Thursday, December 31, 2009

MENGAPA AIR MATAKU JATUH GUS DUR



Gus Dur,

Seingatku kita tidak pernah bertemu bukan? Tidak selama yang kuingat. Meskipun aku telah mengikuti sepak terjangmu sejak engkau memimpin Forum Demokrasi di zaman orde Baru dulu. Sebuah usaha yang mengingat situasi ketatnya cengkraman kekuasaan atas kebebasan berpendapat, hanya bisa berlangsung karena dirimu yang memimpin.

Tetapi meskipun begitu, kepedulianmu terhadap orang-orang kecil seperti diriku dan ratusan atau bahkan ribuan orang-orang yang untuk kepentingan politik kekuasaan sering diberi label minoritas, sangat kurasakan sepanjang kiprahmu. Kepedulianmu itulah membuat kami yang dilahirkan sebagai minoritas tidak merasa menjadi orang pinggiran di negeri ini.

Aku tidak pernah merasakan kesunyian dan kepedihan yang sedalam ini ketika melepas kepergian salah seorang putera bangsa yang berjasa bagi negeri ini. Sejak tadi malam aku tidak bisa lepas dari depan TV menyaksikan kabar kepergianmu. Aku merasa seperti anak kecil yang cengeng karena tidak mampu menahan jatuhnya air mataku.

Aku meraskan kesediahan luar biasa Gus. Engkau justru pergi di saat negeri ini sedang dalam annus horribilis, tahun penuh petaka. Ketika negeri yang bernama Nusantara ini masih sering mempersoalkan asal-usul, suku dan agama. Negeri yang karena alasan-alasan primordial justru lupa pada nasib banyak orang miskin yang hidupnya melarat menyaksikan rumah dinas dan kendaraan dinas para pejabatanya cukup untuk mengenyangkan jutaan perut anak negeri.

Engkau pergi ketika urusan kebhinnekatunggalikaan bangsa ini masih sering mempersoalkan kebebasan beragama, pendirian rumah ibadah dan malah lupa mengejar ketertinggalan bangsa ini dari bangsa-bangsa lain. Negeri ini sesungguhnya masih memerlukan guyonan cerdasmu Gus Dur. Negeri ini masih memerlukan tausyahmu tentang persaudaraan sebangsa ukuwah wathoniyah yang sangat aku banggakan itu.

Aku hanya bisa berharap semoga cita-citamu tentang Indonesia yang menghargai bhinneka tunggal ika bersemai dihati sanubari para pengikutmu saudara-saudaraku kaum Nahdliyin dan kaum muslimin dan muslimat di manapun mereka berada. Agar negeri yang bernama Indonesia Raya yang turut dibidani para leluhurmu KH Hasyim Ashari dan KH Wahid Hasyim bisa segera bangkit menjadi menjadi negeri besar dan jaya.

Aku hanya bisa melepasmu dengan sebuah doa menyertai ratusan, ribuan atau bahkan jutaan doa-doa yang dilantunkan dalam berbagai bahasa di mesjid mesjid, gereja gereja, pura pura, vihara vihara maupun tempat-tempat suci lainnya untuk memohon kemurahan dan kerahiman sang Khalik agar segera membukakan pintu surgawi bagimu.

Maafkan aku. Aku akan menaikkan bendera merah putih penuh tiang. Menurutku itu yang lebih pantas untuk kebesaranmu.

Selamat jalan Gus Dur.



Petrus Sitohang

Mantan Ketua PMKRI Cabang Malang St. Augustinus 1989-1990

Sahabat kaum muda Nahdliyin dan GP Ansor

1 comment:

Anonymous said...

It's actually a great and useful piece of information. I am glad that you shared this useful information with us. Please stay us up to date like this. Thanks for sharing.

my blog post: league of legends hack

Petrus M. Sitohang , Pariwisata Dan Kelautan Bisa Jadi Motor Pertumbuhan Ekonomi

KEPRIONLINE.CO.ID,TANJUNGPINANG,- Provinsi Kepulauan Riau dikenal kaya akan sumber daya alam. Letaknya yang juga sangat strategis memun...