Saturday, February 20, 2010

PEREMPUAN BATAK ITU, SEJATINYA MAHAL DAN TERHORMAT


Oleh: Suhunan Situmorang

MENURUTKU, tak seluruhnya benar anggapan atau pendapat yang mengatakan bahwa perempuan menjadi inferior dalam sistem sosial masyarakat Batak--dan sebaliknya, lelaki, berposisi superior. Benar, etnis Batak menganut garis patrinial, namun tak berarti hak dan kedudukan perempuan jadi tereduksi oleh sistem tersebut secara ekstrim.

Baiklah kita amati dan buktikan dalam aktivitas kehidupan maupun hajatan adat. Peran serta perempuan begitu aktif. Bahwa perempuan menjadi 'parhobas' dlm acara adat, itupun harus dilihat posisinya dalam acara itu. Bila ia, misalnya, berkedudukan sebagai 'paniaran' atau 'hula-hula' (istri tulang, istri saudara laki-laki), tentu ia tidak dibolehkan 'marhobas' (yang mengurusi pesta atau hajatan, termasuk melayani tetamu), sebab dianggap tidak pantas karena tugas tersebut merupakan kewajiban perempuan (yang sudah menikah atau masih lajang) yang berstatus 'boru' dalam kenduri adat tersebut.

Para 'paniaran' atau 'nantulang' maupun 'eda' (ipar perempuan), dipersilakan duduk manis di tengah hajatan, tidak usah menyampuri dapur atau harus ikut melayani tetamu. Tetapi di hajatan lain, di mana ia tengah berposisi sebagai 'boru', tugas 'marhobas' itu sewajarnyalah ia lakukan, itu pun bukan suatu hal yang imperatif atau memaksa, sebab bila misalnya ada boru yang enggan terlibat, toh dibiarkan saja--paling disindir para kerabatnya

Artinya, sistem adat Batak sebetulnya 'fair', 'just', memberi giliran bagi seseorang: di mana ia menjadi "bos" dan kapan jadi "pelayan". Jangan salah pula, meski kedudukannya saat itu sebagai 'boru', ia pun harus diperlakukan dengan baik (dielek), ada jambar untuk mereka (hak adat, bisa berupa daging, kata sambutan/tanggapan, dll), juga ikan (dengke). Bila boru ngambek, misalnya, hajatan (ulaon) bisa terancam gagal! Jadi, tak boleh main-main atau meremehkan boru (dan suaminya).

Lalu, ini menurutku yang amat menarik dan sebaiknya diketahui oleh semua perempuan Batak. Begitu ia resmi menikah maka statusnya tidak saja istri (parsonduk bolon) tapi juga kedudukannya otomatis akan setara dengan mertuanya, menjadi "ibu kedua" bagi adik-adik suaminya, dan menjadi 'paniaran' atau 'ibu' bagi komunitas marga.

Dengan kata lain, sekali ia menikah, ada empat kedudukan yang dimilikinya--termasuk jadi ibu bagi anak-anak kandungnya. Sedemikian berarti dan terhormatnya perempuan bagi masyarakat adat Batak hingga orangtua yang paham adat dan tata krama ala Batak, jauh-jauh hari sudah menyiapkan anak gadisnya agar bisa mendekati standar perilaku yang dianggap ideal yang disebut 'boru ni raja' itu.

Aku tak bermaksud menjadi chauvinistik, tapi mana ada suku-bangsa di dunia ini yang menempatkan posisi perempuan (menikah) sedemikian penting sebagamana disebutkan di atas?

***
ADA pula anggapan atau persepsi yang keliru tentang makna 'sinamot' (semacam mahar), sebetulnya bila dipahami secara benar, sinamot bukanlah 'uang jual-beli' seorang boru! Itu semacam balasan atau imbalan yang dianggap sepatutnya diberikan pihak laki-laki (paranak) kepada orangtua calon istri: sebagai bukti bahwa boru mereka akan 'dirajakan' atau dihormati dengan cara dijadikan istri bagi anak lelaki pihak yang meminang, atau akan jadi menantu untuk orangtua lelaki dan kelak menjadi 'paniaran' bagi marga sang lelaki.

Zaman dulu, ketika uang belum dikenal, sinamot itu lazim diberi berupa ternak yang dianggap berharga mahal: kerbau, sapi, kuda. Jumlahnya tergantung kesepakatan dan kemampuan pihak laki-laki atau permintaan pihak perempuan, bisa 30 ekor kerbau tapi bisa pula satu ekor--di luar ternak yang akan dipotong untuk keperluan pesta.

Yang mengajukan dan melakukan tawar-menawar atas sinamot itu pun tidak boleh orangtua si perempuan kandung, tapi dilakukan oleh adik-kakak dan kerabat si bapak. (Karena itu disebut: pamarai, harafiahnya, yang ditugaskan melihat sinamot berupa kerbau atau sapi tersebut ke 'bara ni jabu' atawa kandang ternak itu).

Itu ada maknanya: untuk menjaga harga diri bapaknya si boru! Kenapa harus dijaga? Sebetulnya, mengawinkan seorang boru bukanlah peristiwa biasa bagi kedua orangtuanya--terutama bagi ayahnya. Sesungguhnya ada dilema yang amat dahsyat dalam batin sang bapak melepaskan boru-nya namun tak diungkapkan. Umumnya terbilang berat bagi setiap bapak untuk melepas boru-nya ke keluarga lain, barangkali karena secara emosional seorang ayah lebih dekat dengan anak perempuannya ketimbang pada anak lelakinya; di sisi lain bila boru-nya tidak menikah akan dianggap salah juga, sebab selain akan jadi gunjingan, diharapkan pula 'hagabeon' itu diberikan boru-nya (berketurunan).

***
KARENA perempuan yang sudah menikah telah menjadi ibu bagi keluarga suaminya, juga 'paniaran' untuk marga suaminya, maka tentu ia harus mendahulukan keluarga dan klan suaminya. Warisan yang berhak dan sepatutnya ia dapatkan pun dari kakek-mertuanya, bukan lagi dari orangtua kandung atau dari ompung-nya. Yang berhak atas harta-benda orangtua kandungnya ialah: perempuan yang kemudian menjadi istri saudara lelakinya.

Bila ternyanya mertuanya tidak punya banyak harta sebagaimana orangtua kandungnya, apa boleh buat, itu sudah pilihannya. Dan, bukankah keagungan sebuah pernikahan bukan karena faktor harta? Demikian pun, anak perempuan tetap boleh mendapat harta warisan dari orangtua kandungnya (bila ada dan diberikan secara sukarela), yang disebut 'pauseang' (lazimnya: sawah, ladang).

Dengan penjelasan secara umum di atas, lalu apa alasannya sepupumu itu menganggap kedudukan perempuan Batak inferior di tengah komunitasnya? Nampaknya, ia hanya tidak paham saja, dan itu bukan karena kesalahannya belaka, melainkan: orangtuanya yang tidak secara baik menjelaskan makna adat dan kedudukan perempuan bagi masyarakat beretnis Batak, yang sesungguhnya amat mahal dan berharga itu.

Bila dalam realitasnya banyak perempuan Batak yang harus banting tulang atau kerja keras mencari nafkah dan menyekolahkan anak-anaknya sementara suaminya lebih suka nongkrong di kedai kopi/lapo tuak, itu karena penyimpangan! Bukan anutan adat atau pandangan hidup masyarakat Batak.

Sejatinya, atau idealnya, lelaki Batak itu seseorang yang tangguh, mampu menempatkan dirinya laksana pohon rindang (hau nabolon) bagi istri-anak, orangtua, sanak-saudara, dan kerabat marganya. Dari situlah tumbuh harkat, martabat, dan harga dirinya sebagai 'anak ni raja'. ***

________________

Suhunan Situmorang, seorang Lawyer dan Partner pada Firma Hukum Wahyu Nugroho Jakarta, juga seorang penulis novel dan cerpen bertema etnik Batak Toba.

Catatan: Artikel ini dikutip dari Facebook account Suhunan Situmorang yang mendapat tanggapan luas dari pemerhati adat istiadat Batak.