Saturday, September 11, 2010

HAPPY EID EL FITRI

I wish all my moslem friends a very happy Eid el Fitri, 1st Syawal 1431 H.

Selamat Hari Raya.

Friday, July 23, 2010

"SADA DO" BY MARSADA

SADA DO

HANYA SATU

ONLY ONE


Oleh/ by: Marsada

Sada do mataniari binsar/ Hanya satu matahari yang terbit/ there is only one sun rises
boi do i manondangi sasude/ namun ia bisa menerangi semuanya/ but it shines everything

Ai bulan i pe ro ito/ bulan itu pun datang sayang/ the moon also comes over sweetheart
na boi do manondangi sasada ho/ dia pun bisa menyinari engkau seorang/ it can shine just for you

holan ho ai holan ho do hasian/ hanya dirimu hanya dirimulah sayang/ only you and only my sweetheart
sai tu ho sai tuho do rohangki/ hati ini selalu tertuju kepadamu/ my heart always be with you

sasada ho do hasian/ engkaulah satu-satunya sayang/ only you my sweetheart
na boi pasonang roha salelengna/ yang bisa menyenangkan hatiku selamanya/ who can make me feel happy forever


Ref.

torop pe bintang na dilangit hasian/ walaupun banyak bintang di langit sayang/ although there are many stars in the sky sweetheart
sigarani api sada do/ hanya satu yang terang/ but only one which shines bright

torop siboru na uli hasian/ banyak wanita yang rupawan/ there are many pretty women sweetheart
tinodo ni roha sai tuho/ hati ini selalu tertuju kepadamu/ but my heart always goes to you

anggiat ma nian holong ni rohami/ semoga cinta yang ada dihatimu/ may the love in your heart
holong ni roha salelengna/ cinta untuk selama-lamanya/ will last forever and ever

Back to ”holan ho... “ then ref.


Wednesday, July 7, 2010

GIOVANNI VAN BRONCKHORST: THE NETHERLANDS "AANVOERDER"

"This World Cup is my ultimate dream,” the Oranje captain told FIFA.com in April 2009. Handed the armband when Bert van Marwijk took over the Netherlands reins in the summer of 2008, the evergreen Feyenoord full-back will be bringing an end to a 14-year love affair with the national team in South Africa. Unsurprisingly, he hopes to bow out with a winner’s medal, having yet to taste the same success on the international stage he has always known in the club game. Whether it be in Scotland, England or Spain, Van Bronckhorst has won titles wherever he has played.

2010 FIFA WORLD CUP SEMI FINAL HIGHLIGHTS: URUGUAY VS NETHERLANDS 2-3

http://www.fifa.com/worldcup/highlights/video/video=1269571/index.html

2010 FIFA WORLD CUP: ORANJE EDGE FIVE-GOAL THRILLER

Holland's striker Aarjen Robben celebrates his goal to Uruguay on 73th minutes in 2010 FIFA World Cup Semifinal match on Tuesday, 6 July 2010.

The Netherlands will face either Spain or Germany in the Final of the 2010 FIFA World Cup South Africa™ after beating Uruguay by the odd goal in five in the first of the tournament’s semi-finals at Cape Town’s Green Point Stadium. Bert van Marwijk’s side were worthy of their victory but were made to work hard for it in an eventful last four encounter punctuated by excellent goals from Giovanni van Bronckhorst, Diego Forlan, Wesley Sneijder, Arjen Robben and Maximiliano Pereira.

Wednesday, April 7, 2010

A NIGHT AT LAKE TOBA IN MUSIC, SONGS, DANCES AND POEM

Anugerah Tour & Travel Tanjungpinang is organizing a concert of neo traditional Batak arts titled “A Night in Lake Toba in Music, Songs, Dances and Poet” in Tanjungpinang on 1st July 2010 and Batam 3rd Juli 2010.

The concert will bring to stage the young and talented Batak traditional musician Hardoni Sitohang and his Neo Traditional Group and the renowned author and poet Idris Pasaribu. Both Hardoni Sitohang and Idris Pasaribu live in Medan.

Saturday, March 13, 2010

KRISIS LISTRIK PLN, MANA PEDULIMU?


Saya hanya seorang warga negara biasa yang tinggal di sebuah pulau tidak terkenal di propinsi yang mungkin juga tidak begitu diperhitungkan di Indonesia. Seringkali ini membuat perasaan minder untuk mengambil inisiatif mengajak saudara sebangsa yang lain untuk memperdulikan sesuatu apalagi sampai ke taraf menggalang solidaritas publik.

Tetapi krisis listrik ini membuat saya harus keluar dari perasaan minder yang sering mengganggu tersebut. Ya. Krisis listrik. Betul-betul krisis. Sekarang di Tanjungpinang setiap hari mengalami pemadaman listrik PLN minimal dua kali sehari.
Saya menetap di Tanjungpinang sejak tahun 2005. Pindah dari sebuah kawasan yang seluruh infrastrukturnya dibangun oleh swasta yang bernama Bintan Resort. Listrik dan air bersih dihasilkan oleh Utilities Operation Division milik perusahaan tersebut. Kecuali jaringan tegangan tinggi, jaringan listrik ke kompleks perumahan berada dibawah tanah. Dan bukan itu yang paling berkesan. Bagian power house biasanya memberitahukan minimal satu minggu sebelumnya kalau akan melakukan pemadaman untuk sesuatu keperluan yang tidak terhindarkan seperti perawatan berkala. Selama sembilan tahun tinggal di sana saya tidak pernah mengalami kegelapan yang tiba-tiba menyergap di waktu malam.
Ketika pindah ke Tanjungpinang, saya mulai berkenalan dengan pelayanan PLN. Mulai dari urusan pendaftaran pasang baru, permohonan peningkatan daya dan lain sebagainya. Kesan saya, kecuali saat membayar pemakaian bulanan, urusan dengan PLN selain harus menarik isi kantong dalam-dalam juga disertai tarikan napas yang dalam-dalam.
Itu tidak seberapa. Saya juga mulai berkenalan dengan kebijakan baru saat itu yang namanya pemadaman berjadwal. Waktu itu di mulai dengan istilah tiga satu, artinya dalam tiga hari sebuah wilayah akan mengalami pemadaman satu kali. Waktu itu jadwal pemadaman terjadi siang hari. Waktu selebihnya aliran listrik akan berjalan normal...Kecuali ada hujan besar apalagi disertai petir. Saat-saat begitu kita harus maklum jo...Itu so pasti padam beberapa puluh menit.
Sebagai warga biasa saya berpikir saat itu pihak PLN mestinya sudah memikirkan jalan untuk mengantisipasi agar situasi itu tidak terulang. Tapi apa lacur? Ketika para pelacur resmi di Tanjungpinang perlahan-lahan bisa dikurangi jumlahnya hingga sama sekali tidak ada lagi, layanan pemadaman PLN bukannya berkurang. Alih-alih malah bertambah. Kalau awal-awalnya cuma tiga satu...maka tahun berikutnya frekuensi pemadamannya menjadi dua satu...kemudian satu satu. Kalau tadinya jadwalnya hanya siang hari, sejak tiga tahun yang lalu sudah mulai malam hari. Dan hebatnya sejak tahun yang lalu jadwal pemadamannya sudah seperti jadwal makan, pagi, siang dan malam. Dan belakangan ini jadwalnya malah sudah seperti jadwal makan obat...tiga kali pemadaman sehari minimal dua jam sekali padam.
Untuk informasi saja, kemarin hari Kamis, 11 Maret ketika saya pulang ke rumah jam 5 sore listrik baru hidup kembali setelah sebelumnya padam selama 3 jam lebih. Hanya dalam tempo kurang dari 4 jam listrik padam lagi. Sialnya, saat itu saya sedang kedatangan tamu dari Jakarta. Dia harus menerima suguhan sergapan kegelapan tiba-tiba. Ketika saya tanyakan kepadanya apakah di Jakarta mengalami masalah pemadaman listrik bergilir, dia menjawab tidak. "Mungkin karena tempat tinggal kami termasuk kawasan Ring 1 ibukota." Dia menyebutkan alamatnya tinggalnya di kawasan Menteng yang berada dalam kawasan dekat Istana Merdeka Jakarta. "Pantaslah," pikirku. Karena merupakan simbol negara, maka pemadaman listrik yang menjengkelkan, memuakkan dan menyengsarakan jutaan keluarga-keluarga anak bangsa itu tidak boleh terjadi di ring 1 ibukota, tempat dimana nasib negara dan bangsa ini diputuskan.
Saya sering berpikir, mungkinkah petugas PLN di Tanjungpinang tidak pernah mengantisipasi masalah ini ketika pemadaman bergilir sudah terjadi mulai enam tahun yang lalu? Kalau tahun 2004 saja, kapasitas terpasang mesin-mesin PLN di Tanjungpinang sudah mencapai beban puncak, tidakkah saat itu seharusnya PLN mulai merencanakan investasi pengadaan mesin baru atau mencari solusi lainnya seperti menyewa dari pihak swasta? Orang awam dalam hal listrik seperti sayapun tahu bahwa dengan ditetapkannya kota Tanjungpinang menjadi ibukota Provinsi Kepulauan Riau saat itu tentunya akan mengalami pertumbuhan yang jauh lebih cepat karena peningkatan aktivitas pemerintahan provinsi dan pemerintahan kota berada di kota ini. Tapi anehnya seperti saya katakan sebelumnya boro-boro ada pengurangan jadwal pemadaman listrik, tahun demi tahun selama enam tahun terakhir ini keadaannya malah semakain parah.
Suatu hari seorang tetangga saya meninggal dunia karena usia tua. Sepulang dari pemakaman, seperti lazimnya keluarga muslim, pada malam harinya para kerabat dan sahabat keluarga itu berkumpul di rumah keluarga almarhum untuk melakukan ritual keagamaan yang disebut tahlilan. Dengan doa-doa yang dilantunkan para kerabat dan sahabat saat tahlilan diharapkan akan dapat mengurangi beban duka nestapa yang dialami oleh isteri, anak-anak dan anggota kerluarga yang ditinggalkan almarhum. Kata pepatah untung tak dapat diraih malang tak dapat ditolak. Baru saja para kerabat dan sahabat keluarga itu memulai doa-doa bersama dalam acara tahlilan itu, listrik tiba-tiba padam.
Dengan penerangan lampu listrikpun sebenarnya suasana seperti itu pasti sudah membawa perasaan duka yang dalam. Apalagi tanpa penerangan listrik sama sekali, pastilah akan menambah kelam suasana rumah dan keluarga serta yang ada di rumah itu. Di tengah-tengah suasana gelap dan kelam saat itu, saya memperhatikan beberapa diantara para kerabat dan sahabat keluarga itu pelan-pelan beringsut dari rumah itu tanpa permisi kepada tuan rumah yang dukanya dan bebannya semakin bertambah karena pemutusan aliran listrik yang tiba-tiba itu...Saat beringsut itu, beberapa diantara mereka saya dengar seperti berbisik kepada yang lain berkata pelan "Iihhhhh seram sekali pak...Saya gak tahan...mau pulang aja pak".
Saya kira kisah ini hanya salah satu dari ratusan atau mungkin ribuan atau bahkan jutaan kisah-kisah pilu yang dialami masyarakat sebagai akibat langsung dari buruknya pelayanan PLN. Tidak terhitung lagi berapa ratus ikan hias peliharaan dalam aquarium yang tidak mampu bertahan hidup tanpa bantuan supply gelembung udara yang dihasilkan oleh pompa air kecil yang membutuhkan aliran listrik. Entah sudah berapa ribu atau mungkin jutaan alat-alat elektronik rumah tangga yang rusak akibat pemadaman listrik PLN yang tiba-tiba itu; berapa jam kerja kantor yang telah terbuang percuma; berapa ratus rapat penting di instansi pemerintah dan DPRD yang tidak jadi terlaksana atau putus di tengah jalan; berapa ribuan rumah atau bangunan ruko yang baru dibangun yang tidak bisa terpakai karena tidak mendapat sambungan listrik; berapa banyak usaha yang akhirnya gulung tikar karena tidak mampu bertahan; atau berapa banyak perusahaaan kecil yang tidak bisa memulai usaha karena ketiadaan sambungan listrik.
Kalau pejabat-pejabat di Jakarta dan penghuni Istana Negara tidak perduli karena mereka tidak pernah merasakan susahnya akibat pemadaman listrik bergilir dan tiba-tiba; dan kalau para pejabat PLN itu juga tidak perduli dengan keluhan dan derita pelanggannya karena mereka tahu Undang-Undang melindungi eksistensi mereka sebagai satu-satunya perusahaan yang memegang hak monopoli untuk mengalirkan listrik ke rumah-rumah tangga, siapa lagi yang harus peduli? Apakah kita juga tidak mau peduli lagi dan akan menerima begitu saja pasrah pada keadaan ini.
Jika anda menjawab "tidak" maka bergabunglah dengan kami di grup DUKUNG PEMBENTUKAN PANSUS PT PLN DPR RI. Untuk itu klik http://www.facebook.com/group.php?gid=352930746465&ref=mf
Inilah bukti kepedulian minimal yang bisa kita lakukan agar wakil-wakil kita di parlemen mengangkat masalah ini dan mencarikan solusi jangka panjang yang baik.
Kalau nasib beberapa ribu nasabah Bank Century itu saja sudah cukup menjadi alasan DPR RI membentuk panitia khusus (Pansus) dan memberikan waktu serta tenaga yang maksimal untuk membahasnya, tidakkah keluhan dan derita jutaan rumah tangga dan usaha kecil menengah selama enam tahun terakhir karena tidak sanggup mengadakan genset sendiri layak mendapat perhatian oleh sebuah PANSUS DPR RI?
Saya percaya pedulimu akan membantu membuat negeri ini bersinar kembali.


Tanjungpinang, 12 Maret 2010

Saturday, February 20, 2010

PEREMPUAN BATAK ITU, SEJATINYA MAHAL DAN TERHORMAT


Oleh: Suhunan Situmorang

MENURUTKU, tak seluruhnya benar anggapan atau pendapat yang mengatakan bahwa perempuan menjadi inferior dalam sistem sosial masyarakat Batak--dan sebaliknya, lelaki, berposisi superior. Benar, etnis Batak menganut garis patrinial, namun tak berarti hak dan kedudukan perempuan jadi tereduksi oleh sistem tersebut secara ekstrim.

Baiklah kita amati dan buktikan dalam aktivitas kehidupan maupun hajatan adat. Peran serta perempuan begitu aktif. Bahwa perempuan menjadi 'parhobas' dlm acara adat, itupun harus dilihat posisinya dalam acara itu. Bila ia, misalnya, berkedudukan sebagai 'paniaran' atau 'hula-hula' (istri tulang, istri saudara laki-laki), tentu ia tidak dibolehkan 'marhobas' (yang mengurusi pesta atau hajatan, termasuk melayani tetamu), sebab dianggap tidak pantas karena tugas tersebut merupakan kewajiban perempuan (yang sudah menikah atau masih lajang) yang berstatus 'boru' dalam kenduri adat tersebut.

Para 'paniaran' atau 'nantulang' maupun 'eda' (ipar perempuan), dipersilakan duduk manis di tengah hajatan, tidak usah menyampuri dapur atau harus ikut melayani tetamu. Tetapi di hajatan lain, di mana ia tengah berposisi sebagai 'boru', tugas 'marhobas' itu sewajarnyalah ia lakukan, itu pun bukan suatu hal yang imperatif atau memaksa, sebab bila misalnya ada boru yang enggan terlibat, toh dibiarkan saja--paling disindir para kerabatnya

Artinya, sistem adat Batak sebetulnya 'fair', 'just', memberi giliran bagi seseorang: di mana ia menjadi "bos" dan kapan jadi "pelayan". Jangan salah pula, meski kedudukannya saat itu sebagai 'boru', ia pun harus diperlakukan dengan baik (dielek), ada jambar untuk mereka (hak adat, bisa berupa daging, kata sambutan/tanggapan, dll), juga ikan (dengke). Bila boru ngambek, misalnya, hajatan (ulaon) bisa terancam gagal! Jadi, tak boleh main-main atau meremehkan boru (dan suaminya).

Lalu, ini menurutku yang amat menarik dan sebaiknya diketahui oleh semua perempuan Batak. Begitu ia resmi menikah maka statusnya tidak saja istri (parsonduk bolon) tapi juga kedudukannya otomatis akan setara dengan mertuanya, menjadi "ibu kedua" bagi adik-adik suaminya, dan menjadi 'paniaran' atau 'ibu' bagi komunitas marga.

Dengan kata lain, sekali ia menikah, ada empat kedudukan yang dimilikinya--termasuk jadi ibu bagi anak-anak kandungnya. Sedemikian berarti dan terhormatnya perempuan bagi masyarakat adat Batak hingga orangtua yang paham adat dan tata krama ala Batak, jauh-jauh hari sudah menyiapkan anak gadisnya agar bisa mendekati standar perilaku yang dianggap ideal yang disebut 'boru ni raja' itu.

Aku tak bermaksud menjadi chauvinistik, tapi mana ada suku-bangsa di dunia ini yang menempatkan posisi perempuan (menikah) sedemikian penting sebagamana disebutkan di atas?

***
ADA pula anggapan atau persepsi yang keliru tentang makna 'sinamot' (semacam mahar), sebetulnya bila dipahami secara benar, sinamot bukanlah 'uang jual-beli' seorang boru! Itu semacam balasan atau imbalan yang dianggap sepatutnya diberikan pihak laki-laki (paranak) kepada orangtua calon istri: sebagai bukti bahwa boru mereka akan 'dirajakan' atau dihormati dengan cara dijadikan istri bagi anak lelaki pihak yang meminang, atau akan jadi menantu untuk orangtua lelaki dan kelak menjadi 'paniaran' bagi marga sang lelaki.

Zaman dulu, ketika uang belum dikenal, sinamot itu lazim diberi berupa ternak yang dianggap berharga mahal: kerbau, sapi, kuda. Jumlahnya tergantung kesepakatan dan kemampuan pihak laki-laki atau permintaan pihak perempuan, bisa 30 ekor kerbau tapi bisa pula satu ekor--di luar ternak yang akan dipotong untuk keperluan pesta.

Yang mengajukan dan melakukan tawar-menawar atas sinamot itu pun tidak boleh orangtua si perempuan kandung, tapi dilakukan oleh adik-kakak dan kerabat si bapak. (Karena itu disebut: pamarai, harafiahnya, yang ditugaskan melihat sinamot berupa kerbau atau sapi tersebut ke 'bara ni jabu' atawa kandang ternak itu).

Itu ada maknanya: untuk menjaga harga diri bapaknya si boru! Kenapa harus dijaga? Sebetulnya, mengawinkan seorang boru bukanlah peristiwa biasa bagi kedua orangtuanya--terutama bagi ayahnya. Sesungguhnya ada dilema yang amat dahsyat dalam batin sang bapak melepaskan boru-nya namun tak diungkapkan. Umumnya terbilang berat bagi setiap bapak untuk melepas boru-nya ke keluarga lain, barangkali karena secara emosional seorang ayah lebih dekat dengan anak perempuannya ketimbang pada anak lelakinya; di sisi lain bila boru-nya tidak menikah akan dianggap salah juga, sebab selain akan jadi gunjingan, diharapkan pula 'hagabeon' itu diberikan boru-nya (berketurunan).

***
KARENA perempuan yang sudah menikah telah menjadi ibu bagi keluarga suaminya, juga 'paniaran' untuk marga suaminya, maka tentu ia harus mendahulukan keluarga dan klan suaminya. Warisan yang berhak dan sepatutnya ia dapatkan pun dari kakek-mertuanya, bukan lagi dari orangtua kandung atau dari ompung-nya. Yang berhak atas harta-benda orangtua kandungnya ialah: perempuan yang kemudian menjadi istri saudara lelakinya.

Bila ternyanya mertuanya tidak punya banyak harta sebagaimana orangtua kandungnya, apa boleh buat, itu sudah pilihannya. Dan, bukankah keagungan sebuah pernikahan bukan karena faktor harta? Demikian pun, anak perempuan tetap boleh mendapat harta warisan dari orangtua kandungnya (bila ada dan diberikan secara sukarela), yang disebut 'pauseang' (lazimnya: sawah, ladang).

Dengan penjelasan secara umum di atas, lalu apa alasannya sepupumu itu menganggap kedudukan perempuan Batak inferior di tengah komunitasnya? Nampaknya, ia hanya tidak paham saja, dan itu bukan karena kesalahannya belaka, melainkan: orangtuanya yang tidak secara baik menjelaskan makna adat dan kedudukan perempuan bagi masyarakat beretnis Batak, yang sesungguhnya amat mahal dan berharga itu.

Bila dalam realitasnya banyak perempuan Batak yang harus banting tulang atau kerja keras mencari nafkah dan menyekolahkan anak-anaknya sementara suaminya lebih suka nongkrong di kedai kopi/lapo tuak, itu karena penyimpangan! Bukan anutan adat atau pandangan hidup masyarakat Batak.

Sejatinya, atau idealnya, lelaki Batak itu seseorang yang tangguh, mampu menempatkan dirinya laksana pohon rindang (hau nabolon) bagi istri-anak, orangtua, sanak-saudara, dan kerabat marganya. Dari situlah tumbuh harkat, martabat, dan harga dirinya sebagai 'anak ni raja'. ***

________________

Suhunan Situmorang, seorang Lawyer dan Partner pada Firma Hukum Wahyu Nugroho Jakarta, juga seorang penulis novel dan cerpen bertema etnik Batak Toba.

Catatan: Artikel ini dikutip dari Facebook account Suhunan Situmorang yang mendapat tanggapan luas dari pemerhati adat istiadat Batak.

Friday, January 29, 2010

TENTANG PARMALIM DAN AGAMA MALIM

Bangunan Pusat Agama Malim di Huta Tinggi Laguboti Toba Samosir (Foto: Petrus M. Sitohang)

Pengantar:

Hanya sedikit diantara kita, termasuk orang Batak sekalipun, yang mengenal komunitas Parmalim, sebuah komunitas masyarakat Batak Toba (sebagian besar) yang menjalankan kepercayaan asli dan berakar pada kebudayaan Batak. Mereka meyakini Sisingamangaraja sebagai salah seorang nabi, penerima wahyu dari Tuhan yang mereka sebut Mula Jadi Nabolon.

Salah satu yang tidak banyak diketahui orang tentang Agama Malim ini adalah mereka berpantang memakan daging babi dan makanan yang mengandung darah. Selain itu mereka juga dilarang untuk menebang kayu di hutan sembarangan.

Bulan April 2009 saya berkesempatan mengunjungi pusat Agama Malim di Huta Tinggi, Kecamatan Laguboti Kabupaten Tobasa dan bertemu langsung dengan Raja Ihutan (gelar pemimpin tertinggi agama Parmalim) Raja Marnangkok Naipospos, dan saudaranya Monang Naipospos yang adalah salah satu tokoh intelektual Parmalim yang paling aktif menulis dan menjadi semacam kepala bidang hubungan dengan masyarakat luar Agama Parmalim, dan yang dalam Pemilu Legislatif tahun 2009 yang lalu terpilih menjadi salah seorang aggota DPRD Kabupaten Toba Samosir.

Tulisan berikut ini adalah kutipan langsung dari web resmi Agama Malim yaitu www.parmalim.com atas seijin dari Monang Naipospos.


HAMALIMON BATAK


Hubungan dengan Mulajadi Nabolon disebut “Ugamo” inti ajaran dalam menjalankan hubungan itu disebut “Hamalimon”.

Pengertian “Malim” ada dua bagian: “Malim” sebagai sifat dasar yang dituju, berawal dari “Haiason” dan “Parsolamon”. Yang kedua adalah “Malim” sebagai sosok pribadi.


Haiasaon diartikan kebersihan. Kebersihan fisik dan rohani. Parsolamon diartikan membatasi diri dari menikmati dan bertindak.


Ada beberapa pribadi leluhur di tanah batak yang dianggap sebagai Malim, yakni Raja Uti, Simarimbulubosi dan Sisingamangaraja.

Mereka menganjurkan panyampaian persembahan kepada Mulajadi Nabolon yang disebut Pelean Debata “na ias jala malim” bersih dan suci. Pelaksanaannya diawali dari pribadi (keluarga) seperti penyampaian “patumona ni naniula” kegiatan se kampung yang merupakan klan dalam satu parsantian.


Biasanya kumpulan satu rumpun keluarga semarga termasuk boru dan paisolat (pendatang). Persembahan suci sebagai ucapan syukur kepada Mulajadi Nabolon dilakukan pada Upacara Bius dengan persembahan kerbau yang disebut Horbo Santi atau Horbo Bius.

Horbo Santi, seekor kerbau (sitingko tanduk siopat pusoran) pilihan bertanduk bulat dan empat pusar. Kerbau ini dipelihara berbulan-bulan sebelum dipersembahkan. Kerbau ini bila masuk kehalaman orang, dianggap anugerah, bila masuk ke kebun tidak didenda.

HARAJAON BATAK

Raja Uti dikenal menerima amanah mengajarkan Hamalimon dan pola penyembahan terhadap Mulajadi Nabolon. Beliau juga menerima amanat “Harajaon” pertama sekali di tanah Batak walaupun tidak dilakukan secara terlembaga. Raja Uti dianugerahi Mulajadi Nabolon “Mula ni Harajaon na marsuhi ni ampang naopat”.

Suhi ni ampang naopat menjadi dasar konsep kelembagaan masyarakat, harajaon dan paradaton. Harajaon Bius yang kemudian dikembangkan Sisingamangaraja selalu mengacu kepada empat orang Raja utama. Mereka disebut Pargomgom, Pangumei, Partahi dan Namora. Keempat Raja ini dilengkapi perangkat tambahan yang penyebutannya berbeda di masing-masing bius, seperti parmaksi, partingting, nabegu dll. Untuk menghindari adanya kasta diantara mereka sering juga disebut Raja Naualu. Keempat Raja tadi lazim juga disebut Raja Naopat atau Raja Maropat. Raja Bius juga disebut Raja Parbaringin. Konsep ini sudah lama di tanah Batak sebelum mengenal raja Merampat di Aceh, karena kebetulan saja sama. Sering peneliti menyatakan Sisingamangaraja meniru konsep ini dari Aceh.

Sisingamangaraja menerima wejangan dari Raja Uti untuk pelaksanaan amanah “maningahon” harajaon, patik, uhum, hamalimon. Harajaon “na marsuhi ni ampang naopat” tetap menjadi landasan pelaksanaannya.

Otonomi dinikmati masyarakat. Beliau tidak menjadi raja untuk kekuasaan sentral. Demokrasi Batak dibangun dan dipelihara. Tujuan ketakwaan kepada Mulajadi Nabolon dipenuhi, hormat kepada pemimpin masyarakat (pantun marraja) dan sayang terhadap sesama manusia.

Bius dibenahi menjadi Dewan Pertimbangan Kebijaksanaan yang dilakukan oleh Huta. Bius diwajibkan memenuhi syarat memiliki “onan” untuk bursa ekonomi rakyat dan berfungsi ganda meliputi pelayanan kesehatan dan pelayanan pertimbangan hukum. Di onan juga disediakan area “partungkoan” para pemimpin “raja-raja” bius, huta dan perangkatnya.


Onan adalah pekan atau pasar. Onan dibentuk sebagai persyaratan ini menjadi bius. Ada hukum di onan yang disebut, osos hau tanggurung tongka masipaurakan. Bila terjadi persenggolan tidak boleh bersengketa. Onan dijaga oleh seorang pendekar partigabolit menjamin keamanan. Di Onan dilakukan mediasi permasalahan hukum oleh para Raja Bius dan juga Pusat Pelayanan Kesehatan Masyarakat oleh Sibaso dan Tiang Aras.

Bius juga melakukan “Pardebataon” minimal sekali dalam satu tahun yakni peyampaian persembahan kepada Mulajadi Nabolon atas limpahan rejeki hasil panen yang diberikan.


Agamanya (Ugamo?) ada pada tatanan keteraturan, kedamaian dan ketakwaan kepada Mulajadi Nabolon dengan mempedomani syarat Hamalimon. Sistem ini yang kemudian dikenal dengan Harajaon Malim.



MASA KRISIS


Sisingamangaraja XI sudah melihat adanya ancaman kemerosotan kepercayaan yang tumbuh sejak lama di tanah Batak. Dampak dari serangan padri sangat terasa dalam perubahan moral dan perekonomian. Tatanam kemasyarakatan, adat, patik, uhum, harajaon, dan hamalimon terancam punah.

Pada era Sisingamangaraja XII pergolakan di Tanah Batak semakin keruh, pembangkangan semakin banyak, keberpihakan kepada penjajah dan misi baru semakin deras. Dulunya para Raja Bius Parbaringin yang sangat mendukung Raja Sisingamangaraja XII menentang penjajahan mulai merosot. Diantara kerabat para raja tradisional itu ada yang diangkat kolonial menjadi raja versi mereka. Para raja angkatan penjajah ini melakukan pendekatan dan penekanan kepada para Raja Parbaringin dan para pejuang pro Sisingamangaraja XII untuk melenturkan peranannya.


Pada suatu ketika, Raja Sisingamangaraja XII membuat maklumat bahwa beliau sakit. Para Raja Bius menjadi pesimis, tidak seorangpun menjenguk beliau. Pada saat itu Raja Mulia Naipospos Raja Parbaringin dari Bius Laguboti berangkat menuju Bakkara. Ternyata Raja Sisingamangaraja XII sehat walafiat. Kepada Raja Mulia dipaparkan ancaman yang akan datang dan semakin lemahnya dukungan perjuangan menentang penjajahan.


Hamalimon dalam Habatahon itu akan pupus bila dibiarkan tanpa pertahanan. Sisingamangaraja XII menyusun strategi lebih tegas dalam bentuk aksi. Raja Mulia memegang teguh peranannya untuk tidak muncul sebagai sosok perlawanan anti kolonial, sehingga lebih didekatkan kepada Missionaris Nommensen di Sigumpar. Ini merupakan pengkaderan secara terselubung agar tidak segera dipatahkan oleh gerakan misi kristen dan penjajah.

Guru Somalaing Pardede melakukan aksi pengorganisasian hamalimon. Sisingamangaraja XII sebelumnya lebih mempercayainya sebagai penasehat perang. Ajaran Guru Somalaing makin mengkristal. Sebelumnya Raja Sisingamangaraja XII sudah mengetahui ajarannya ada dipengaruhi kepercayaan Romawi oleh Modigliano dengan penambahan tokoh spiritual Patuan Raja Rum, dan tidak mendapat restu. Gerakan spontan ini mengakibatkan beliau ditangkap dan dibuang.

Setelah Raja Sisingamangaraja XII diumumkan gugur 17 Juni 1907 dalam perjuangan melawan penjajah, tanah batak berduka, ada yang pesimis dan ada yang optimis. Yang pesimis mengikuti jejak penjajah, dan yang optimis tetap melakukan perjuangan mempertahankan hak dan kebebasan.



PELEMBAGAAN UGAMO MALIM


Ugamo diartikan suatu kumpulan orang yang melakukan aksi membentuk hubungan dengan Penciptanya. Raja Mulia yang menerima amanah sedikit ragu atas kemampuannya, hingga beliau ditemui oleh seorang sosok yang kumal. Beliau menagih janji untuk melembagakan hamalimon yang disebut UGAMO MALIM. Ketika Raja Mulia hendak mengucapkan kata pernyataannya siapa diri yang menemuinya, beliau spontan menghentikan dan mengenalkan diri “Nasiakbagi” tidak memiliki harajaon, dan harta benda serta kampung halaman.

Raja Mulia bersedih, karena harus memperkenalkannya “sahabatnya” (didepan umum disebut sahabat, namun dalam pengakuannya adalah sebagai guru, raja dan MALIM) seperti, marga Simatupang, teman pedagang, teman main judi dan lain sebagainya. Para pengikutnya menyebut Nasiakbagi lebih terhormat menjadi “Raja Nasiakbagi”. Apa yang diamanatkan Sisingamangaraja XII sebelumnya itu juga dituntut pelaksanaannya.

Munculnya Raja Nasiakbagi semakin menguatkan keyakinan Raja Mulia Naipospos akan pesan yang telah diamanatkan Raja Sisingamangaraja sebelumnya. Raja Nasiakbagi menyerahkan konsep pengorganisasian dan ajaran Ugamo Malim sesuai dengan apa yang diterimanya dari Raja Sisingamangaraja. Raja Nasiakbagi selalu menolak apabila dirinya dianggap sosok Raja Sisingamangaraja XII ataupun penjelmaannya. Beliau selalu mengatakan bahwa Sisingamangaraja sudah berada disisi Mulajadi Nabolon.

Gayus Hutahaean dengan semangatnya menyebarkan informasi bahwa Raja Sisingamangaraja XII hidup dan jalan bareng dengan Raja Mulia Naipospos menyebabkan dia ditangkap pemerintah Belanda dan dibuang. Sejak itu tidak ada yang berani membicarakan Raja Sisingamangaraja.

Penjajah dan kroninya mencurigai langkah Raja Mulia dan sosok “Nasiakbagi” dan melakukan fitnah dan pengejaran. Raja Mulia dipenjara beberapa kali karena tidak menyebut siapa sebenarnya yang menyebut dirinya Nasiakbagi itu. Setelah melihat pola pengajaran dan pengorganisasian yang dilakukan Raja Mulia sudah mapan, akhirnya “Raja Nasiakbagi” meninggalkannya.

Tantangan dan kekerasan banyak dihadapi selama mengembangkan Ugamo Malim. Berbagai tudingan dan sebutan dilontarkan tidak dijawab. Ada yang menyebut mereka sama dengan kelompok Parhudamdam, ada yang menyebut Parsitengka ada yang menyebut Agama Sempalan dari berbagai Agama, ada yang menyebut Animisme, ada yang menyebut Sipelebegu atau Pelbegu. Sebagian lagi menyebut mereka Parugamo, dan ada yang menyebut Parsiakbagi. Semua sebutan itu tidak dibantah, karena mereka yang berkuasa saat itu lebih dominan diterima publik. Ada kepentingan mereka untuk memberikan stigma buruk kepada kelompok ini agar tidak ada yang mengikuti atau bila mungkin ditinggalkan para pengikutnya.Karena mereka adalah par-Ugamo Malim maka lebih lajim disebut menjadi Parmalim.


Mereka sering dipaksa memberikan sumbangan pembangunan gereja. Pernah mezbah persembahan Parmalim di Hatinggian dirampas dan dirobohkan atas perintah Raja Ihutan yang diangkat Penjajah. Pemerintah kolonial akhirnya memberi izin kepada Kelompok Parmalim yang dipimpin Raja Mulia Naipospos untuk mendirikan BALE PASOGIT tempat peribadatan di Hutatinggi yang dikeluarkan controleur van Toba tahun 1921.


STRATEGI PENGEMBANGAN

Raja Sisingamangaraja dan raja Nasiakbagi menanamkan motto bagi para pengikutnya untuk menerima perkembangan tanpa mengorbankan nilai spiritual Batak. Motto ini dikenal dengan : Parbinotoan Naimbaru, Ngolu Naimbaru, Tondi na marsihohot.


Parbinotoan Naimbaru: Menerima perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi demi peningkatan kualitas sumber daya manusia.


Ngolu Naimbaru: Menerima perkembangan jaman untuk meningkatkan kesejahteraan dan peradaban, tanpa melanggar etika sosial sesuai tuntunan ajaran Ugamo Malim.


Tondi na Marsihohot: Tetap bertaqwa kepada Tuhan Debata Mulajadi Nabolon melalui ajaran Sisingamangaraja - Raja Nasiakbagi tanpa dipengaruhi ajaran keyakinan agama lain.


Parmalim menyongsong masa depan, tak pernah surut melakukan pedoman dan ajaran yang dianut walau mengalami banyak hambatan external dan internal. Para tokoh Parmalim menolak mengikuti pendidikan mission kepada anak-anaknya karena harus dibaptis kristen. Raja Mulia harus menjalankan amanah, pendidikan harus dilakukan. Anak tunggalnya Raja Ungkap disekolahkan ke sekolah independent yang dikelola pendidikan Inggeris di Tambunan yang berbasis di Singapura. Tidak diwajibkan menganut agama tertentu.

Semula Raja Ungkap dianggap para tokoh Parmalim akan menjadi lawan setelah menerima pendidikan modern dan pergaulan dengan orang asing. Raja Mulia sebelumnya banyak menerima hujatan dari para rekan seperjuangannya karena masalah pendidikan itu.Raja Ungkap membuktikan sebaliknya. Walau tidak terlalu mulus, beliau mendirikan Sekolah Parmalim (Parmalim School) tanggal 1 November 1932. Sejak itu banyak anak Parmalim mendapatkan pendidikan.

Penganut Agama Batak tempo dulu banyak ditarik menjadi Kristen melalui pendidikan yang dikelola mereka. Pada umumnya para Parbaringin tidak setuju dengan pengorganisasian Ugamo Malim (Parmalim) akhirnya terlindas dengan jaman. Dengan dibukanya sekolah Parmalim generasi baru dibangun. Inilah sejarah awal dimulainya Parmalim baru yang lebih cerdas. Pendidikan misi Kristen tidak memberi pengaruh pencerdasan generasi Parmalim yang ada saat itu dan sekarang.

Raja Mulia Naipospos menyerahkan tahta kepemimpinnan kepada putra tunggalnya Raja Ungkap Naipospos pada tahun 1956. Raja Ungkap sebelumnya sudah mengalami pahit getir penggemblengan diri dari Raja Mulia ayahandanya sendiri. Raja Ungkap adalah generasi kedua dan pertama sekali menerima pendidikan sekolah. Beliau menguasai Bahasa Inggeris, Belanda dan Jepang.

Dengan berpedoman kepada prinsip parbinotoan naimbaru (ilmu pengetahuan baru), ngolu naimbaru (hidup lebih sejahtera) tondi na marsihohot (kepercayaan yang teguh), beliau melanjutkan apa yang telah dibentuk dan dirintis Raja Mulia.


Beliau juga memimpin misi penguatan ajaran Ugamo Malim bagi para pemeluknya yang berpusat di Sait Ni Huta, Uluan. Gerakan itu juga meningkat hingga mencari peluang kehidupan yang lebih baik dengan gerakan manombang. Mereka mencari peluang kehidupan baru di daerah Sumatera Timur – Simalungun tepatnya daerah Bah Jambi. Disana berdiri sebuah perkampungan khusus untuk Parmalim dan disebut Kampung Malim. Sejak itu, Parmalim menyebar dari Toba ke daerah subur Sumatera bagian Timur.Langkah itu, telah memperkuat kesatuan (kelembagaan), kemandirian, kedamaian, dan kekuatan iman Parmalim.


Pendidikan dan pemanfaatan peluang kehidupan, kewirausahaan bukan ajaran baru bagi Parmalim yang sampai saat ini sudah banyak menghasilkan SDM dan berperan di berbagai kegiatan, pemerintahan maupun swasta.


Masyarakat umum tidak dapat lagi mengenal Parmalim dalam pandangan yang kaku seperti sosok dukun, berjambang, makan sirih, pakai tongkat, ikat kepala, pakai ulos, bau kemenyan, ahli nujum dan lusuh. Image itu sejak lama dipraktekkan kelompok tertentu dan menganggap Parmalim merupakan obyek yang perlu diselamatkan dan digiring kehadapan Tuhan menurut cara mereka. Sampai saat ini pemahaman ini masih ada, dan sejak masa pembentukan wujud Parmalim yang lebih maju dan mandiri itu, sebaliknya masih banyak orang menganggap Parmalim sudah punah.

Pernah sekelompok mahasiswa Sekolah tinggi Agama dari Tarutung berkunjung ke Pusat Parmalim di Hutatinggi. Mereka berpikir akan berhadapan dengan sosok manusia berjambang, makan sirih, pakaian serba hitam, bau kemenyan dan asesori rumah tinggal dipenuhi patung-patung berhala dan tunggal panaluan. Katanya itu dari refrensi mata kuliah mereka.

Berfoto bersama di depan bangunan baru Bale Pasogit Agama Malim di Huta Tinggi Laguboti Toba Samosir bersama (dari kiri ke kanan): Monang Naipospos, Petrus Sitohang, Bonar Siahaan dan Haji Imran Napitupulu (Foto: Hasudungan Rudy Yanto Sitohang).

Friday, January 22, 2010

POST MORTEM SKANDAL BANK CENTURY, WHAT NEXT?


Oleh: Petrus M. Sitohang

Selama satu bulan terakhir ini, sebagian besar perhatian kita dan mungkin juga bangsa ini, tersedot oleh skandal Bank Century yang sangat memalukan ini.

Saya sebut memalukan karena setidaknya untuk tiga alasan di bawah ini:

1. Skandal semacam ini sudah pernah terjadi sebelumnya di tahun 1997 yang terkenal dengan kasus BLBI. Kasus BLBI muncul ke permukaan setelah Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) memaparkan hasil auditnya pada 31 Desember 1999. Laporan itu menyebutkan terdapat penyimpangan penyaluran dana BLBI sebesar Rp 138,4 triliun. Dan terdapat penyimpangan dana BLBI yang diterima oleh 48 bank sebesar Rp 80,24 triliun. Sementara laporan audit kinerja Bank Indonesia per 17 Mei 1999 menyebutkan total BLBI yang telah disalurkan sebesar Rp 164,536 triliun rupiah. Dalam perkembangannya, skandal BLBI itu mencapai Rp 650 triliun.

Terulangnya kasus ini, setelah 10 tahun kemudian menandakan pengelola negara ini, memang bebal untuk belajar dari kesalahan di masa lalu.

2. Kasus ini nampaknya sengaja ditutupi dengan rapih selama masa kampanye pemilu legislatif dan pemilu presiden yang baru lalu. Saya jadi ragu, seandainya kasus ini diungkap sebelum kampanye Pemilu yang lalu hasilnya kemungkinan besar akan sangat berbeda. Tapi saya tidak ingin membahas praduga ini pada kesempatan ini;

3. Skandal ini memberi kita gambaran yang sangat jelas bahwa Presiden SBY tidak melakukan apapun sebagai bukti yang sungguh-sungguh seperti janji kampanye dan pelantikannya untuk membangun good governance pada periode kedua kekuasannya dengan memimpin sendiri pemberantasan korupsi kolusi dan nepotisme.

Alih-alih dia mempercepat proses pengungkapannya, dia membiarkan Partai yang dibinanya memperolok-olok proses dan kerja Panitia Khusus Hak Angket DPR untuk kasus ini.

Sekadar mereview proses pengungkapan skandal ini, sekarang kita dihadapkan pada beberapa fakta berikut ini:

1. Masalah ini sesungguhnya sudah mulai masuk ke ranah penegakan hukum sejak Robert Tantular di tangkap oleh Polri pada bulan November 2008 atas perintah langsung Wapres saat itu Jusuf Kalla. Bahkan pegadilan sebenarnya sudah memberikan vonis penjara 4 tahun kepada Robert Tantular dan sekarang yang bersangkutan sudah meringkuk dalam penjara.

2. Badan Pemeriksa Keuangan yang oleh UUD 1945 ditetapkan sebagai lembaga tinggi negara yang tugasnya untuk melakukan pemeriksaan pengelolaan keuangan negara pun sudah melakukan tugasnya memeriksa kasus ini dan menyampaikan laporannya yang menyimpulkan telah terjadi penyimpangan dalam penangan skandal ini yang telah berpotensi merugikan negara.

3. Panitia Khusus Hak Angket DPR RI yang dibentuk untuk menindaklanjuti laporan hasil pemeriksaan BPK tersebut sudah bekerja sejak awal bulan Januari 2010 dan hingga kini sudah memeriksa banyak saksi termasuk saksi kunci dalam skandal tersebut seperti mantan Wapres Jusuf Kalla, 2 mantan Gubernur BI termasuk yang saat ini menjadi Wapres Budiono, Menteri Keuangan Sri Mulyani dan banyak pejabat lainnya yang terlibat dalam proses bail out Bank Century yang menjadi awal penggelontoran uang negara yang mencapai lebih Rp. 6,7 trilyun itu.

Apa yang kita saksikan selama proses pemeriksaan saksi-saksi oleh Pansus Bank Century adalah terbelahnya pandangan para saksi kunci mengenai kejadian tersebut. Sebagian membenarkan tindakan Bank Indonesia dan Komite Stabilitas Sistim Keuangan menetapkan bank Century sebagai bank gagal yang berdampak sistemik, sebuah syarat yang diperlukan untuk LPS menyalurkan dana talangan yang semula diperkirakan hanya berjumlah Rp. 600an milyar tetapi dalam perjalanannya membengkak menjadi Rp. 6,7 trilyun. Para saksi dan ahli lain menyebutkan keputusan itu jelas keputusan yang salah, tidak mempunyai dasar hukum yang rasional yang cukup, dan oleh karena itu, meminta pertanggungjawaban mereka-mereka yang terlibat dalam pengambil keputusan tersebut.

Sampai di sini kita kemudian bertanya-tanya, lalu apa selanjutnya? Membayangkan bahwa masalah ini akan dituntaskan oleh Pansus Angket DPR Bank Century nampaknya ibarat jauh panggang dari api. Partai Demokrat yang dengan koalisinya menguasai mayoritas parlemen saat ini jelas sekali tidak ingin hasil Pansus ini memberi tamparan keras pertama kepada kabinet Indonesia Bersatu Jilid II. Resikonya terlalu besar. Keputusan Pansus yang menguatkan laporan hasil pemeriksaan BPK jelas akan membawa dampak bola salju hingga yang paling ekstrim boleh jadi pembatalan hasil pemilu legislatif dan pemilu presiden 2009.

Saya bukan orang yang pada dasarnya pesimis. Tetapi mengharapkan Pansus Hak Angket DPR untuk bisa memberi review yang obyektif atas pertanggungjawaban para pejabat yang terlibat dalam pengambilan keputusan bailout dan pengucuran dana talangan ini yang menghebohkan ini saja, saya sangat pesimis. Kita bisa saja melihat selama proses, bahwa bahkan beberapa anggota-anggota Pansus yang berasal dari partai koalisipun condong untuk mendukung laporan hasil pemeriksaan BPK, namun dalam proses pengambilan keputusan akhir kerja Pansus antinya, saya sangat yakin mereka akan tunduk pada keputusan partai mereka masing-masing yang sejauh ini tidak menunjukkan tanda-tanda untuk meninggalkan koalisi bersama Partai Demokrat dalam kabinet.

Yang maksimal bisa dihargai dari kerja Pansus Angket Bank Century sejauh ini ialah mereka telah memberi kesempatan kepada khalayak luas untuk melakukan review yang obyektif atas kinerja pengelolaan keuangan negara ini yang sangat amburadul dan melihat kualitas pribadi dan kompetensi para pejabat pemegang otoritas keuangan dan moneter negeri ini ketika menghadapi kasus ini pertama kali. Kita jadi tahu siapa dan bagaimana karakter Jusuf Kalla, Budiono, Sri Mulyani, Miranda Gultom, Aulia Pohan dan lain-lainnya.

Untuk tujuan ini keputusan Pansus Hak Angket Bank Century membuka rapat-rapatnya kepada publik merupakan sebuah langkah yang sangat patut kita hargai.

DPR memang bukan badan yang dimaksudkan untuk menuntaskan sebuah skandal. DPR sejatinya adalah lembaga perwakilan rakyat yang tugas pokok dan fungsinya adalah pembuatan UU, Pengawasan dan Penganggaran.

Kita mempunyai institusi negara untuk melakukan penyidikan yang tuntas untuk kasus ini yaitu Kepolisian, Kejaksaan dan KPK. Tetapi karena skandal ini sudah sedemikian luas menyedot perhatian bangsa ini dan agar tugas-tugas rutin Polisi dan Kejaksaan dalam mengungkap kejahatan-kejahatan yang umum tidak terganggu, rasanya hanya kepada Komisi Pemberantasan Korupsilah kita kini bisa berharap untuk mengungkap siapa yang sesungguhnya bersalah dalam skandal ini dan mengajukannya ke meja hijau agar memberi hukuman yang pantas bagi para pelaku kejahatan ini demi tegaknya keadilan di negeri ini.

Dan rasanya KPK seharusnya sudah harus segera mempercepat proses penyidkian masalah ini sejak kemarin.

Petrus M. Sitohang, akuntan lulusan Universitas Brawijaya Malang, Ketua INGGRID (Institute for Good Governance in Indonesia)

Thursday, January 14, 2010

HARI INI P. RANTINUS MANALU, Pr. (PEJUANG HAM TAPTENG) DIPERIKSA LAGI DI MAPOLDASU


Oleh: Limantina Sihaloho

Hari ini, 14 Januari 2010, Pejuang HAM Tapanuli Tengah, Pastor Rantinus Manalu Pr dari Komisi Justice and Peace Keuskupan Sibolga, kembali menghadap kepolisian negara di Markas Besar Kepolisian Sumatera Utara (Mapoldasu). Ini pemeriksaan kedua terhadap Pastor Rantinus dengan tuduhan merambah hutan register 47 di Barus Utara, Tapanuli Tengah (Tapteng). Dinas Kehutanan dan Perkebunan Tapteng melaporkan Pastor ini bersama dengan Robinson Tarihoran (Ketua Kelompok Tani Rap Martua di Barus Utara) sebagai tersangka tindak pidana tanpa ada berita pemeriksaan acara (BAP). Tiba-tiba saja langsung menjadi tersangka tindak pidana.

Menjadikan Pastor Rantinus Manalu menjadi tersangka merupakan sebuah rekayasa memalukan yang dilakukan oleh negara melalui jajaran aparatur negara di republik ini. Jajaran aparatur ini merupakan gurita-gurita kecil yang menghadirkan dirinya bak domba tetapi sebenarnya serigala; serigala berbulu domba.

Pastor Rantinus Manalu menghormati kemanusiaan semua pihak, baik anggota masyarakat di lapisan yang paling miskin sampai ke lapisan yang paling kaya; petani, pegawai negeri, polisi, tentara, bupati, gubernur, presiden, dll. Salah satu tugas dan tanggung jawabnya sebagai pastor adalah mengembalikan kemanusiaan yang rusak dan hilang dalam diri sesamanya, siapapun itu.
Kalau negara melalui pemkab dan kroni-kroninya menyerobot tanah rakyat miskin dengan memanipulasi kebodohan dan ketidakberdayaan mereka ini jelas berarti bahwa negara melalui aparat-aparatnya sedang melakukan nihilisasi terhadap rakyat. Menyerobot tanah rakyat sama artinya dengan memiskinkan dan membunuh mereka pelan tapi pasti.

Kemiskinan akan melahirkan kemelaratan lahir dan batin yang harganya untuk jangka panjang sangat mahal: anak-anak kurang gizi, tidak bisa sekolah dan miskin secara kultural, politik dan sosial. Fenomena seperti ini sangat berbahaya bagi sebuah bangsa. Itu sebab Pastor Rantinus Manalu dengan segala daya upaya berjuang melawan nihilisasi kemanusiaan terhadap sesamanya lebih-lebih lagi yang berada di lapisan paling bawah khususnya di masyarakat Tapanuli Tengah.

Di Tapanuli Tengah seperti juga di banyak tempat di Indonesia ini dan juga di berbagai negara adalah nilai-nilai kemanusiaan yang semakin pudar bahkan hilang dalam diri banyak manusia terutama lagi dalam diri pihak-pihak yang seharusnya bekerja melayani sesama. Fungsi pemerintah adalah melayani bukan dilayani seperti banyak terjadi dalam masyarakat kita. Fungsi semua aparatur negara adalah melayani masyarakat - membuat sistem pemerintahan menjadi bersih demi kepentingan bersama. Hanya ini jaminan agar kita bisa maju dan menegakkan kepala sebagai manusia dan bangsa yang bermartabat.

Apa yang berlangsung di Tapanuli Tengah? Wilayah ini begitu terpencil - infrastruktur tidak memadai, jarang menjadi liputan media apalagi media nasional kecuali kalau terjadi peristiwa-peristiwa sangat penting. Media dalam waktu belakangan ini lebih banyak fokus menyoroti aktor-aktor pemerintahan di Jakarta yang juga tak becus mengurus negara ini. Hanya untuk mengetahui ke mana dana 6,7 triliyun saja dan siapa yang menerima sampai berbulan-bulan nggak beres. Bagaimana lagi mau mengurusi warga di daerah seperti di Tapteng?

Negara melalui aparat-aparatnya tidak bisa terus-menerus bertindak arogan. Masyarakat sudah bosan dikelabui. Akan selalu ada pejuang-pejuang yang bahkan siap mati demi memperjuangkan hak-hak dasar dan azasi sesamanya. Sejarah dengan jelas telah mencatatkan orang-orang ini hanya saja, aparat-aparat negara terutama mereka yang berada di pucuk-pucuk pimpinan lupa bahwa begitu adanya. Sejarah tak menghormati para pemimpin yang zalim tetapi menghormati para pemimpin yang berjuang bagi kepentingan sesamanya, yang berjalan di jalan keadilan dan kebenaran.

Tahun lalu, sudah ada gelagat jelas bahwa pemerintah Tapteng hendak memberikan lahan di Molhum ini kepada investor untuk ditanami kelapa sawit. Warga pemilik lahan ini menolak karena mereka tahu mereka akan rugi dan tidak ada jaminan yang jelas bahwa negara akan peduli pada hak-hak mereka sebagai warga negara di republik ini.

Melalui Kelompok Tani “Rap Martua” dengan koordinator Robinson Tarihoran, mereka meminta bantuan kepada Keuskupan Sibolga yang salah satu tugas dan tanggung jawabnya sebagai institusi keagamaan adalah mendorong masyarakat untuk hidup lebih baik. Kalau warga tak punya sumber perekonomian yang layak dan memadai, ini sama saja artinya dengan mereka kehilangan sebagian kemanusiaan mereka secara signifikan.

Perjuangan Pastor Rantinus Manalu Pr dan rekan-rekannya di Tapteng adalah mengembalikan hak-hak dasar dan azasi warga di sana. Harusnya negara berterimakasih dan mendukung bukan malah mengkriminalisasikan atau meneror mereka: rumah aktivis Forum Pembela Tanah Rakyat, Edianto Simatupang dibakar sampai ludes, saat aksi damai di Medan tahun lalu dia ditikam; rumah orang tua Robinson Tarihoran dibakar pada hari Minggu, untung ada orang-orang yang sedang duduk di warung melihat kepulan asap membumbung sehingga rumah tidak dihanguskan semuanya oleh api. Berbagai macam cara dilakukan untuk menghentikan para pembela orang miskin dan pejuang HAM dari Tapteng ini tapi para pejuang ini tidak akan berhenti, mati pun mereka sudah siap kalau perlu.

Pemerintah yang arogan dan menodai keadilan dan kebenaran toh akan ambruk sendiri, cepat atau lambat; sudah hukum alam, maka belajarlah! ***

Limantina Sihaloho, seorang Pendeta, tinggal di Pematang Siantar


Catatan: Artikel ini diposting ulang dari blog KOMPASIANA atas ijin penulis.

Petrus M. Sitohang , Pariwisata Dan Kelautan Bisa Jadi Motor Pertumbuhan Ekonomi

KEPRIONLINE.CO.ID,TANJUNGPINANG,- Provinsi Kepulauan Riau dikenal kaya akan sumber daya alam. Letaknya yang juga sangat strategis memun...