Friday, February 14, 2014

BUKAN BLUSUKAN DI KAMPUNG AIR BUKIT TANJUNGPINANG


Suasana saat dialog dengan warga Kampung Air Bukit
Saya melakukan sosialisasi pencalonan saya sebagai anggota DPRD Tanjungpinang dari PDIP di daerah pemilihan 2 Kecamatan Tanjungpinang Timur hari Rabu 12 Februari 2014. Pertemuan diadakan dengan suasana kekeluargaan di halaman rumah keluarga pak Ginting di Kampung Air Bukit Kelurahan Pinang Kencana.  Dalam pertemuan tersebut saya memperkenalkan diri saya dan rencana saya maju sebagai calon anggota DPRD Kota Tanjungpinang seraya mohon doa dan dukungan sekitar 60 warga yang hadir saat itu termasuk ketua RT daerah itu bpk Sobirin dan tokoh-tokoh masyarakat di daerah itu seperti bapak Syarifuddin, biasa dipanggil pak Udin, Subhan dan Rio Ardiyanto.


Kiri ke kanan: Cerdas Sipayung, saya dan Syarifudin
Dalam kesempatan tersebut warga Kampung Air Bukit yang sebagian besar merupakan petani, peternak ikan air tawar dan ayam menyampaikan beberapa permasalahan yang mereka hadapi sehari-hari terutama yang berhubungan dengan pekerjaan pokok mereka. Salah satu persoalan besar yang mereka hadapi saat ini adalah sulitnya mendapatkan pakan ikan pelet dan harganya yang semakin sulit terjangkau. Menurut pengakuan para warga petambak, harga pakan ikan pelet saat ini mencapai Rp. 400.000 per goni ukuran 40 kg. Harga ini dirasakan sangat memberatkan mereka dan berharap pemerintah daerah dapat membantu mereka dengan mendirikan pabrik pakan ikan pelet di Tanjungpinang atau mendirikan koperasi yang dapat menyediakan harga pakan yang wajar dan kalau dapat disubsidi oleh pemerintah daerah.

Mesin pembuatan pelet sederhana rakitan Syarifudin
Setelah acara dialog dengan warga tersebut saya penasaran ingin mengetahu secara langsung mengenai kondisi yang mereka ceritakan di lapangan pada hari Jumat 14 Februari 2014 dengan menemui  Syarifudin, biasa dipanggil Udin (asal Wajo Sulawesi Selatan) dan Cerdas Sipayung, biasa dipanggil pak Sipayung (asal Sumatera Utara). Keduanya merupakan peternak ikan air tawar mandiri di Kampung Air Bukit Kelurahan Pinang Kencana Tanjungpinang.

Dua pria ini adalah perantau dari tanah kelahirannya masing-masing dan menjalani hidup yang mandiri di kota Tanjungpinang dengan menjadi peternak ikan air tawar seperti ikan lele, nila, ikan mas dan ikan hias.

Syarifuddin datang merantau ke Tanjungpinang kira-kira 30 tahun lalu. Cerdas Sipayung memulai tinggal di Tanjungpinang kira-kira sebelas tahun yang lalu.

Syarifudin dan contoh pelet hasil produksi sendiri.
Syarifuddin dapat dikatakan menguasai hampir seluruh keahlian yang diperlukan untuk menjadi petambak ikan air tawar yang baik, mulai dari membangun tambak, sistim pengairan tambak, merakit mesin pembuat pakan ikan pelet, pembenihan ikan mas dan ikan hias dan bahkan pembenihan cacing sutera untuk menjadi pakan benih ikan (nener).

Melihat apa yang mereka kerjakan di 40an kolam ikan air tawar milik Syarifuddin memberikan saya kesadaran baru bagaimana rakyat kita sebenarnya tidak butuh bantuan langsung tunai untuk warga miskin yang rawan dikorupsi itu. Syarifuddin yang banyak mengeluarkan uang sendiri untuk membanngun infrastruktur di kampungnya itu, seperti jalan-jalan dan gorong-gorong, hanya membutuhkan pinjaman dengan bunga lunak untuk dapat meningkatkan produksi ikan air tawarnya.

Foto-foto: John Situmorang, Petrus Sitohang dan Desi Liza Purba

No comments: