Friday, August 1, 2014

Pilihan Amos Yarkoni dan Orang-orang Arab Warga Negara Israel

Saya sedang membuka-buka wikipedia untuk memahami akar konflik Arab Israel dan menemukan laman mengenai seorang Arab Warga Negara Israel bernama Letnan Kolonel IDF (Tentara Angkatan Bersenjata Israel) Amos Yarkoni terlahir Abd el-Majid Hidr.

Amos Yarkono dilahirkan denan nama Abd el-Majid Hidr dahulu adalah perwira pada Angkatan  Bersenjata Israel dan satu dari enam orang Arab Israel yang menerima lencana penghargaan tertinggi ketiga dari IDF the Medal of Distinguished Service.


Yarkoni dilahirkan desa Na'ura sebuah desa Arab Bedouin  bagian utara northern Israel. Keluarganya adalah Muslim Bedouin dari suku Mazarib.

Dalam karir militernya dia mencapai pangkat tertinggi Letnal Kolonel. Dia mendedikasikan pengabdiannya untuk negara Israel termasuk terlibat di berbagai pertempuran membela negara Israel hingga suatu saat harus kehilangan tangan kanannya.

Nazarareth, kota Arab terbesar di Israel.
Dedikasi untuk negaranya Israel yang tidak pernah goyah meskipun dia adalah keturuan Arab ini dikenang oleh orang-orang senegaranya saat dia meninggal 7 Februari 1971. Yang mengangkat peti jenazahnya adalah enam brigadir jenderal diiringi oleh Presiden Israel yang menjabat saat itu Chaim Herzog. 

Dari wikipedia juga saya tau ternyata ada hampir 2 juta orang Arab yang menjadi Warga Negara Israel seperi Amos Yarkoni ini, yang saya kira mereka hidup damai meski tidak semua yang mereka inginkan dalam hidup bisa mereka raih. Kita memang ditakdirkan tidak akan pernah bisa mendapatkan semua yang kita ingini di manapun kita memutuskan untuk tinggal bukan?.

Tapi Amos Yarkoni, seperti orang-orang Arab yang menjadi mayoritas di kota Nazareth Israel, membuktikan bisa hidup berdampingan dengan orang Yahudi di negara yang mungkin bukan impiannya. Toh ketika kita lahir kita tidak bisa memilih kita dilahirkan di kota atau negara mana.

Saya kawatir, saya dan banyak orang Indonesia tidak sungguh-sungguh memahami apa akar konflik Arab Israel yang sebenarnya. Tetapi mudah tersulut untuk mengutuk pihak yang satu dan membela pihak yang lain ketika konflik terjadi dan terjadi lagi di sana.

Padahal saya yakin sumbangan kutukan dan hujatan terhadap pihak yang bertikai di Palestina dari negeri yang terlalu jauh seperti Indonesia ini tidak akan mampu merubah apa-apa. Juga tidak akan menolong agar damai tercipta di sana.

Mungkin justru orang-orang seperti Amos Yarkono atau Abd el-Majd Hidr dan orang-orang Arab di Israel dan Tepi Barat yang lebih tahu apa yang sebenarnya terjadi di tanah asal banyak nabi-nabi yang melahirkan 3 agama samawi itu berasal.

No comments: