Saturday, June 16, 2018

Diponegoro

(Sajak buat Klankbeeld dalam sebelas bagian berupa percakapan dalam kenangan antara Diponegoro dengan kudanya Kiai Gentayu)

Ketika di penjara Makassar

I

Laju! Laju kudaku manis: Lajulah!
Tiada lagi kita berumah
Dendam membakar dalam hati
Selarong tinggal lautan api!

Aku: Antawirya
Pangeran Diponegoro.
Kini bermukim sepanjang Kali Progo
Karena perintah sukma,
Berjaga sepanjang sungai Bogowonto.

Hei, kudaku manis: Kiai Gentayu
Aku rindu
Tapi ada larangan suci menyeberang kali.
Gunung Merapi jadi saksi.
Jadi,
Mari menyisih
Jika perang, baik lupakan Ratnaningsih.

Tiada cinta selain kemerdekaan!
Untuk siapa semua kita lupakan
Tiada hukum selain kebebasan
Sejak lepas kandungan.



II

Tersebutlah dua pahlawan
Sentot dan Prawirakusuma
Banteng Pleret dalam kepungan.
Apa daya menolak bala?

Deri Dekso, Pleret dipertahankan
Dari Selarong Diponegoro datang
Menyerbu sambil merembes jalan
Di balik tiap pohon musuh menghadang


III

Hei kudaku manis: Kiai Gentayu
Banyak kuda kutunggang sebelum kau
Tapi sembur darah pertama di pinggangmu
Ringkik kemenanganmu, di hatiku.

Aku kini bertahan di lereng gunung
Semua benteng di dataran terkepung.
Tapi lihat di balik Merbabu fajar menyingsing
Dan pedang rakyat mengkilap gemerincing

Luka kemarin mendapat sitawarsidingin
Pada hati rakyat yang setia
Dan dalam tapa, tentang cinta
Serimbun pohon beringin.

Adakah itu daerah bukit Singi?
Kuburan pahlawan Pangeran Bei?
Ah, tapi ksatria tak layak tersedu
Ke medan perang Lengkong kita maju.  


IV

Ketika Diponegoro berdiri di bawah beringin
Di kaki gunung Minore, lepas malam dingin,
Segala pahlawan, habis perang, datang padanya,
Kecuali dua, lalu Diponegoro berkata:

Awankah yang dalam mataku menyelinap?
Ataukah ramalan kejadian di masa hadap?
Ke manakah pahlawan, yang dua lagi
Agar mereka kutekankan pada hati?

Maka semua yang hadir diamlah,
Sinar pagi menyapu wajah tercinta
Anak kesayangan, dalam kenangan mesra
Putera buah hati, tiwas sudah!


V

Hei, kudaku manis: Kiai Gentayu!
Jaya kusuma tiada lagi
Jalan perang, hanya berita mati.

Tapi mati kandungan badan!
Maka serbu, serbu: Maju!
Hidup mulai sebelum kafan.

Maju ke medan jihat
Menempuh jalan kehendak rakyat:
Untuk kebebasan
Kehormatan
dan Keadilan


VI

Terkadang Kiai Gentayu diganti Wijaya Krisyna
Lawan bicara di sini peperangan
Tapi bukankah cinta punya satu nama,
Sinar setia yang tak berkesudahan?

Kiai Maja, telah meninggalkan barisan
Adakah ia ingin menjadi Sultan?
Ataukah itu hanya suatu muslihat?
Kemauan Allah diduga tak dapat.


VII

Hei, Wanijaya Krisyna, jangan lupa
Kalau hendak ke daerah Kedu,
Jangan menyalahi perintah nenek moyang.
Ambillah jalan memanjang sungai ke seberang!

Kiai Maja telah patah hati
Lain kali Paman Mangkubumi
Boleh jadi niat kita tidak suci
Karena itu mari bersamadi

Musuh mengepung dari segala penjuru
Bagi kita tersisa hanya daerah Kedu.
Tapi andai panglima menyerah satu per satu
Hal itu, akan membuat kita makin berpadu.

Selama rakyat memelihara tujuan perang
Tak akan ada jalan terhempang
Sungguhpun harus dilalui jurang.
dan perangkap musuh si hati-curang.

Selama Sentot berada di sisiku,
Biar musuh berlipat seribu!


VIII

Setelah Kiai Maja, menyerahlah Mangkubumi
Barisan pahlawan yang tak terganti
Dan tidak lama kemudian, menyerahlah Sentot.
Maka perang bertahuntahun pun menjelang tamat.


IX

Sentot panglima kepercayaanku
Harimauku yang berganti bulu.
Wahai, Kiai Gentayu
Sekarang hanya tinggal kau

Ke Magelang aku diminta datang
Merundingkan syarat perdamaian
Adakah rakyat sanggup menahankan
Jika perang berkepanjangan?

Hei, Wanijaya Krisyna, hei Kiai Gentayu
Pada prajurit kamu kuserahkan
Ke Magelang aku pergi dahulu
Menunaikan puasa di bulan Ramadhan.

Jika kamu kuatir musuh khianat
Bukankah nasibmu di tangan rakyat?
Lihatlah penduduk Remo Kemal
Datang menyambut aku berjejal.

Pada wajahnya keberanian serta setia,
Selama demikian halnya, sekalipun menderita,
Usahlah takut kamu,
Akan nasibmu panglimamu!


X

Musuh sengaja mengatur siasat
Untuk menangkap Diponegoro secara khianat
Demikianlah berita di tengah rakyat Magelang
Ketika ia dalam mesjid asyik sembahyang.

Berbisik rakyat: Tahukah ia akan muslihat?
Apa yang harus kita perbuat?
Kumpul tombat serta pemuda,
Diponegoro harus dibela!!!

Bertanya rakyat: Tahukah ia putus asa?
Makan datang dengan musuh bicara?
Kumpul penduduk tua dan muda,
Biar pedang berkilat di bulan puasa!


XI

Hei kudaku manis: Kiai Gentayu!
Kerajaanku kini hanya di bilik penjara
Laskar rakyat yang dulu
Tinggal; hanya dua pemuda.

Tapi, daerah kebebasan
Tetap tergenggam dalam kekuasaanku
Selama kesetiaan di sampingku ada,
Biar dalam dinding berlapis tujuh.

Hei, kudaku manis, kudaku kesayangan
Jauh sungguh negeri Makassar
Sungguh jauh perjalanan,
Selalu terkenanglah gunung Tidar.

Laju, laju kudaku ganas: Gempur!
Tiada kita berumah lagi
Dendam membaja jadi pelor
Selarong tinggal lautan api!

Kini aku bermukim di sepanjang Kali Progo
Berjaga sepanjang sungai Bogowonto
Sungai darah-daerah perbatasan
Antara, kelaliman dan bumi kemerdekaan

Laju laju! Kiai Gentayu,! Laju!
 

Sitor Situmorang, "Kumpulan Sajak 1948-1979"

No comments: