Tuesday, November 24, 2015

Ke Mana Suara Orang Batak Dalam Pemilihan Gubernur Kepri 2015?


Pemilihan Gubernur (dan Wakil Gubernur) Kepri tinggal dua minggu lagi. Dua calon yang betarung yakni pasangan Sani - Nurdin (Sanur) dan Soeryo-Anshar (SAH) beserta tim masing-masing semakin giat merayu para pemilih yang ada di daerah ini dengan berbagai cara. Tidak dapat disangkal, bahwa kedua pasang calon melakukan pendekatan yang berbeda kepada etnis yang berbeda karena menyadari bahwa setiap etnis memiliki aspirasi dan persepsi masing-masing terhadap siapa yang layak mendapatkan suara mereka.

Beberapa teman saya pemerhati politik di daerah ini beberapa hari yang lalu mengajukan pertanyaan yang menjadi judul catatan ini kepada saya. Mereka rupanya memperhatikan meningkatnya upaya-upaya beberapa kelompok yang berlatar belakang etnis Batak mendekatkan pasangan Sani Nurdin ke lingkungan pemilih Batak akhir-akhir ini. Terlebih setelah penyanyi berdarah Batak terkenal Judika beberapa hari lalu tampil dan menyanyi bersama Sani di hadapan ribuan penonton yang sebagian besar dari masyarakat Batak di Batam dan sekitarnya. Namun nenyimpulkan besarnya jumlah penonton yang hadir di acara yang dihadiri penyanyi sekelas Judika sebangun dengan besarnya dukungan masyarakat Batak kepada Sani jelas kesimpulan yang gegabah. Orang-orang Batak terutama kaum mudanya jelas menyukai Judika. Motivasi sebagian besar kaum muda dan orang Batak yang datang ke acara itu menurut saya yang pertama dan utama adalah ingin menikmati suara dan penampilan Judika. Menyukai Judika tidak serta merta bisa diartikan menyukai Sani yang mendampinginya menyayikan beberapa lagu.

Menjawab pertanyaan kawan –kawan saya di atas, pertama-tama saya mengajak teman saya membandingkan partai pengusung Sanur dan SAH. Sanur diusung oleh Partai Demokrat, Gerindra, PKB,  PPP dan Nasdem. Kecuali PPP, keempat partai pengusung Sanur adalah partai yang relatif baru muncul di panggung politik Indonesia di era reformasi dan beberapa tahun belakangan ini sehingga belum mengakar di daerah-daerah asal masyarakat Batak yaitu eks karesidenan Tapanuli. Sementara partai pengusung SAH adalah PDI Perjuangan didukung PAN, PKS, HANURA. Belakangan PBB dan Perindo ikut bergabung mendukung SAH. Di luar keenam partai pengusung dan pendukung tersebut, pasangan SAH jelas didukung kuat oleh mesin partai Golkar karena Anshar Ahmad adalah Ketua DPD Partai Golkar Kepri kubu Aburizal Bakri.

PDI Perjuangan dan Golkar adalah dua partai politik utama yang mempunyai basis pendukung paling besar di daerah-daerah asal orang Batak. Hal ini terbukti dari hasil Pemilu selama orde lama di eks keresidenan Tapanuli yang dikuasai oleh PNI (salah satu dan komponen utama pendiri PDI Perjuangan) dan selama era orde baru dikuasai oleh Golkar. Dari perspektif ini dapat mudah dipahami bahwa orang Batak lebih banyak mengenal dan berinteraksi dengan PDI Perjuangan dan Partai Golkar. Dari fakta ini jelas SAH jelas lebih memiliki basis massa di kalangan orang Batak ketimbang Sanur.

Kedua, secara umum orang Batak adalah pemilih yang konservatif dan lebih cenderung ideologis. Banyak orang bukan Batak yang mungkin tidak menyadari bahwa warna tradisional orang batak yang disebut sitolu bolit atau tiga warna yaitu merah, hitam dan putih seperti yang ada di semua gorga batak identik dengan tri warna PDI Perjuangan. Secara kultural citra PDI Perjuangan lebih mudah lekat di benak orang Batak.  Tanpa pendekatan ekstrapun PDI Perjuangan lebih mudah masuk di benak dan hati orang Batak. Oleh sebab itu tidak heran, di kota Batam dan Tanjungpinang dua kota di mana PDI Perjuangan memajukan banyak caleg orang Batak, partai ini berhasil mendapatkan mayoritas suara orang Batak. Bahkan sudah menjadi pengetahuan umum bahwa dalam Pemilihan Walikota Tanjungpinang 2012, 90% lebih suara orang Batak memilih H. Lis Darmansyah yang berasal dari PDI Perjuangan hingga terpilih menjadi Walikota Tanjungpinang. Dan baru-baru ini melalui musyawarah pimpinan paguyuban marga-marga Batak yang berhimpun di Rumpun Batak Bersatu (RBB) telah sepakat mendukung pasangan SAH dalam pemilihan Gubernur Kepri tanggal 9 Desember nanti.

Ketiga, yang akan menjadi pertimbangan orang Batak dalam pilkada Kepri adalah sejarah yang dibuat PDI Perjuangan memajukan kadernya Jumaga Nadeak menjadi Ketua DPRD Kepulauan Riau. Ini merupakan “hadiah” terbaik PDI Perjuangan kepada orang Batak di Kepri ini yang memberikan kesempatan kepada kadernya yang putera Batak untuk berkhidmad bagi masyarakat di tanah Melayu ini. Dengan fakta-fakta di atas maka tidak sulit menebak ke mana suara orang Batak akan diberikan tanggal 9 Desember 2015 nanti.

Namun analisis yang didasarkan atas fakta-fakta empiris yang ada di lingkungan masyarakat orang Batak yang ada di Kepri ini tidak bermaksud mendahului keputusan orang Batak apalagi menggurui. Orang-orang Batak se Kepri akan memutuskan yang sesuai dengan hati nuraninya pada tanggal 9 Desember nanti. Yang pasti semua orang Batak memiliki umpama atau nasehat leluhur yang selalu diingat yaitu:

Rim ni tahin do gogona;
Rantosna do tajom na.
Yang maknanya adalah kekuatan orang Batak bersumber dari persatuannya.

Petrus Marulak Sitohang
Wakil Sekretaris DPC PDI Perjuangan Kota Tanjungpinang
Anggota DPRD Kota Tanjungpinang
Sekretaris Fraksi PDI Perjuangan DPRD Kota Tanjungpinang

No comments:

Petrus M. Sitohang , Pariwisata Dan Kelautan Bisa Jadi Motor Pertumbuhan Ekonomi

KEPRIONLINE.CO.ID,TANJUNGPINANG,- Provinsi Kepulauan Riau dikenal kaya akan sumber daya alam. Letaknya yang juga sangat strategis memun...