Wednesday, June 13, 2018

Simon Yang Disebut Petrus

Ketika Ia dan Saudaranya Mendapat Panggilan

DI PANTAI tasik Galilea, pertama kali aku melihat Yesus Tuhan dan Guruku. Andreas, saudaraku, menyertaiku waktu itu dan kami tengah melabuhkan jala di air.

Karena ombak amat besar dan tinggi, sedikit sekali ikan yang dapat kami tangkap. Hati kami merasa kesal.

Tiba-tiba Yesus berada di dekat kami, seolah-olah Ia baru mewujud pada saat itu, karena kami tidak melihat kedatangan-Nya.


Ia menyapa kami dan berkata, "Kalau kamu mau mengikuti aku, akan kutunjukkan kepadamu sebuah teluk di mana ikan-ikan berkumpul."

Sementara aku memandangi wajah-Nya, jala itu terlepas dari tanganku karena ada nyala api memijar dalam diriku dan aku pun mengenali Dia.

Saudaraku Andreas berkata, "Kami mengenal teluk-teluk di pantai ini dan kami tahu juga bahwa hari badai seperti ini ikan-ikan mencari lubuk yang tak terjangkau oleh jala-jala itu."

Yesus menyahut, "Ikutlah Aku ke pantai laut yang lebih luas. Aku akan menjadikan kamu penjala-penjala manusia dan jalamu tak pernah akan kosong."

Kami meninggalkan perahu dan jala, dan kamipun mengikuti-Nya.

Kekuatan gaib yang meliputi pribadi-Nya merenggutku.

Dengan terkagum-kagum dan menahan napas aku berjalan di sampung-Nya, sedang Andreas mengukiti kami dengan keheranan.

Sementara kami berjalan menyusur pasir saja, aku berkata agak lancang, "Guru, aku dan saudaraku hendak mengikuti jejak-Mu dan ke manapun Engkau pergi kami tetap mengikuti. Tetapi jika malam ini Engkau sudi berkunjung ke rumah kami maka kunjungan-Mu akan menjadi kehormatan bagi kami. Rumah kami tidak besar, atapnya rendah. Makanan yang dapat kami hidangkan hanya seadanya, Tetapi jika Engkau bersedia singgah, maka rumah kami akan menjadi sebuah istana mewah. Dan bila Engkau bersedia bersantap roti bersama kami, putra-putra raja dari negeri ini pasti merasa iri atas kehadiran-Mu itu."

Dan Ia berkata, "Aku akan datang menjadi tamumu malam ini."

Hatiku bersorak kegirangan. Kemudian kami berjalan diam-diam membuntuti-Nya sampai ke rumah.

Sampai di ambang pintu rumah kami, Yesus berkata, "Damai bagi rumah ini dan bagi semua orang yang tinggal di dalamnya."

Ia masuk dan kami mengikuti-Nya. Isteriku, ibu mertua, dan putriku berdiri menyalami-Nya. Lalu mereka berlutut di hadapan-Nya mencium jubah pakaian-Nya.

Mereka heran, mengapa Manusia pilihan yang sangat dicintai itu, mau bertamu ke rumah kami. Sebelumnya mereka telah melihat-Nya di tepi sungai Yordan ketika Yohanes Pembaptis mempermaklumkan-Nya di depan rakyat.

Isteri dan ibu mertuaku segera menyiapkan makanan. Saudaraku Andreas memang seorang pemalu, tetapi imanya lebih teguh dariku.

Dan putriku yang waktu itu baru berumur dua belas tahun berdiri di samping-Nya dan memegang pakaian-Nya, seolah-olah ia khawatir kalau Yesus meninggalkan kami dan pergi dalam kegelapan malam. Ia memeluk Yesus seperti domba hilang yang telah menemukan gembalanya kembali.

Waktu duduku makan, Yesus memotong roti dan menuang anggur. Dan ia berpaling kepada kami seraya berkata, "Sahabat-sahabat-Ku, sudilah kamu mengambil bagian bersama-Ku dalam perjamuan ini, sebagaimana Bapa telah sudi menganugerahkannya kepada kami."

Yesus mengucapkan itu sebelum mengecap secuil makanan, karena Ia mau mengikuti suatu kebiasaan kuno di mana seorang tamu agung bertindak sebagai tuan rumah sendiri.

Ketika kami duduk mengitari meja terasa seolah-olah kami berada dalam perjamuan pesta seorang Raja besar.

Putriku, Petronela, yang masih kecil dan polos, memerhatikan muka-Nya dan mengikuti setiap gerakan tangan-Nya. Dan aku melihat butir-butir air mata di pelupuk matanya.

Selesai makan kami mengikuti-Nya ke luar dan duduk mengelilingi-Nya. Sambil mendengar firman-Nya, hati kami tergerak seperti burung mengepak-kepak sayap di dahan. Ia berbicara tentang kelahiran manusia yang kedua, dan terbukanya pintu surga, tentang malaikat-malaikat yang turun membawa kedamaian dan kegembiraan bagi umat manusia dan malaikat-malaikat yang naik ke singgasana Tuhan menyampaikan permohonan mereka.

Ia menatap mataku dan terasa sampai ke dasar lubuk hatiku. Dan ia berkata, "Aku telah memilihmu dan saudaramu, hendaklah kamu mengikuti Aku. Kamu yang letih lesu dan menanggung beban, akan kuberi istirahat. Pikullah beban-Ku dan belajarlah dari-Ku karena hati-Ku memiliki damai. Maka jiwa-Ku akan menemukan kelimpahan dan ketenteraman."

Ketika Ia berkata demikian, aku dan saudaraku berdiri di hadapan-Nya menjawab, "Guru, kami akan mengikuti Engkau sampai ke ujung bumi. Kalaupun beban kami nanti seberat gunung, kami akan memikulnya dengan senang hati. Dan seandainya kami jatuh di tepi jalan, kami tahu bahwa kami sebenarnya jatuh dalam perjalanan menuju surga dan kami akan puas."

Dan saudaraku Andreas berkata, "Guru, kami ingin menjadi benang yang meregang di antara tangan-Mu dan alat tenun. Tenunlah kami menjadi kain jika Engkau menghendaki, karena kami ingin menjadi pakaian Tuhan Yang Maha Tinggi.

Isteriku mengangkat muka dan sambil berlinan airmata ia berseru gembira, "Engkau yang datang atas nama Tuhan. Terberkatilah  rahim yang telah mengandung-Mu, dan payudara yang Kausesap."

Putriku, yang baru berumur dua belas tahun, beresimpuh di kaki Yesus dan bermain-main di dekat-Nya. Di ambang pintu ibu mertuaku duduk tanpa mengucapkan sepatah kata. Ia hanya menangis diam-diam dan selendangnya telah basah oleh air mata. Yesus bangun dan menghampirinya, mengangkat muka perempuan itu dan berkata kepadanya, "Engkaulah ibu anak-anak ini. Engkau menangis karena gembira dan aku akan menyimpan airmatamu ke dalam kenangan-Ku."

Sementara itu rembulan tua terbit dari kaki langit. Dan Yesus memandangi bulan itu. Kemudian dia berpaling kepada kami, "Malam telah larut. Tidurlah kalian dan semoga Tuhan hadir dalam istirahat kalian. Aku akan tinggal dalam punjung anggur ini sampai fajar. Hari ini aku telah menebarkan jala dan menangkap dua manusia. Aku telah puas. Dan sekarang, selamat tidur."

Maka ibu mertuaku berkata, "Tempat tidur-Mu sudah kami sediakan di rumah. Mari masuk dan beristirahatlah."

"Memang Aku ingin istirahat, tapi bukan di bawah naungan atap rumah. Biarkan aku tidur malam ini di bawah lindungan tandan anggur dan bintang-bintang."

Ibu mertuatku bergegas mengeluarkan kasur, bantal dan selimut. Yesus tersenyum dan berkata, "Lihat, aku akan tidur di atas ranjang berganda."

Kami masuk ke dalam rumah meninggalkan Dia. Putrikulah yang terakhir kali masuk. Hingga aku menutup pintu, matanya masih terpaut pada Yesus.

Demikian, untuk pertama kalinya aku mengenal Tuhan dan Guruku.

Meskipun peristiwa itu sudah bertahun-tahun lamanya, seakan baru terjadi hari ini.

Kahlil Gibran, "Yesus Sang Anak Manusia"

No comments: