Friday, August 10, 2018

Menemani Gloria Mendaftar Ulang Di Universitas Indonesia



Bulan Juli 2018 adalah bulan sibuk bagi saya. Salah satu kesibukan saya di bulan ini adalah mengantarkan puteri sulung saya Gloria mendaftar ulang ke Universitas Indonesia alma mater yang akan membimbingnya menjadi warga Indonesia berwawasan dunia. Saya tidak bisa menyembunyikan kebanggaan saya atas capaian puteri sulung saya ini diterima di universitas terbaik negeri ini. Saya menemaninya mulai dari Tanjungpinang menuju Kota Depok untuk mendaftar ulang dan mencarikan kosnya. Saya sendiri yang memeriksa beberapa tempat indekos yang direkomendasikan adik ipar saya Nata Purba yang sebelumnya sudah kami minta mencari beberapa tempat yang cocok untuk ditempati Gloria.  



Dibandingkan ketika saya ketika memasuki Universitas Brawijaya Malang di tahun 1986,  Gloria bisa merasa beruntung. Saat menjadi mahasiswa baru dulu, saya harus melakukannya praktis sendirian. Berangkat sendiri dari rumah orang tua saya di Jakarta menuju kota Malang dengan bus malam Lorena. 

Saya masih mengingat hampir mengalami kecopetan di bis kota yang membawa saya menuju terminal Pulo Gadung Jakarta Timur. Sewakrtu berdesak-desakan hendak turun dari bis kota yang saya tumpangi saya merasa dompet berisi uang bekal saya diraba-raba dan ditarik tangan orang lain dari saku celana saya. Dengan sigap saya menampar tangan orang yang hendak mencopet dompet saya. Mengetahui perbuatannya ketahuan pencopet tersebut buru-buru turun dari bis kota lalu segera menghilang. Setiba di kota Malang yang baru pertama kali saya kunjungi saya praktis memulai segalanya sendirian. Mencari tempat idekos, mencari teman, mendaftar ulang ke kampur dan lain sebagainya. Seingat saya semua bisa saya kerjakan sendirian dan tidak ada yang menyulitkan saat itu.

Tapi entah kenapa, saya tidak bisa membiarkan Gloria melakukan semuanya sendirian seperti ketika saya menjadi mahasiswa baru dulu. Mungkin karena dia anak perempuan pertama saya, orang yang pertama kali membuat saya merasa resmi menjadi seorang ayah ketika dia lahir delapan belas tahun silam. Dan sampai saat ini saya masih tetap merasakan dia adalah anak bayi yang kemarin saya gendong-gendong dengan segala tingkah lucunya. Dan sampai sekarang saya belum bisa menghilangkan perasaan seperti itu saat berada di dekatnya. Apakah ini baik untuknya, saya tidak tahu, Karena memang sampai sekarang saya masih mengangapnya bayi kecil yang sudah akan berumur delapan belas tahun ini.



No comments:

Petrus M. Sitohang , Pariwisata Dan Kelautan Bisa Jadi Motor Pertumbuhan Ekonomi

KEPRIONLINE.CO.ID,TANJUNGPINANG,- Provinsi Kepulauan Riau dikenal kaya akan sumber daya alam. Letaknya yang juga sangat strategis memun...