Sunday, February 14, 2016

Joey Alexander Bocah Ajaib Musisi Jazz Berkaliber Dunia Dari Indonesia

Terus terang sebelum ini saya bukan penggemar musik jazz, meskipun saya menyukai beberapa aspek dari musik jazz seperti keindahan improvisasi dalam musik jazz yang tidak membosankan.

Tetapi sejak mendengat seorang bocah Indonesia menjadi idola dalam musik jazz dunia bahkan hingga berhasil membuat seorang mantan Presiden Amerika Serikan Bill Clinton mengaku menjadi salah satu fansnya, saya menjadi semakin menyukai jazz. Bocah itu bernama Joey Alexander yang saat ini baru berusia 12 tahun.

Joey yang lahir di Denpasar Bali 25 Juni 2013 dari ayah Denny Sila dan ibu Farah Leonora Urbach sudah bermain musik jazz sejak umur 6 tahun. Melihat bakatnya yang istimewa Denny Sila membawa Joey pindah ke Jakarta dan pada usia 9 tahun telah berhasil meraih penghargaan  Grand Prix di Master-Jam Fest 2013, sebuah kompetisi jazz segala usia di Odessa, Ukraina. Untuk memberinya kesempatan belajar dan bermain jazz yang lebih banyak, orangtua Joey akhirnya membawanya pindah ke New York Amerika Serikat sejak tahun 2014.







Di Negeri Paman Sam, bakat Joey ditangani orang-orang yang tepat, termasuk dari Jazz at Lincoln Center. Mereka memberikan edukasi agar Joey tak sekadar piawai memainkan instrumen musik, juga mampu memberikan inspirasi bagi bocah lain seusianya.

Pada 2014 lalu, Joey tampil di sederet acara gala, seperti New York City for Jazz di  Rose Hall, The Jazz Foundation of America di Apollo, dan The Arthur Ashe Learning Center di Gotham Hall.
Berikutnya, pada Mei 2015, Joey merilis album musik My Favorite Things bersama label rekaman Motema Music. Joey memainkan lagu-lagu klasik, dari Coltrane sampai Rodgers & Hammerstein.

Album musik debut ini digarap bersama produser kaliber Grammy, Jason Olaine, juga pemain bass Larry Grenadier dan penabuh drum Ulysses Owens, beberapa musisi profesional lain.

Jelang sebuah wawancara dengan Amara Walker di CNN TV, saat ditanya pendapatnya tentang julukan "jazz prodigy" yang diarahkan kepadanya, Joey menyatakan hal itu bukan masalah.

“Bagi, saya tak masalah disebut jazz prodigy, saya menghargai, saya ingin disebut musisi jazz saja,” kata Joey rendah hati, masih tertunduk malu-malu. “Saya selalu ingin menjadi musisi jazz.”

Sebelum menutup wawancara, Joey menyampaikan kata-kata untuk menyemangati bocah seusianya agar terus bermain musik, kelak menjadi lebih baik dan menampilkan bakat kepada dunia.

Joey yakin, selama masih muda dan mau bekerja keras, juga tak pernah mudah menyerah, maka selalu ada harapan untuk tampil gemilang. 


Menurut saya Joey sudah menjadi pahlawan bagi musik jazz, kerana dia telah berhasil membuat saya menyukai musik jazz.

Joey juga telah menjadi pahlawan Indonesia, karena di tengah-tengah banyaknya pemberitaan yang miring mengenai Indonesia saat ini, prestasi Joey di musik jazz dunia telah ikut melambungkan nama Indonesia. Teruslah berkarya Joey. Tuhan memberkatimu dan pekerjaanmu.

No comments:

Petrus M. Sitohang , Pariwisata Dan Kelautan Bisa Jadi Motor Pertumbuhan Ekonomi

KEPRIONLINE.CO.ID,TANJUNGPINANG,- Provinsi Kepulauan Riau dikenal kaya akan sumber daya alam. Letaknya yang juga sangat strategis memun...