Saturday, December 29, 2012

SELAMAT DATANG JOKOWI-AHOK, SELAMAT DATANG JAKARTA BARU


Hari-hari sejak pasangan Joko Widodo dan Basuki Tjahaja Purnama atau populer dipanggil Jokowi Ahok mendaftar sebagai peserta pemilihan gubernur dan wakil gubernur (Pilkada) DKI Jakarta awal tahun ini, publik Jakarta dlanda euforia baru. Barangkali setelah era reformasi tahun 1998, inilah semangat yang betul-betul berhasil menular dengan cepat di tengah-tengan masyarakat bawah. Dapat dipastikan semangat yang berhasil "merasuki" masyarakat bawah akan mewabah dengan cepat dan sulit dibendung. Apalagi euforia ini dibantu dengan hadirnya baju desain kotak-kota sederhana yang dijadikan sebagai simbol gerakan. Euforia ini akhirnya bukan hanya melanda Jakarta tetapi seluruh Indonesia. Baju kotak-kota Jokowi akhirnya banyak dipakai orang termasuk di kota saya Tanjungpinang dan pelosok-pelosok lainnya seantero Indonesia.


Euforia Jokowi Ahok ini semakin meningkat ketika pemungutan suara tanggal 11 Juli 2012 diluar dugaan dimenangkan oleh pasangan ini mengalahkan 5 pasangan pesaingnya termasuk pasangan incumbent Fauzy Bowo dan Nachrowi Ramli (Foke Nara). Hasil ini membalikkan prakiraan semua survey yang dibuat banyak lembaga survey terkenal yang menyebutkan pasangan Foke Nara akan keluar sebagai pemenang dengan satu putaran. Keriuhan Pilkada DKI ini semakin meningkat ketika partai-partai pendukung pasangan calon-calon yang yang kalah beramai-ramai merapat ke kubu Foke Nara dalam pemilihan putaran kedua yang harus digelar sesuai peraturan karena tidak satu calonpun mendapatkan suara 50%. Padahal sebelumnya partai-partai itu banyak yang menyerang Fauzy Bowo sebagai gubernur yang gagal menjalankan tugasnya.

Ketika akhirnya pada tanggal 20 September 2012, penduduk Jakarta memutuskan memilih pasangan Jokowi Ahok, sebagai gubernur dan wakil gubernurnya yang baru, mereka sebenarnya bukan hanya memilih pasangan gubernur dan wakil gubernur baru, melainkan memutus paraktek politik liberal dan korup yang sudah menggerogoti sistim politik Indonesia sejak era reformasi bergulir. Keputusan pilkada Jakarta ini sesungguhnya harus dibaca para elit politik sebagai pesan rakyat, setidaknya penduduk Jakarta, yang sangat jelas.

Dengan pilihan ini rakyat Jakarta ini memberikan pesan yang sangat kuat dan jelas kepada elit-elit negeri ini:

1. Politik sektarian apalagi yang berdasarkan agama sudah tidak layak jual. Kampanye murahan Raja dangdut Rhoma Irama yang menggunakan agama untuk menjegal Jokowi Ahok tidak laku, atau ini pertanda suara Raja Dangdut ini sudah berubah menjadi fals?;

2. Rakyat kecilpun cukup cerdas untuk memilih siapa pemimpin yang layak diberikan amanah;

3. Suara Partai Politik saat ini semakin jauh dari aspirasi masyarakat;

4. Pemilihan Gubernur secara langsung masih dapat diharapkan untuk melahirkan pemimpin yang berkualitas. Rasanya mustahil Jokowi Ahok bisa menang jika pemilihan dilakukan lewat jalur DPRD.

Pesan-pesan jelas dan tegas dari suara rakyat yang menurut orang bijak adalah suara Tuhan hendaknya sampai ke telinga dan batin para pemimpin partai-partai politik di negeri ini. Berhentilah menjadikan partai politik menjadi "perusahaan" penghasil rupiah, mobil mewah, rumah mewah dan kekuasaan bagi petinggi-petingginya.

Hal baik lainnya yang perlu dicatat dari proses ini adalah, sikap fair play yang ditunjukkan Fauzy Bowo dan Joko Widodo segera setelah kontes ini berakhir. Fauzy Bowo akan saya kenang sebagai petarung yang sejati dani juga lelaki sejati. Begitu quick count menunjukkan rakyat Jakarta sudah menarik mandat yang diberikan kepadanya lima tahun lalu, dia segera menelpon Jokowi, saingan yang telah memberinya hari-hari suram penuh kegalauan dan mungkin hari-hari penuh ketegangan berbulan-bulan sejak proses pilkada ini dimulai. Dia memberi selamat dihari pemilihan yang pasti menyakitkan baginya karena sebagai putera daerah asli Betawi yang berpendidikan tinggi dan berpengalaman puluhan tahun mengurus Jakarta dia harus kalah oleh orang luar Jakarta. Dan itu dilakukannya dengan konsekuen tidak mau mempersoalkan hasil pilkada seperti yang biasanya dilakukan para peserta pilkada lainnya di negeri ini.

Kemarin euforia ini mencapai puncaknya setelah Jokowi Ahok resmi dilantik menjadi gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta yang baru. Dipundak Jokowi dan Ahok disandarkan beban yang sangat berat. Bukan hanya membuat Jakarta menjadi ibukota negeri besar yang layak. Kota yang memiliki jiwa dan menyemangati penduduknya dengan energi positip. Bukan hanya membuat Jakarta memiliki infrastruktur kota yang modern, fasilitas publik dan sistim administrasi sebaik Kuala Lumpur, Singapura bahkan Seoul. Di pundak Jokowi Ahok sebenarnya disandarkan harapan lebih besar, bahwa di negeri bernama Indonesia masih ada pemimpin yang sungguh-sungguh bisa merubah kecemasan rakyatnya (karena setiap melangkah keluar dari rumah sudah harus siap berhadapan dengan berbagai kejahatan, mulai copet, tawuran, perang antar kampung dan pelecehan di tempat-tempat umum) menjadi harapan, mengurangi kemiskinan dan penduduk miskin serta membuat kampung kumuh menjadi layak. Sebuah harapan rakyat yang sebenarnya sangat layak dan pantas. Karena negeri ini sebenarnya dikaruniai Tuhan dengan kekayaan alam yang melimpah. Karena pendiri negara ini sudah merumuskan dengan jelas bahwa tujuan kita bernegara adalah untuk melindungi segenap warganya, mencerdaskan kehidupan bangsa, memajukan kesejahteraan umum.

Selamat datang pak Gubernur dan pak Wakil Gubernur. Selamat datang Jakarta Yang Baru.

(Tanjungpinang, 16 Oktober 2012)

No comments: