Thursday, September 13, 2018

PLN Tunggu ”Surat Sakti” Pemko

TANJUNGPINANG – Nasib ratusan warga Kampung Sidomulyo Tanjunginang agar bisa menikmati listrik dengan meteran sendiri tergantung niat baik Pemko Tanjungpinang.

Sebab, apabila Pemko mengirim surat rekomendasi pemasangan jaringan dan meteran di kampung itu, maka pihak PLN akan segera menyelesaikannya.


Kepala Rayon PLN Cabang Bintan Center Andi Arif meminta surat rekomendasi itu. ”Kalau surat itu ada, kami akan pasang jaringan,” ujar Andi saat menerima perwakilan warga Kampung Sido Mulyo didampingi anggota DPRD Kota Tanjungpinang Petrus M Sitohang di Kantor PLN Jalan Bakar Batu, Rabu (12/9).

Andi mengatakan, selama ini PLN bukan tidak mau memasang jaringan listrik di kampung itu. Namun, karena status lahan hutan lindung, mereka tidak berani memasangnya.

Jika ada surat rekomendasi itu dari Pemko atau Dewan, maka PLN sudah ada dasar untuk memasangnya. 

”Itu aja yang kita tunggu. Kalau ada, permintaan masyarakat bisa kita penuhi,” tambahnya.

Usai pertemuan itu, Petrus Sitohang langsung menghubungi Penjabat Wali Kota Tanjungpinang Raja Ariza. ”Saya sudah hubungi barusan dan minta secepatnya. Jangan berlama-lama,” jelas Petrus.

Dikatakan Petrus, pertemuan dengan pihak PLN kemarin merupakan tindak lanjut dari pertemuan, Selasa (11/9) lalu di Kampung Sido Mulyo.

Saat itu warga meminta agar PLN memasang jaringan dan masing-masing rumah dipasang meteran sendiri. Jangan seperti selama ini, hanya ada satu trafo di sana. Listriknya berbagi (curah).

”Kita fasilitasi pertemuan dengan PLN. Kita ingin secepatnya kampung itu terang benderang dengan meteran sendiri-sendiri. Dan warga siap,” tambahnya.

Saat pertemuan dengan PLN, hadir Ketua RT 02-RW 010 Mislan, Yakub, H Nurdin dan Syukur tokoh masyarakat setempat.

Mislan mengatakan, selama ini mereka patungan untuk membayar listrik di perkampungan itu. Rata-rata setiap kepala keluarga (KK) membayar Rp200 ribu hingga Rp250 ribu sebulan.

”Tapi kami tak punya meteran sendiri-sendiri. Hanya satu meteran saja. Inilah kami minta dipasang,” jelasnya.

Terkait denda pembayaran listrik selama ini yang sempat membuat PLN harus mematikan listrik ke kampung itu, Mislan mengatakan, jatuh tempo pembayaran, 22 September nanti.

Namun, beberapa orang yang terlibat dalam persoalan ini sudah menyatakan akan membayarnya. Jika tidak, PLN akan memutus kembali listrik ke perkampungan yang dihuni 187 KK tersebut.

Saat ini, Syukur menimpali, mereka itu harus bertahan dengan meteran curah. Hanya kejujuran warga yang bisa mempertahankan mereka seperti itu.

Namun, lebih baik dipasang meteran sendiri-sendiri agar tidak ada persoalan di kemudian hari. Mereka juga warga Tanjungpinang yang berhak mendapatkan pelayanan seperti masyarakat lainnya.
Kondisi di perkampungan mereka memang menyedihkan. Pemilik rumah yang paling jauh dari trafo tidak bisa utuh menikmati listrik karena daya yang sampai ke ujung makin berkurang.

”Rumah saya di ujung, nanti lampunya kadang redup. Alat elektronik pun banyak rusak. Kalau punya meteran sendiri-sendiri, bebas mau pakai daya berapa banyak,” jelasnya.

Karena itu, mereka akan terus memperjuangkan masalah ini, sehingga PLN bisa memenuhi permintaan masyarakat untuk memasang jaringan dan meteran di tiap-tiap rumah.

Adapun pertemuan antara Petrus Sitohang dengan warga Kampung Tirto Mulyo diadakan di rumah Mislan dan dihadiri 50-an warga setempat dan Ketua RW Sunardiono. (mas)

No comments:

Petrus M. Sitohang , Pariwisata Dan Kelautan Bisa Jadi Motor Pertumbuhan Ekonomi

KEPRIONLINE.CO.ID,TANJUNGPINANG,- Provinsi Kepulauan Riau dikenal kaya akan sumber daya alam. Letaknya yang juga sangat strategis memun...