Tuesday, August 29, 2017

Politik Anggaran: Antara Senjata dan Roti


Sebuah Refleksi Kemerosotan Prestasi Olahraga Indonesian dan Catatan Kecil Untuk Fengky Fesinto dan Gloria Sitohang

Oleh: Petrus Marulak Sitohang*

Kemerosotan prestasi olahraga Indonesia saat ini nampaknya telah membuat galau sebagian saudara sebangsa saya. Bahkan Denny JA seorang konsultan politik nasional juga ikut galau dan menyalahkan pemerintah atas situasi ini. Untungnya tidak semua orang Indonesia ikut-ikutan galau. Contohnya, teman baik saya Fengky Fesinto dan anak saya Gloria tidak ikut-ikutan galau apalagi sampai tergganggu tidurnya. Seperti Fengky dan Gloria, saya juga tidak galau. 

Tentu saja saya tidak senang Indonesia harus berakhir di posisi kelima dari 11 negara peserta pesta olahraga SEA GAMES 2017 di Kuala Lumpur Malaysia. Tapi untuk menyalahkan pemerintah Jokowi JK atas soal ini rasanya tidak masuk akal sehat. Lalu apakah saya tidak merasa malu, Indonesia negara dengan jumlah penduduk terbesar di Asia Tenggara dengan lebih dari 260 juta jiwa harus berada di bawah Singapura negara yang penduduknya hanya kurang dari 6 juta jiwa? Menurut saya tidak perlu malu. Kenapa begitu?

Situasi ini sebenarnya mudah dipahami jika kita menggunakan kacamata ilmu ekonomi. Saya harus bersukur pernah mengambil beberapa mata kuliah Ilmu-ilmu Ekonomi di Fakultas Ekonomi Universitas Brawijaya di kota Malang, Jawa Timur pertengahan tahun 80an. Saya merasa itu adalah masa-masa yang sangat penting dalam pembentukan cara pandang atas berbagai masalah yang kita hadapi saat ini. Masa-masa perkuliahan yang saya lalui di kampus Dinoyo Malang itu telah membantu saya memahami perjalanan negara dan bangsa yang besar ini. Dan itu juga yang menolong saya dalam menjalankan tugas saya baik sebagai akuntan, konsultan di waktu lalu dan kini menjadi salah seorang anggota dewan kota Tanjungpinang. Namun demikian, perlu saya tegaskan, bahwa dengan mengambil beberapa mata kuliah Ilmu Ekonomi, tentu saja seseorang tidak dapat mengklaim dirinya sebagai pakar Ilmu Ekonomi. Penegasan itu berlaku juga untuk saya.

Di tahun-tahun perkuliahan saya saat itu, salah satu buku teks mata kuliah Pengantar Ilmu Ekonomi yang sangat populer adalah Economics  karya Ilmuwan Ekonomi Amerika dan Peraih Hadiah Nobel Paul A. Samuelson. Samuelson adalah ekonom yang sangat piawai menjelaskan teori-teori ekonomi John Maynard Keynes yang terkenal dengan teori Keynesiannya. Teori Keynesian adalah sebuah koreksi terhadap teori ekonomi klasik yang menyandarkan premis-premisnya pada konsep laissez-faire economic market” atau dikenal juga dengan teori ekonomi pasar bebas. Dalam teori ini pemerintah diharapkan sedapat mungkin membiarkan mekanisme pasar bebas bekerja dan jangan melakukan intervensi.

Sedangkan teori–teori Keynesian bersandar pada pendapat bahwa dalam jangka pendek, terutama saat resesi, output dari ekonomi sangat ditentukan oleh aggregasi dari permintaan (total belanja barang dan jasa). Jika teori ekonomi klasik yang dimotori oleh Adam Smith, Jean-Baptiste Say, David Ricardo, Thomas Robert Malthus dan John Stuart Mill meminta pemerintah untuk menghidari intervensi dalam sistim ekonomi, maka konsep Keynesian memberikan pembenaran atas peranan pemerintah dalam mendorong perekonomian sebuah negara. Peranan negara bukan saja dapat diterima, malah dalam masa ekonomi yang melambat dan depresi peningkatan belanja pemerintah adalah sebuah kebutuhan. Dalam masa resesi atau perang, intervensi pemerintah dalam ekonomi akan menentukan seberapa cepat pemulihan ekonomi sebuah negara.

Kita semua bisa membayangkan betapa hancurnya negara-negara Eropa terutama Jerman dan Italia begitu juga dengan Jepang paska perang dunia kedua. Negara-negara yang dikenal sebagai blok fasis ini bukan saja mewarisi sistim politik dan moral bangsa yang hancur tetapi juga perekonomian yang bangkrut karena sebagian besar infrastruktur dan alat-alat produksi negara-negara tersebut telah dihancurkan pihak Amerika dan negara-negara sekutunya. Membayangkan Jerman, Italia dan Jepang bangkit dari kehancuran dengan hanya mengandalkan mekanisme pasar bebas mengikuti anjuran teori ekonomi klasik, nampaknya adalah sebuah kemustahilan.

Faktanya adalah pemerintah ketiga negara blok fasis tersebut (Jerman, Italia dan Jepang) setelah perang menggenjot pembangunan infrastruktur (jalan, jembatan, jaringan kereta api, bandara, bendungan dan saluran irigasi) dan pembangunan alat-alat produksinya sehingga dalam waktu singkat mereka bisa memulihkan aktifitas ekonomi dan produksi dan membuka lapangan kerja bagi rakyatnya. Kebangkitan perekonomian Jerman, Italia dan Jepang setelah perang sehingga muncul menjadi negara-negara dengan perekonomian raksasa dunia saat ini jelas merupakan buah dari pengelolaan (baca: intervensi) ekonomi oleh pemerintah termasuk melalui politik anggaran belanja yang tepat sejalan dengan semangat teori ekonomi Keynesian.

Politik anggaran menurut ekonom Keynesian dapat digambarkan secara sederhana dengan membandingkan anggaran belanja senjata dan roti. Belanja senjata, disamping membutuhkan anggaran yang sangat besar, efeknya untuk peningkatan kesejahteraan rakyat sangat kecil. Senjata memang dibutuhkan negara saat perang. Namun berapa banyakkah tenaga kerja yang akan diserap industri senjata? Dan seberapa sering kita akan berperang? Lagipula, bukankah perang sesuatu yang dapat diantisipasi atau dihindari dengan politik dan diplomasi damai?

Sebaliknya, belanja roti akan mendorong orang untuk membangun pabrik roti. Pabrik-pabrik roti yang baru akan membutuhkan bahan baku, buruh dan pekerja. Para buruh dan pekerja yang mendapatkan penghasilan akan meningkatkan permintaan untuk sandang, papan dan pangan dan jasa-jasa. Dengan kata lain belanja pemerintah untuk roti jelas akan lebih bermanfaat untuk meningkatkan perekonomian dan kesejahteraan rakyat ketimbang belanja senjata. Inilah antara lain penjelasan sederhana teori Keynesian atas peranan pemerintah dalam perekonomian terutama melalui politik anggaran.
Lalu apa hubungan politik anggaran menurut teori Keynesian dengan persoalan prestasi olahraga Indonesia saat ini yang telah membuat galau banyak saudara sebangsa saya? Kalau kita melihat perjalanan bangsa ini, kita pernah sangat berjaya di ajang pesta olahraga SEA GAMES. Faktanya adalah sejak ikut pertama kali di ajang SEA GAMES di Kuala Lumpur tahun 1977, waktu itu saya masih kelas VI SD di Jakarta, Indonesia langsung keluar sebagai juara umum. Dan tidak tanggung-tanggung, Indonesia bahkan menjadi juara SEA GAMES selama 4 kali berturut-turut (1977, 1979, 1981, 1983). Bahkan Indonesia kembali menjadi juara umum SEA GAMES selama 4 kali berturut-turut untuk kali kedua (1987,1989,1991,1993). Artinya, sejak dimulai tahun 1977 hingga tahun 1993 dominasi Indonesia di pentas SEA GAMES hanya disela sekali saja oleh Thailand di tahun 1985 ketika pesta olah raga ini dilaksanakan di Bangkok Thailand. Selain tahun-tahun di atas, Indonesia kemudian masih tampil kembali menjadi juara umum SEA GAMES di tahun 1997 dan 2011 di era Presiden SBY.
Hingga pelaksanaan yang ke29 di Kuala Lumpur, praktis Indonesia sudah menjuarai SEA GAMES sebanyak 10 kali. Belum ada satu negara anggota ASEAN yang mampu menyamai prestasi Indonesia di pentas SEA GAMES. Tidak Thailand, tidak pula Malaysia yang saat ini nampaknya baru akan menjadi juara umum untuk kedua kalinya. Fakta-fakta ini sebenarnya sudah membuktikan dengan jelas bahwa kalau mau Indonesia bisa menjadi juara SEA GAMES, bukan hanya sekali tetapi berkali-kali. Dengan fakta ini untuk tingkat SEA GAMES, Indonesia tidak perlu lagi membuktikan apapun. Persoalannya adalah bukankah untuk memperoleh sesuatu selalu ada biaya yang harus ditanggung atau untuk mengejar sesuatu ada kepentingan lain yang harus ditunda?
Kita perlu bertanya, tentu tidak untuk mempersoalkan, mengapa pencapaian setinggi itu di masa lalu bisa terjadi? Penjelasannya bisa dilihat dari beberapa sudut pandang. Dari sudut pandang politik, kita semua tahu saat itu pemerintahan Orde Baru muncul melalui drama pengambilalihan kekuasaan yang tidak normal dan demokratis. Rezim orde baru saat itu secara politik jelas sangat membutuhkan dukungan, pembenaran dan penerimaan atas kekuasaan yang direbutnya dari Orde Lama.
Namun di luar alasan politik yang bisa menjadi bahan perdebatan bagi pendukung rezim orde baru, yang juga faktual adalah hasil ekspor minyak dan gas bumi Indonesia yang melimpah saat itu memang memungkinkan kita dapat menyediakan anggaran yang besar untuk mendanai pembinaan dan pembangunan olahraga. Kondisi yang jauh berbeda saat ini di mana Indonesia bukan lagi menjadi negara pengekspor bersih minyak bumi. Dan bukan itu saja. Di luar anggaran belanja pemerintah untuk membangun olah raga Indonesia, negara ini dulu juga mempunyai sumber dana nonbudgeter untuk kegiatan sosial dan olah raga dari berbagai sistim penggalangan dana masyarakat seperti Undian Harapan, Toto KONI, Porkas dan SDSB, yang kesemuanya kini diharamkan di negeri ini. Dari fakta ini, sebenarnya kita perlu bertanya pada diri kita, apakah kita sudah cukup jujur untuk menghargai prestasi olah raga kita di era Orde Baru yang didanai sebagian oleh dana yang bersumber dari apa yang saat ini kita haramkan?
Politik anggaran di zaman orde baru dan pemerintahan-pemerintahan selanjutnya itulah yang telah membawa prestasi Indonesia yang sangat tinggi di bidang olah raga tetapi pada saat yang sama menempatkan Indonesia di kelompok negara dengan infrastruktur yang sangat tertinggal bahkan di tingkat sesama negara-negara ASEAN.
Kalau sekarang Presiden Jokowi dan Wapres JK berpaling dari kebijakan yang diambil pemerintahan-pemerintahan terdahulu dan membenahi politik anggaran Indonesia, apakah kita harus menyalahkannya dengan dalih merosotnya prestasi olahraga di ajang SEA GAMES?
Sebagai warga bangsa dan sebagai ayah Gloria, yang saat ini sedang mempelajari jurusan yang akan diambilnya di Universitas tahun depan, akhir-akhir ini saya sedikit berbangga membaca berita Indonesia sudah mulai mengekspor beras ke Thailand, negara yang selama ini menjadi kiblat Indonesia di bidang pertanian. Selama ini kita hanya kenal mangga bangkok, durian bangkok, ayam bangkok dan lain-lain yang serba Bangkok.
Jadi kalau harus disuruh memilih apakah Indonesia sebaiknya menjadi juara SEA GAMES atau menjadi pengekspor beras dan hasil-hasil pertanian ke negara-negara tetangga kita, jelas saya  dengan tegas dan bangga akan memilih yang terakhir.
*) Petrus Marulak Sitohang, Alumnus Universitas Brawijaya Malang dan sekarang menjadi anggota DPRD Kota Tanjungpinang dari PDI Perjuangan.

Keterangan:
Fengky Fesinto adalah rekan anggota DPRD Kota Tanjungpinang dari Partai HANURA.
Gloria Sitohang adalah anak tertua saya yang saat ini sedang duduk di kelas XII SMA Katolik St. Maria Tanjungpinang.



No comments:

Petrus M. Sitohang , Pariwisata Dan Kelautan Bisa Jadi Motor Pertumbuhan Ekonomi

KEPRIONLINE.CO.ID,TANJUNGPINANG,- Provinsi Kepulauan Riau dikenal kaya akan sumber daya alam. Letaknya yang juga sangat strategis memun...