Monday, February 10, 2014

DIULOSI MARGA SINAGA TANJUNGPINANG

Bagi orang Batak, khususnya Batak Toba diulosil, diberikan ulos dengan cara mengenakan ke bahu, memiliki makna yang sangat penting dan merupakan momen yang sangat berharga. Apalagi jika ulos (kain tenun khas Batak) itu dilakukan di saat acara penting seperti pesta. Diulosi berarti diberikan restu dan doa untuk kebahagian, kehangatan, kesehatan dan kesejahteraan.

Ulos hanya bisa diberikan orangtua kepada anak, mertua kepada menantu, tulang (paman dari pihak ibu) kepada kemenakan, hula-hula kepada boru. Dari silsilah saya, dari dua oppung (nenek) saya, yang sulung menikah dengan boru (puteri) Sinaga. Dua paman saya keturunan nenek sulung saya juga menikah dengan boru Sinaga. Karena itu saya memanggil marga Sinaga Ompung atau tulang.




Dari silisilah besar Siraja Lontung marga Sinaga adalah anak tertua, diikuti marga Situmorang, Pandiangan, Nainggolan, Simatupang, Aritonang dan Siregar. Sitohang adalah keturunan dari Ompu Tuan Situmorang, leluhur marga-marga Situmorang, Siringo-ringo, Rumapea dan Sitohang.  Marga Sinaga adalah salah satu terbesar di antara marga-marga Batak. Keturunan marga Sinaga ada dalam hampir semua profesi yang ada di muka bumi ini.



Karena dibesarkan dengan ajaran adat yang kuat saya dan isteri saya Lenni Purba sangat bahagia saat diberi ulos oleh pengurus dan tetua marga Sinaga se Tanjungpinang saat pesta syukur awal tahun (Pesta Bona Taon) marga Sinaga di Tanjungpinang, hari Minggu, 9 Februari 2014.

Saya tidak hanya diulosi juga didoakan agar berhasil dalam pemilu legislatif tanggal 9 April 2014 sebagai calon anggota DPRD Tanjungpinang dari PDI Perjuangan daerah pemilihan II Kec Tanjungpinang Timur.

Saya sungguh merasa terhormat dan tersanjung dengan ulos dari perkumpulan marga Sinaga yang saya hormati ini. Saya mengucapkan terimakasih yang sangat besar kepada keturunan marga Sinaga yang memberikan doa dan berkat lewat acara mangulosi ini. Horas. Horas. Horas.

No comments: