Wednesday, March 6, 2013

DISKUSI TENTANG KEARIFAN LOKAL KEPULAUAN RIAU

Pemaparan hasil diskusi bersama Dian Nusa
Tidak dapat disangkal bahwa budaya dan falsafah Melayu telah menjadi perekat yang sangat kuat bagi kerukunan dan keharmonisan berbagai etnis yang ada di Kepulauan Riau ini. Sejak lama wilayah Kepulauan Riau telah menjadi kampung bersama bagi hampir seluruh etnis yang ada di nusantara ini. Semua kaum yang ada di Kepulauan Riau ini dapat menerima keberagaman etnis, budaya, agama dan bahasa yang ada dengan sikap toleran yang sangat tinggi. Hingga saat ini prkatis tidak pernah ada gesekan etnis yang berarti di Kepulauan Riau ini dengan pihak Melayu yang menjadi "tuan rumah" di daerah berazam menjadi bunda tanah Melayu ini.


Sebagian peserta Kelompok A.
Hal itulah yang mengemuka dalam diskusi panel mengenai komunikasi politik untuk pemantapan kerukunan masyarakat yang diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal Kesatuan Bangsa dan Politik Kementerian Dalam Negeri di Tanjungpinang baru-baru ini. Saya diundang dan hadir sebagai peserta dalam kapasitas saya sebagai Ketua INGGRID (Institute for Good Governance in Indonesia). Yang menjadi narasumber dalam sarasehan tersebut adalah Syafri Salisman, Kepala Kantor Kesatuan Bangsa dan Politik dan Perlindungan Masyarakat Kepulauan Riau, Edward Mandala staff pengajar dari STISIPOL Raja Haji Tanjungpinang dan Nazarudin dari Lembaga Adat Melayu Kepulauan Riau. Yang menjadi peserta dalam diskusi itu sebagian besar adalah pemuka masyarakat Melayu dan Kepulauan Riau seperti Imam Sudrajat, Syamsul Kamar Yusuf, Rusley Silin, Arif Rasahan, Mastur Teher, para Kepala Kesbangpol Tanjungpinang, Bintan dan Anambas serta tokoh-tokoh masyarakat berbagai etnis dan pegiat LSM yang ada di Kepulauan Riau dan Tanjungpinang khususnya.


Setelah pemaparan para narasumber, acara sarasehan menjadi lebih hidup dan bersemangat ketika memasuki sessi diskusi kelompok. Semua peserta dibagi menjadi dua kelompok. Saya dengan Imam Sudrajat, H. Rusley Silin, Syamsul Kamar Yusuf, Mastur Taher, Kherjuli dari LSM ALIM, Sukaman Harianja dari Rumpun Batak Bersatu, Rumono dari Komunitas Pemuda Lintas Agama, Kaemuddin dari FKDM Kepri, Hendra Setiadi dari BEM NUS PAMRI KEPRI, M. Fharis Akbar dari FAM UMRAH, Herlina Rusdi dari LSM Forum Perempuan, Marlis Markam dari LKPI Kepri, Kepala Kantor Kesbangpollinmas Bintan Dian Nusa dan Kepala Kantor Kesbangpollinmas Kabupaten Anambas Baharuddin T. masuk dalam kelompok A yang mengambil topik "Kearifan Lokal Untuk meningkatkan Kerukunan dan Keharmonisan Pada Berbagai Elemen Masyarakat". Kearifan lokal Kepulauan Riau segera tampak dalam suasana diskusi kelompok tersebut. Saya yang bukan suku Melayu ditunjuk menjadi sekretaris kelompok mendampingi Dian Nusa yang ditunjuk menjadi Ketua. Tetapi saat presentasi hasil diskusi kelompok saya yang ditunjuk menjadi juru bicara kelompok.

Berikut ini adalah hasil diskusi kelompok A mengenai Kearifan Lokal Kepulauan Riau yang berhasil kami rumuskan.
  1. Peningkatan Lembaga Adat Melayu (LAM) sebagai payung kerukunan dan keharmonisan masyarakat  Kepulauan Riau.
  2. Bangunan publik di Kepri didesign dengan ciri khas Melayu.
  3. Kegiatan outbond untuk generasi muda lintas etnis dan agama yang ada di Kepri.
  4. Pelestarian kearifan lokal untuk daerah perbatasan harus menjadi prioritas.
  5. Peningkatan pendidikan karakter berdasarkan kearifan lokal dimasukkan dalam kurikulum pendidikan dasar, menengah dan tinggi sebagai muatan local.
  6. Pelestarian budaya, kesenian, tradisi melayu dan situs situs sejarah Melayu.
  7. Fasilitasi perlindungan hak kekayaan intelektual yang terkandung dalam pengetahuan tradisional masyarakat Melayu.
  8. Pembentukan kelompok kerja bagi percepatan implementasi kearifan lokal di Kepri.

No comments:

Petrus M. Sitohang , Pariwisata Dan Kelautan Bisa Jadi Motor Pertumbuhan Ekonomi

KEPRIONLINE.CO.ID,TANJUNGPINANG,- Provinsi Kepulauan Riau dikenal kaya akan sumber daya alam. Letaknya yang juga sangat strategis memun...