Friday, June 15, 2018

Maria Magdalena

Saat Pertama Berjumpa Yesus

WAKTU itu bulan Juni ketika aku melihat-Nya pertama kali. Ia berjalan di ladang gandum ketika aku lewat bersama dayang-dayangku. Ia sendirian.

Irama langkah kaki-Nya berbeda dengan manusia lain, dan gerakan tubuh-Nya belum pernah kulihat pada orang lain.

Manusia tidak melangkahkan kakinya di atas bumi seperti yang Ia lakukan. Dan sampai sekarangpun aku tidak tahu apakah Ia berjalan cepat atau lambat.

Dayang-dayangku mengangkat telunjuk kepada-Nya sambil berbisik malu-malu satu sama lain. Aku menghentikan langkahku untuk sesaat, dan mengangkat tanganku untuk menyalami-Nya. Tetapi Ia tidak menoleh dan tidak memandang kepadaku. Aku jadi membenci-Nya. Aku jengah, dan menjadi sedingin salju. Aku menggigil.

Malam itu aku melihat-Nya dalam mimpi; dan mereka mengatakan padaku kemudian, bahwa aku berteriak ketika tidur dan tampak gelisah.

Pada bulan Agustus aku melihat-Nya melalui jendela kamarku. Ia duduk di bawah keteduhan pohon cemara di seberang kebunku, dan Ia setenang batu, seperti patung-patung di Antiokia dan kota-kota lain di Negeri Utara.

Salah satu dayangku, seorang dari Mesir, datang kepadaku dan berkata, “Laki-laki itu ada di sini lagi. Ia sedang duduk di sana, di seberang kebunmu.”

Aku menatap-Nya, dan jiwaku bergetar kerena Ia begitu elok.

Tubuh-Nya begitu serasi satu bagian dan yang lain.

Kemudian aku berdandan dalam pakian Damaskus, bergegas ke luar rumah berjalan menuju ke tempat-Nya.

Apakah kesendirianku, atau bau harum-Nya, yang menarikku menuju pada-Nya? Apakah mataku yang haus akan keelokan, ataukah keindahan-Nya yang menerangi mataku?

Aku tetap tidak tahu sampai sekarang.

Aku berjalan menghampiri-Nya dengan baju wangi semerbak dan sandal emasku, pemberian seorang kapten tentara Roma beberapa waktu yang lalu. Ketika sampai di dekat-Nya, aku berkata, “Tuhan memberkatimu.”

Ia jawab  “Tuhan memberkatimu, Maria.”

Ia menatapku, dan mata-Nya yang bagai malam ketika memandangku, tidak seperti mata laki-laki yang pernah melihat padaku. Tiba-tiba aku merasakan diriku seperti telanjang. Aku malu.

Namun Ia hanya mengatakan, “Tuhan memberkatimu.”

Kemudian aku berkata pada-Nya, “Maukah Engkau singgah ke rumahku?”

“Apakah sekarang Aku belum berada di rumahmu?” sahut-Nya.

Aku tidak mengerti maksud-Nya kala itu, tapi sekarang aku paham.

Aku berkata lagi, “Maukah engkau minum anggur dan makan roti bersamaku?”

Ia menjawab, “Baik, Maria, tetapi tidak sekarang.”

Tidak sekarang, tidak sekarang. Tiba-tiba gemuruh suara lautan pun ada dalam dua kata-kata itu, bersama deru angin dan pepohonan. Ia mengucapkannya padaku seperti kehidupan mengucapkannya pada kematian.

Agar engkau ingat, sahabatku, saat itu aku telah mati. Aku adalah perempuan yang telah menceraikan jiwanya. Aku terpisah dari diri yang kini tengah engkau saksikan. Aku milik semua laki-laki, bukan milik siapapun. Mereka memanggilku perempuan sundal, dan seorang perempuan yang memelihara tujuh setan. Aku dikutuk, dan aku penuh iri dan dengki.

Tetapi ketika fajar di mata-Nya menatap mataku, semua bintang di malam-malamku meredup, dan aku menjadi Maria, seorang perempuan yang hilang dari dunia lama yang dikenalnya, dan menemukan diri di tempat yang baru.

Kemudian aku berkata kembali kepada-Nya, “Datanglah ke rumahku, berbagi roti dan anggur bersamaku.”

Ia menjawab, “Mengapa engkau menawari-Ku menjadi tamumu?”

Aku berkata, “Aku mohon datanglah ke rumah-ku.” Hanya itulah yang memenuhi kesadaranku, seluruh langit yang ada dalama diriku menyeru-Nya.

Kemudian Ia memandangku, dan terik siang di mata-Nya menyinariku, Ia berkata, “Engkau punya banyak kekasih, tapi hanya Akulah yang mencintaimu. Laki-laki lain mencintai diri mereka sendiri dalam kedekatannya padamu. Aku mencintaimu dalam dirimu sendiri. Laki-laki lain melihat kecantikan dalam dirimu yang cepat memudar ketimbang tahun-tahun kehidupan mereka sendiri. Tetapi Aku melihat kecantikanmu tidak akan pudar, dan di musim gugur dan hari-harimu, kecantikan itu takut berkaca, dan tak dicela. Aku mencintai yang tak terlihat dalam dirimu.”

Kemudian Ia berkata, dalam dalam suara rendah, “Pergilah sekarang! Kalau pohon cemara ini milikmu dan engkau tidak mengizinkan Aku berteduh di bawah naungannya, Aku akan meneruskan perjalanan.”

Lalu aku menangis dan berkata pada-Nya, “Tuan datanglah ke rumahku. Aku punya dupa yang akan kubakar untuk-Mu, dan dalam bejana perak untuk membasuh kakimu. Engkau orang asing, tapi bukan orang asing. Aku memohon dengan sangat kepada-Mu, datanglah ke rumahku.”

Ia berdiri dan memandangku bagai musim-musim memandang ladang, dan Ia tersenyum. Kemudian berkata lagi, “Semua laki-laki mencintaimu untuk diri mereka sendiri. Aku mencintaimu untuk dirimu sendiri.”

Ia berjalan, menjauh.

Tidak pernah ada manusia yang pernah berjalan seperti jalan-Nya. Apakah ini napas yang lahir dari kebunku yang sedang bergerak ke timur? Ataukan ini badai yang sedang menggoncang dasar bumi? Aku tidak tahu, tapi di hari itu matahari yang tenggelam di mata-Nya telah membunuh naga dalam diriku, dan aku menjadi seorang perempuan, aku menjadi Maria. Maria dari Magda.

Kahlil Gibran, Yesus Sang Anak Manusia

No comments:

Petrus M. Sitohang , Pariwisata Dan Kelautan Bisa Jadi Motor Pertumbuhan Ekonomi

KEPRIONLINE.CO.ID,TANJUNGPINANG,- Provinsi Kepulauan Riau dikenal kaya akan sumber daya alam. Letaknya yang juga sangat strategis memun...