Friday, April 6, 2018

Bersama Pastor Frans Adbaw Odjan, Pr


Posturnya subur, untuk tidak mengatakan ektra gemuk, kulitnya agak gelap sebagaimana umumnya orang Flores. Ditambah jenis suaranya yang bertipe bariton membuat sosoknya saat di altar gereja dominan dan mudah menarik perhatian umatnya di mana dia sedang melayani. Dialah Pastor Frans Adbaw Odjan, Pr. seorang imam Katolik keuskupan Pangkal Pinang. Lahir dan dibesarkan di Tanjungpinang 55 tahun yang lalu dan sejak tahun 2016 yang lalu dia bertugas melayani umat Katolik di paroki tempatnya di masa kecil yakni Paroki Hati Santa Maria Tak Bernoda Tanjungpinang. Wilayah kerja Paroki ini meliputi Kota Tanjungpinang, Kabupaten Bintan, Kabupaten Anambas dan Kabupaten Natuna.


Menjadi imam di paroki di mana dia berasal itu saja sudah merupakan sebuah keistimewaan. Di gereja Katolik, seorang imam biasanya ditugaskan oleh hirarki (dalam hal ini keuskupan bagi pastor projo) atau kongregasi tempatnya bergabung jauh dari daerah asalnya.

Namun keistimewaan Romo Frans yang menonjol sebenarnya adalah cara berkotbahnya yang hidup. Cara berkotbah adalah gabungan gaya pendeta karismatik dan pendidik. Tidak jarang dia memberi contoh-contoh atau ilustrasi yang berasal dari kehidupan sehari-hari dan dalam gaya bahasa sehari-hari. Dan dia biasanya menyampaikan kotbahnya dengan kutipan-kutipan atau istilah-istilah sehari-hari dalam berbagai bahasa daerah. Dia dapat berbicara beberapa bahasa daerah seperti Flores, Melayu Kepulauan Riau, Tio Ciu, Batak dan Jawa selain bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris. Gabungan cara menguraikan, menafirkan kitab suci dan cara penyampaian dan intonasi kotbahnya  membuat kotbahnya mudah diserap jemaat yang dilayaninya.  Tidak jarang dia memberikan contoh-contoh atau ungkapan yang memancing tawa jemaatnya.
 

Ketika dia merayakan pesta perak imamatnya tahun 2017 yang lalu, acaranya berlangsung meriah karena dihadiri bukan hanya umat Katolik melainkan juga dihadiri warga Tanjungpinang bukan katolik yakni teman-teman sebayanya di masa kecil dan tetangganya yang umumnya orang dari suku Melayu. Kehadiran mereka menggambarkan bagaimana pribadi Romo Frans ini sungguh membaur dengan warga di mana dia dibesarkan. Kehadiran mereka juga menegaskan bagaiman sikapnya dalam bergaul di tengah-tengah masyarakat yang heterogen dalam suku, bahasa dan keyakinan.

No comments:

Petrus M. Sitohang , Pariwisata Dan Kelautan Bisa Jadi Motor Pertumbuhan Ekonomi

KEPRIONLINE.CO.ID,TANJUNGPINANG,- Provinsi Kepulauan Riau dikenal kaya akan sumber daya alam. Letaknya yang juga sangat strategis memun...