Thursday, February 14, 2013

KELAHIRAN DAN NAMA BAPTIS

Saya dilahirkan di Pematang Siantar Sumatera Utara tanggal 5 Oktober 1965 dari pasangan Pirman Marthin Sitohang dan Maria Tionggor Pakpahan. Ayah saya Pirman Marthin Sitohang berasal dari Kecamatan Palipi Kabupaten Samosir Sumatera Utara. Nenek saya, wanita yang melahirkan ayah saya, adalah boru Pandiangan berasal dari daerah Tomok Samosir. Ibu saya Maria Tionggur boru Pakpahan juga berasal dari Samosir tepatnya kecamatan Onan Runggu. Nenek dari ibu saya adalah boru Gultom. Kedua orang tua saya berasal dari keluarga anggota Gereja Katolik Roma yang taat beribadah.

Saat mudanya ayah saya bekerja sebagai tata usaha (kerani) di sebuah pabrik kertas di Pematang Siantar, kota di mana dia bertemu dan berkenalan dengan ibu saya yang saat itu bekerja di sebuah pabrik korek api. Tuhan yang mempertemukan mereka dan Dia juga yang mempersatukan mereka dalam sebuah pemberkatan pernikahan suci di Gereja St. Paulus Parapat kota wisata yang indah di tepi Danau Toba tanggal 11 Agustus 1962.

Saya adalah anak kedua dari 6 bersaudara yang terdiri dari empat perempuan dan dua laki-laki. Ayah dan ibuku sangat bahagia mendapati anak keduanya laki-laki. Sebagai orang Batak yang masih memegang kuat tradisi leluhur, kelahiran anak laki-laki berarti akan meneruskan silsilah marga dari garis orangtuaku. Di sebagian besar keluarga Batak yang masih kuat memegang tradisi seperti itu, melahirkan anak laki-laki akan sangat melegakan perasaan setiap wanita Batak, karena ini akan memperkokoh kedudukannya di mata suami dan keluarga suaminya.


Suasana kota Pematang Siantar saat saya dilahirkan sama seperti daerah-daerah lain di Indonesia pada umumnya sedang diliputi tragedi nasional Gerakan 30 September 1965 atau yang dikenal juga dengan G30 S PKI. Hingga sekarang Maria Pakpahan, ibuku, masih mengingat dengan sangat jelas, saat kelahiranku hingga beberapa minggu sesudahnya berlaku jam malam di seluruh kota Pematang Siantar dan daerah-daerah di sekitarnya. Ibuku dan kebanyakan penduduk takut menyalakan lampu yang terlalu terang dan menghindari keluar rumah setelah sore hari tiba. Kecemasan Maria Pakpahan meningkat jika suaminya tidak dapat pulang ke rumah sampai malam tiba. Hal ini terjadi karena saat itu ayahku bekerja sebagai pedagang keliling dari satu daerah ke daerah lain di Kabupaten Simalungun hingga ke daerah-daerah lain di sekitarnya. Apalagi sesekali ibuku mendengar kisah bagaimana suami atau salah seorang anggota keluarga kenalannya tidak pernah pulang ke rumah dan tidak diketahui keberadaannya hingga sekarang.

Secara khusus ayahku Marthin Sitohang memberiku nama Marulak yang dalam bahasa Batak berarti berulang atau kembali. Hal ini dikarenakan pasangan muda ini telah beberapa kali pindah dari kota Pematang Siantar ke tempat lain. Tetapi beberapa bulan sebelum kelahiranku pasangan muda itu memutuskan untuk mulak atau marulak (kembali) ke Pematang Siantar.

Berharap anaknya kelak akan menjadi anggota Gereja Katolik yang taat, kedua orangtuaku membawa saya dibaptis menurut ajaran Gereja Katolik yang mereka percayai tepatnya di Gereja Katolik Jalan Sibolga Pematang Siantar pada tanggal 21 November 1965. Pastor Burchardus van der Weijden, imam Katolik yang membaptis saya saat itu memberiku nama baptis Petrus. Petrus adalah nama dari salah satu keduabelas murid Yesus yang kelak menjadi pemimpin para murid sepeninggal Yesus. Oleh Gereja Katolik Roma, Petrus dicatat sebagai pemimpin Gereja yang pertama dengan gelar Santo atau orang kudus. Itulah sebabnya para Paus yang memimpin Gereja Katolik Roma juga digelari “Pengganti Santo Petrus”. Pada saat pembaptisanku, Pastor van der Weijden mengajak Marthin Sitohang dan Maria Pakpahan berdoa semoga kelak saya mengikuti jejak Santo Petrus yaitu menjadi pengikut Yesus yang setia dan memiliki iman yang sekeras batu karang. Jadilah anak kedua dan anak laki-laki pertama pasangan Marthin Sitohang dan Maria Pakpahan itu bernama lengkap Petrus Marulak Sitohang.

2 comments:

Paulinus Pandiangan said...

Salam kenal, bang Petrus. Kenalkan, saya Paulinus Pandiangan, tinggal di Gang Horas Simpang Dua Pematangsiantar. Kalau abang setuju, mungkin kalau ada waktu yang cocok, bisa ketemu di Siantar. Nomor kontak saya 0812 4661 4788.

Oya, sama dengan bang Petrus, saya juga Katolik. :)

Horas!

Par Bintan said...

Horas Tulang. Terimakasih sudah mampir di blog saya.

Saya adalah cucu boru Pandiangan yang sangat bangga pada keteguhan oppung boru saya pada imannya pada Kristus dan ketaatannya pada Gereja Katolik.

Baik Tulang, saya akan kontak tulang kalau saya ke Siantar. Saat ini saya dan keluarga tinggal di Tanjungpinang Kepulauan Riau.

Sampaikan salam dan hormat saya pada Oppung di Siantar.

Horas.

Petrus M. Sitohang , Pariwisata Dan Kelautan Bisa Jadi Motor Pertumbuhan Ekonomi

KEPRIONLINE.CO.ID,TANJUNGPINANG,- Provinsi Kepulauan Riau dikenal kaya akan sumber daya alam. Letaknya yang juga sangat strategis memun...