Wednesday, February 14, 2018

Penyerang Gereja Stasi St. Lidwina Diduga Jaringan Kelompok Radikal

Polisi tiba di gereja Stasi St. Lidwina di Bedog untuk menangkap pria bersenjata pedang yang menyerang umat Katolik saat Misa Minggu lalu. (Foto: Stasi St. Lidwina)
Seorang pria bersenjata pedang dilumpuhkan polisi dengan tembakan setelah menyerang Pastor Karl-Edmund Prier SJ dan tiga orang lainnya saat Misa Minggu pagi berlangsung di Stasi St. Lidwina di Bedog, Kecamatan Gamping, Kabupaten Sleman, Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

Suliono, 22, masuk ke gereja stasi ketika umat Katolik tengah melambungkan pujian saat Misa Minggu yang dipimpin oleh imam asal Belanda tersebut.
Menurut Kabid. Humas Polda DIY AKBP Yulianto, Suliono masuk ke gereja dari pintu barat dan langsung menyerang umat Katolik dengan pedangnya. “Korban pertama adalah petugas gereja yang terluka di bagian punggung,” katanya kepada ucanews.com.
Suliono lalu bergerak menuju altar dan menyerang Pastor Prier. “Ia menyerang di bagian kepala dan punggung imam itu,” lanjutnya.
Dalam video yang beredar luas di media sosial, pelaku nampak mengayunkan sebuah pedang di depan altar dan beberapa orang melemparinya dengan batu dan kursi.
Suliono juga menyerang dan merusak patung Yesus dan Maria.
AKBP Yulianto mengatakan Suliono berusaha melawan saat hendak ditangkap polisi dan kemudian dilumpuhkan dengan tembakan di bagian paha.
Pastor Prier dan korban lainnya saat ini berada dalam kondisi stabil.
Sehari setelah serangan, Kapolri Tito Karnavian mengatakan ada indikasi kuat bahwa Suliono, seorang mahasiswa, berkaitan dengan jaringan kelompok radikal.
Suliono, lanjutnya, diduga pernah mempunyai keinginan untuk berjihad di Suriah tapi gagal mendapatkan paspor.
Uskup Agung Semarang Mgr Robertus Rubiyatmoko mengatakan polisi tengah menangani kasus itu dan para korban yang mengalami luka-luka “merasa dilindungi oleh Allah.”
Ketua PP Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Juventus Prima Yoris Kago meminta umat Katolik untuk tidak terprovokasi oleh serangan itu.
“Mari kita tunjukkan teladan sebagai orang beriman yang berusaha mencintai semua orang,” katanya.
“Kita tunjukkan bahwa kita menolak aksi destruktif atas nama apa pun,” lanjutnya.
Insiden itu memunculkan keprihatinan dari banyak tokoh agama, termasuk umat Islam.
Sekjen PBNU Helmy Faishal Zaini mengatakan aksi semacam itu mengingkari Islam.
“Aksi serangan dan kekerasan bukan bagian dari ajaran agama dan keyakinan apa pun,” katanya kepada ucanews.com.
“Islam mengutuk aksi kekerasan khususnya jika aksi kekerasan ini dilakukan di tempat ibadah,” lanjutnya.
Syafii Maarif, tokoh Islam moderat yang mengunjungi gereja stasi pasca-serangan tersebut, mengatakan apa yang terjadi merupakan “tindakan barbar.”
Sementara itu, Wakil Ketua Setara Institute Bonar Tigor Naipospos mengatakan insiden itu menggarisbawahi perlunya mengatasi radikalisme.
“Pelakunya anak muda. Ini menunjukkan bahwa pemahaman radikal di kalangan anak muda terus terjadi dan mereka didorong oleh kelompok ekstremis,” katanya.

No comments: