Monday, January 29, 2018

Kemeriahan Acara Syukuran Tutup Tahun Paguyuban KBST Masuhampa Tanjungpinang

Dalam rangka mempererat tali silaturahmi sesama warga Sangihe Talau yang ada di Tanjungpinang Kijang dan sekitarnya paguyuban Keluarga Besar Sangihe Talaud (KBST) MASUHAMPA Tanjungpinang melaksanakan Ibadah Syukur Tutup Tahun pada hari Sabtu, 27 Januari 2018. Ibadah syukur dipimpin oleh Pendeta Andris Tataming STh. dari Gereja Anglikan Tanjungpinang.


Penampilan persembahan lagu dan tari dari perwakilan keluarga besar Sangihe Talaud Tanjunguban yang datang ke Tanjungpinang khusus memeriahkan acara ini.

Acara ini dihadiri pengurus dan anggota KBST Tanjungpinang Kijang serta perwakilan pagyuban KBST dari Tanjunguban. Selain itu acara ini juga dihadiri warga dari suku-suku Ambon, Melayu, Batam, Jawa, Tionghoa dan lain-lain.  

Setelah acara ibadah syukur dilakukan acara pemberian penganan khas Sangihe Talaud kepada para penasehat paguyuban oleh ketua KBST Willy Tatengkeng. Setelah itu satu persatu penasehat KBST memberikan kata sambutan dan dilanjutkan dengan acara makan bersama.

Setelah makan bersama acara dilanjutkan dengan tari "four wire" dimana seluruh peserta diundang untuk ikut menari sesuai dengan gerakan yang dipandu pemimpin tarian. Acara ini benar-benar menciptakan kegembiraan bagi seluruh anggota keluarga besar KBST Tanjungpinang  Kijang dan perwakilan Tanjunguban serta undangan yang hadir saat itu.
 
Acara ini merupakan tradisi masyarakat Sangir Talaud sejak dulu kala. Menurut tradisi masyarakat Sangihe Talau momentum Tahun Baru bagi masyarakat adat Sangihe-Talaud, Sulawesi Utara tak sama dengan orang kebanyakan. Dalam keyakinan mereka, Tahun Baru yang diberi nama Tulude-Sawaka jatuh pada tanggal 31 Januari.

Acara puncak upacara Tulude-Sawaka ini adalah pemotongan Tamo dan Waaa yang didahului pembacaan puisi dalam bahasa tua Sangihe. Menurut tetua masyarakat Sangihe Talaud Tanjungpinang Gebsy Makawimbang Tamo adalah kue adat yang berbentuk kerucut sebagai simbol rasa terima kasih terhadap Tuhan. Sedangkan Waaa adalah simbol Sawakka -jiwa kepahlawanan- masyarakat Talaud. Gebsy Makawimbang mengatakan tidak mudah membuat kue Tamo dan Waa ini di perantauan. Pdt Andris Tataming mengisahkan dia pernah mengikuti acara Tutup Tahun masyarakat Sangihe Talaud yang ada di Singapura beberapa tahun lalu. Kue Tamo dan Waaa ini didatangkan langsung dari Sangihe. Gebsy Makawimbang menambahkan bahwa puisi yang dibacakan dalam acara Tulude Sawaka seperti ini juga tidak banyak yang bisa melakukannya. Karena puisi tersebut dalam bahasa Sangihe yang tua. Hanya sedikit orang umumnya yang masih tinggal di Sangihe yang mahir melakukannya.   


No comments: