Friday, December 28, 2012

PESTA 50 TAHUN PERNIKAHAN MARTHIN SITOHANG DAN MARIA PAKPAHAN

Parapat, Sumatera Utara 11 Agustus 1962 - Jakarta 12 Agustus 2012

Saat kami merayakan pesta emas pernikahan orang tua kami ini, ayahku Firman Marthin Sitohang dan ibuku Maria Tionggor Pakpahan di Jakarta 12 Agustus 2012, rasanya seperti meyaksikan sampul sebuah novel dengan kisah "happily ever after" dua insan yang sudah dikarunia 15 cucu dan 1 cicit dari 6 anak-anaknya (4 puteri dan 2 putera).




Tetapi isi dari "novel" itu pasti tidak semuanya kisah bahagia dan indah. Ayah dan ibu kami melalui jalan panjang, berliku dan kadang-kadang mungkin melalui jalan yang terjal sebelum sampai ke bab membahagiakan seperti yang kami rasakan bersama-sama di Jakarta tanggal 12 Agustus 2012 lalu. Mereka mengalami episode berumah tangga yang penuh warna, seperti pada umumnya dialami semua pasangan, sejak mereka mengucapkan janji nikah di Gereja Katolik St. Paulus kota wisata Parapat tepi Danau Toba Sumatera Utara 11 Agustus 1962.


Anak laki-lakiku Patricius Saut Anugerah Sitohang dengan Ibuku Maria Pakpahan
Sampai sekarang ibuku masih menyisakan raut kecantikan masa gadisnya, sesuatu yang mungkin menjadi perhatian utama ayahku saat pertama kali bertemu dengannya. Tetapi di luar itu, ibuku adalah wanita yang kuat, sabar, tegar dan tabah mengarungi kehidupannya yang tidak mudah sejak sepeninggal ibu kandungnya saat dia masih berusia kanak-kanak.

Ayahku adalah pria sederhana dalam penampilan dan tutur kata, sifat yang dalam banyak hal aku teladani. Aku ikuti keyakinannya pada Tuhan, kesetiaan dan ketaatannya pada Gereja Katolik yang Kudus; dan sebagian sifat-sifat baiknya, senang kerapian dan kebersihan dan tidak suka menghabiskan waktu di kedai kopi lama-lama. Meskipun dia tidak memiliki fisik yang terlalu besar, dia tidak takut kalau harus berkelahi dengan siapapun untuk menegakkan kehormatan diri dan nama baik keluarga dan prinsip.

Kesetiaan pada janji pernikahan sampai 50 tahun pastilah berkat istimewa Tuhan bagi kedua orang tua kami ini. Karena tidak banyak pasangan yang sampai pada titik itu. Apalagi mereka berdua melihat dan mengantarkan kami keenam anak-anaknya menempuh mahligai rumah tangga kami masing-masing hingga saat ini.

Oleh karena itulah kami semua sangat bersyukur pada Tuhan, kami sempat mempersembahkan acara syukur ini bagi keduanya. Kami mengucap syukur kepada Tuhan untuk penyelenggaraanNya yang begitu indah untuk mereka berdua dan kami semua anak-anak dan cucu-cucu serta cicitnya.

Kami mengucapkan terimakasih kepada semua saudara kami dan teman-teman mereka berdua yang telah memberikan dukungan perhatian pertolongan dalam berbagai bentuk dan kesempatan kepada kedua orang tua kami selama ini. Semoga Tuhan membalas kebaikan anda semua kepada kedua orang tua kami selama ini dengan berlimpah dan istimewa.

Kami yang berbahagia:

Frisda Ida Sitohang
Petrus M. Sitohang dan isterinya Lenni Purba
Sinur Erlina Sitohang dengan suaminya Jona Hendra Pospos
Benediktus Bone Fery Hasiholan Sitohang dengan isterinya Octaviany Moni
Josephine Juniati Sitohang dengan suaminya Mahesh Silva
Agustina Dien Enrika Sitohang dengan suaminya Eric Primasetio

dan 15 cucu-cucu dan 1 cicit orang tuaku.

No comments: