Sunday, November 3, 2013

RUSIA, SAHABAT YANG KITA LUPAKAN


Gereja Katedral St Basil dan Menara Kremlin di Lapangan Merah Moscow
Ketika saya mendarat di bandara Domodedovo pinggiran kota Moskow jam 2 siang waktu setempat tanggal 22 Oktober 2013, suhu udara sekitar -2 derajat Celcius. Jelas sangat dingin untuk ukuran orang Indonesia seperti saya.  Kelelahan yang mendera tubuh saya karena penerbangan 14 jam dengan Qatar Air dari Singapura termasuk waktu singgah di Doha Qatar selama 2 jam membuat tubuh saya kewalahan dan hampir tumbang melawan dinginnya kota Moscow saat itu. Lucky mahasiswa Indonesia yang direkomendasikan staff Kedubes RI di Moscow untuk menjemput saya di Bandara Domodedovo sudah sempat cemas melihat saya menggigil kedinginan. Seingat saya, saya belum pernah merasakan suku dibawah 0C. Suhu terdingin yang pernah rasakan adalah saat melintasi Tele di Samosir kalau pulang ke kampung halaman ayah saya di Palipi. Suhu di daerah dataran tinggi Tele sekitar 15-18 derajat Celcius. 


Untunglah ada restoran Kentucky Fried Chicken  di stasiun kereta api express bandara Moskow. Saya langsung memesan satu ember kecil ayam goreng Kentucky Fried Chicken yang rasanya memang hampir sama persis dengan KFC yang biasa kita pesan di restoran KFC di Indonesia. Cat restoran yang dominan merah, logo KFC, seragam pegawai warna merah praktis hampir sama dengan semua restoran KFC yang ada di Indonesia.  

Setelah menikmati seember ayam goreng KFC, saya kira tubuh saya sudah cukup kuat untuk melawan dinginnya udara kota Moskow saat itu. Dugaan saya ternyata tidak sepenuhnya benar. Saya baru merasa nyaman ketika memasuki gedung. Ya. Keadaan di Rusia adalah kebalikan di negeri kita dalam banyak hal. Kalau di Indonesia kita seringkali harus buru-buru masuk ke gedung untuk merasakan kesejukan dan menghindari sengatan udara panas, maka di Rusia kita harus buru-buru masuk gedung untuk merasakan kehangatan dan menghindar dari udara dingin. Jadi kalau di Indonesia di luar panas dan di dalam gedung dingin, maka di Rusia di luar kedinginan di dalam gedung baru merasakan kehangatan. Paling tidak itulah yang bisanya terjadi selama musim gugur hingga musim dingin hingga saat musim semi.

Siksaan dinginnya udara kota Moskow masih ditambah dengan sikap dingin orang Rusia pada umumnya. Orang Rusia yang saya temui umumnya sangat pelit berbasa basi. Bahkan ketika saya check in di sebuah hotel berbintang  4, staff bagian reception tidak memberikan senyum sedikitpun. Dia bahkan tidak menyapa saya terlebih dulu sebagaimana umumnya kita alami saat bertemu dengan staff sebuah hotel. Sampai saat saya dan rombongan orang yang saya bawa dari Indonesia berjumlah 17 orang check out  saya tidak mendapatkan seulaspun senyum dari staff bagian cashir. Juga tidak ketika mereka menerima pembayaran dari saya untuk pelunasan sewa kamar kami. Saya jadi sedikit ragu jangan-jangan orang Rusia memang diajari untuk tidak mengumbar keramahan supaya mereka terkesan berwibawa.

Bangsa Penggemar Emas 

Ketika mengunjungi Museum Sejarah Rusia di Lapangan Merah, dekat gedung parlemen Rusia yang terkenal itu, kesan yang paling kuat saya dapatkan adalah bangsa Rusia sangat menyukai emas. Sebagian besar koleksi museum sejarah tersebut didominasi barang-barang peninggalan sejarah Rusia sejak jaman Dinasti Ivanov dan Romanov yang terbuat dari emas atau perunggu. Barang yang dibuat dari emas yang dipersembahkan kepada seseorang adalah simbol penghargaan atau hormat dan cinta dari si pemberi kepada si penerima.

Orang Rusia menggunakan emas untuk membuat perhiasan, tanda penghargaan, medali, barang religi termasuk salib dan bahkan hiasan lukisan orang-orang suci serta sampul kitab suci. Jadi jangan heran jika melihat kubah utama beberapa bangunan Gereja Ortodox di Moscow  terbuat dari emas sehingga sangat mencolok pemandangan dan tentu saja mengagumkan.

Yang juga mengherankan saya adalah meskipun koleksi barang-barang peninggalan sejarah Rusia tersebut adalah asli emas, tidak ada larangan yang dibuat pengelola museum bagi pengunjung untuk mengambil foto-foto asalkan kita sudah membayar sekitar 80 Rubel atau sekitar Rp. 24.000 untuk 1 kamera. Pengalaman saya di kebanyakan museum di negara-negara maju lainnya biasanya pengunjung dilarang untuk mengambil foto barang peninggalan bersejarah dinasti kerajaaan terutama yang bernilai tinggi untuk alasan kemanan dan alasan lainnya.

Katakan Dengan Bunga

Saya tidak tahu apakah ada kaitan dinginnya udara kota Mosckow dengan sikap dingin sebagian besar orang Rusia. Namun ada pemandangan yang berbeda yang menarik perhatian saya saat berjalan-jalan di Moskow. Baik itu saat bepergian dengan bus atau metro (transportasi kereta bawah tanah Moskow yang terkenal itu), saya sering melihat orang-orang membawa bunga di tangan. Biasanya bunga-bunga yang di bawa itu adalah jenis tulip dan dibungkus dengan plastik bening. Orang-orang Rusia nampaknya sangat senang dan bangga membawa-bawa bunga itu di tangan. Meskipun mereka bisa saja memasukkannya dalam kantong tentengan mereka lebih senang memegang langsung tangkai bunga-bunga itu.

Orang Rusia memberikan bunga  tidak hanya kepada kekasih atau orang yang sedang didekati. Orang Rusia memberikan bunga termasuk kepada orang tua, atasan dan bahkan kepada dosen. Orang Rusia yang sudah lama tidak baik hubungannya dan ingin memperbaiki hubungan dengan seseorang akan lebih berhasil jika menyampaikannya dengan membawa seikat bunga. Mahasiswa yang ingin menjumpai dosennya yang terkenal “killer” biasanya akan mendapat respon positif jika membawa seikat bunga dan menyerahkannya langsung kepada dosennya di kesempatan pertama bertemu. Apalagi kalau anda ingin mengungkapkan isi hati anda pada sang pujaan, pastikanlah mampir ke toko bunga dan membeli seikat bunga tulip untuk diberikan kepada si dia.

Selama di Moskow saya tidak menjumpai kebuh bunga. Juga ketika saya melintasi wilayah pinggiran kota Moskow dengan kereta api atau naik bus dari bandara, saya tidak pernah menemui kebun bunga. Menurut Lucky, guide saya selama di Moskow, bunga-bunga itu biasanya diimpor. Dan menurut Lucky, toko-toko bunga di Moskow biasanya adalah salah satu jenis toko yang buka 24 jam. Karena orang Moskow kalau sudah ingin menyatakan niatnya yang tulus akan apakah itu kepada kekasih dan orang yang dihormati akan menyampaikannya dengan bunga.  Konon katanya, orang Rusia tidak akan pernah menolak pemberian bunga. Bagi orang Rusia adalah tabu atau pantang menolak pemberian bunga.

Bukti Persahabatan Indonesia Rusia

Sebelum menginjakkan kaki di tanah Rusia, seperti kebanyakan orang Indonesia, saya tidak banyak memberi perhatian terhadap bangsa Rusia. Bagi kebanyakan orang Indonesia, termasuk saya, stereotif orang Rusia adalah hasil propaganda mesin publikasi Amerika Serikat dalam era perang dingin yang merupakan kiblat politik luar negeri Indonesia oleh rezim orde baru. Untuk ini saya kira harus kita akui bahwa gambaran kita tentang Rusia sangat terbelenggu oleh citra yang dibentuk dan dikampanyekan oleh Amerika Serikat yaitu sebagai bangsa yang kejam, militeristik, tukang invasi negeri orang, dingin dan tidak religius. Padahal faktanya tentara Uni Soviet hanya sekali melakukan invasi ke Afghanistan, itupun atas permintaan rezim pemerintahan Afghanistan yang berkuasa saat itu. Dalam hal religiositas, faktanya di Rusia (Moskow) sangat banyak kelihatan gereja-gereja yang megah.

Pada masa orde lama, di tahun 1960an, sebagai tanda persahabatannya, Uni Soviet (baca orang Rusia) membangun sebuah stadion sepakbola yang megah di kawasan Senayan Jakarta. Kemegahannya stadion tersebut hingga saat ini setelah 50 tahun kemudian belum tertandingi oleh stadion manapun yang dibangun setelah itu. Ketika masih duduk di bangku SMP di Jakarta, saat era liga sepakbola profesional Indonesia bernama Galatama, saya sempat merasakan bagaimana besarnya stadion Senayan dari ukuran saluran air komplek stadion itu yang cukup untuk dilalui orang dewasa. Begitupun, kebanyakan kita tidak begitu ambil pusing dengan kenyataan itu, apalagi menghargai bangsa Rusia.

Nampaknya orang Rusia tidak suka mengungkapkan tanda persahabatan dengan senyuman atau basa-basi dengan kata-kata manis yang bisa dibuat-buat dan biasa kita lakukan kepada tamu-tamu atau kenalan kita. Tanda persahabatan bagi orang Rusia kalau tidak seikat bunga segar, emas atau sekalian aja sebuah stadion megah yang hingga 50 tahun kemudian tidak akan tertandingi kebesarannya.

(Petrus M. Sitohang)

No comments:

Petrus M. Sitohang , Pariwisata Dan Kelautan Bisa Jadi Motor Pertumbuhan Ekonomi

KEPRIONLINE.CO.ID,TANJUNGPINANG,- Provinsi Kepulauan Riau dikenal kaya akan sumber daya alam. Letaknya yang juga sangat strategis memun...