Thursday, February 22, 2018

80% Pelaku Hate Speech di Medsos Partisan Secara Politik

JAKARTA - Aktivis Gusdurian Savic Ali mengungkapkan bahwa 80% pelaku hate speechatau ujaran kebencian berdasarkan agama di media sosial bukan berasal dari akun-akun yang teridentifikasi akun kelompok radikal atau fundamentalis. Menurut Savic, hate speech justru berasal dari akun-akun yang teridentifikasi dari kelompok yang partisan secara politik.


"Satu tahun terakhir itu banyak ungkapan hate speech berbasis agama bukan datang dari akun-akun yang teridentifikasi dari kelompok radikal atau orang fundamentalis, tapi teridentifikasi orang yang partisan secara politik," ujar Savic saat dialog publik Institute of Public Policy bertajuk "Pilkada 2018: Pesta Politik dengan Semangat Kebangsaan" di Unika Atma Jaya, Jalan Sudirman, Jakarta, Rabu (21/2).

Selain Savic, hadir juga sebagai narasumber dalam acara tersebut yakni: Deputi Komunikasi Politik dan Diseminasi Kantor Staf Presiden Eko Sulityo, Humas Polri Kombes Sri Suari, Ketua Pelaksana Gerakan Ekayastra Unmada (Semangat Satu Bangsa) Putut Prabantoro, dan Dosen Hukum Fakultas Hukum Unika Atma Jaya Surya Tjandra.

NU, kata Savic melakukan tracking di media sosial terkait ujaran kebencian sejak Oktober 2017 sampai Desember 2017. Dalam tiga bulan tersebut, tutur dia, mereka melakukan tracking dengan melibatkan ribuan kata kunci, ribuan tweet di Twitter dan ribuan status Facebook.

"Banyak sekali pelaku hate speech yang membangun sentimen agama, itu akun-akun yang partisan, sekitar 80% dilakukan partisan parpol," ungkap dia.

Situasi ini, kata Savic, berbeda jauh dengan realitas yang terjadi tiga tahun lalu di mana pihak yang menyerang kelompok yang dianggap kafir dan liberal, merupakan akun yang teridentifikasi benar-benar dari kelompok intoleran dan fundamentalis.

"Jadi, kalau sekarang, aktor-aktor utamanya bukan kelompok radikal beragama, tetapi akun partisan politik yang sepertinya nggak religius juga," tandas dia.

Lebih lanjut, Savic menilai partisan-partisan politik ini hanya menggunakan isu agama untuk kepentingannya. Pasalnya, mereka menganggap masyarakat Indonesia merupakan masyarakat religius.

"Berdasarkan survei, Indonesia itu kan negara yang masyarakatnya nomor 3 di dunia yang menganggap agama menjadi pentig dalam hidip. Artinya agama bagi masyarakat kita sangat penting," kata dia.

Dampak terhadap Pemilu

Savic menilai banyaknya akun radikal yang dibentuk oleh kelompok partisan pasti terkait pilkada serentak 2018 dan pemilu 2019. Dengan memainkan hoax dan ujaran kebencian, kata dia, bisa membuat polarisasi di masyarakat semakin menguat.

Pasalnya, pemilu kadang membuat masyarakat terbelah sesuai pilihan dan dukungannya.

"Ini bisa menajamkan polarisasi yang lama dan bisa berubah menjadi kebencian dan kekerasan. Ini bisa memperuncing polarisasi yang sudah terjadi di tengah menguatnya politik identitas selama beberapa tahun terakhir ini," terang dia.

Savic mengakui bahwa politik identitas merupakan bagian dari konteks demokrasi sejauh politik identitas tidak membahayakan hak dasar kelompok lain. Namun, politik identitas tidak dibenarkan jika digunakan mengabaikan dan bahkan merusak hak dasar kelompok lain.

"Jika media sosial dipenuhi dengan hoax dan ujaran kebencian, maka akan membuat masyarakat kebingungan untuk menentukan mana berita fakta dan mana berita bukan fakta atau hoax. Itu menyulitkan, itu memang yang diinginkan oleh mereka, isinya propaganda negatif aja," pungkas dia. (YUS/sp)

http://id.beritasatu.com/home/nu-80-pelaku-hate-speech-di-medsos-partisan-secara-politik/172287

No comments: