonesiamemilih.kompas.com/tabulasi)

Partai Golkar dan PDIP Perjuangan yang pada pemilu sebelumnya bertengger di urutan pertama dan kedua, tahun ini harus puas turun satu peringkat menjadi urutan kedua dan ketiga di bawah Partai Demokrat.

Keterkejutan saya ialah karena secara umum saya menilai kinerja pemerintahan Presiden Susilo Bambang SBY (SBY) dan wakilnya Jusuf Kalla selama 4,5 tahun terakhir tidak menghasilkan sesuatu yang istimewa dan patut dibanggakan.

Harga-harga bahan pokok meningkat sangat tajam, mutu pendidikan yang merosot pada saat biaya pendidikan semakin mahal, pengangguran yang meningkat terus, krisis listrik yang semakin parah di seluruh negeri dan kemampuan perencanaan pembangunan yang buruk.

Dan yang lebih mengagetkan saya, Partai Demokrat bahkan unggul di Jawa Timur. Padalah di sinilah beberapa desa di Sidoarjo mengalami salah satu tragedi abad ini yang akan tetap dikenang oleh ribuan penduduk yang tidak berdaya menyaksikan desa-desanya tenggelam oleh lumpur gas yang tersembur dari perut bumi akibat kecerobohan kegiatan pengeboran tambang gas bumi oleh salah satu perusahaan yang dimiliki oleh Menteri Aburizal Bakrie. Aburizal Bakri dipercaya banyak orang menjadi salah satu penyokong dana presiden SBY dalam pemilu presiden tahun 2004.

Sedikit yang saya catat sebagai keberhasilan pemerintahan SBY Jusuf Kalla adalah upaya pemberantasan korupsi dan penciptaan perdamaian di Poso, Maluku dan Aceh. Namun untuk itu kredit seharusnya paling tidak harus dibagi dua dengan Jusuf Kalla yang peran dan inisiatifnya sangat terlihat sangat menonjol dalam upaya perdamaian di Poso, Maluku dan Aceh. Sedangkan keberhasilan upaya pemberantasan korupsi kredit juga harus diberikan kepada Komisi Pemberantasan Korupsi yang selama kepemimpinan Antasari Azhar berhasil mengungkap banyak korupsi yang melibatkan pejabat teras di negeri ini termasuk mantan menteri kabinet RI, mantan Kapolri hingga mantan Gubernur BI dan para Deputinya.


No comments: