Saturday, February 23, 2013

PERJALANAN KE KOREA


Di biara Buddha berusia ratusan tahun Bulguksa di Gyeongju Korea Selatan.
 Bulan September tahun 2012 sebagai Komisaris PT Anugerah Indonesia Tour & Travel, saya mengunjungi Korea Selatan dalam rangka mengikuti Busan International Travel Fair (BITF) 2012 yang berlangsung di kota Busan. Saat ini, negeri yang dulu dikenal sebagai negeri ginseng ini telah menjelma menjadi negara industri modern yang sangat maju.


Selama di Korea Selatan saya berkunjung ke beberapa kota seperti Seoul, Busan, Ulsan dan Gyeongju. Seoul adalah ibukota yang terletak dekat dengan perbatasan negara tetangganya Korea Utara. Busan adalah kota terbesar kedua di negeri itu. Sedangkan Ulsan adalah kota industri terbesar yang menjadi pusat Industri berat Korea seperti Group Samsung Heavy Industry. Gyeongju adalah kota kecil yang merupakan pusat salah satu kerajaan tua terbesar di Korea yaitu Silla Bersatu (Unified Silla) tahun 668-935 yang banyak meninggalkan barang-barang produk dari keramik, besi, mahkota raja atau ratu terbuat dari emas murni yang indah dan ilmu perbintangan. 

Yang sangat menonjol dari orang Korea adalah rasa bangga mereka kepada produk dalam negeri mereka. Di jalan-jalan raya, mobil-mobil produk Korea merajai dengan merek-merek HYUNDAI, KIA, SAMSUNG, DAEWOO dan lain-lain. Merek-merek mobil buatan Jepang yang merajai jalan-jalan raya di Indonesia dan banyak negara lainnya menjadi monoritas dan sangat jarang ditemui. Telepon seluler yang dipakai orang Korea hampir semua menggunakan merek Samsung.

Di istana Gyeongbok Seoul Korea Selatan.
Hal kedua yang juga menonjol di negeri Korea Selatan adalah otoritas negeri itu sangat memanjakan wisatawannya. Meskipun daya tarik objek wisatanya sesungguhnya tidak semenarik dan sebanyak yang dimiliki Indonesia, otoritas yang menangani pariwisata di negeri itu sangat memperhatikan kebutuhan wisatawan yang berkunjung ke sana. Di stasiun kereta api yang saya lalui kita menemukan kios informasi pariwisata seperti penunjuk jalan menuju obyek-obyek wisata termasuk biaya yang diperlukan. Begitu turun dari kreta api kita juga tidak akan kesulitan mencapai objek wisata yang ada di negeri itu karena di stasiun kereta api juga biasanya sudah ada bis wisata yang siap mengantar kita untuk tour keliling kota yang harganya sangat terjangkau. Kekurangan objek-objek wisata yang dimiliki negeri itu ditutup dengan penyediaan sarana pendukung indistri pariwisata yang memudahkan para wisatawan yang berkunjung ke negeri itu.

Tetapi satu yang sangat membuat saya terkesan adalah negeri Korea Selatan adalah negeri yang sangat aman bagi pengunjung. Karena sangat ingin mengambil foto di salah satu objek di Seoul dan meminta sopir taksi yang saya tumpangi untuk mengambil foto saya. Supir taksi tersebut meninggalkan begitu saja taksinya di pinggir jalan tanpa mengunci pintunya. Padahal tas saya berisi paspor, mata uang Won dan laptop milik saya ada di dalam tas yang saya tinggal begitu saja di dalam taksi itu. Saya baru sadar bahwa supir taksi itu meninggalkan taksinya tanpa terkunci. Ketisa saya menegurnya dia malah heran kenapa saya begitu kawatir karena menurutnya dia memang tidak pernah mengunci pintu taksinya kalau meninggalkannya untuk keperluan sebentar saja. Dia bahkan mengatakan bahwa di Korea banyak orang meninggalkan mobilnya ditempat umum tanpa berkunci dan tidak akan kehilangan. Yang membuat saya bertambah heran adalah fakta bahwa separuh dari orang Korea tidak menganut agama tertentu (di sana kelompok yang tidak menganut agama di sebut free thinker). Separuh lagi terbagi dua menjadi penganut Kristen dan Buddha. Ternyata di negeri yang setengah penduduknya tidak beragama itu keamanan di tempat umum justru bisa kita jumpai.

     

No comments:

Petrus M. Sitohang , Pariwisata Dan Kelautan Bisa Jadi Motor Pertumbuhan Ekonomi

KEPRIONLINE.CO.ID,TANJUNGPINANG,- Provinsi Kepulauan Riau dikenal kaya akan sumber daya alam. Letaknya yang juga sangat strategis memun...