Tuesday, May 14, 2013

MANTAN LOPER KORAN ITU LULUS SIPENMARU

Masa senggangku waktu SMP (di SMP St. Markus Cililitan Jakarta) kulalui dengan menjual koran (loper) di pertigaan Cililitan. Atau menjadi kenek opeletnya si Dul/Mandra yang dikemudikan ayahku sendiri dengan rute Cililitan Citeureup. Masa-masa itu praktis aku hapal seluruh perhentian opelet rute Cililitan sampai Citeureup. Dengan aktifitas di luar sekolah seperti itu prestasi belajarku di SMP memang tidak menggembirakan. Aku mesih ingat setiap kali menerima rapor sekolah kedua orang tuaku akan saling menghindar karena mereka selalu mendapatkan petuah yakni supaya mereka lebih memperhatikan dan mendukung belajarku saat di rumah.
Walau begitu, setelah lulus SMP aku berhasil di terima di SMA 12 Klender yang waktu itu terbaik untuk wilayah Jakarta Timur. Tapi masa SMAku di Jakarta tidak berjalan mulus. Aku keluar setelah semester pertama. Bapakku yang hampir putus asa ketika anak sulungnya keluar dari SMA 12.  Aku tahu dia putus asa dari salah seorang keluarga. Ayahku merasa kalau si Marulak (panggilan kecilku di rumah) tidak mau sekolah lagi, apalagi artinya dia datang merantau dan kerja banting di Jakarta ini. Ini membuatku tersentuh. Setelah hampir setengah tahun menganggur aku mendatangi ayahku dan mengatakan bahwa aku ingin kembali sekolah tetapi tidak di Jakarta melainkan di Medan di depan namboru (bibi) saya Bunganti Sitohang. Dia sama sekali tidak menolak. 
Ternyata di Medan saat itu penerimaan murid baru sudah tutup. Pamanku yang bungsu Muara Sitohang yang bekerja di BRI di Asahan mengantarkan aku sekolah di salah satu SMA swasta yang masih menerima murid di Tanjungbalai Asahan. Jadilah aku ke Tanjungbalai. Tinggal di depan keluarga namboruku yang tertua Bungamina Sitohang yang menikah dengan Maruli Nainggolan.

Hanya setahun di Tanjungbalai, guruku menemukan aku praktis tidak perlu diajari lagi pelajaran kelas 1 untuk semua mata pelajaran. Maklum aku sudah jalani satu semester di SMA Negeri terbaik di Jakarta Timur dan teman-temanku satu kelas saat itu adalah anak-anak yang relatif prestasi belajarnya rendah. Guru-guruku sering meminta aku menjelaskan pelajaran mereka kepada teman-temanku. Nilai rapor kelas 1 SMAku di Tanjungbalai itu rata-rata 9.5. Setelah menyelesaikan kelas 1 di Tanjungbalai, pamanku akhirnya memutuskan mendaftarkanku ke SMA Katolik Budi Murni di Medan. Di sini jelas aku mendapatkan sparring partner yang seimbang, karena mayoritas muridnya adalah anak-anak keturunan Tionghoa dari ekonomi menengah atas dengan prestasi belajar yang baik. Namun berkat perhatian dorongan penuh dari namboruku yang hidup sendiri hingga saat ini, selama di SMA Budi Murni aku secara teratur masuk dalam urutan ketiga di kelas. Seingatku hanya pelajaran fisikaku yang tidak pernah mendapatkan nilai 10.

Setelah tamat SMA di Medan aku tidak langsung berhasil lulus Sipenmaru (Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru) Perguruan Tinggi Negeri pada kesempatan pertama tahun 1985. Waktu itu rasa percaya diriku sangat berlebihan dan aku tidak mau ikut Bimbingan Belajar di luar sekolah. Pilihan pertamaku ITB dan kedua UGM. Belakangan baru sadar komibinasi pilihan seperti itu sangat tidak bijak.

Walau bapakku menyuruh aku mendaftar di salah satu PTS yang ada di Jakarta aku memutuskan untuk menunggu mencoba Sipenmaru yang kedua. Saat menunggu itu aku minta diajari ayahku untuk mengemudi Taxi. Sebelum dapat SIM Umum aku menjadi supir tembak (biasa dipanggil sebagai supir charli) ayahku. Waktu kerjaku adalah malam hari setelah ayahku pulang ke rumah untuk istirahat. Jam kerjaku waktu itu antara jam 8 malam sd. jam 8 pagi.

Suatu hari sekitar awal bulan Juli 1986, di depan stasiun Kereta Api Jatinegara Jakarta Timur, sebelum fajar menyingsing, saat aku sedang menunggu penumpang yang turun dari KA yang datang dari arah Cirebon aku bergegas membeli koran yang berisi lampiran berita hasil pengumuman Sipenmaru tahun 1986. Dengan bantuan lampu taxi yang kuhidupkan, karena matahari belum terbit, aku mencari-cari namaku diantara deretan ribuan nama-nama yang berhasil lolos ujian masuk perguruan tinggi negeri saat itu. Puji Tuhan aku menemukan namaku Petrus M. Sitohang, mantan loper koran di pertigaan Cililitan, anak Marthin Sitohang yang supir oplet, supir truk tanah, supir bis kota, supir taxi, supir metro mini,  ada diantara ribuan nama-nama itu. Aku diterima di Fakultas Eknomi Jurusan Akuntansi Universitas Brawijaya Malang.

Itu adalah momen yang tidak mungkin aku lupakan. Karena hanya melalui Sipenmaru lah satu-satunya cara bagiku untuk memasuki Perguruan Tinggi yang orangtuaku kuanggap mampu membiayainya karena biaya pendidikannya disubsidi pemerintahan Orde Baru pimpinan Soeharto.

Semua suka duka saat itu sekarang menjadi kenangan indah...Seperti Tuhan berfirman bahwa "Segala sesuatu akan indah pada waktuNya." Saya sungguh percaya firman ini. 

4 comments:

Anonymous said...

Sρot on with thiѕ writе-uр, I absolutely believe that this аmazing sitе neeԁs much more аttentіon.
I'll probably be back again to see more, thanks for the advice!

Feel free to surf to my web site: Red Kings Poker Promotions

Anonymous said...

Hey! I κnoω thiѕ is soгt οf off-tοpiс
but I neeԁed to asκ. Dοes οperаting a
well-establishеԁ blog likе yourѕ taκe а
mаsѕіve amοunt woгk?
I am brand nеw to opеrаting a blog howeveг ӏ ԁo ωгіte in mу јournal
eveгyday. I'd like to start a blog so I will be able to share my own experience and views online. Please let me know if you have any ideas or tips for brand new aspiring blog owners. Thankyou!

Feel free to surf to my web blog; RPMPoker Offer

Anonymous said...

Quаlіty content іs thе secret to іnterest the pеοple to pay а quiсk νisit the sitе, that's what this web page is providing.

Here is my website - MintedPoker Bonus

Let's Go Green said...

Mantaphh mas bro..