Tuesday, June 19, 2018

Anna, Ibu Maria

Tentang Kelahiran Yesus

YESUS cucuku, dilahirkan di Nazaret. Pada malam saat Yesus dilahirkan, kami dikunjungi oleh orang-orang dari Timur. Mereka adalah orang-orang Persia yang datang ke Esdraelon dengan para kafilah dari Madinah dalam perjalanan mereka menuju Mesir. Karena mereka tidak mendapatkan kamar di penginapan, mereka mencari tempat bermalam di rumah kami.

Aku menyambut mereka dan mengatakan, “Anak perempuanku melahirkan seorang anak laki-laki pada mala mini. Maka maafkanlah aku jika tidak dapat melayani sebagaimana layaknya seorang tuan rumah.”

Kemudian mereka berterimakasih kepadaku karena telah memberi mereka tempat bermalam. Setelah makan malam, mereka berkata, ”Kami akan melihat anak yang baru lahir itu.”

Anak Maria itu sangat menyenangkan untuk dilihat, dan Ia juga sangat elok.

Ketika orang-orang Persia itu melihat Maria dan bayinya, mereka mengambil emas dan perak dari tas mereka, kemudian meletakkannya di kaki Anak itu.

Kemudian mereka berlutut dan berdoa dengan bahasa aneh yang tidak kami mengerti.

Dan ketika aku mengantar mereke ke tempat tidur yang kupersiapkan; mereka berjalan seolah-olah  terpesona dengan apa yang mereka lihat.

Ketika pagi tiba, mereka meninggalkan kami dan berjalan menuju Mesir.

Tapi pada saat perpisahan mereka berbicara kepadaku dan mengatakan, “Anak ini tidak lain adalah seorang pemimpin, walaupun kami belum melihat cahaya Tuhan di mata-Nya dan senyum Tuhan di mulut-Nya.

“Kami mohon Anda melindungi-Nya sehingga Ia bisa melindungi kalian semua.”

Setelah mengatakan itu, mereka menunggangi unta-unta dan kami tidak melihat mereka lagi.

Maria tampaknya tidak sekadar gembira pada kelahiran Anak pertamanya itu, tetapi baginya, kelahiran itu juga sebuah kejutan dan keajaiban.

Ia memandangi bayinya, kemudian memalingkan wajahnya ke jendela memandang langit-langit seolah-olah ia melihat berbagai pemandangan.

Dan ada banyak lembah di antara hati dan pikirannya. 

Tubuh dan jiwa Anak itu tumbuh, dan ia berbeda dari anak-anak lainnya. Ia tegas dan keras dalam memerintah, dan aku tidak dapat meletakkan tanganku di atas-Nya.

Tubuh dan jiwa Anak itu tumbuh, dan Ia berbeda dari anak-anak lainnya. Ia tegas dan keras dalam memerintah, dan aku tidak dapat meletakkan tanganku di atas-Nya.
Namun Ia dicintai semua orang Nazaret, dan hatiku tahu mengapa.

Seringkali Ia mengambil makanan kami untuk diberikan pada orang lewat. Ia akan memberikan manisan dariku, sebelum Ia merasakan dengan mulut-Nya sendiri.

Ia memanjat pohon-pohon di kebun buahku untuk memetik buah-buahan, tetapi Ia tidak pernah memakannya sendiri.

Ia beradu lari dengan anak-anak lain, dan seringkali Ia mengalah sehingga mereka dapat mencapai tujuan lebih dahulu.

Kadang-kadang ketika kami mengantar-Nya ke tempat tidur, Ia berkata, “Katakan pada ibu-Ku dan orang lain bahwa hanya tubuh-Ku yang akan tidur. Pikiran-Ku akan bersama mereka sampai pikiran mereka datang menemui pagi-Ku.”

Banyak kata-kata yang mengagumkan yang Ia ucapkan padahal Ia masih anak-anak, tetapi aku sudah terlalu tua untuk mengingatnya.

Sekarang mereka mengatakan padaku bahwa aku tidak akan melihat-Nya lagi. Tapi bagaimana aku akan memercayai kata-kata mereka?

Aku masih mendengar tawa-Nya, dan suara lari-Nya di sekitar rumahku. Dan setiap saat aku mencium pipi anakku, keharuman-Nya kembali ke hatiku, dan tubuh-Nya tampak di pelukanku.

Namun bukankah aneh bila anakku tak pernah berbicara tentang Anak pertamnya kepadaku?

Kadang aku merasa bahwa perhatianku pada-Nya lebih besar daripada perhatian ibu-Nya. Ia sering berdiri mematung sepanjang hari, sementara hatiku merambah dan berlari mengikuti arus.

Mungkin dia mengetahui apa yang tidak kuketahui. Mungkin juga dia akan menceritakan semuanya kepadaku.        


Kahlil Gibran, "Yesus Sang Anak Manusia"

No comments:

Petrus M. Sitohang , Pariwisata Dan Kelautan Bisa Jadi Motor Pertumbuhan Ekonomi

KEPRIONLINE.CO.ID,TANJUNGPINANG,- Provinsi Kepulauan Riau dikenal kaya akan sumber daya alam. Letaknya yang juga sangat strategis memun...