Wednesday, March 9, 2016

Memahami Fenomena Gubernur Ahok Dari Persfektif Budaya

Oleh: Petrus M. Sitohang

Tulisan ini saya buat sesaat setelah menyaksikan acara Indonesian Lawyers Club ddi TV One Selasa (8/3/2016) malam dengan topik “Pilkada DKI 1: Siapa Penantang Ahok”. Dalam acara yang dipandu pembawa acara kondang Karni Ilyas ini hadir beberapa figur yang selama ini telah sering tampil di depan publik dan media mencoba mencari dukungan untuk menjadi penantang Ahok dalam pilkada DKI yang dijadwalkan berlangsung tahun 2017 yang akan datang. Mereka adalah mantan Menteri Pemuda dan Olah Raga Adhyaksa Dault dan Roy Suryo, artis penyanyi Ahmad Dhani dan dua anggota DPRD DKI Abraham Lunggana dari PPP dan Bestari Barus dari Partai Nasdem. Selama ini Abraham Lunggana adalah sosok yang sangat vokal menjadi penentang Ahok sementara Bestari Barus adalah sosok yang sejak dulu dikenal sebagai pendukung kuat Ahok.

Dua figur yang selama ini sudah secara luas diketahui memiliki ambisi untuk menantang Ahok yakni mantan Menteri Sekretaris Negara dan Menteri Hukum dan HAM di Kabinet SBY Yusril Ihza Mahendra dan pengusaha muda Sandiaga Uno tampil dalam program tersebut melalui sambungan video satelit.

Selain mereka juga hadir beberapa pengamat hukum dan kemasyarakatan yang sudah dikenal masyarakat luas selama ini seperti Margarito Kamis, Ridwan Saidi, Ratna Sarumpaet, Yayat Supriatna dan Ustad Anton Medan. Ketiga nama yang pertama dikenal sebagai pengkritik Ahok sementara nama yang terakhir mendeklarasikan dirinya sebagai pendukung Ahok.

Ditinjau dari sisi nilai bahasa, perumusan judul topik acara saja sebenarnya sudah tidak netral. Judul “Pilkada DKI 1: Siapa Penantang Ahok”, menempatkan para tokoh lain yang ingin menjadi penantang Ahok dalam posisi inferior dan Ahok dalam posisi superior satu terhadap yang lain. Namun terlepas dari nilai bahasa judul topik yang tidak netral itu, usaha bersama para calon penantang Ahok untuk menaikkan nilai jual mereka dengan mengeksploitasi kelemahan kepemimpinan Ahok menurut saya berakhir gagal dan menyedihkan.

Ambil contoh cara Adhyaksa Dault yang ingin menekankan buruknya cara berbicara Ahok di depan publik yang dianggap kasar dan tidak sopan dengan mengutip insiden di mana Ahok pernah mengatakan “taik” berkali kali dalam sebuah wawancara live di Kompas TV tahun lalu dengan penuh semangat menurut saya sia-sia. Kasus itu sudah lama terjadi. Dan sejak peristiwa itu terjadi, faktanya popularitas Ahok bukannya menurun, malah sebaliknya justru meningkat hingga saat ini.

Nampaknya gaya dan rasa bahasa masyarakat Jakarta, atau mungkin kita secara keseluruhan, sudah berubah. Gaya bahasa eufemisme yang selama ini sangat kita junjung tinggi dalam berkomunikasi terlebih di tataran publik sepertinya sudah berubah. Masyarakat memang masih menyukai gaya bahasa yang penuh sopan santun, menghindari perbedaan frontal dengan lawan bicara atau pihak lain. Tetapi setelah melihat banyaknya pejabat publik yang berpenampilan sopan dan bicara lembut ternyata terjerat kasus korupsi dan penyalahgunaan jabatannya, maka masyarakat kita mulai sadar akan kekeliruannya dalam menilai seorang pejabat. Saat ini pejabat tidak lagi dinilai dari gaya bahasanya melainkan aksi dan hasilnya. Paradigma baru ini tampak dalam diri Ahok sejak dia menjadi Gubernur DKI, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, Walikota Surabaya Tri Rismaharini dan Walikota Bandung Ridwan Kamil.

Mereka-mereka ini, kecuali Ridwan Kamil, dikenal luas tidak banyak basa-basi dan sering berbicara keras bahkan melakukan tindakan pendisiplinan yang keras bagi anak buahnya yang tidak bekerja sesuai harapannya. Dengan gaya komunikasi seperti itu dan kepemimpinan yang baik ternyata mereka sangat berhasil membuat anak buahnya bertanggungjawab pada pekerjaan mereka.

Yang paling ironis adalah mantan menteri Pemuda dan Olahraga Roy Suryo yang menyalahkan media sosial yang telah diekploitasi oleh para pendukung Ahok untuk merekayasa citra positif Ahok di tengah-tengah masyarakat sehingga menurutnya, popularitas Ahok sesungguhnya hanya fenomena di dunia maya yang jauh dari realitas alias semu. Ungkapan seperti ini dari seorang yang selama ini memproklamirkan dirinya sebagai pakar IT sangat menggelikan dan ironis. Kalau Roy Suryo merasa dia sebenarnya punya prestasi atau kualitas yang setara dengan Ahok kenapa dia tidak menggunakan media sosial yang nota bene dia kuasai dengan baik untuk mengangkat pamornya?

Sehingga di akhir acara itu, alih-alih bisa menolong saya untuk melihat siapa calon alternatif yang baik untuk menggantikan Ahok, calon-calon penantang Ahok yang hadir di acara itu justru semakin membuat simpati terhadap Ahok semakin meningkat. Hal ini tampak dari sikap Ustad Anton Medan yang meninggalkan acara karena gerah melihat sikap orang-orang yang ingin menantang Ahok dengan cara menjelek-jelekkannya secara tidak adil.

Menurut saya hanya pengusaha Sandiaga Uno yang berhasil menggunakan acara tersebut menyampaikan pesan mengenai kualitas dan prestasi dirinya yang bisa menambah simpati pemirsa acara tersebut termasuk saya. Dia antara lain menceritakan bagaimana usahanya pernah berhasil menciptakan puluhan ribu kesempatan kerja melalui usaha konsultanya. Dengan begitu dia berhasil menghindarkan dirinya terjebak dalam “perangkap menjelek-jelekkan Ahok”.

Memahami Budaya Tionghoa Untuk Memahami Ahok

Banyak cara untuk memahami fenomena Ahok yang sedang kita saksikan dan rasakan saat ini. Saya akan mencoba melihatnya dari sisi budaya. Sebab sadar atau tidak, sebagian besar dari kita lahir dan dibesarkan dalam lingkungan budaya yang masih kuat dihidupi oleh orang tua kita. Kebudayaan yang menjadi habitat kita saat proses pertumbuhan itulah yang disadari atau tidak membentuk cara kita bekerja, berkomunikasi, belajar dan bekerja.

Ahok lahir dan besar di Belitung dari keluarga keturunan Tionghoa. Orang-orang Tionghoa di Bangka dan Belitung dikenal sebagai pekerja keras, ulet, jujur dan pada saat yang sama dapat beradaptasi dan membaur dengan baik dengan masyarakat tempatan. Menurut saya pembauran, bukan peleburan, budaya Tionghoa di Bangka Belitung adalah contoh yang paling berhasil di Nusantara.

Kebudayaan Tionghoa diketahui sudah maju sejak ribuan tahun yang lalu. Budaya tulis, seni rupa, seni pahat dan ukir sudah dikenal luas diseluruh dunia. Patung ribuan prajurit Terakota di Xian Provinsi Shaanxi Cina yang mencengangkan karena keunikan tiap patung, tidak ada dua patung yang persis sama, dibuat pada masa Qin Shi Huang Kaisar Pertama Dinasti Qin (baca: Chin) abad ke 3 Sebelum Masehi. UNESCO telah menetapkan kompleks patung terakota Cina tersebut sebagai situs warisan dunia sejak tahun 1987.

Di bidang pemerintahan, sejak abad keenam masa Dinasti Sui, meskipun saat itu Cina berbentuk kemaharajaan, para Kaisar Cina ternyata sudah menerapkan birokrasi berbasis kecakapan (meritrokasi). Para calon-calon pegawai yang berpendidikan sarjana harus melalui ujian dulu dengan membuat karangan sebelum diterima atau sebelum naik ke jenjang yang lebih tinggi. Pejabat yang diangkat di tingkat Provinsi adalah pilihan dari pejabat-pejabat tingkat kabupaten yang dinilai berhasil. Demikian juga pejabat-pejabat yang diangkat untuk bekerja di lingkungan istana adalah para pejabat tingkat provinsi yang berprestasi dengan baik secara konsisten.   

Bukti peninggalan kebudayaan Cina yang unggul dan paling monumental yang masih dapat dilihat saat ini adalah Tembok Cina (Great Wall) yang membentang dari ujung timur hingga ujung barat negeri Cina yang maha luas. Bentangan tembok Cina  yang pembangunannya dimulai sejak abad kelima sebelum masehi yang terus berlanjut hingga dinasti Ming berkuasa abad ke 14-17 pernah mencapai total panjang 21.196 Km. Tembok Cina yang pada masanya juga dipakai sebagai rute perdagangan jalur sutera (silk road) selain sebagai benteng pertahanan militer dibangun di lipatan teratas dan sebagian bahkan di puncak barisan gunung-gunung di daratan Cina dengan tenaga manusia. Meskipun diakui pembangunan mega struktur ini diperkirakan memakan korban ratusan ribu atau bahkan jutaan jiwa yang mengerjakannya, bagaimanapun dunia mengakui tembok Cina adalah salah satu produk dari kebudayaan Cina yang luar biasa yang menandakan etos kerja keras, keteguhan hati dan keuletan mengejar kemajuan atau sesuatu yang besar dan bernilai tinggi. Untuk itulah UNESCO juga telah menetapkan Tembok Cina sebagai situs warisan dunia.

Tembok Cina yang luar biasa itu bukan satu-satunya kebesaran peninggalan kebudayaan Cina. Siapapun yang pernah menginjakkan kaki di Cina dulu maupun saat ini akan menemukan hal-hal besar di Cina dalam banyak bentuk. Ukuran negara yang besar, hampir separuh dari seluruh luas Benua Asia, penduduk lebih dari 1,4 milyar atau hampir separuh seluruh penduduk dunia. Jalan raya dan bangunan-bangunanya yang sangat lebar dan besar. Lapangan Tiananmen tempat musoleum Ketua Mao Tse Tung di Beijing mungkin adalah plaza terbesar yang ada di dunia, diperkirakan bisa menampung kerumunan setengah juta orang. Istana kaisar Cina di kota terlarang Beijing yang hingga saat ini masih dapat kita saksikan hingga saat ini memiliki lebih 2.700 kamar lebih untuk pegawai dan 2000 lebih permaisuri dan isteri kaisar.  

Yang semakin menambah keheranan dan kekaguman dunia dan saya pada tingginya kebudayaan Cina adalah bahwa desain besar (master plan) kota Beijing ibukota Cina yang dapat kita lihat saat ini ternyata telah dibuat sejak abad ke 15 pada masa dinasti Ming. Artinya sejak saat itu, orang-orang Cina telah mampu membuat perencanaan kota jangka panjang yang sangat baik karena terbukti saat ini kota Beijing menurut saya telah memenuhi semua syarat desain sebagai kota besar dunia yang tidak kalah dengan kota-kota besar dunia lainnya.

Permenungan dari semua hal-hal besar itu selanjutnya adalah pertanyaan bagaimana semua itu terjadi? Saya mengingat orang tua saya sering mengajarkan saya bahwa kemajuan hanya dapat diperoleh dengan tekad, kesungguhan, kerja keras dan pengorbanan. Semakin banyak kemajuan yang ingin kita peroleh makan dibutuhkan kerja keras, kesungguhan, biaya dan pengorbanan yang semakin besar pula. Tidak ada jalan lain untuk itu.

Perkenalan dan pertemuan saya dengan kebudayaan Cina seperti yang saya uraikan di atas memberikan kesimpulan bahwa sejarah panjang perkembangan kebudayaan Cina telah membentuk manusia Cina dan keturunannya yang mampu berpikir dan membuat rencana jangka panjang, tekad baja dan bekerja keras untuk mencapai apa yang dicitacitakan.

Orang-orang keturunan Tionghoa di manapun berada mewarisi kebesaran tradisi dan budaya Cina yang tinggi dan agung yang telah meninggalkan hal-hal besar di muka bumi ini. Sifat dan kualitas diri seperti itu tentu saja secara genetik menurun dalam diri orang-orang keturunan Tionghoa di manapun berada di seluruh dunia termasuk yang ada di Indonesia dan Gubernur DKI Basuki Cahaya Purnama yang sering hanya panggil Ahok dan yang akhir-akhir ini menjadi “darling” media nasional karena gebrakan yang dilakukannya sejak dilantik menjadi Gubernur DKI Jakarta menggantikan Jokowi yang terpilih menjadi Presiden Indonesia. 

Dengan memahami latar belakang kebudayaan Cina seperti itu saya menjadi lebih mudah memahami pola komunikasi dan kepemimpinan serta pekerjaan yang sedang dilakukan Ahok di Jakarta saat ini dan berbagai kontroversi yang melingkupinya. Dan karena itu pula sejak awal saya sudah memprediksi Ahok akan maju dalam pilkada DKI 2017 melalui jalur independen.

Tanpa memahami latar belakang kebudayaan Cina kita akan kesulitan memahami Gubernur Ahok dan fenomena yang sedang kita saksikan saat ini di Jakarta termasuk kenapa dia tidak akan pernah bisa menjadi anggota yang setia dari satu partai politik yang ada.  

Menurut saya satu-satunya cara mengalahkan Ahok adalah untuk mempelajari kualitas yang baik dalam diri Ahok, bukan malah menjelek-jelekkannya. Dan saya yakin, sangat yakin, orang yang bisa berbuat baik untuk Jakarta saat ini bukan hanya Ahok.

Petrus M. Sitohang *) Anggota Fraksi PDI Perjuangan DPRD Kota Tanjungpinang

No comments:

Petrus M. Sitohang , Pariwisata Dan Kelautan Bisa Jadi Motor Pertumbuhan Ekonomi

KEPRIONLINE.CO.ID,TANJUNGPINANG,- Provinsi Kepulauan Riau dikenal kaya akan sumber daya alam. Letaknya yang juga sangat strategis memun...