Tuesday, August 6, 2013

NOMMENSEN, PENDIRI HURIA NABOLON HKBP

IL Nommensen
Ketika konflik internal melanda Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) akhir dekade 90an, saya termasuk salah seorang yang merasa sangat prihatin. Rasa prihatin saya bukan karena saya bagian dari konflik internal tersebut. Saya sendiri bukan jemaat HKBP. Sejak kecil saya dibaptis di Gereja Katolik dan dididik secara katolik oleh orang tua saya. Saya turut prihatin karena meskipun bukan jemaat HKPB, saya ikut merasa memiliki HKBP oleh karena predikat Batak dan Kristen yang disandangnya. Selain itu mungkin juga karena sejak kecil saya dibesarkan di lingkungan yang mayoritas masyarakat Batak dan nota bene sebagian besar jemaat HKBP. Saya seringkali tanpa punya pilihan lain harus mengikuti acara ibadah yang khas HKBP. Tetapi seperti orang Batak lainnya, kita menerimanya sebagai sebuah kenyataan yang baik. Saya mengingat pernah beberapa kali ikut liturgi Natal termasuk di gereja HKBP Sutoyo Cawang Jakarta Timur di akhir tahun 70an karena mengikuti teman-teman anak jemaat HKBP.