Saturday, March 13, 2010

KRISIS LISTRIK PLN, MANA PEDULIMU?


Saya hanya seorang warga negara biasa yang tinggal di sebuah pulau tidak terkenal di propinsi yang mungkin juga tidak begitu diperhitungkan di Indonesia. Seringkali ini membuat perasaan minder untuk mengambil inisiatif mengajak saudara sebangsa yang lain untuk memperdulikan sesuatu apalagi sampai ke taraf menggalang solidaritas publik.

Tetapi krisis listrik ini membuat saya harus keluar dari perasaan minder yang sering mengganggu tersebut. Ya. Krisis listrik. Betul-betul krisis. Sekarang di Tanjungpinang setiap hari mengalami pemadaman listrik PLN minimal dua kali sehari.
Saya menetap di Tanjungpinang sejak tahun 2005. Pindah dari sebuah kawasan yang seluruh infrastrukturnya dibangun oleh swasta yang bernama Bintan Resort. Listrik dan air bersih dihasilkan oleh Utilities Operation Division milik perusahaan tersebut. Kecuali jaringan tegangan tinggi, jaringan listrik ke kompleks perumahan berada dibawah tanah. Dan bukan itu yang paling berkesan. Bagian power house biasanya memberitahukan minimal satu minggu sebelumnya kalau akan melakukan pemadaman untuk sesuatu keperluan yang tidak terhindarkan seperti perawatan berkala. Selama sembilan tahun tinggal di sana saya tidak pernah mengalami kegelapan yang tiba-tiba menyergap di waktu malam.
Ketika pindah ke Tanjungpinang, saya mulai berkenalan dengan pelayanan PLN. Mulai dari urusan pendaftaran pasang baru, permohonan peningkatan daya dan lain sebagainya. Kesan saya, kecuali saat membayar pemakaian bulanan, urusan dengan PLN selain harus menarik isi kantong dalam-dalam juga disertai tarikan napas yang dalam-dalam.
Itu tidak seberapa. Saya juga mulai berkenalan dengan kebijakan baru saat itu yang namanya pemadaman berjadwal. Waktu itu di mulai dengan istilah tiga satu, artinya dalam tiga hari sebuah wilayah akan mengalami pemadaman satu kali. Waktu itu jadwal pemadaman terjadi siang hari. Waktu selebihnya aliran listrik akan berjalan normal...Kecuali ada hujan besar apalagi disertai petir. Saat-saat begitu kita harus maklum jo...Itu so pasti padam beberapa puluh menit.
Sebagai warga biasa saya berpikir saat itu pihak PLN mestinya sudah memikirkan jalan untuk mengantisipasi agar situasi itu tidak terulang. Tapi apa lacur? Ketika para pelacur resmi di Tanjungpinang perlahan-lahan bisa dikurangi jumlahnya hingga sama sekali tidak ada lagi, layanan pemadaman PLN bukannya berkurang. Alih-alih malah bertambah. Kalau awal-awalnya cuma tiga satu...maka tahun berikutnya frekuensi pemadamannya menjadi dua satu...kemudian satu satu. Kalau tadinya jadwalnya hanya siang hari, sejak tiga tahun yang lalu sudah mulai malam hari. Dan hebatnya sejak tahun yang lalu jadwal pemadamannya sudah seperti jadwal makan, pagi, siang dan malam. Dan belakangan ini jadwalnya malah sudah seperti jadwal makan obat...tiga kali pemadaman sehari minimal dua jam sekali padam.
Untuk informasi saja, kemarin hari Kamis, 11 Maret ketika saya pulang ke rumah jam 5 sore listrik baru hidup kembali setelah sebelumnya padam selama 3 jam lebih. Hanya dalam tempo kurang dari 4 jam listrik padam lagi. Sialnya, saat itu saya sedang kedatangan tamu dari Jakarta. Dia harus menerima suguhan sergapan kegelapan tiba-tiba. Ketika saya tanyakan kepadanya apakah di Jakarta mengalami masalah pemadaman listrik bergilir, dia menjawab tidak. "Mungkin karena tempat tinggal kami termasuk kawasan Ring 1 ibukota." Dia menyebutkan alamatnya tinggalnya di kawasan Menteng yang berada dalam kawasan dekat Istana Merdeka Jakarta. "Pantaslah," pikirku. Karena merupakan simbol negara, maka pemadaman listrik yang menjengkelkan, memuakkan dan menyengsarakan jutaan keluarga-keluarga anak bangsa itu tidak boleh terjadi di ring 1 ibukota, tempat dimana nasib negara dan bangsa ini diputuskan.
Saya sering berpikir, mungkinkah petugas PLN di Tanjungpinang tidak pernah mengantisipasi masalah ini ketika pemadaman bergilir sudah terjadi mulai enam tahun yang lalu? Kalau tahun 2004 saja, kapasitas terpasang mesin-mesin PLN di Tanjungpinang sudah mencapai beban puncak, tidakkah saat itu seharusnya PLN mulai merencanakan investasi pengadaan mesin baru atau mencari solusi lainnya seperti menyewa dari pihak swasta? Orang awam dalam hal listrik seperti sayapun tahu bahwa dengan ditetapkannya kota Tanjungpinang menjadi ibukota Provinsi Kepulauan Riau saat itu tentunya akan mengalami pertumbuhan yang jauh lebih cepat karena peningkatan aktivitas pemerintahan provinsi dan pemerintahan kota berada di kota ini. Tapi anehnya seperti saya katakan sebelumnya boro-boro ada pengurangan jadwal pemadaman listrik, tahun demi tahun selama enam tahun terakhir ini keadaannya malah semakain parah.
Suatu hari seorang tetangga saya meninggal dunia karena usia tua. Sepulang dari pemakaman, seperti lazimnya keluarga muslim, pada malam harinya para kerabat dan sahabat keluarga itu berkumpul di rumah keluarga almarhum untuk melakukan ritual keagamaan yang disebut tahlilan. Dengan doa-doa yang dilantunkan para kerabat dan sahabat saat tahlilan diharapkan akan dapat mengurangi beban duka nestapa yang dialami oleh isteri, anak-anak dan anggota kerluarga yang ditinggalkan almarhum. Kata pepatah untung tak dapat diraih malang tak dapat ditolak. Baru saja para kerabat dan sahabat keluarga itu memulai doa-doa bersama dalam acara tahlilan itu, listrik tiba-tiba padam.
Dengan penerangan lampu listrikpun sebenarnya suasana seperti itu pasti sudah membawa perasaan duka yang dalam. Apalagi tanpa penerangan listrik sama sekali, pastilah akan menambah kelam suasana rumah dan keluarga serta yang ada di rumah itu. Di tengah-tengah suasana gelap dan kelam saat itu, saya memperhatikan beberapa diantara para kerabat dan sahabat keluarga itu pelan-pelan beringsut dari rumah itu tanpa permisi kepada tuan rumah yang dukanya dan bebannya semakin bertambah karena pemutusan aliran listrik yang tiba-tiba itu...Saat beringsut itu, beberapa diantara mereka saya dengar seperti berbisik kepada yang lain berkata pelan "Iihhhhh seram sekali pak...Saya gak tahan...mau pulang aja pak".
Saya kira kisah ini hanya salah satu dari ratusan atau mungkin ribuan atau bahkan jutaan kisah-kisah pilu yang dialami masyarakat sebagai akibat langsung dari buruknya pelayanan PLN. Tidak terhitung lagi berapa ratus ikan hias peliharaan dalam aquarium yang tidak mampu bertahan hidup tanpa bantuan supply gelembung udara yang dihasilkan oleh pompa air kecil yang membutuhkan aliran listrik. Entah sudah berapa ribu atau mungkin jutaan alat-alat elektronik rumah tangga yang rusak akibat pemadaman listrik PLN yang tiba-tiba itu; berapa jam kerja kantor yang telah terbuang percuma; berapa ratus rapat penting di instansi pemerintah dan DPRD yang tidak jadi terlaksana atau putus di tengah jalan; berapa ribuan rumah atau bangunan ruko yang baru dibangun yang tidak bisa terpakai karena tidak mendapat sambungan listrik; berapa banyak usaha yang akhirnya gulung tikar karena tidak mampu bertahan; atau berapa banyak perusahaaan kecil yang tidak bisa memulai usaha karena ketiadaan sambungan listrik.
Kalau pejabat-pejabat di Jakarta dan penghuni Istana Negara tidak perduli karena mereka tidak pernah merasakan susahnya akibat pemadaman listrik bergilir dan tiba-tiba; dan kalau para pejabat PLN itu juga tidak perduli dengan keluhan dan derita pelanggannya karena mereka tahu Undang-Undang melindungi eksistensi mereka sebagai satu-satunya perusahaan yang memegang hak monopoli untuk mengalirkan listrik ke rumah-rumah tangga, siapa lagi yang harus peduli? Apakah kita juga tidak mau peduli lagi dan akan menerima begitu saja pasrah pada keadaan ini.
Jika anda menjawab "tidak" maka bergabunglah dengan kami di grup DUKUNG PEMBENTUKAN PANSUS PT PLN DPR RI. Untuk itu klik http://www.facebook.com/group.php?gid=352930746465&ref=mf
Inilah bukti kepedulian minimal yang bisa kita lakukan agar wakil-wakil kita di parlemen mengangkat masalah ini dan mencarikan solusi jangka panjang yang baik.
Kalau nasib beberapa ribu nasabah Bank Century itu saja sudah cukup menjadi alasan DPR RI membentuk panitia khusus (Pansus) dan memberikan waktu serta tenaga yang maksimal untuk membahasnya, tidakkah keluhan dan derita jutaan rumah tangga dan usaha kecil menengah selama enam tahun terakhir karena tidak sanggup mengadakan genset sendiri layak mendapat perhatian oleh sebuah PANSUS DPR RI?
Saya percaya pedulimu akan membantu membuat negeri ini bersinar kembali.


Tanjungpinang, 12 Maret 2010